
Malam berganti, banyak hal berubah pagi ini. Wajah bantal Gian terlihat sangat nyata, sepulang dari resepsi Randy yang bahkan sudah tengah malam pria itu kini terbaring lantaran kantuk yang menguasai.
"Zura ... silau."
Ia bergumam, matanya masih terpejam namun dapat merespon cahaya yang kini masuk ke kamarnya. Memeluk guling begitu erat dan kini meletakkannya di atas wajah sebagai penghalang cahaya.
"Hih, udah siang, bangun."
Gian berdecak, sungguh dia masih sangat mengantuk saat ini. Andai saja boleh meminta, Gian ingin malam ini bertambah menjadi 48 jam.
"Kak bangun, pindah ke kamarmu sana."
Tunggu, di kamar siapa dia kini? Suara itu bukan milik istrinya, Gian membuka matanya perlahan dan kini terperanjat kaget begitu menyadari kamar ini bukan miliknya.
"Haah?!! Kenapa aku bisa di sini?"
Nyawanya belum terkumpul sempurna, pria itu menguap lebar sembari menggaruk lehernya. Sungguh yang ia rasa saat ini hanya lelah dan kantuk yang luar biasa.
Berada di kamar adiknya, Gian sejenak mengingat kenapa dia bisa tertidur di kamar Haidar. Hal yang paling dia hindari, kenapa bisa dia tidur di kamar orang lain.
"Kenapa tidak kau bangunkan dari tadi malam, Haidar?"
Dia bertanya dengan suara datar, sedatar mukanya. Wajahnya benar-benar tak bersahabat, pria itu beranjak dan kini meninggalkan kamar Haidar.
"Gulingnya kembalikan," tegur Haidar tak merelakan guling itu dibawa lari oleh Gian.
Bugh
"Ambil!!! Terima kasih," ucapnya usai melempar guling itu tanpa dosa di wajah adiknya.
"Dasar aneh, dia yang numpang tapi dia yang berulah."
Haidar kesal luar biasa, padahal dia sudah berbuat baik mengizinkan dia tidur di kamarnya tadi malam lantaran di rumah tidak ada Radha.
Para wanita masih sibuk menghabiskan waktu bersama di hotel, hanya para wanita termasuk Maya dan juga Rhania.
Dan tentu saja kedua buah hatinya akan ikut bersama Radha. Sempat meminta agar Radha tetap bersamanya dan pulang tadi malam, akan tetapi kali ini yang meminta adalah Rhania.
Gian tak punya pilihan selain sejenak merelakan istri dan anak-anaknya untuk satu malam saja bersama mereka. Kerinduan Maya dan Rhania yang hendak mengulang kenangan bersama Jelita dan juga para putri-putrinya itu tak bisa Gian tolak.
"Hoaaam, mereka belum pulang juga," keluhnya ketika tiba di kamar dan belum ada tanda-tanda kehidupan.
Pria itu menghempaskan tubuhnya di tempat tidur, tempat tidur yang dingin dan terasa sunyi, Gian suka hal ini.
__ADS_1
Dia tidak akan melakukan ini itu sebelum istrinya pulang, kembali tidur adalah jalan ninjanya. Walau kepalanya belum terlalu damai dan masih berharap akan kembalinya sang istri lebih cepat lagi.
-
.
.
.
"Aaaaarrrgghh, aku tidak kuat lagi... Ta, toilet belum pindah kan tempatnya?"
Rhania ikut pulang ke rumah Jelita, sudah cukup lama dia tak mengunjungi kediaman mertuanya ini. Di ruang tamu sudah ada Andra dan Raka yang berbincang banyak hal, mereka tidak terlihat seperti saudara, melainkan tetap seperti sahabat.
"Iya, masuk aja ntar ke kiri dikit terus ad ...."
Belum selesai bicara Rhania sudah menghilang dari hadapan Jelita. Setelah ia ingat-ingat, nampaknya Gian adalah jelmaan Rhania.
"Tante Rhania lucu ya, Ma."
Radha menarik sudut bibir, cukup mudah baginya untuk bisa dekat bersama Rhania. Hanya tidur di kamar yang sama beberapa jam dan mereka seakan begitu dekat.
"Iya, dia emang badut, Ra, kamu ke kamar sana ... pasti Gian belum bangun."
Radha hanya naik sendiri, Kama dan Kalila tengah berada dalam kekuasaan Raka. Selagi yang punya masih tidur dan tidak berpotensi mengganggu, maka Raka memilih untuk memanfaatkan waktu.
Berjalan pelan untuk mendatangi suaminya, mendorong pintu dengan hati-hati karena takut Gian terkejut.
"Tidur beneran?"
Pintu kamar kini terbuka, Radha menghela napas panjang begitu menyadari kamarnya gelap gulita. Bisa-bisanya Gian sengaja mematikan lampu dan menutup kembali tirai rapat-rapat dengan maksud agar hari seakan masih pagi.
"Dia tidur jam berapa sih."
Melihat keadaan suaminya yang masih mengenakan baju tadi malam, lengkap dengan ikat pinggang. Artinya Gian memang langsung tertidur begitu dia pulang.
Seberubah itu, padahal jika tengah bersama Radha hal-hal kecil saja selalu dia perhatikan. Perlahan mendekat, keringat Gian membasah di keningnya.
"Kok betah dia tidur begini."
Sebenarnya langkah terbaik adalah membangunkan pria ini, akan tetapi Radha tak tega karena dia yakin Gian masih benar-benar mengantuk.
Menyeka keringatnya dengan punggung tangan, dan Radha kini berinisiatif untuk melepaskan ikat pinggang dan kemeja suaminya.
__ADS_1
"Mau apa?"
Gian menangkap pergelangan tangan Radha dan mata itu menatap tajam pada istrinya. Tertangkap basah dan Radha hanya bisa mengalihkan pandangan karena sudah pasti pikiran Gian takkan sejernih itu.
"Baru pulang? Mereka mana?"
Belum melepaskan genggaman tangannya, bahkan posisi Radha masih tertahan seperti sebelumnya. Pria itu menarik sudut bibir sebelum kemudian mengusap wajahnya kasar.
"Ada sama Papa, Kakak baru bangun?"
"Hm, kamu ngapain masuk diem-diem, kamu mau mencabulliku, Zura?"
Sialan, pertanyaan kurang ajar yang membuat Radha geli luar biasa. Walau dia suami tetap saja Gian membuatnya bergidik.
"Idih apaan, aku cuma mau lepas ikat pinggang Kakak, pagi-pagi otaknya is."
Mencoba melepaskan diri, namun secepat itu Gian menarik tubuhnya hingga terjerambab di tempat tidur. Kasar sekali, pikir Radha.
"Kenapa dengan ikat pinggang? Jujur aja, Zura, kamu mancing-mancing."
Niat membangunkan Gian, namun yang bangun justru gairahnya. Radha tertawa geli kala tubuhnya dihimpit dengan satu gerakan oleh Gian. Menyesal dia tidak membawa Kama dan Kalila bersamanya.
"Aku cuma risih liat Kakak tidur begitu, makanya aku lepas."
Memang hanya itu niat Radha, namun faktanya Gian mana mungkin menerima alasan. Pria itu tetap pada pendiriannya dan menganggap istrinya ada maksud lain.
"Modus, kamu mau liat yang lainnya padahal."
"Allahu Akbar, mendingan Kakak mandi deh, otak Kakak butek banget kayaknya."
Radha menahan dada Gian yang semakin dekat saja, dasar pencuri kesempatan, bisa-bisanya dia memanfaatkan keadaan seakan-akan Radha yang meminta.
"Nggak, mereka lagi sama Papa kan?"
Radha mengangguk, dan tak mengira maksud Gian bertanya hanya untuk memastikan bahwa anaknya tidak akan menggangu.
"Semaleman Kakak sendirian, bayar dong ... pagi ini kamu harus bersamaku."
"Ih aturan dari mana yang begitu? Kakak nggak usah buat-buat deh," kesal Radha merasa Gian semakin berulah, kenapa suaminya benar-benar meresahkan.
Tidak akan, Gian tidak menerima penolakan. Tak peduli mau alasan apa Radha tetap saja dia akan menuntut kemauannya.
🌻
__ADS_1