
Apa yang Radha takutkan ternyata salah, semua baik-baik saja bahkan Juan membantu menurunkan barang-barang belanjaan mereka tanpa diminta.
Sempat berpikir bahwa akan ada drama penculikan seperti di novel-novel yang kerap ia baca. Namun nyatanya, Juan mengantarnya dengan selamat.
"Terima kasih, siapa tadi namamu?" Jelita memang sedikit pikun, maklum sudah sedikit tua.
"Juan, Tante ... iya, sama-sama."
Sopan, dan memang dia benar-benar baik. Bahkan Gian pun tak pernah bersikap semanis ini padanya, Jelita sejenak kagum dengan kesigapan pria yang ia yakini sebagai teman dekat Gian ini.
Radha hanya terdiam, ia bingung haru mengatakan apa. Karena hendak berterima kasih, hatinya benar-benar menolak. Ada sejuta kegelisahan yang tak bisa ia ungkapkan untuk saat ini.
"Radha, Abang pamit dulu ya."
Hanya anggukan pelan Radha berikan, bibirnya belum sudi untuk mengatakan hal apapun pada Juan. Lebih tepatnya Radha kehilangan keinginan untuk berinteraksi bersama pria cabul itu.
"Jawab, Sayang ... nggak boleh cemberut gitu," tutur Jelita selembut itu, merasa sedikit tak enak atas kebaikan Juan padanya.
"Tidak apa-apa, Tante, istri Gian memang berbeda."
Sayangnya, Jelita tak dapat mengartikan makna ucapan Juan yang memuji menantunya. Sungguh, sebodoh itu dirinya yang berpikir semakin Juan bicara demikian sama saja artinya dengan kedekatan mereka memang benar-benar erat.
"Ya sudah, aku pamit dulu, Tan, salam buat Gian." Tak tanggung, pamitnya Juan bahkan mencium punggung tangan Jelita sebagai bentuk hormatnya.
"Iya ... hati-hati."
Sebagai seorang wanita yang mendapat perlakuan sesopan itu jelas saja menerima dengan baik dan menganggap semua hal yang kini ia alami memang tidak ada masalah sama sekali.
Pria itu berlalu pergi, dan Radha masih saja diam menatap kepergian Juan dengan perasaan yang sama. Was-was, dan kenapa ia justru semakin takut melihat perlakuan baik Juan yang ia yakini sangat tidak wajar.
Juan yang mengetahui alamat rumah mereka tanpa perlu Jelita menunjukkan arah, sedangkan yang Radha ketahui rumah pria itu cukup jauh dari kediamannya.
"Ra, ayo masuk."
"Iya, Ma."
Radha berada di rumah, tapi tidak dengan jiwanya. Entah kenapa senyum tipis Juan justru mengingatkannya dengan sang suami, baginya membalas tatapan pria lain saja sudah termasuk menyakiti, dan tadi senyum itu terekam dalam dirinya.
-
.
.
Cukup lama Radha menunggu, dan sudah kesekian kali ia mencoba mengubungi pria itu. Hasilnya masih sama, tidak bisa dihubungi juga.
__ADS_1
"Gak beres!! Dia kenapa ya? Masa iya selingkuh."
Tak dapat dipungkiri, Radha memang uring-uringan. Pria yang menjadi belahan jiwanya ini menghilang tanpa kabar, dan hal ini sangat asing.
Jika memang sibuk karena pekerjaan, mana mungkin 3 jam Gian tak melihat ponselnya sama sekali. Sedangkan Radha tahu, hidup pria itu banyak berpegang pada benda pipih itu.
"Apa gue samperin aja ya?"
Otaknya berpikir keras, karena ketakutan suaminya kenapa-kenapa lebih besar daripada suaminya berselingkuh. Karena kembali lagi, yang Radha pikirkan adalah keberadaan Juan yang tiba-tiba jadi pangeran, sedangkan suaminya menghilang.
"Gue harus kesana sekarang."
Pertimbangannya sudah bulat, hanya dengan memakai celana pendek dan kaos oblong, Radha meminta Aryo mengantarnya ke kantor saat itu juga. Tentu saja dengan menghindari Jelita, karena mertuanya itu akan banyak bertanya jika tahu tujuannya.
"Cepet ya, Pak," titah Radha tanpa menerima pertanyaan lain, jika saja diizinkan dia sendiri yang akan menyetir tanpa bantuan.
-
.
.
.
.
Sudah menjelang sore sebenarnya, tapi Radha masih tetap memilih untuk menghampiri daripada menunggu Gian pulang.
Dengan langkah pasti, secepat itu Radha berlalu dan mendorong paksa pintu ruangan Gian. Namun, anehnya ruangannya kosong tak berpenghuni, sedangkan Evany juga tak berada di tempatnya saat ini.
"Kak!!"
"Radha? Cari siapa?"
Reyhans yang kebetulan baru saja keluar menatap heran kehadiran Radha, dari penampilannya jelas istri bosnya ini buru-buru.
"Kak Gian, mana?"
Menatap Reyhans khawatir dan dengan sejuta tanya. Karena yang ia tatap juga wajah bingung Reyhans seakan tak mengerti apa-apa.
"Bukankah dia pulang? 3 jam lalu ... tepat jam makan siang," tegas Reyhans mantap dan sontak membuat mata Radha membulat sempurna.
"Jangan bercanda!! Kalau dia pulang aku nggak bakal cari kemari."
Sejenak Reyhans memejamkan mata, suara Radha cukup melengking dan membuat telinganya sakit. Radha panik saat ini, ia mencoba menghubungi Gian lagi tapi hasilnya masih sama-sama nihil.
__ADS_1
"Liat!! Puluhan kali aku telepon dia nggak angkat sama sekali, dia kemana, Kak?"
Berusaha untuk tenang, padahal dirinya juga tengah kacau begitu mendengar ucapan Radha. Wajah Radha mulai memerah, dan kini mengusap kasar air matanya.
Reyhans harus apa? Sedangkan dia juga luar biasa shocknya. Karena jika memang Gian pulang, tersesat kemana dia hingga 3 jam belum pulang-pulang.
"Kak, jawab dong ... dia kemana?"
"Tenang dulu ya, Ra, kita cari sama-sama."
"Cari kemana? Kak Gian udah dewasa ... masa hilang."
Radha mengacak rambutnya, sungguh yang ia rasakan saat ini hanya kebimbangan luar biasa. Kemana harus ia cari pria itu, sedangkan petunjuk yang ia punya juga tak ada.
"Jangan berpikir macam-macam, Gian bisa menjaga dirinya, Ra ... jangan takut."
Selembut apapun cara Reyhans padanya tetap saja Radha panik luar biasa. Tak ada hal yang bisa membuatnya tenang dan baik-baik saja, karena setelah saling mencinta mereka tak pernah berpisah tanpa kejelasan.
"Kalau dia diculik bagaimana, Kak?"
"Nggak akan ada yang culik, siapa juga yang berminat menculik suamimu itu," tutur Reyhans yang sebenarnya berniat membuat Radha tenang, padahal tak bisa dipungkiri jika dalam hatinya juga memiliki pikiran seperti itu.
"Ya ada!!! Suamiku ganteng begitu."
Ingin tertawa, tapi waktunya tak pas. Bagaimana bisa Radha justru berkata demikian disaat suasana segenting ini.
"Cari sampai dapat, masih di hari yang sama, aku rasa dia masih di kota ini."
Reyhans tak tinggal diam, meski ia tahu akan sedikit telat akan tetapi andai kata ada yang berniat melukai Gian, setidaknya pria itu belum kehilangan nyawa.
"Ikut!!"
"Jangan, kamu Kakak antar pulang ... akan lebih baik menunggu."
"Aku harus ikut!!"
Keras kepala, dan cukup pembangkang. Tapi bagaimana, Reyhans tak punya pilihan karena memang wanita ini memiliki pendirian kuat yang ia yakin Gian saja takkan mampu menghalanginya.
Duduk di sisi Reyhans, ia yakin jika memang ada yang tak beres. Karena jika Reyhans merasa tenang, pria ini takkan menangambil langkah secepat ini. Dan tentu saja ketakutan itu semakin besar, bahkan lebih besar daripada sebelumnya.
"Kemana kau, Gian, sudah kukatakan sendiri takkan membuatmu jadi pahlawan."
Reyhans memacu kendaraannya, dengan pikiran yang sudah kemana-mana. Dan pencarian mendadak melibatkan beberapa anak buahnya ke segala penjuru arah.
Gian hanya pergi-pergi sendiri ke tempat yang tak begitu jauh, jika terlalu jauh pria itu masih trauma. Dan kini dalam diamnya Reyhans hanya berharap hal buruk yang menjadi sebab terimanya Gian tak terjadi.
__ADS_1