Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Dia Sabar Untukku (Gian)


__ADS_3

Menjelang malam, suasana rumah duka masih begitu terasa. Masih dengan seragam SMA-Nya, tanpa teman dan sahabat yang bisa ia ajak bicara. Hanya duduk bersandar di sofa menyaksikan kepulangan beberapa orang dari kediaman Laura.


Perlahan sepi dan hanya tertinggal beberapa orang terdekat, Laura tak sedetikpun melepaskan diri dari Gian. Beberapa kali pria itu menghela napas pelan kala menatap sang istri dengan ekor mata tajamnya.


Diamnya Radha dapat ia katakan sebagai bentuk protesnya, sejak tadi Gian mencoba melepaskan Laura namun lagi-lagi wanita itu tak sadarkan diri yang membuat kepala Gian seakan hendak pecah.


"Laura, baiknya kau istirahat di kamarmu."


Gian berucap lembut, namun tatapan matanya sesekali terpaut untuk Radha. Jujur saja, tubuhnya sejak tadi merasa tak nyaman dengan ulah temannya ini.


"Gi ... bagaimana bisa aku istirahat?"


Ia mengiba dan menatap Gian penuh luka, tak tega namun sampai kapan akan seperti ini terus, pikir Gian. Ia juga tentu harus pulang, Radha terlalu lelah, bahkan mungkin saja istrinya telah lapar lagi.


"Bisa, Ra, kau tampak lelah. Aku antar ya?"


Perlakuan Gian terlampau lembut dan membuat wanita itu semakin jatuh, mana mungkin ia biarkan Gian berlalu setelah ini. Keberadaan Radha yang ia yakini sebagai adik Gian bahkan tak sedikitpun ia pedulikan.


"Kau mau menemaniku malam ini, Gi?"


"Laura, aku tidak sendiri, ada Radha yang juga sejak tadi sabar menungguku." Penjelasan Gian kini membawa nama istrinya, berharap Laura akan sadar diri.


"Ck, apa pentingnya anak ingusan itu? Dia bahkan bukan adik kandungmu, kan?"


Pria itu seketika menatap tajam Laura, wanita itu mulai melampaui batas. Ia singkirkan tangan Laura yang sejak tadi melingkar di tubuhnya, cara lembut ternyata membuat wanita itu semakin tak tahu diri.


"Aku tidak ingin menyakitimu, Ra, tapi kali ini kau melampaui batas."


Gian tersulut emosi dan kini menatap Laura begitu tak bersahabat. Beberapa temannya yang berada di sana hanya mampu terdiam kala Gian mengeluarkan ketidaksukaannya.


"Tenang, Gi ... Laura sedang dalam duka, tolong kau mengerti," ujar Edward mencoba menenangkan Gian yang tengah dikuasai amarah.


"Mengerti? Kau lihat aku sudah cukup mengerti tentangnya. Lantas mengapa ia tak ingin mengerti dengan kehadiran Radha yang juga butuh aku disini?!"


Gian beranjak sembari membuang napas kasar, nyatanya ia tak dapat sesabar itu menghadapi wanita macam Laura.


Edward melongo, sejenak ia tatap anak SMA yang berada tak jauh dari mereka. Terlihat lelah, namun jelas saja pembelaan Gian menimbulkan tanya.


Laura terdiam dan mulai berpikir mencari cara agar Gian tetap berada di sampingnya. Ia menangis terisak dan kini terlihat sesak, Edward yang berada di sampingnya tentu saja panik bukan main.


"Gi, kau yakin ingin meninggalkannya?"


"Kau urus saja dia, aku sudah cukup lelah."


Benar-benar tanpa toleransi, mungkin Gian terlampau muak dengan apa yang Laura perlihatkan sejak tadi dan tak sedikitpun mau lepas darinya.


Radha tak diam saja, ia beranjak dan menatap Gian penuh tanya. Pria yang kini menghampirinya masih tetap dengan wajah merah padam menahan kemarahan.

__ADS_1


"Ayo pergi," ucap Gian sembari menarik Radha kedalam rangkulannya.


Tanpa sepatah kata, ia meninggalkan tempat itu. Tak ia pedulikan meski kini Laura tak sadarkan diri, entah itu sengaja atau memang nyata tanpa rekayasa.


Menyesal ia terlampau khawatir kala hendak mendatangi Laura, andai saja ia biasa saja mungkin Gian takkan semenyesal ini.


*******


"Kau lapar?"


Gian melaju santai, bahkan Radha menyebutkan kecepatan keong. Mungkin karena tidak ada yang perlu di kejar, dan rintik hujan malam ini menjadi salah satu alasan.


"Tidak," jawab Radha tak niat, ia masih sangat marah sebenarnya. Hanya saja, ia tak mampu mengungkapkan kemarahan layaknya Gian padanya.


"Kau yakin?"


"He'em," jawabnya sembari mengangguk singkat.


Tidak ada jawaban dan pertanyaan lagi yang keluar dari bibir Gian, ia fokus dengan kemudinya dan hanya ingin segera beristirahat.


Perjalanan memang cukup lama, belum lagi Gian yang sengaja melaju dengan kecepatan rendah membuat perjalanan semakin lama.


Rintik hujan dibawah bias temaram lampu jalan membuat Radha menarik sudut bibirnya tipis. Ada ketenangan yang ia dapat di luar sana, tanpa beban pikiran dan tak perlu banyak yang ia takutkan.


Menyelami dunia dewasa Gian bukanlah hal baik baginya, pria itu akan hidup dengan batas yang bahkan tak bisa Radha genggam.


Ini bukan kediaman keluarga Wijaya, Gian membawanya pulang ke tempat berbeda. Ia tatap pergelangan tangan kirinya, memang malam ini sudah terlalu larut, dan tak mungkin ia meminta pulang ke tempat seharusnya.


"Turunlah," perintahnya dengan kalimat sedingin itu, memiliki suami seperti Gian adalah sebagian ujian bagi Radha.


Pria itu benar-benar berubah-ubah, secepat itu dan tak bisa ia tebak.


"Kak? Kenapa kita tidak pulang kerumah?"


"Hem? Memangnya kenapa?" tanya Gian sembari menatapnya sekilas.


"Aku hanya bertanya," jawab Radha seadanya, ia tak ingin berdebat dan tak pula ingin bercanda malam ini.


"Ck, kenapa dengan bibirmu?"


Dengan sekali gerakan Gian menepuk bibir Radha tanpa dosa, lucu baginya menatap bibir sang istri yang maju beberapa centi dengan tatapan nanar penuh kemarahan.


"Ays!! Jahil banget sii, tangannya dari pegang-pegang Mba yang tadi juga." Radha menepis kasar tangan Gian yang dengan lancangnya sejahil itu mengganggunya.


"Buahahah, kau bisa marah juga, Radhania?"


Suara lucu Radha membuat penatnya seakan hilang, tak peduli seberapa lelahnya ia mengemudi malam ini, keributan kecil ini justru membuatnya lupa kalau ia lelah.

__ADS_1


"Menggemaskan," ujarnya lagi-lagi mencubit wajah mulus sang Istri cukup kuat bahkan memerah.


"Don't touch me, Gian!!"


"Heh?" Gian tertawa sumbang sembari menatap heran Radha, bahkan Radha berani memanggilnya dengan hanya sebutan nama.


"Ulangi,"


"Aku tidak menyangka ternyata pendengaran Kakak juga bermasalah."


Gian kehabisan kata, mulut istrinya benar-benar seberani itu. Ia bisa saja menghukum mulut tajam istrinya jika mau, masih beberapa lantai lagi, pikir Gian sembari menatap kedepan.


Radha keluar begitu saja kala lift terbuka, benar-benar tanpa beban usai berucap sekasar itu pada Gian. Dengan wajah tanpa dosanya, Radha berlalu dan menunggu dengan setia di depan unit Apartemen suaminya.


"Kak, buruan, capek tau."


Radha berucap santai sembari melambaikan tangannya sebagai isyarat agar Gian lebih cepat. Tentu saja Gian hanya membuang napas kasar, bahkan kini ia merasa tengah di perintah oleh gadis kecil itu.


"Udah buruan, Kak, kenapa melihatku seperti itu?" rengek Radha menggoyangkan lengan Gian, sengaja pria itu membuat Radha menunggu, baginya amukan Radha adalah hal yang sangat ia suka.


"Kak, Aku kebelet, udah di ujung astaga!!"


Huft, wajar saja ia sepanik itu ingin masuk. Bukannya semakin cepat, Gian justru mengambil kesempatan di tengah kesempitan.


"Kiss me!!"


"Astaga, nanti saja kan bisa, Kak."


Dasar manusia licik, bisa saja dia menguasai keadaan, pikir Radha kesal bukan main.


"Now!!" Gian menundukkan tubuhnya lantaran tinggi mereka jauh berbeda.


"Atau kau mau buang air kecil di sini?" Pertanyaan berbalut ancaman yang membuatnya benar-benar ingin menarik rambut Gian hingga akarnya.


"Emuaach!! Cepat buka!!"


Begitu kuat, hingga hidung Gian terasa sakit. Gian menang untuk kali ini, kesempatan ini benar-benar menguntungkan baginya. Meski tetap saja, Radha melakukannya tak begitu ikhlas.


"Dasar kasar," umpat Gian sembari menekan password yang memang hanya dirinya yang tahu.


"Tanggal lahirku?"


"Sepertinya," jawab Gian santai dan berlalu masuk lebih dahulu.


"Kenapa gak bilang dari tadi, Nurdin!!" umpatnya hampir tak terdengar.


...Bersambung❣️

__ADS_1


__ADS_2