
Udara pagi terasa menusuk kulit, Gian melewati harinya seperti biasa. Ya, tentu saja dia harus tetap bekerja, tulang punggung paling hebat milih Radha itu tidak pernah meninggalkan kewajiban meski dahulu dia sempat mengatakan tak ingin berkerja setelah punya anak.
Rahang tegas dan tubuh tegap yang selalu menjadi hal melekat dalam diri Gian, pria itu mulai menuruni anak tangga dengan langkah pastinya. Pemandangan pagi hari yang biasa ia lihat, istrinya sudah begitu cantik dan berperang dengan alat dapur.
Radha benar-benar memerhatikan makanan apa yang boleh masuk untukbkedua buah hatinya, dan sama sekali Radha tak percaya dengan orang lain kecuali mertuanya. Bukan karena dia membenci Asih, akan terapi, bagaimana Layla terhadapnya membuat Radha terbiasa melakukannya sendiri.
Gian menarik sudut bibir, tubuh mungil itu terlihat lucu dan ia tak mampu menahan diri untuk tidak meghampirinya.
"Sayang."
Suara itu terdengar lembut, begitupun dengan gerakan tangan yang kini melingkar di perut. Radha menghela napas pelan, Gian yang begini masih membatnya gugup.
"Udah mau pergi ya?"
Meski sempat kaget, dia tetap memberikan respon bagaimana seharusnya. Sorot manik elang itu menatap lekat dirinya, kenapa Gian kini? Apa yang tengah mengganggu hatinya, pikir Radha.
"Hm, udah mau pergi." Jawaban seadanya, dan senyum tipis yang masih kerap ia jadikan sebagai pesona.
"Sepagi ini? Emang kak Rey udah jemput?"
Kening Radha mengkerut, Gian buru-buru sekali. Biasanya dia tidak begitu peduli meski telat selagi tidak ada rapat.
"Kenapa? Salah ya Kakak pergi jam segini?"
"Iya nggak salah sih, tapi kan aneh aja ... apa nggak sebaiknya tunggu aja dulu? Masih pagi banget, Kak."
Gian menggeleng, keputusannya sudah bulat dan dia ingin pergi sendiri tanpa bantuan siapapun. Ucapan Evany yang mengatakan tubuhnya tak sesuai dengan apa yang dikerjakan membuat hatinya tergores.
"Aku akan pergi sendiri, udah rapi belum?"
Radha menatap penampilan Gian yang bisa dikatakan hampir sempurna. Terkadang ia lupa jika suaminya lebih tampan daripada idolanya.
"Udah, tumben banget rapi sendiri ... biasanya dasi minta bantuan," imbuh Radha sedikit sarkas, karena biasanya Gian memang semanja itu.
"Kamu sibuk pagi ini," tuturnya sembari merapikan anak rambut Radha, bidadarinya memang tidak memiliki celah yang dapat dikatakan sebagai kekurangannya.
"Hm, biasanya juga kan begini, Kak."
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari Gian, pria itu kembali menarik istrinya dalam pelukan. Tak peduli meski pemandangan ini akan dilihat oleh Jelita ataupun Raka, terserah, pikir Gian.
"Love You, terima kasih kamu bersedia menerima aku yang begini." Ungkapan Gian yang tiba-tiba seperti ini jelas membuat Radha takut, dan benar-benar takut.
"Kenapa? Kakak sakit ya?" Radha memastikan suhu tubuh suaminya, dan semuanya normal, tidak ada yang salah.
"Nggak, baik-baik aja. Lagi pengen aja bilang begitu," elaknya demi menenangkan sang istri, padahal sejak semalam dia selalu memikirkan kalimat Evany di mobil.
Dia memang bersyukur karena mungkin hanya Radha yang mau menerima kekurangannya, marahnya, judesnya, cerewetnya, dan hal lain yang melekat dalam dirinya tanpa mengungkapkan jika dia lelah.
"Aku pergi, Ra ... jangan lelah-lelah, nanti kamu sakit. Aku gaji bi Asih itu gunanya untuk apa kalau istriku masih lelah hm."
Begitu lembut ia ucapkan karena tak mau Radha marah dan lainnya. Akan tetapi jika dia utarakan, Radha memang seaktif itu melakukan pekerjaan rumah. Sudah berkali-kali dilarang tapi masih dia lakukan, Gian bukan takut istrinya bau asap dan keringat, akan tetapi lelahnya yang Gian takutkan.
"Iya, nggak lelah ... Kakak hati-hati ya, jangan ngebut dan seenaknya karena jalan itu bukan punya Kakak."
Radha sedikit menahan kalimatnya, karena memang hal yang dia takutkan jika Gian pergi sendiri adalah hal ini. Pria sinting itu menjadi penguasa jalanan dan dia seakan tak peduli apa itu lampu merah.
"Siap bu negara." Patuh sekali, Gian yakin bahwa kalimat itu akan Radha lontarkan karena setakut itu suaminya melanggar lalu lintas.
Pamit apa adanya, mereka masih manis dan tak terlihat perbedaan sejak awal menikah. Mempertahankan hal semanis itu tidak mudah bagi beberapa pasangan lain, dan mereka berhasil membangunnya.
-
Memasuki lobby kantor, Gian berjalan tegap dengan wajah tegas dan langkah tanpa keraguan. Siapa yang mampu menolak pesona Dirgantara Avgian, ketusnya saja bahkan banyak disukai para wanita yang menjadi bawahannya.
Sapaan selamat pagi menyambut pria itu, meski banyak timbul pertanyaan kenapa Gian hanya sendirian dan tidak seperti biasanya. Ya, hal itu jelas membuat mereka terkejut.
Sendirinya Gian tak membuat pesonanya luntur sama sekali, melainkan dia benar-benar terlihat bak pria sejati yang memang mandiri.
Kesempurnaan yang hanya bisa dipandang dalam tatapan penuh harap beberapa wanita itu. Sadar jika pemilik tubuh dan wajah paripurna itu sudah memiliki belahan jiwa, mereka bak pungguk mengharapkan bulan.
"Andai dia bisa di kloning, mungkin sekarang gue udah punya anak 4," tutur Sonya yang sejak zaman purbakala masih saja mengagumi Gian.
"Hm, andai saja memang begitu, mungkin sekarang aku udah nggak suci lagi," sahut rekan kerjanya tanpa dosa.
"Romi, lo cowok tolong dong nggak usah nambahin saingan khayal gue."
__ADS_1
"Lah lo, ngapain ngarepin pak Gian mulu, udah tau dia udah betelor masih aja ngarep, sinting lo, Sonya," ujar Romi sembari memukul pelan kepala rekan kerjanya yang sejak tiga tahun lalu masih saja sama.
"Kan gue ngarep kloningan dia, bukan pak Giannya."
"Terserah!! Mending lu kerja bener-bener dah, ngayal mulu kerjaan." Lagi dan lagi Sonya menerima toyoran dari pria sinting yang ingin rasanya dia kubur hidup-hidup itu.
Meninggalkan keributan dua insan itu, kini di ruangan kerja Gian hanya diam menatap monitor di Hadapannya. Matanya menatap teliti membaca data yang sempat dia percayakan pada Reyhans beberapa hari lain.
Cukup lama Gian berkutat dengan kesibukannya, setelah itu barulah kemudian pintunya diketuk seseorang dari luar. Gian tak begitu peduli, karena dia sudah bisa menebak siapa yang datang.
"Gian, kenapa kau pergi sendiri?"
Reyhans menghampirinya dengan seribu tanya yang melekat di benaknya. Karena biasanya Gian tak pernah meninggalkannya tanpa konfirmasi.
"Aku tidak memberimu izin masuk ke ruanganku, tolong perhatikan kembali etikamu terhadap atasan." Lugas, padat dan jelas sekali jika kini dia tidak menyukai tindakan Reyhans.
"Gi?"
"Telingamu masih berfungsi dengan baik bukan? Atau kau tidak mengerti bahasa manusia? Keluar."
Tidak pernah Gian memperlakukannya begini, setelah sempat perang batin beberapa tahun lalu, dan kini Gian seakan kembali menabuh genderang perang.
"Salah satu diantara kalian, silahkan mengundurkan diri secara baik-baik jika tidak ingin aku pecat dengan tidak hormat."
Langkah Reyhans terhenti kala mendengar pernyataan Gian. Apa benar sahabatny ini marah hingga memutuskan hal semacam itu dalam waktu tak sambai 24 jam.
Ddrrtt Drrt
"Baik, Pak, atur saja waktunya."
Tunggu, Gian menerima telepon di kantor dan itu bukan dari keluarganya. Reyhans belum bisa menyimpulkan apa yang terjadi dengan sahabatnya ini.
"Terima kasih, Pak."
Ini adalah hal langkah, namun Reyhans justru dibuat ketar-ketir dengan apa yang Gian lakukan. Dan mirisnya, Gian kembali melanjutkan kesibukannya meski Reyhans masih berada di ruangannya.
🌪
__ADS_1
Otw pindah pabrik pupuk.