
Menyiapkan makan hingga ia sendiri yang membereskannya adalah sebuah hal yang baru pertama kali ia lakukan. Melihat Radha yang menguap beberapa kali usai menyantap makan malamnya, Gian hanya mampu menghela napas pelan dan meminta anak itu masuk kamar terlebih dahulu.
"Sepertinya aku butuh seseorang untuk menemaninya," ujar Gian sejenak menghentikan aktivitasnya, tanpa sadar ia membayangkan jika mereka akan tinggal berdua dalam waktu lebih lama beberapa saat lagi.
Ia merapikan meja makan, mengelap hingga benar-benar bersih dan tersusun kembali rapi. Meski sebelumnya ia berasa amat lelah, namun usaha Radha untuk membangunkannya benar-benar berhasil membuatnya enggan untuk kembali tertidur.
Ia merasa tubuhnya sangat tak nyaman, meski sudah malam Gian tetap akan membersihkan diri walau sejenak. Masuk ke dalam kamar dengan wajah datar dan langkah santai tetap saja membuat wanita imut yang kini duduk di meja rias terkejut.
"Aaaarrrrgh!! Kan bisa ketok dulu, Kak."
Spontan ia berteriak, sedangkan Gian hanya menarikkan alisnya menatap mata tajam Radha yang tengah menusuknya dengan tatapan kemarahan.
"Lebay!! Kau saja yang terlalu alay," celetuk Gian tanpa dosa mencolek lehernya, bukankah seharusnya ia yang terkejut melihat wajah Radha yang bahkan tak ia kenali lantaran perawatan yang tengah ia lakukan di malam hari.
"Ck ... retak maskernya," keluhnya menatap pantulan wajahnya di cermin itu, memang seharusnya ia tidur, namun karena takut bentuk perutnya tak ia ingini Radha menyibukkan diri dengan hal yang sebenarnya tak terlalu penting.
"Ada-ada saja, kenapa kau belum tidur?"
Gian tak berpindah, pria itu kini terfokus menatap pantulan wajah keduanya, tentu saja sembari mengagumi dirinya. Rambut halus dan wangi milik istrinya begitu indah kala bersentuhan dengan dagunya, Gian menunduk dan memeluk Radha meski tak cukup erat.
"Eh?"
"Bentar," ucapnya dengan mata terpejam, tak ingin mendapat penolakan dari wanita itu, Gian hanya ingin menenangkan sejenak pikirannya.
"Kakak kenapa?" tanya Radha ragu, pasalnya ia merasa Gian sungguh aneh, jika biasanya ia kerap acuh, lain halnya dengan malam ini.
"Tidak apa-apa, hanya saja hal ini membuatku tenang," tuturnya penuh kelembutan.
Deru napasnya dapat Radha dengar sebegitu indahnya, meski beberapa saat terkadang ia merasa begitu berjarak dengan Gian, namun ia dapat menjadi sedekat itu beberapa waktu.
Dalam dekapan Gian, meski tak terlalu erat dapat membuat Radha membeku bahkan ia tak mampu melangkah walau secenti. Andai saja wajahnya dapat terlihat jelas, mungkin ia akan geli menatap wajahnya sendiri, pikir Radha.
__ADS_1
"Huft, bersihkan wajahmu, atau aku yang akan mandi lebih dulu?"
Benar saja, Gian dapat bertindak tiba-tiba dan berhenti sesukanya. Radha masih terpejam entah menikmati atau merasa geli dengan perlakuan suaminya, kini semua bubar lantaran suara Gian yang terdengar datar dan kembali seperti biasa.
"Kau kenapa?"
"T-tidak," jawab Radha singkat dan memilih berlalu ke kamar mandi, tatapan Gian membuatnya merasa di ejek dan tentu saja kesal mengiringi langkahnya.
"Ish, dia yang mulai kenapa gue berharap terus-menerus sih ... ays sialan, gue kenapa sih!!"
Ia menempuk kasar wajahnya yang kini basah, menyadarkan diri dan mencoba fokus agar tidak kehilangan kadar waras saat ini. Wajahnya terlihat segar, meski tak terlalu banyak ia menerima polusi, tetap saja kulitnya butuh ketenangan.
"Cantik," pujinya kembali, lagi dan lagi Radha memilih mengagumi diri sendiri.
Terlalu fokus dengan wajahnya yang tampak begitu segar, Radha tak menyadari keberadaan Gian yang kini menantinya di pintu sembari menggelengkan kepala.
"Sampai kapan kau berada di sini, Ra?"
"Kau terlalu lama, jam berapa lagi aku mandi jika harus menunggumu."
Ia panik kala Gian mulai melangkah, segera wanita kecil itu berlari sebelum Gian menutup pintunya.
"Iyaya ... dasar sarap."
Dalam keadaan genting, ia masih sempat mengumpat dengan suara sekecil mungkin karena takut Gian akan macam-macam dengannya. Tentu saja dengan alasan belum siap Radha menghindari hal-hal yang memicu terjadinya apa yang ia pikirkan beberapa hari lalu.
...****************...
Tuhan menciptakan banyak manusia di waktu yang sama, tentu saja dengan perasaan dan suasana hati yang tak akan sama setiap saatnya. Jika di sudut lainnya tengah merasakan getar cinta, lain halnya dengan pria tampan yang kini tengah meratap di ujung hancurnya puncak rasa.
Kamar yang seharusnya sudah gelap, kini masih bertahan sinarnya lantaran sang pemilik ruang tengah duduk menatap nanar jendela kamar. Kosong, hanya angkasa hitam yang takkan pernah ia genggam.
__ADS_1
Tak ada bintang, bahkan remang cahaya bulan pun tak ada. Permintaannya prihal Radha di depan orangtua dan Gian sebagai suami kekasihnya beberapa waktu lalu masih menyisakan sakit.
Bagaimana tidak, bahkan Haidar belum pernah mencintai wanita sedalam ini, tak pernah ia impikan sebuah masa depan selain dengan Radha. Namun, sekeras apapun ia mencoba, jawab Gian dan ucapan Raka seakan jadi penghalang terbesar bagi Haidar.
Diam, Haidar yang hanya mampu diam. Beberapa saat mencoba mengubur mimpinya, namun lagi dan lagi tekad itu hanya mampu bertahan beberapa menit saja. Selebihnya ia akan terus memperjuangkan hal mustahil dengan sejuta keyakinan di benaknya.
"Ck, lucu sekali, bertahun-tahun tanpa pertemuan kita baik-baik saja, Ra. Kenapa kau diam saat aku memintaku kembali dalam peluk ku, Radhania ..."
Ia tertawa sumbang, menatap kecewa wajah cantik yang tengah tersenyum di layar ponselnya. Apa mungkin Radha semudah itu membuang rasa, bahkan kalimat selamat datang dan peluk kehangatan yang seharusnya ia dapatkan nyatanya hanya sebatas angan.
Ikatan pernikahan yang salah, atau memang Radha tak mencintainya sejak lama. Berbagai pertanyaan menguasai pikiran Haidar saat ini, denting jarum jam dan perpaduan dinginnya malam ini membuat mengiba rindu.
Ya, rindu yang bahkan belum tuntas dan membendung begitu berat di hatinya seakan bertepuk sebelah tangan. Haidar hancur, saat ini, gadis yang ia anggap sebagai rumah untuknya pulang nyatanya terpaksa menerima penghuni baru hanya karena sebuah kesalahan.
"Aaaa ya Tuhan, Radha!!!"
Untuk kesekian kalinya, Haidar menjerit dalam pilunya. Kristal bening kini mulai berurai tak tertahan dari sudut matanya. Ia tak lemah, sama sekali Haidar bukan pria lemah.
Ia terlalu setia, bahkan tak pernah ia berpikir untuk menyediakan hatinya untuk wanita lain. Namun dunia mematahkan setianya, meretakkan cintanya dan mengubur impiannya secara paksa.
Terbesit nama Radha, dan dendam itu keluar begitu saja kala wajah Gian terbayang dengan jelas. Haidar tak mampu berbuat gila, dan ia tak pernah melakukannya sebelum ini. Meski terbesit pikiran buruknya, tetap saja Jelita menjadi alasan dia berpikir seribu kali.
"Kembalikan dia padaku wahai Sang Pemilik Cinta."
Dengan mata terpejam dan tangan yang mengepal sebegitu kerasnya, Haidar berbicara dengan hati tersayatnya. Berharap ia akan membasuh lukanya, dan saat ini Radha lah yang ia maksud sebagai pembasuh luka batinnya.
Drrrt Drrrt Drrrt
"Hah?" Ia mengerut, ada apa dan kenapa harus selarut ini seseorang menghubunginya.
Bersambung❣️
__ADS_1