
Bangun terlalu pagi, meski sebelumnya Radha begitu lelah, tetap saja ia terbangun sebelum matahari menampakkan biasnya. Masih dengan posisi yang sama, Radha masih tidur di lengan suaminya.
Dan Gian, begitu erat memeluk hangat istrinya. Seakan begitu takut kehilangan, Gian mengunci tubuh Radha dengan kakinya sekaligus agar wanita itu tak pergi.
"Kakak, sudah mau siang, bukahkah aku harus pagi-pagi hari ini?"
Pindah ke sekolah yang lebih baik, tentu saja banyak hal berubah salah satunya jam masuk Radha. Setelah kemarin sempat merepotkan Rey dengan segala hal yang berurusan dengan sekolahnya, kali ini Radha meminta Gian sendiri yang turun tangan.
"Astaga, Kak, atau kakak mau aku tidak berangkat hari ini?" tanya Radha sembari sedikit memberontak, ia ingin segera lepas, karena setidaknya ia mampu untuk bergerak lebih baik.
"Eengh, bentar lagi, Ra," ucapnya dengan suara ngantuk berat, dalam posisi teryamannya, ia enggan terlepas dari Radha.
Tak punya pilihan, Radha pasrah dan memilih mengalah. Meski kantuknya telah hilang, namun memang dingin masih menusuk kulitnya. Pelukan Gian juga nyaman, dan tak ada alasan untuk ia berontak, namun tetap saja ia juga memiliki tanggung jawab yang harus ia lakukan.
Hanya karena sebuah ketidaksukaan Gian, Radha terpaksa mengikuti keputusan suaminya. Meski Raka dan Jelita telah meminta Gian untuk berpikir dua kali, pasalnya ini adalah tahun terakhir Radha duduk di bangku SMA.
Namun bagaimana, Gian tetaplah Gian. Apa yang dia mau harus di lakukan, tak peduli seberapa banyak yang tak setuju. Pun Rey, sang Asisten yang harus mengurus tuntas keperluan istri bosnya.
Berapapun uang yang harus ia keluarkan, Gian tak peduli. Ia hanya ingin istrinya menikmati pendidikan tanpa gangguan, mendengar keluh kesah Radha tentang hancurnya pertemanan merupakan awal dari keputusan Gian.
Belum lagi sosok Abian yang sangat mengganggu pikirannya, bocah yang bahkan ia anggap tak bisa melakukan apa-apa itu berpotensi membuatnya kesal luar biasa.
"Kau akan di dampingi asistenku, Kakak tidak bisa mengawasimu lagi, Sayang."
Sebuah kalimat yang harus ia syukuri, Gian berucap demikian tak sedikitpun membuatnya sedih. Karena akan mengurangi pandangan negatif dari orang sekitarnya.
"Hm, Kakak tenang saja, aku tidak akan berulah."
Jelas saja, karena memang tak ada yang ia kenal sama sekali. Entah bagaimana dia disana, mendapat teman atau tidak ia juga tak mengerti. Sekolah dengan kendali Gian, tanpa teman dan sedikitpun tak semangat karena ia merasa hampa jika harus beradaptasi dengan lingkungan baru.
Melepas kepergian Rey dan Radha, Gian harus segera ke kantor untuk urusan pekerjaannya. Merasa ada yang tertinggal, Gian hendak kembali ke kamarnya.
"Kau? Mau kemana, Haidar?"
Gian mengernyit heran kala melihat penampilan Haidar yang teramat rapi di matanya. Terlihat bukan Haidar, gaya berpakaian seperti itu bukanlah adiknya, meski tak dapat ia pungkiri, dengan kemeja hitam yang begitu pas di tubuhnya dan dasi yang melekat di lehernya membuat Haidar terlihat tampan.
"Ikut kau, boleh kan?"
"Ikut?"
"Hm, ikut, kenapa memangnya?"
Tidak ada yang salah, bahkan sebuah hal yang baik jika Haidar ingin mencoba. Setelah sempat membicarakan prihal Haidar bersama papanya, Gian mengerti apa maksudnya saat ini.
__ADS_1
"Tidak apa, baguslah jika kau mau."
Ia menepuk pelan bahu Haidar, pria tampan itu meminta adiknya untuk menunggu di mobil. Sedikit canggung sebenarnya, Haidar berada di sisi Gian seakan berbeda.
********
Perjalanan ke kantor begitu lancar karena Gian melaju dengan kecepatan tinggi, meski Haidar sempat senam jantung lantaran sang Kakak nekat menerobos lampu merah dengan alasan buru-buru. Tak ia duga, seorang Gian yang selalu minta dipatuhi memiliki sifat seburuk ini.
"Dasar gila!! Kau bisa mati jika ini menjadi kebiasaanmu," sentak Haidar memegang dadanya, jantungnya berdetak lebih cepat karena memang hal ini tak pernah ia lakukan.
"Ays, kau santai saja, toh aku belum menabrak trotoar ataupun kendaraan lain."
"Belum, Kak!! Belum? Kau belum saja menabrak orang, ternyata kau tak sesempurna yang kupikir."
Gian hanya menatap sekilas Haidar, dia belum tahu saja seberapa bar-bar dirinya jika sudah berkendara. Bahkan istrinya sendiri pernah menjadi korban kesalahannya. Memang benar, pikiran Gian yang menganggap jalan milik pribadi.
"Kau lebih cerewet dari Mama," ujar Gian memutar bola matanya malas, memang salah satu keburukan Gian adalah prihal ini.
Memang, kurangnya waktu bersama bagi mereka membuat banyak hal yang terlewatkan. Bagaimana Gian tak sepenuhnya Haidar ketahui, memang dia tak terlalu baik namun tak ia duga bahwa Gian lebih dari sekadar tak baik.
"Bisa-bisanya dia memiliki suami sepertimu," ujarnya sembari membuang muka, walau sejujurnya berbicara dengan makna sebenarnya.
"Apa katamu? Ulangi, Haidar."
"Heih? Ternyata selain gila kau juga tuli ya," tuturnya menarik sudut bibirnya. Tatapannya begitu menyebalkan dan membuat Gian ingin mencongkel bola mata adiknya.
Suasana yang tadinya berangsur hangat, mendadak dingin seketika kala Gian menjawab Haidar begitu dinginnya. Sesensitif itu, Gian berubah usai Haidar berucap sekenanya.
"Aku berkata sesungguhnya, Kak, aku hanya tak habis pikir, masa muda Zura harus terkekang dengan status yang ia paksa terima."
Benar, ucapan Haidar memang ada benarnya. Namun, bagaimana keadaannya saat ini, Gian dan Radha menempatkan diri sesuai porsi masing-masing. Gian menatap sekilas Haidar yang kini menatapnya, tak dapat Gian artikan apa sebenarnya makna dari tatapan mata itu.
"Hm, kau benar, tapi pernikahan kami berjalan sebagaimana mestinya, Haidar ... aku tak mengekangnya, bahkan aku menginginkan dia tetap menjadi Radha dengan bebas akan masa mudanya."
Haidar terdiam, penjelasan Gian cukup menusuk di hatinya. Hatinya berdenyut, suara lembut sang Kakak luar biasa membuat sakit sebenarnya. Meski harusnya ia bersyukur karena ini merupakan hal baik yang ia ketahui tentang Radha.
"Kau mencintainya?"
"Ck, pertanyaan macam apa itu, Haidar?" tanya Gian sebegitu lembutnya, ia menarik sudut bibirnya tipis sembari memasuki area parkir.
"Aku serius, Kak, cinta atau hanya sekadar menjalankan kewajiban sebagai suaminya?"
Gian diam, mulutnya terkunci untuk berucap. Haidar yang masih menanti jawaban sang Kakak hanya menatapnya datar.
__ADS_1
"Aku rasa kau tak perlu tau, Haidar. Ini rumah tangga, Kakak, mengerti?"
Ia menepuk pelan bahu sang Adik, tak ada kemarahan dalam benaknya. Gian berucap baik-baik meski dengan tatapan mata yang sedingin itu.
"Aku hanya memastikan, Kak, aku sangat mencintainya ... apa salah aku bertanya?"
Tak kalah dingin, manik tajam Haidar membalas tatapannya. Gian menghela napas pelan, memijat pangkal hidungnya dan memilih berlalu keluar mobil lebih dahulu.
"Kak, tunggu!!" Haidar sedikit berlari mengejar Gian, beberapa orang yang hanya paham bahwa Haidar seorang artis justru sibuk memotret dan mengejar dirinya untuk hal lain.
"Ays!! Anak ini benar-benar bencana," ujar Gian manakala sadar adiknya sudah menjadi sasaran para pegawai centilnya. Dengan sedikit amarah, Gian mencoba masuk di antara kerumunan itu, dan menarik pergelangan tangan Haidar.
"Aaarrrggh!! Gila, tanganku bisa putus, Kak!"
"Kau memang bodoh, setidaknya pakai topimu atau tutupi wajahmu itu." Gian begitu kesalnya, pagi-pagi ia sudah terlibat drama menghadapi wanita-wanita yang tak tahan akan godaan itu.
"Enak saja, wajah tampanku mana mungkin aku sembunyikan." Ia berucap sombong ketika lift telah tertutup, meski memang seharusnya Haidar berterima kasih pada Gian.
"Bisa saja kau menjawab." Gian berdecak kesal lantaran Haidar bisa saja mencari jawaban.
"Ya bisa lah, karyawanmu saja alay, tidak berbeda jauh darimu, hm."
"Kau mau aku tendang dari lantai 13, Haidar?"
"Terserah kau saja, Papa bilang jika aku mau, jabatanmu akan semudah itu berada di tanganku." Haidar berucap enteng dengan menarik sudut bibirnya.
"Coba jika kau bisa, jangan harap kau mampu menyingkirkanku semudah itu, Tuan Muda."
Sebuah kalimat yang membuat Haidar tertantang, wajahnya terlihat serius dan tak melepaskan tatapannya dari Gian.
"Cih, kau merendahkanku?"
"Tidak, karena memang pada kenyataannya begitu kan? Segala yang kau inginkan, nyatanya aku lebih dahulu memilikinya."
"Jangan bangga dulu, Kak, tanpa uluran tangan Papa kau juga tak mampu apa-apa." Haidar menganggap serius ungkapan Gian, meski ia paham tujuan kakaknya takkan sejahat itu.
"Kau tidak mengenal siapa Kakakmu ternyata, hhmm ... baiklah, mari mita berkenalan." Gian mengulurkan tangan, mungkin sudah saatnya Haidar mengetahui prihal dirinya, pikir pria tampan itu.
"Cih, seperti orang penting saja kau." Haidar berlalu dan melangkah asal, menebak dimana ruangan Gian dengan perasaannya. mengelilingi kantor dengan tatapan mautnya, sungguh tempat ini bukan dunianya, entah akan berapa lama Haidar betah di kantor, pikirnya.
............Bersambung❣️
Hm, gaes mau tanya dung😐 Pembaca Gian, bacanya loncat-loncat ya? Kalau bisa jangan yaa🤗 Oh iya, prihal visual nanti ya, aku kasih eps khusus. Saran buat visual juga boleh mueheh.
__ADS_1
Makasih buat yang nungguin Gian, bahkan dahulu pernah off satu bulanan. Love you❣️ Sehat selalu ya.
Saran, besok alurnya mau gimana, boleh sumbangin yak. Authornya butuh masukan🦕