
Gian tetap melakukan tanggung jawabnya, pria itu masih pergi ke kantor walau sudah dilarang. Dan tentu saja dengan mencari cara agar ia tak merasa tersiksa, pakai sendal.
"Yakin begitu?" tanya Reyhans merasa sedikit heran karena biasanya Gian selalu menuntut kesempurnaan dalam dirinya.
"Yakin, memangnya kenapa?" tanya Gian dengan wajah datarnya.
Perjalanan kali ini cukup lancar, tak sepadat kemarin. Walau, drama sebelum pergi ke kantor tetap saja ada, Radha yang khawatir akan keadaannya, namun Gian berkali-kali mengatakan dia baik-baik saja, hingga terjadi perdebatan yang membuat Radha lelah sendiri pada akhirnya.
"Tidak apa, tapi itu sendalmu lucu sekali, apa tidak salah, Gian?"
Reyhans ragu untuk berucap, karena kini biasanya sendal yang seperti itu kerap ia temukan di kamar adik perempuannya. Ia hanya takut jika Gian tengah tak sadar bahwa mereka hendak ke kantor.
"Tidak, ini bahannya lembut, terbuat dari serat kain yang memang sengaja dibuat agar pemakainya nyaman," jelas Gian yang sama sekali tak Reyhans butuhkan, bukan itu yang dia maksud.
"Bukan begitu, Gi, tapi maksudku apa kau tidak malu menggunakannya? Kita akan ke kantor, bukan apartmenmu," ucap Reyhans gamblang berharap Gian akan mengerti, karena bahaya jika sudah tiba di kantor Gian akan memintanya mengganti benda itu.
"Tidak, aku sengaja memilih sendal ini, kakiku sakit kalau pakai sendal lainnya, lagian ini juga lucu ... kau lihat, ini beruang, Rey."
Tak cukup dengan bicara, Gian mengangkat kakinya agar Reyhans dapat melihat dengan jelas bentuk dari sendal yang harusnya dipakai di dalam rumah saja.
"Iyaya, terserah kau saja."
Reyhans menyerah, sepertinya memang keputusan Gian sudah bulat. Karena sebelum memilih, Gian sudah mempertimbangkan resikonya.
Menjadi perhatian para karyawan, ia berusaha berjalan dengan normal dan mempertahankan wibawanya. Kesempurnaan seorang Gian memang tak dapat dipungkiri, kacamata itu bertengger di hidung bangirnya, rahang tegas dan langkah yang membuat orang lain mampu terdiam.
"Reyhans, kenapa tatapan mereka segitunya, apa ada yang aneh dengan wajahku?" tanya Gian bahkan menghentikan langkahnya, menatap sekeliling dan karyawannya sontak mengalihkan pandangan cepat-cepat.
"Tanpa kujelaskan kau seharusnya mengerti, sendalmu itu menyita perhatian publik, Avgian."
Tak ambil pusing, Gian hanya mengangguk berkali-kali. Tampak berpikir keras dan wajah yang teramat serius.
"Mereka mengejekku maksudmu?!!" Reyhans kaget, sejak tadi harusnya Gian tahu, namun Reyhans enggan membenarkan.
"Potong gaji mereka!!" sambungnya yang membuat Reyhans lagi-lagi hanya mampu terdiam.
Pria itu berlalu, masih dengan wibawa dan ketampanan paripurna yang tetap bertahan, walau ia sesulit itu menyembunyikan rasa kesal akibat tatapan para karyawannya.
__ADS_1
"Ck, apa yang aneh dengan sendal ini, seperti mereka tidak punya saja," ujar Gian pada dirinya sendiri, ada banyak yang Radha pilihkan, namun dia memilih sendal tidur dengan karakter beruang coklat itu.
Menuju ruangannya, Evany sudah menyambut kedatangan mereka dengan senyum dan sapaan sopan layaknya bawahan kepada atasannya.
"Evany, bagaimana penampilanku? Lucu bukan?" tanya Gian meminta validasi dari Evany, ia ingin mendengar pernyataan dari kekasih sahabatnya ini.
"Waw ... Haaaaa kiyowo, saya juga punya, Pak, tapi warnanya merah muda."
"Oh iya? Beruang juga?"
"Enggak dong, punya saya hewan yang paling imut sedunia, Pak."
"Apa memangnya?" tanya Gian penasaran.
"Singa, Pak, bulu-bulunya banyak, kalau dicuci dia jadi basah kuyup persis bulu kucing," jelas Evany seakan bukan tengah bicara bersama atasannya.
Jawaban tak terduga, Reyhans sempat tertekan melihat interaksi mereka yang bahkan sedekat itu hanya karena benda yang sama sekali tidak ada lucunya bagi Reyhans.
"Benarkah? Hahaha berikan satu untuk kekasihmu, dia tidak mengerti nyamannya pakai ini," tutur Gian usai tertawa begitu renyah, hal langka yang seharusnya Evany rekam dengan ponselnya.
Evany menatap sekilas pada Reyhans yang sejak tadi hanya diam, mungkin tidak sama pemikirannya, pikir Evany.
"Baiklah, semangat untuk hari ini."
Tumben sekali, bahkan memang baru kali ini. Sejak kapan Gian berubah jadi seramah itu, pikir Evany.
"Kamu kenapa? Besok aku bawakan ya," ucap Evany yang membuat Reyhans sontak bergidik.
"Tidak usah, untuk kamu saja ... adikku punya banyak di rumah," jelas Reyhans singkat, Evany hanya mengangguk mengerti, sepertinya memang Reyhans akan terus begini.
"Sudah sarapan?" tanya Reyhans tiba-tiba, pertanyaan rutin yang biasa ia berikan untuk Evany setiap harinya.
"Belum, Mama pergi, aku malas masak," jawabnya jujur dan terpaksa Reyhans harus bertindak jika jawaban kekasihnya begini.
"Ck, kenapa kamu melewatkan hal sepenting itu. Tunggu sebentar, aku akan turun," ucap Reyhans sebelum berlalu meninggalkan Evany, karena baginya sarapan adalah keharusan, mengingat pekerjaan Evany yang cukup menguras tenaga nantinya.
"Baik sekali dia," tutur Evany kala menatap punggung Reyhans yang kian menjauh, pria itu memang tak banyak bicara, namun dalam mengambil tindakan Reyhans memang sesigap itu.
__ADS_1
-
.
.
.
Pagi ini, seperti biasa Radha sudah membiasakan diri untuk jalan-jalan di sekitar rumahnya. Bukan hanya karena ia hamil, tapi memang Radha suka.
"Ma, pengen bakso," ucap Radha dengan suara lembutnya, sedikit ragu namun memang dia sangat ingin.
"Bakso? Mau sekarang?" tanya Jelita memastikan, karena memang sejak lama Radha tidak pernah mengkonsumsi makanan sejuta umat itu.
"He'em, kenapa di sini nggak ada sih, Ma?"
Lingkungan mereka tak memungkinkan ada warung bakso, harusnya tanpa Jelita jelaskan Radha sudah paham sendiri.
"Mama buat ya? Bahan-bahannya ada kok, nggak akan lama." Ia masih khawatir jika Radha makan sesuatu yang tercipta bukan dari tangannya.
"Maunya yang dari Abang-abang, sama yang pakai mangkok ayam," ucapnya tanpa sedikitpun keraguan, karena memang yang di otaknya begitu tampilannya.
"Yaudah, kita minta pak Budi buat anterin, di dekat rumah Mama dulu ada," ujar Jelita kembali mengingat lingkungan hidupnya beberapa tahun lalu.
"Rumah Mama? Masih bagus, Ma? Aku mau kesana juga," pinta Radha tak bisa menahan dirinya, karena ia sempat melihat beberapa foto Gian kecil di halaman rumah sederhana namun sebegitu menenangkan di mata Radha.
"Masih, biasanya enam bulan sekali Mama akan kesana, kangen sama masa muda, Ra," ucap Jelita dengan senyum hangatnya, padahal hatinya berduka begitu mengingat rumah itu.
Cinta pertamanya di dunia, dan malaikat tak bersayap dalam hidupnya telah tiada, dan rumah itu adalah saksi tangisnya sejak bayi hingga punya bayi.
"Yaah, Mama sedih?" tanya Radha sedikit menyesal, kesedihan itu tampak jelas di matanya.
"Hem? Enggak, ayo siap-siap."
"Jauh, Ma?" tanya Radha berharap jika perjalanannya akan sejauh itu.
"Enggak juga, tapi kalau jalan kaki ya jauh," jawab Jelita membuat Radha tak mampu menahan tawanya.
__ADS_1
"Hahaha iyalah, Mama." Menggeleng pelan, jawaban Mamanya memang tak salah, namun bukan berarti itu yang ia minta.
TBC