
"Kenapa kau menghubungiku?"
Belum apa-apa, Haidar membuka pembicaraan begitu ketusnya. Panggilan dari sang Asisten membuat amarahnya membuncah, sejak kepulangannya Haidar bahkan meminta Rury untuk tidak menghubunginya dahulu.
Ia memejamkan mata, memijat pangkal hidung dan membuang napasnya kasar. Lagi dan lagi ia di tuntut tanggung jawab yang memang seharusnya ia lakukan, rencana kepulangannya yang memang tak lama seakan menjanjikan hal baik untuk pekerjaannya.
"Lalu? Jika aku tidak menghubungimu, apa kau pernah berpikir untuk kembali, Haidar?"
Andai saja, Rury berada dalam jangkauannya, sudah pasti umpatan dan segala amukan ia keluarkan saat ini. Ia hanya meminta Rury mengerti jika saat ini ia hanya ingin lepas sejenak dari penatnya dunia hiburan.
"Baiklah, kau bisa diam? Ini terakhir kali kau menghubungiku, Rury. Aku akan kembali ketika mau, tak perlu kau meminta apalagi memaksaku."
Haidar menekan setiap kalimatnya, ia tengah menahan amarah yang benar-benar membuncah. Hari terlampau larut, dan suasana hatinya masih tenggelam dalam kalut. Ia benci, semesta seakan bekerja sama untuk mematahkan dirinya.
Selama bersama Rury, Haidar selalu menghormati Rury sebagai sosok kakak baginya. Bahkan sangat jarang ia menyebut Rury hanya sepenggal nama saja, kalaupun terjadi tandanya memang dirinya tengah di selimuti amarah luar biasa.
"Ehm, Kakak mengerti, tapi jangan izinkan dirimu hancur, Haidar. Kau lupa sekeras apa kau membangun istanamu saat ini?"
Kalimat seperti itu kerap Rury ucapkan manakala Haidar tengah di titik terpuruknya, gadis itu sebisa mungkin menjadi penenang bagi pria labil yang memang belum terlalu matang itu. Kadang kala ia memang belum bisa membedakan apa yang seharusnya, beberapa.kecerobohan yang ia lakukan berdampak buruk bagi diriny sendiri.
"Huft, kau tau apa, Kak? Hm? Haha ... bahkan secuil pun kau tak mengerti bagaimana batinku." Haidar tertawa sumbang, kecewa ia sematkan, Rury yang memang mendukungnya kadang tak memahami jatuhnya, yang Riry tahu hanyalah bangkit dari kelukaan itu.
"Maaf, tidurlah, di sana sudah larut malam, nanti kau sakit, Haidar."
Tak peduli bagaimana marahnya Haidar, Rury tetap berusaha selembut itu, berharap Haidar akan tetap dalam keadaan baik meski ia tahu saat ini, dunianya tengah terguncang.
Tidak ada jawaban dari Haidar, pria itu mematikan ponselnya sepihak dan melempar benda pipih itu ke tempat tidur begitu saja. Ia tak butuh celoteh dan perhatian dari siapapun, yang ia butuhkan saat ini bukan itu, melainkan cintanya.
"Ck, aku tidak bisa terlalu lama seperti ini."
__ADS_1
Haidar beranjak dengan emosi yang tengah menguasai dirinya, ia keluar kamar dan kini mengambil langkah panjang ke arah kamar Gian yang memang hanya berjarak beberapa ruangan saja.
Tok tok tok
"Gian!! Buka pintunya."
Dengan tidak mempedulikan aturan dan kesopanan, Haidar menggedor pintu kamar Gian dengan tenaga yang kini tengah membara. Berulang kali dan tidak mendapat respon dari sang pemilik ruangan.
"Ays!! Kau dengar kan?!! Buka cepat, sethan!!"
Dadanya berdebar, panas dan napasnya menggebu-gebu. Niat membuat Gian sengsara malam ini terbesit begitu saja dan membuat Haidar kehilangan akal sehatnya.
"Keluar atau pintu ini akan hancur, Gian!!"
Teriakannya cukup keras, jelas saja membangunkan harimau yang tengah tertidur pulas di lantai satu. Ya, Raka yang merasa terganggu geram bukan main dan menghampiri putra bungsunya itu.
"Kau gila, Haidar?!!"
Raka mengeras, kepalan tangannya siap melaju di wajah tampan itu. Namun, lagi dan lagi Raka sadar akan perannya sebagai orang paling bersalah di sini, hal itu membuat Raka berusaha tenang dan mengajak putranya bicara baik-baik.
"Kakakmu tidak berada di rumah, apa yang kau cari?"
Penjelasan Raka membuat Haidar terdiam, lagi dan lagi ia kesal bukan main. Menendang angin dan mengacak rambutnya kasar, Haidar tengah frustasi dengan apa yang kini ia alami.
********
"Kau mau kemana?!!"
"Untuk apa Papa menghalangiku?" tanya Haidar sembari menoleh sejenak, ia turun meniti anak tangga begitu cepatnya, tentu saja ia hendak keluar rumah itu.
__ADS_1
"Jangan berani keluar dari rumah ini tanpa izin Papa, Haidar."
Suara berat Raka memang dapat menghentikan gerak dunianya, Haidar berhenti melangkah dan memejamkan matanya. Tak dapat ia pungkiri rasa takut dan tunduk pada sosok papanya itu benar-benar tak dapat di ganggu gugat.
"Kembali ke kamarmu, atau malam ini adalah malam terakhirmu menginjakkan kaki di rumah ini, Haidar?"
Raka tak berpindah, suaranya menggema dan membuat sang putra yang kini berdiri di salah satu anak tangga itu hanya mampu terdiam, pasrah dan memilih mengalah untuk malam ini.
"Sebegitu kecilnya aku hingga takut seperti ini?" tanya Haidar dalam hatinya, jika di pikir memang ini terlalu berlebihan, bahkan untuk sebuah ancaman seperti itu ia tetap patuh.
"Kembalilah, Haidar, besok masih ada waktu bukan?"
Raka berucap begitu halus kala tidak ada perlawanan dari sang Putra. Menatap Haidar yang kini berbalik dan naik pelan-pelan, hatinya tersenyum di balik wajah datar yang menjadi topengnya.
"Tidurlah, matamu terlihat lelah."
Singkat, namun entah mengapa kalimat itu justru membekas sebegitu dalamnya di benak seorang Haidar. Ucapan mahal yang mungkin baru kali ini ia dapat setelah beberapa tahun tidak ia dengar.
"Hm, selamat malam, Pa."
Raka tersenyum mendengar ucapan manis Haidar meski sang Putra terlihat enggan menatapnya. Andai kedua anaknya dapat ia rangkul dengan baik, tentu tidak ada batas yang terlalu tinggi antara orangtua dan anak, pikir Raka sembari menatap lekat punggung putranya yang mulai menjauh.
Sesal hanyalah sesal, tidak ada yang patut ia ratapi. Jarak itu tercipta sendiri seiring dengan pola pikir Haidar yang begitu berbeda dengannya. Tetapi tetap saja, pria itu adalah putranya, meski tak ia ungkapkan secara nyata lewat bibirnya, Raka tentu teramat mencintai kedua anaknya tanpa beda.
"Kalian berharga, bagaimana bisa aku baik-baik saja jika kau terus seperti ini, Haidar."
Ia berucap dengan mata sendu, kembali merasa sebagai penyebab kacaunya Haidar. Pun jika hubungan Haidar dengan Gian semakin panas seperti yang tengah terjadi, akan berapa lama Raka bertahan dengan beban di dadanya itu.
"Sangat sulit," ucap Raka sembari menghela napas perlahan.
__ADS_1
Tbc