Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 199. Masih Berlanjut (Dendam Sampai Lahir)


__ADS_3

Drama siang hari nampaknya belum usai, karena hingga sore Jelita masih menunggu kehadiran Raka dengan duduknya yang tak santai sama sekali. Menantunya yang hamil, tapi justru yang lebih heboh adalah dirinya.


Tunggu, dia heboh karena kehamilan menantunya? Bisa dibilang tidak juga. Karena hal yang justru ia ingin bahas adalah apa yang Raka rencanakan bersama Gian. Dengan ditemani Radha di sisinya, menantunya ini justru lebih tenang seakan tak terjadi apa-apa.


“Ma, sampai kapan nunggu di sana? Papa lembur dibilangin.”


Gian menghampiri dua bidadari berbeda usia ini, wajah masam Jelita membuat Gian sejenak menelan salivanya pahit. Tampaknya mamanya ini benar-benar marah besar, dan jujur saja ia bingung meluluhkan watak pendendam Jelita.


“Sampai papamu pulang! Dan kamu! Nggak usah ngomong sama Mama!”


“Kenapa jadi Mama yang ngambek, dasar aneh.”


“Heh!! Mama denger ya kamu bilang apa.” Bantalan sofa itu mendarat tepat di wajah putranya, kali ini Gian semakin menyebalkan, seakan kehamilan Radha membuatnya semakin segalanya.


“Ck, udah Mama tunggu aja sendiri, Zura butuh istirahat, Ma.”


Karena yang Gian pikirkan kini hanyalah istrinya. Hampir satu jam Radha menemani Jelita yang menunggu kepulangan Raka. Meski mereka tidak hanya mematung, jelas saja banyak cerita dan canda diantaranya.


“Aduh Gian, Radha dari tadi juga duduk anteng, nggak Mama ajak guling-guling kok,” tutur Jelita membela diri, karena memang keinginan menantunya lah untuk berada di sisi Jelita, karena mungkin ia masih sedikit malas bersama Gian yang telah membohonginya dalam diam.


“Iya, Kak … aku mau sama Mama, kalau Kakak mau pergi, sendirian aja,” ucap Radha yang membuat Jelita menjulurkan lidah.


“Rasakan anak muda!” Persis kutukan, Gian yang sudah siap dengan pakaian rapinya hanya menatap datar Radha, rencananya untuk mengajak Radha pergi ke suatu tempat sore ini terancam gagal total.


“Ra? Tadi katanya mau, Sayang?” rayu Gian mencoba sekali lagi, ia mendekati istrinya dan duduk di lantai sembari menempelkan dagunya di lulut Radha.


“Sekarang nggak mau, lagi gak mood pergi-pergi,” tambah Radha yang kini membuat Jelita terkekeh, lagian hendak kemana Gian membawa istrinya, jika hanya untuk dipamerkan pada Erick dan lainnya, bagi Jelita itu adalah hal konyol paling nyata.


“Hm bener, Ra … lagian udah sore, kamu ngapain ngajak dia pergi jam segini?” Kompor panas meleduk, meledak menyatu dalam diri Jelita. Ia benar-benar mendukung penolakan Radha untuk Gian.


“Mama kok gitu, menantunya ngambek didukung,” kesal Gian kini kehilangan harapan karena bisa dipastikan ia kalah.

__ADS_1


Penolakan Radha benar-benar tak main-main, dan kini ia yang pasrah justru turut bergabung dalam penantian Raka yang tak pulang-pulang dan Gian tak yakin papanya akan pulang dalam waktu dekat.


“Ck, Papa mana sih,” keluh Gian mulai bosan, sudah berapa posisi ia coba, dan bersandar di antara kaki Radha cukup membuat istrinya menghela napas kasar.


“Gian, kenapa harus duduk di sana, naik kan bisa … apa gak kasian liat istri kamu? Pakek nyender mulu lagi.” Hanya berusaha menyampaikan aspirasi Radha saja, dan juga Jelita memang masih kesal dengan putranya ini.


“Berat ya, Ra?” tanya Gian mendongak, menatap wajah sang istri yang kini hanya menggeleng pelan.


“Enggak, Kak,” jawab Radha yang memang merasa tak rela jika Gian berpindah, entah mengapa posisi sedekat ini membuatnya nyaman walau terasa sedikit pegal.


“Tuh, Mama aja sewot.”


-


.


.


.


“Aaah ya Tuhan, Haidarku tampan sekali,” puji Jelita dengan suara yang cukup besar, sengaja ia katakan di dekat Gian dan membuat pria itu menatapnya tak senang.


Meski kini Haidar kembali fokus pada karirnya, namun pada Jelita ia masih kerap meluangkan waktu walau hanya menanyakan kabar via telepon. Dan kini, melihat wajah tampan putranya masih kerap muncul di televisi sebagai bintang iklan jelas ia bangga.


“Ck, kamu lihat kan, Ra? Kakak jadi ragu kalau suamimu ini anak kandung,” ujar Gian seakan manusia paling tersakiti di dunia, padahal Jelita bersikap demikial lantaran sebal dengan kegilaan yang ia lakukan.


“Hah? Apa iya, Ma?” Dengan polosnya, Radha justru mempertanyakan hal itu pada Jelita.


“Sepertinya, nggak tau, Ra … kan dulu Mama lahirin dia sempet pingsan, kali dokter salah bayi atau Papamu yang sengaja tuker.”


Sebuah karangan indah yang berhasil membuat Gian menganga, terdengar serius dan Jelita mengatakannya sembari menatap nanar tanpa arah, seakan memang tengah melamun dan pikirannya terbang ke beberapa tahun lalu.

__ADS_1


“Masa begitu si. Ma?” Mulut penuhnya masih sempat bertanya, jika ia sungguh malang nasib Gian, pikir Radha.


“Hm, kamu nggak heran sama dia, Ra? Mukanya mirip siapa? Nggak mirip Papa ataupun Mama sama sekali, Ra.” Keduanya kini memperhatikan wajah Gian yang kesal bukan main menjadi bahan candaan istri dan mamanya.


“T-tapi kata om Randy tingkahnya mirip Mama,” ucap Radha sedikit ragu.


Sebenarnya ia tak begitu mengerti bagaimana Jelita dulu, akan tetapi bagaimana Randy yang kerap mengutuk Gian karena ulah Gian yang ia samakan dengan Jelita sepertinya ulah Jelita mungkin sedikit jahil dan sembarangan bicara, pikir Radha.


“Nggak sadar diri, dia tu yang mirip Gian, Ra bukan Mama,” tolak Jelita enggan dianggap mirip dengan putranya, sekesal itu Jelita sampai sangat berniat membuat Gian kusut seperti itu.


“Tapi kata orang-orang aku mirip Papa masih muda, nggak mungkin juga mirip Mama, mungil persis botol yakult.” Hobi sekali, menyambar padahal tidak diajak bicara, pikir Jelita.


“Tuh lihat kan, Ra? Mulutnya, persis Randy,” tutur Jelita tak marah sama sekali, karena memang sedari kecil Gian terlatih untuk berkata semau dia.


“Om Randy dulu gini ya, Ma?” tanya Radha penasaran, jemarinya kini mengacak rambut Gian dengan gerakan lembutnya, jelas saja manusia itu betah walau ia menjadi bahan ghibah terang-terangan di depan mata.


“He’em, semoga cucu Oma nanti gak gitu ya, sering-sering istighfar, Ra dan ngidamnya jangan cuma pengen yang asem-asem, biar kesiksa pelakunya,” ucap Jelita lembut dan melirik perut Radha yang masih datar, jika tadi Gian diam, mendengar apa yang Jelita ucapkan barusan mengalihkan pandangan pada mamanya.


“Mama? Kok bilangnya gitu sama Zura?” Gian tak terima, ini pembullyan dan ajang balas dendam, pikir Gian.


“Kenapa? Eh hamil itu susah tau, Gi … sebagai suami kamu itu harus sesiaga mungkin dan usahakan harus selalu ada buat istri kamu, kapanpun, dimanapun, bagaimanapun.”


“I-iya, kalau untuk itu aku juga tau,” tutur Gian kini meraba dadanya, degub jantungnya terasa tak normal, mengingat bagaimana frustasinya Raka kala meminta Gian menukar obat Jelita karena takut menghadapi ngidamnya ibu hamil.


“Tapi nggak usah diajarin yang aneh-aneh, kata Papa dulu Mama ngidamnya sedikit kurang ajar,” ungkap Gian yang sebenarnya tak ingin ia ucapkan di depan Radha.


“Ya karena yang keluarnya juga sedikit kurang ajar. Dulu Mama hamil Haidar nggak tuh aneh-aneh, kamu aja dari dalam perut udah buat orang serumah gila, Gi.”


Jika saja bisa memilih untuk kalem dalam kandungan, mungkin Gian akan memilih jalan itu, pikirnya.


TBC

__ADS_1


Babay😙❣️ Thengkyu dukungannya, aku up 3 insya Allah kalau gak repot.


Kapan endnya? Nanti, masih betah authornya nulis mereka jujur aja, karena kalau aku end kisah mereka aku juga belum bisa nulis yang baru, dan akan sangat lama aku bisa kembali dengan fokus guys❣️


__ADS_2