
Keributan dan kegaduhan yang diakibatkan Gian kini dapat terselesaikan. Dan tentu saja niat hati agar tak diejek tak bisa terhindarkan, Gian sengaja duduk di belakangnya.
"Selamat, Om ... udah nggak duda lagi," bisiknya dengan sengaja memancing emosi Randy.
"Hulya Abdina Syakib, awas salah," tambahnya lagi, suara itu bahkan dapat Ardi dengar, dan Jelita sudah lepas tangan, nampaknya putranya itu memang tak bisa lagi terselamatkan.
Randy yang sejak kemarin memang gugup justru semakin gugup dengan kehadiran Gian di belakangnya. Entah bagaimana cara dia menenangkan diri, karena pada faktanya Gian semakin membuatnya gusar.
Detik-detik yang dinanti tiba, tangan penghulu itu menjabat tangan Randy. Bak sengatan listrik, napas Randy seakan terhenti sejenak.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Hulya Abdullah ..."
"Abdinaa!!" teriak Gian yang merasa tak sabar lantaran Randy salah menyebutkan nama mempelai wanitanya.
"Sabar, Gian, Randy terkejut kamu begitu," ujar mertuanya berharap agar Gian tak seheboh ini.
"Tenang, Om ... Abdina, makanya kenalan dulu sebelum nikah," ujarnya lagi-lagi membuat suasana semakin gugup.
Penghulu memberi kesempatan untuk Randy mengulangnya, sebelum itu memberikan sedikit waktu agar Randy dapat lebih tenang. Dan dibelakang, Gian menepuk-nepuk pundaknya dengan maskud Randy tak gugup, namun pada nyatanya pria itu justru semakin panik.
Lagi-lagi, Randy mengulangnya dengan sedikit lebih tenang.
"Saya terima nikah dan kawinnya Hulya Abdina Syakieb dengan mas kawin yang tersebut, tunai."
Dalam satu tarikan napas, kalimat itu ia selesaikan. Masih berdebar-debar, ia tak mengerti kenapa dia justru lebih gugup kala pernikahan keduanya.
"Bagaimana para saksi, sah?"
"SAH!!!!"
Seruan itu berhasil membuat mata Randy mengembun, melow sekali dia jadi laki-laki. Resmi menjadi seorang suami dari wanita cantik seperti Hulya membuat Randy sebahagia ini.
"Alhamdulillah."
Syukur tak henti-hentinya mereka ungkapkan, siapapun yang berada di sana tengah merasakan kebahagiaan yang sama. Termasuk Gian, meski dia memang masih mengejek Randy, akan tetapi suaranya paling dominan bahkan membuat Randy terperanjat kaget.
"Cium, Om."
Dasar kurang ajar, padahal dulu ketika dia menikahi Radha pria itu benar-benar tak suka dengan seruan-seruan semacam itu. Dan kini di pernikahan Randy justru dia paling heboh dan membuat perhatian justru fokus padanya.
"Aunty Hulya, selamat datang di keluarga Wijaya."
Benar-benar merdeka, bukan hanya Randy yang dibuat memerah, kini Hulya juga. Gian benar-benar tak berubah, jahilnya masih melekat dan Hulya hanya tertunduk malu mendengar bisikan Gian.
Usai sudah pernikahan ini, Randy masih tak berani menatap manik Hulya, begitupun dengan Hulya. Mereka sama-sama malu, dan tentu saja keponakannya mendominasi interaksi di antara mereka.
"Ayo, Sayang kita belum."
Menguasai sesi foto, Gian sudah berapa kali bergabung. Dari pihak keluarga Jelita dia berfoto sebagai keponakan Randy, sementara dari pihak keluarga Hulya dia berfoto sebagai teman dekat Hulya.
__ADS_1
Dan semua harus dengan formasi lengkap, bersam Haidar sebagai adik kakak, dan kini harus bersma Radha dan juga kedua buah hatinya.
"Sekarang aku sama Kama, buruan."
"Yang nikah dia atau siapa sebenarnya," tutur Raka bahkan minta maaf pada yang lain karena merasa Gian justru lebih narsis daripada pengantinnya.
Sebelum akad dia marah-marah, dan kini justru berubah semua harus melibatkan dia. Hal yang membuat Radha heran pada suaminya, pria itu kini sudah duduk di sisi Haidar, sepertinya mereka tengah berfoto berdua, jarang-jarang akur, pikir Radha.
-
.
.
.
Seperti yang sudah direncanakan, pernikahan Randy tak sesederhana itu. Walau dia sudah meminta untuk biasa saja, akan tetapi sederhana menurut Caterine dan Jelita sungguh berbeda.
Sebuah hotel bintang lima di tengah kota menjadi saksi pernikahan mereka. Radha tampil cantik malam ini, begitupun dengan Kalila. Sedangkan Kama menyesuaikan pakaian Gian.
"Mama, akhirnya datang juga ... Papa juga ikut?"
Radha bernapas lega kala Maya kini turut hadir di acara pernikahan Randy. Kedua adiknya bahkan tampil cantik, Maya memeluk putrinya erat-erat, karena memang dia serindu itu.
"Iya, ikut juga ... itu sama bang Raka," ujar Maya menunjuk suaminya, semakin kesini mereka semakin damai dengan keadaan masing-masing.
"Kalila ... hai, sama Oma mau?"
Radha menarik sudut bibir, putrinya enggan ikut Maya. Mungkin karena terlalu lama tak bertemu, Maya tetap memaksakan diri untuk mencium pipi gempul cucunya.
"Sana ucapin selamat, Om Randy dari kemarin nunggu Mama sepertinya," tutur Radha tersenyum simpul, dan Maya menoleh ke arah mantan kekasihnya itu.
"Ayo, Sayang ... ikut Mama."
Maya menarik pelan kedua putrinya, tentu saja ia akan mengajak Wira untuk mengucapkan selamat.
Beralih pada pasangan pengantin yang kini tengah menjadi pusat perhatian, Randy tak terlihat seperti pria yang sudah memiliki putri sedewasa Caterine. Dia masih terlihat sangat muda dan tampan, masih sangat cocok dengan Hulya walau usia mereka cukup jauh berbeda.
"Selamat atas pernikahanmu, Bang."
Uluran tangan itu Randy terima dengan lembut, manik keduanya bertemu. Pernah saling mencintai dengan cita-cita yang sama, Randy dan Maya dipertemukan kembali dengan takdir masing-masing yang sudah mengikat mereka.
"Selamat, akhirnya menikah juga kau," ujar Wira seakan memiliki kebahagiaan tersendiri begitu mendengar kabar pernikahan Randy.
"Terima kasih sudah datang," tutur Randy, sempat terlibat pertengkaran yang membuat tulang ekornya hampir patah, kini mereka bisa berhubungan baik sebagai teman.
-
.
__ADS_1
.
.
Sudah menikah, akan tetapi Hulya belum berani banyak bicara. Megetahui fakta siapa Randy membuatnya semakin merasa kecil, apalagi dengan kehadiran beberapa rekan selebriti yang kerap ia saksikan di televisi.
Yang hadir malam ini bukan membuat Randy berkaca-kaca, sungguh ia tak menyangka dengan kehadiran mereka, terutama Andra.
"Daun muda, kinerja dukunmu luar biasa," tutur Andra yang merupakan saudara Raka.
"Sialan kau, Bang ... kenapa baru kesini? Kemana saja, aku sangat merindukanmu."
Sungguh, mereka selama itu tak bertemu. Randy yang selalu sibuk dengan karirnya sementara Andra sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan pernikahan keponakannya ia tak bisa datang hingga saat ini Kama dan Kalila sudah sebesar itu.
"Sibuk, aku sengaja pulang untukmu, Ran."
Kebahagiaan berlapis, entah apa yang dipersiapkan Jelita hingga kini berhasil mendatangkan Andra kembali di hadapannya.
"Akhirnya, menikah juga adik tampanku." Bagaimmna Randy tak bahagia, malam ini ada sejuta kenangan hadir kembali di momen babagianya.
"Terima kasiih, kak Nia ... lihat, istriku lebih cantik darimu, kan."
Randy menyombongkan diri, pernah menaruh hati pada sahabat kakaknya itu, namun terpaksa patah ketika Andra hadir dan menjadi suami dari Rhania.
"Iyaa, sangat cantik ... masih muda sekali, dia bukan anak di bawah umur kan?"
Rhania masih sama, Randy menelan salivanya begitu mendengar pertanyaan Rhania. Bisa-bisanya dia berpikir bahwa Randy akan menikahi anak dibawah umur.
"Sembarangan, dia sudah dewasa." Randy berbisik pelan, malu jika nanti Hulya mendengarnya, semakin tersadar jika dirinya seakan memang sudah tua.
"Hahah soalnya terlihat seumuran putraku," tutur Rhania mengingat putra semata wayangnya yang kini tak bisa ikut lantaran pendidikan yang tak bisa ia tinggalkan.
Percakapan mereka semakin dalam, tak sia-sia Randy menanti selama itu perihal jodohnya jika yang Tuhan kirimkan justru bidadari yang kerap membuat seseorang bingung dan terpesona.
Pernikahan Randy sekaligus menciptakan damai di keluarga itu. Keluarga besar yang justru terlihat amat manis. Kembalinya Andra dan Rhania juga menjadi bahagia bagi Jelita dan Raka, Maya dan Wira serta Gian dan Radha.
Meski ada kesendirian, yang mana Ardi dan Haidar berada di paling sudut karena tak memiliki pasangan. Sudah tentu Ardi menjadi bulan-bulanan Gian, menantu kurang asem yang asal menjodohkan Ardi dengan beberapa tamu wanita lainnya.
"Ih Kakak jangan begitu ah," tegur Radha merasa tak tega karena sejak tadi wanita di sana seakan tak tertarik pada Ardi.
"Kakak niatnya baik, Ra, biar Papa nggak sendiri."
"Haidar juga sendiri, kenapa Kakak nggak jodoh-jodohin dia aja," celetuk Radha dan dapat terdengar oleh Haidar.
"Heeih, Azzura ... Rury di Jepang bukan berarti aku tidak punya pasangan ya." Takut sekali jika dituduh tak punya pasangan, karena ia tahu bagaimana mulut kakaknya.
"Iyaa maaf adik ipar," seru Radha dengan tawa yang tidak bisa ia tahan, berada di titik ini adalah hal tak terduga, mampu hidup dengan Haidar dengan perasaan yang sudah terhapus dalam benaknya, dan ini sungguhlah indah.
🌻
__ADS_1