
"Ya Tuhan, kamu kemana, Aruni? Haaa, bisa gila Mama kalau kamu kenapa-napa, Nak."
Wanita itu, suara lembutnya dan raut kekhawatiran yang begitu nyata di wajahnya membuat hati Randy berdenyut tak karuan. Kenapa harus takdirnya seperti ini, anak itu, nama itu dan entahlah mengapa Randy merasa tengah hilang separuh jiwanya sekaligus.
"Mama tadi lama, aku pergi sendiri tapi gak inget kemana pulangnya, maafin aku, Ma?"
"Hm, gapapa ... yang penting sekarang udah sama Mama."
Jemarinya bergetar mengelus wajah mungil putrinya. Bagaimana tidak, ia ketar-ketir kala menyadari salah satu putrinya tak lagi berada di tempat kala ia kembali. Maya tak punya cara selain mencari sendiri keberadaan Aruni, karena sudah dipastikan Wira akan semarah itu jika tahu putrinya lepas dari pengawasan.
Randy menatap lekat kedua wanita berbeda usia itu, langkahnya mengikuti kata hati. Tanpa Randy peduli bagaimana respon wanita di depannya, pria itu mendekat dengan sejuta rindu yang sulit ia ungkapkan.
"Kamu ga kenapa-napa kan, Sayang?"
"Enggak, Ma ... tadi ada Om artis yang jagain aku."
Wajahnya begitu ceria, seakan hal ini bukan suatu masalah. Senyumnya membuat Maya tak habis pikir mengapa putrinya bisa sesantai itu padahal ia hampir gila kini.
"Terima kasih udah jagain anak saya."
Maya belum menyadari siapa pria yang tadi bersama putrinya, jantungnya masih belum kembali normal lantaran Aruni membuat jiwa wanita itu terguncang sebegitu kuatnya. Air mata masih membasahi manik indahnya hingga wajahnya kini memerah.
"Jagain yang bener, untung ketemunya sama gue anak lu."
Maya tercengang, matanya menelaah wajah tampan yang kini tengah menatapnya amat lekat. Cepat-cepat ia usap air mata yang masih mengalir di wajahnya, jantungnya kini tak normal tiba-tiba.
"B-bang?"
Masih tak percaya, bibirnya bergetar kala menyadari yang berada di depannya kini adalah cinta pertamanya. Cinta yang dahulu ia lepas sesakit itu, cinta yang terpaksa ia lupakan karena desakan dunia yang bahkan ia sendiri tidak menghendakinya.
Belum usai tangisnya perihal Arunika, senyum tipis Randy membuatnya kalut tiba-tiba. Jika saja tak berada di tempat terbuka, mungkin Maya akan meraung sejadi-jadinya.
"Gausah nangis, lebay banget lu ... udah tua juga."
Maya masih diam, sedangkan Arunika menatap dua orang dewasa itu bergantian. Jemarinya terpaut erat dalam genggaman sang mama. Entahlah, ia belum terlalu paham apa yang sebenarnya terjadi kini.
"Udah Maya, lu nggak niat nyapa gue?"
Randy membuang napas kasar, jujur saja air mata sudah berada di pelupuk mata. Ia bercanda, tapi sesakit itu rasanya. Sejak tadi Maya hanya berusaha menahan air matanya, matanya kian memanas, setiap kalimat yang keluar dari bibir Randy membuatnya semakin terhenyak.
"Hai, apa kabarnya? Senang bisa bertemu lagi."
Ia mulai tenang, setelah berusaha menarik napas dalam-dalam kini ia menjabat tangan pria itu. Pria yang pernah ia ingini, pernah ia impikan dan sesakit itu perjuangkan namun kalah karena keadaan yang memaksanya menerima kenyataan.
__ADS_1
"Baik, senang juga bisa ketemu lagi sama kamu."
Randy tersenyum lagi dan lagi, dibalik senyumnya itu, kesedihan begitu dalam hingga menyentuh lubuk hati. Jemari mungil Maya ia rasakan kembali, setelah berpuluh tahun lalu pernah menghangatkan pipinya di bawah rintik hujan.
Wanita itu masih sama, bahkan senyuman malu-malunya masih seperti dulu. Randy diam sesaat, tak berniat melepaskan sejenakpun genggaman tangannya. Ia masih ingin, kalaupun ini harus menjadi kali terakhir.
"Eh Abang baru pulang?"
Wanita itu menarik paksa tangannya, tatapan Randy yang begitu lekat membuatnya teramat lemah. Maya sedikit gugup kini, nyatanya sesulit apapun ia melupa, getaran itu masih sama.
Ia sadar memang salah, bahkan putrinya kini tengah berada di sana. Namun bagaimana, kata hatinya tak bisa bohong, kehadiran Randy seakan memberikan sejuta nyawa untuk hati yang telah lama mati.
"Enggak juga, beberapa bulan lalu ... Jelita ngebet nyuruh gue pulang."
Maya terdiam sesaat, sudah pasti yang ia ingat kini adalah Radha. Jika yang meminta Randy pulang adalah Jelita, dan itu beberapa bulan lalu maka sudah dapat dipastikan Randy pulang kala pernikahan putrinya bersama putra Raka.
"Mba Jelita baik?"
"Baik kok, cuma lagi masa pemulihan aja, biasa dia udah tua kali sakit mulu," jawab Randy ceplas ceplos sembari berusaha mengubur duka di samping Maya, ia berusaha mengendalikan suasana kini.
"Ada-ada aja," tuturnya menarik sudut bibir, lama tak berjumpa namun Randy mampu membuatnya tersenyum hanya dengan beberapa kata.
"Kamu kesini sama siapa?"
Sedikit kaku, wajahnya masih saja memerah. Suara Randy yang sungguh ia rindukan membuatnya tak sadar bahwa tak seharusnya hal ini ia rasa. Tatapan Randy yang selalu tertuju padanya kala bertanya membuat ia tak sekuat itu untuk balik menatapnya.
"Hm, suami ... yang kedua ya?" tanya Randy sembari menjulurkan lidah yang membuat Maya memukulnya sekuat tenaga, jujur saja ia sedikit sensitif jika membahas hal ini.
Bugh
"Ih kurang ajar lu, pakek ngeledek lagi."
"Hahah santai ... lu janda cepet amat lakunya, May ... bener-bener lu, pakek acara ninggalin gue lagi."
Ucapannya terdengar damai, namun siapa yang tahu bahwa kini ia tengah berusaha membasuh luka. Randy tak bisa berbuat banyak, kala kesempatan kedua datang di saat yang tidak tepat, hanya kebahagiaan Maya yang ia harap. Walau, hal itu tak Maya dapatkan darinya.
"Abang ngatain gue janda, Abang juga duda kan, sampe sekarang malah hahah."
Randy tersenyum, tawa renyah Maya yang dahulu menggangu telinganya ia dengar lagi. Sungguh ia teramat rindu, di bawah langit menatap senja di tepi pantai, tak pernah ia duga bahwa hal yang dahulu mereka cita-cita kan terkabul saat mereka tak lagi sama.
"Gue duda karena elu gila!! Pakek ketawa," ucapnya tanpa sadar dan sedikit berteriak, jujur, itu adalah jerit hati Randy yang tak kuasa ia simpan lebih lama lagi.
"Hm?"
__ADS_1
"Ck, lupain ... udah sore, lu gak takut laki lu nyariin?"
Randy mengalihkan pembicaraan, walau yang ia harapkan sebenarnya Maya akan tetap di sini untuk beberapa waktu saja. Wanita itu tak banyak berubah, dan sungguh ia sangat ingin menarik tubuh mungil itu dalam peluknya.
"Mas Wira jagain Jingga, dia gak tau gue cari Aruni."
"Kok gitu?" Randy mengernyit heran, merasa jawaban Maya sedikit janggal di benaknya.
"Hm, gitu."
Cukup lama terdiam, keduanya terbawa suasana. Angin pantai dan suasana yang sangat mereka rindukan seakan terbayar tuntas kini. Dengan orang yang sama, perasaan yang masih sama, keduanya memandang langit yang kini menjadi saksi pertemuannya.
Meski, hati kecil tengah teriris. Entah akan berapa lama lagi kisah mereka menjadi tangis, terutama untuk Randy. Kini, pria itu memandang langit sembari sesekali menatap wajah cantik di sampingnya, andai waktu itu dia sedikit sabar mungkin saat ini anak kecil yang berada di antara mereka adalah Arunika yang Maya cita-citakan bersamanya beberapa tahun lalu.
"May ...." Randy tercekat, ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, sungguh ia tengah lemah saat ini.
"Apa, Bang?"
"Gue ... boleh minta sesuatu nggak sama lu?"
"Boleh, apa?" tanya Maya tanpa sedikitpun ragu di setiap kalimatnya.
"Minta ini," ucapnya tanpa pikir panjang menarik Maya dalam peluknya. Tak peduli ada Arunika yang kini tengah bingung menatap keduanya, Randy tetap memeluk wanita itu sungguh erat.
"Maaf, karena selalu datang di saat yang tak seharusnya dalam hidup kamu."
Kalimat itu ia ucapkan begitu pelan, sungguh kini ia tengah sakit sendiri. Maya adalah hal paling berharga yang dahulu ia sia-siakan. Dokter muda yang berjuang mendapatkan hatinya, gadis ceria yang menjadi pengobat lukanya, dan penyemangat dalam dunianya itu kini bahagia dengan caranya.
"Bang ...."
"Bentar, kasih gue waktu," ucapnya egois enggan melepas pelukan walau Maya mencoba lepas, sungguh rindunya kini mengalahkan ego tak peduli bagaimana akibat dari tindakannya kini.
"Mayaa!!"
"Abang lepas sekarang, gue gak becanda ... nanti Abang yang kena."
"Terserah, sekalian kena kita sama-sama," ujarnya tersenyum miring tanpa merenggangkan sedikitpun pelukannya, tak peduli jikalau dia harus habis, akan lebih pengecut dan membahayakan Maya jika ia lari.
"Abang, pergi sebelum terlambat," teriaknya mulai panik dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Randy, yang ia takuti kini semakin dekat, dan hati kecilnya tak ingin Randy terluka sedikitpun.
Tbc❣️
Peluk jauh buat Randy😐
__ADS_1
Makasih dukungannya temen-temen, sehat selalu kalian❣️