
"Nih tas nya, makanya jangan ngelamun mulu, Ra."
Ia tersenyum, menyambut tas ransel hijau polos yang Nisa bawakan untuknya. Radha tak dapat menyalahkan gurunya, memang nyata ini murni kesalahannya. Tersenyum simpul sembari membenarkan rambutnya memperlihatkan betapa ia merasa malu akan tingkahnya.
"Hm iya, Nis. Makasih ya," ucapnya begitu tulus.
Di antara beberapa orang yang mencelanya, Nisa tetap bersedia merangkul pundaknya. Radha tak banyak meminta, tak meminta untuk di suka, jika hanya hal kecil dapat menjadi masalah maka tak bersama lebih baik, pikirnya.
"Buruan pulang, bentar lagi hujan."
Radha menatap langit, bukankah beberapa jam lalu cuaca masih bersahabat? Mengapa secepat ini berubah. Mengapa semudah ini cerahnya mentari tergantikan gelapnya awan hitam.
Langitnya tak lagi biru, Radha tersayat tiba-tiba. Birunya hilang di telan alam, kemana perginya? Radha menghela napas perlahan usai tersenyum kecut yang membuat Nisa merasa ada yang aneh.
"Ra? Ayo!!"
Radha tak bergeming, ia terdiam dan bungkam tak berucap apapun. Entah apa yang ia tunggu, dan Nisa tak memiliki kesabaran sebesar itu. Jika menuruti Radha yang kerap ia pertanyakan apa maunya, ia akan mengalami banyak sial biasanya.
"Gue hitung sampe tiga ... satu."
"Lu duluan aja, Nis, gue di jemput bentar lagi."
Seperti yang Nisa duga, sudah pasti jawaban semacam ini akan ia terima. Radhania Azzura, bukan hal asing bagi Nisa, pulang bersama Radha seakan menjadi hal mustahil.
"Ya udah gue duluan ya, tapi jangan lama-lama di sini, Ra, kayaknya bakal deres sih," ujarnya sembari menatap langit, memprediksi akan seberapa buruk keadaan beberapa saat lagi.
"Iya, tenang aja gak usah khawatir, Nis."
Radha menempuk pundak Nisa, seakan memberikan ketenangan pada teman yang benar-benar mengkhawatirkannya.
"Siapa yang khawatir, gue takut lu kesamber gledek aja sih."
Dasar tak berakhlak, benar-benar menyebalkan. Ucapan Nisa yang mungkin memang candaan terkadang membuat Radha kesal bukan main.
"Hahaah jangan marah yaelah, gue canda."
"Hm iya," jawabnya begitu malas.
"Babay Ra, gue pulang duluan ya, kalau dalam lima menit belum di jemput juga lebih baik pulang sama Abian aja tuh."
Lagi dan lagi Radha harus bertemu wajah itu, wajah yang beberapa saat lalu membuatnya gugup seketika. Abian kini membuka helm dan sengaja merapikan rambutnya kembali di depan kedua gadis cantik itu. Dasar cari perhatian, pikir Nisa susah payah menahan hujatannya.
"Pulang gue anter ya, dah mau hujan."
Nisa benar-benar merasa keberadaan lelaki ini benar-benar tak menganggapnya. Untung saja ia memang akan segera berlalu, meski ia tak suka tetap saja Nisa tak ingin memperlihatkannya.
"Hati-hati, Nis." Radha masih berteriak manakala Nisa berlalu usai mengambil langkah panjangnya. Tentu saja karena temannya itu baru sadar bahwa kendaraan yang ia tunggu sejak tadi telah tiba.
__ADS_1
*******
"Ra, gue beneran bisa pakek motor, kenapa di sebut baru belajar sih."
Untuk kesekian kalinya Abian mencoba agar Radha benar-benar pulang bersamanya. Selain karena ingin, tapi Abian juga khawatir jika Radha memilih pulang sendiri nantinya.
"Radha, udah gerimis ... sampai kapan mau nunggu? Udah sepi loh."
Abian memastikan lingkungan sekolah yang memang nyata telah sepi, hanya beberapa siswa lain masih menunggu layaknya Radha saat ini. Rintik hujan mulai menyapa, dan Radha tetap tak berpindah. Ancaman Gian pagi tadi benar-benar mempan bahkan berhasil membuatnya tak bergeming.
"Abian Alexander, lu kenapa sih bawel banget. Lu denger gue kan, diemnya gue itu bukan menerima baik-baik, tapi menolak tanpa jawaban. Paham?!!"
Bak di sambar petir, kalimat itu sungguh menyakitkan untuk Abian. Meski ia sadar mungkin terlalu memaksa, ia lupa batasan. Lupa bahwa Radha belum menerimanya sedekat itu, hanya beberapa kali pulang bersama tak menjamin Radha telah membuka hatinya.
"Hm, maaf Ra. Gue cuma khawatir kok gak berniat mau maksa."
Radha terdiam, sesal kini menyeruak dalam lubuk hatinya. Tak bermaksud ia menyakiti lelaki baik di depannya, bahkan ia baru saja mencoba berteman, kenapa harus ia lakukan hal semacam ini, batin Radha menatap lekat wajah sendu Abian.
"Ma-maaf, Bi, gue gak maksud gitu tadi. Maaf ya, lebih baik lu pulang duluan aja, gue di jemput kok tenang aja."
Sungguh tak ada niat Radha menyakiti hati Abian, hanya saja pria itu terlalu keras meski ia telah berulang kali menjelaskan bahwa ia memang tidak akan pulang sendiri.
"Baiklah kalau gitu, gue duluan ... hati-hati ya, jangan nunggu di sini, Ra. Di sana aja," ujarnya menunjuk sebuah bangku di bawah pohon rindang yang mungkin dapat melindungi Radha dari rintik hujan yang mulai turun.
Ia terdiam, perlahan Abian menjauh dan kini Radha menurut apa kata Abian. Menunggu kehadiran tuan muda setengah waras itu menjemputnya, meski ia yakin betul pasti akan sangat amat lama.
"Hah?"
Radha beranjak, ia terperanjat kaget kala kaca itu terbuka dan terlihat jelas wajah tampan dengan kaca mata hitam tengah berada di depannya. Tidak ada ucapan apapun, dan kini pria itu tak melihat ke arahnya sama sekali.
"Masuklah," ucapnya begitu dingin, jauh berbeda dengan dirinya beberapa hari lalu kala mengiba padanya.
"Kenapa ka ...?" Radha masih tak percaya siapa yang kini ia lihat.
"Gian sedang ada urusan, masuklah, Ra."
Radha sedikit tak yakin, namun jika ia lihat memang benar mobil yang di pakai adalah salah satu milik Gian. Sialnya sekokah mereka tak mengizinkan siswanya membawa ponsel, dan kini Radha bingung harus mengambil keputusan.
"Zura, kau tahu Kakak tidak suka menunggu terlalu lama bukan?"
Suara begitu dingin, Radha tak terbiasa kehilangan hangatnya. Hatinya berdenyut kala ucapan itu keluar dari seseorang yang ia harapkan sejak lama.
"Ra ...."
"Ehm, iya, Kak."
Radha menurut, duduk di sebelah Haidar dan ia merasa sekaku itu. Mengapa jarak begitu terasa, bukankah pertemuan adalah suatu hal yang mereka damba. Radha mencuri pandang sosok yang begitu ia rindukan.
__ADS_1
"Berhenti melihatku, Ra, aku takut tidak dapat menahan diri."
Ucapan itu menusuk sebegitu sakitnya, Haidar tak kuasa menahan rindunya. Kemana akan ia labuhkan, sementara tuk melihatnya saja seakan terhalang.
Demi Radha, ia bahkan rela kembali ke sekolah usai pengintaiannya tadi pagi. Berharap siang ini ia melihat sang pujaan pulang dengan baik, namun rencana itu runtuh kala menyaksikan penantian Radha begitu lama di depan sekolah.
Membiarkan Radha menunggu adalah sebuah kesalahan besarnya, takkan ia biarkan Radha megalami hal itu dari pria lain. Karena selamanya, selama cinta masih ada maka Radhania Azzura adalah miliknya, batin Haidar.
"Kak, kita mau kemana?"
Tak ada jawab Haidar, pria itu masih tetap fokus mengemudi dengan kecepatan rendah namun pasti akan pergi sejauh yang ia mau dan hanya ia yang tahu.
"Kak Gian akan marah kalau aku tak pulang sesuai keinginannya," ucap Radha bergetar, ia baru sadar jika saat ini Haidar mungkin akan berbeda dari yang biasa ia kenal.
"Kakak tolong, kita berada di jalur yang salah. Bukan hanya aku yang akan terkena imbasnya, tapi Kakak juga."
Tak dapat di biarkan, Haidar terlalu jauh mengambil langkah, bahkan kini Radha merasa asing dimana tempat ini. Pernah ia lewati, namun ia tak terlalu hapal dan bagaimana mungkin ia meminta Haidar menurunkannya.
"Kak, jangan gila!!" Radha panik kala Haidar yang tetap membatu namun ia semakin memacu laju kendaraannya.
"Aaaarrrrrgggghh!!! Diam, Ra!!"
Radha tak kuasa menahan tangisnya, Haidar yang tiba-tiba berhenti dan berucap demikian membuat Radha takut bukan main. Amarah yang tak pernah ia saksikan mengiris hati kecilnya. Air mata berurai tanpa sadar kala Haidar menyandarkan tubuhnya sembari mengeratkan jemarinya.
"Kak,"
"Hm?" Radha kembali menjauhkan wajahnya kala Haidar membuka kacamata dan menatapnya begitu pilu.
"Hahahahaha!! Zura, kau setakut ini bersamaku?"
"Ti-tidak, Kak. Tidak sama sekali."
"Kau mau Kakak pulang kan? Lihat Kakak berada di depanmu dan kau ... ap ...apa yang kau lakukan padaku, Zura!!"
Radha bungkam, pun ia tak mengerti mengapa semua ini terjadi. Bukan maunya dan juga bukan kehendaknya, tak sedikitpun ia inginkan hal serumit ini terjadi padanya.
"Berhenti menangis, Ra," ujar Haidar melemah, air mata sang Kekasih membuat Haidar membenci dunia.
"Radhania, Kakak bilang berhenti tolong berhenti."
Tangannya gemetar, perlahan mendekatkan telapak tangannya. Tiada ia sangka, wajah yang seharusnya ia sentuh dengan sejuta kebahagiaan di hari pertemuan berganti menjadi sesakit ini.
Tak peduli seberapa pusing Gian mencari keberadaan istrinya, saat ini ialah pemilik hati Radha. Tak semua hal bisa di dapatkan dengan cara baik-baik, ada beberapa hal yang harus dilakukan secara paksa, begitulah pikir Haidar sembari menarik sudut bibirnya.
"You're mine, Ra, tak peduli siapapun."
................ Bersambung😌
__ADS_1