
"Ini ruanganku kan?"
Gian perlu waktu untuk memastikan, bahkan sengaja keluar lagi untuk membuatnya yakin bahwa tak salah masuk.
Evany yang melihat bosnya bingung sendiri enggan memberi penjelasan karena fitnah Gian benar-benar membuatnya malu.
"Evany, kenapa hanya diam?"
"Ada apa, Pak?"
"Kalian mengubah semuanya tanpa perintahku? Sejak kapan ruangan kerjaku jadi ruang keluarga seperti itu?"
Suaranya begitu kecil, hampir berbisik tapi Evany tahu jika saat ini Gian terkejut dengan semua yang terjadi. Rasanya tidak terjadi gempa, kenapa semuanya berubah.
"Nona yang meminta, Pak ... apa kami salah?"
Gian diam sesaat, sebelum akhirnya masuk kembali dan menanyakannya sendiri pada Radha.
"Ra," panggil Gian kini sembari menghampiri Radha yang menyiapkan makan siang untuknya.
"Kenapa? Suka kan, aku yang tata ulang, Kak ... gimana?"
Gian membayar mahal, bahkan untuk menata ruangannya pun dia membayar jasa seseorang. Dan kini, ia melihat dengan mata kepalanya ruangannya berubah, namun tidak bisa berkata apa-apa selain mengangguk dan senyum sebagai jawabanya.
"Kok senyum doang? Kenapa, Kakak takjub ya?"
Takjub apanya, dia kaget luar biasa. Tak bisa ia bayangkan bagaimana Radha punya ide serandom itu untuk menata ulang ruangan dalam waktu singkat.
"Hm, kamu nggak capek ubah semua ini?"
"Capek dikit, tapi yang capek banyak kak Reyhans sama kak Evany."
Jawaban atas tuduhan macam-macam Gian, setidaknya pria itu kini menyesali kelancangan bibirnya yang sembarang bicara.
"Gitu ya?" Gian mengangguk beberapa kali, isyarat jika ia mengerti tapi tidak berniat meminta maaf pada korban fitnahnya.
"Ha'ah ... makan dulu, aku sengaja bawa ginian buat Kakak."
"Kamu masak?"
"Oh tentu tidak dong, mana bisa aku masak."
Gian menarik sudut bibir, cara bicara istrinya masih menjadi yang terfavorit bagi Gian. Sungguh, apapun yang istrinya lakukan justru menjadi hal yang Gian sukai, termasuk hasil kerja keras istrinya menata ruangan ini.
__ADS_1
"Kakak dari mana?"
Tak menjawab sesaat, terkadang Gian memang tak mampu bicara jujur, akan tetapi ia juga enggan berbohong jika selesai melakukan sesuatu yang sebenarnya sangat buruk.
Memberi Harry pelajaran hingga sulit bernapas, dan tangan yang kini ia gunakan untuk mengusap rambut Radha telah ia gunakan untuk menyakiti seseorang bahkan hampir meregang nyawa.
"Orang nanya tu dijawab, Kak, bukannya bengong kek ayam nelen biji kedondong."
Istilah apalagi itu, dari mana Radha mendapatkannya. Lamunanya buyar, Gian menarik tangannya segera. Wajah Gian sedikit berbeda, dan Radha sadar akan hal itu.
"Kenapa? Ada masalah ya?"
"Hm, namanya manusia, pasti ada dong."
Iya juga, jawaban Gian tak salah memang. Tapi bukan itu yang Radha inginkan, jika jawaban sesederhana itu anak kecil juga bisa. Pasalnya, gurat lelah di wajah suaminya terlihat jelas, Radha hanya ingin berusaha menjadi pendengar untuk suaminya, meski tak mampu memberikan solusi.
"Cerita, boleh?"
"Nggak, kamu masih kecil untuk tau, belum cukup umur, Ra."
"Hilih, belum cukup umur apanya."
Radha mencebikkan bibir, Gian masih saja menganggapnya anak dibawah umur jika berkaitan dengan hal-hal serius. Dia tidak ingat pada hal lain atau bagaimana, pikir Radha.
"Iya," jawab Radha mengalah, karena memang hidup Gian penuh rahasia alam yang hanya pria itu memahaminya.
-
.
.
.
Di sudut kota yang berbeda, kamar rumah sakit yang biasanya dipenuhi kekhawatiran, kini dipenuhi amarah satu sama lain.
"Memalukan, otakmu dimana? Kau tidak tahu wanita itu siapa, Harry?!!"
Antoni Wiratmadja, sang papa yang mengetahui bahwa Caterine masih memiliki kekerabatan bersama keluarga Wijaya marah besar pada putranya.
Bagaimana dia membela Harry sejak awal kejadian, dan bahkan mengeluarkan banyak uang agar keluarga Martadhinata kalah teryata adalah hal yang salah.
"Papa, dia sedang terluka ... jangan ditambah bebannya," tutur Maria yang mencoba agar suaminya bisa tenang walau sebentar.
__ADS_1
"Diam kau!! Kita terancam hancur karena ulah putramu ini, Maria, apa yang harus kau bela dari penghancur masa depan orang seperti dia?"
Meski tak mampu berucap, Harry mendengar dengan jelas kata demi kata yang dilontarkan papanya. Sakit? Tentu saja, kekecewaan di wajah pria paruh baya itu tergambar begitu jelasnya.
"Harry, papa sudah cukup menutupi kebusukanmu selama ini, tapi nyatanya tindakan Papa justru membuat terjebak ancaman Dirgantara!!"
Seperti kurang keras saja, padahal telinga Harry sudah terasa sakit akibat suara sang papa. Maria, meski sesayang itu pada Harry tetap tak mampu membelanya, sadar jika anaknya berada di posisi salah, akan tetapi kondisi Harry saat ini membuat batinnya sebagai ibu teriris.
"Maaf, Pa ... aku tidak pernah berpikir akibatnya akan begini."
Terdengar parau, ia bahkan kesulitan bicara. Bukan karena lukanya saja, akan tetapi kalimat itu terasa sulit akibat kecewanya sang Papa yang secara nyata ia lihat demikian.
"Maaf?!! Kau bilang maaf? Anak sialan sepertimu rasanya tak pantas mendapat kata maaf, Harry."
Harry memejamkan matanya, tak ada inci tubuhnya yang tak sakit. Semua sakit, semuanya hancur, begitupun dengan karirnya yang terancam tak bisa ia selamatkan.
Pihak agensi membuangnya tanpa pertimbangan, dan tentu saja papanya menerima dengan senang hati karena dari dulu profesi Harry menjadi pertentangan setiap harinya.
Kini, hanya ada Maria yang masih sabar menantinya. Sementara Antoni sudah pergi lantaran muak berada di ruangan bersama putranya.
"Jangan pikirkan perkataan papamu, dia hanya emosi saja, Nak."
Ia hanya mengangguk patuh, apa yang diucapkan sang mama memang menenangkan, akan tetapi ia paham bahwa itu hanya sekadar kalimat penenang belaka.
Tak ada dendam dihatinya kini, yang ada hanya rasa bersalah pada wanita yang telah ia lukai hidupnya. Ia hancurkan masa depannya, dan ia kubur semua mimpinya.
Maksud hati ingin memiliki cepat-cepat, akan tetapi waktunya tidak tepat. Harry memaksa keadaan yang akhirnya menciptakan banyak luka dan kekacauan. Ia sadar betapa tak bergunanya dia kini, dan kemarahan sang papa ia terima dengan lapang.
"Aku mencintainya, Ma ... aku tidak bermaksud melukainya."
Tidak bermaksud, tapi kau melukainya, Harry. Begitulah batin Maria menatap lekat putranya yang kini hancur dalam segala keadaan.
"Kamu salah, Harry, apapun alasannya kamu tetap salah, Nak."
Batin sang ibu tak dapat dibohongi, bagaimana kini putranya terluka akan tetapi ia harus menjelaskan bahwa memang salah tanpa menghakimi Harry. Karena ia tahu, saat ini dunia Harry semakin kecil, dan sebagai orangtua, ia hanya berharap kasus yang dilakukan putranya tak menyebar luas.
"Hm, aku salah."
Ia tersenyum tipis, salah memang, bahkan sangat salah. Hatinya terlalu ego, ia lupa bahwa tak semua bisa menjadi miliknya.
Tbc
Gaes untuk Gio-Ara aku tahan dulu deh, males banget udah bela"in crazy up promonya malah ga dapet. Padahal nulisnya butuh waktu luar biasa, nyebelin.
__ADS_1