Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Jemput Princess


__ADS_3

"Kalila!!"


Benar saja, di rumah Ricko dia sudah sibuk sendiri. Belum lagi Ricko memang memiliki keponakan seumuran Kalila dan ini jelas saja membuat Kalila makin menjadi.


Haidar bahkan lelah harus terus mengawasinya, baru saja hendak lega telah berhasil menangkap keponakannya, Kalila justru kembali kabur semaunya.


"Kalila kejer aku sini," teriak anak laki-laki seumuran ya sembari membawa pistol mainan.


"Astaga, wajar saja Papa khawatir," keluh Haidar bahkan menyeka keringatnya, dia bahkan tak punya rasa malu lagi kala harus berlari mengikuti langkah Kalila yang kesana kemari.


"Biarkan saja, jangan dikekang, Ibra juga sangat senang bermain dengannya."


Ricko menghampiri sahabatnya ini, tampak tertekam dan sebenarnya dia ingin terbahak sebesar-besarnya melihat Haidar saat ini.


"Aku takut dia berulah, Rick, di rumah Mama sudah tiga guci Kalila pecahkan."


Selain khawatir keponakannya akan kenapa-kenapa, jujur saja Haidar juga takut Kalila akan membuat kekacauan yang bisa saja merugikan orang lain.


"Hahah, tidak akan ... lagipula mana mungkin anak sekecil itu sengaja membuat ulah, Haidar."


Memang benar, Kalila berulah bukan karena kemauannya, akan tetapi memang karena Jelita yang tak memerhatikan tempat sehingga kejadian serupa kerap terjadi.


"Maaf, Rick ... aku khawatir keluargamu justru merasa terganggu dengan keponakanku."


"Tidak, Haidar, kau lihat saja bagaimana mereka pada Kalila, sangat-sangat menerima bukan?"


Ricko meyakinkan Haidar, karena memang sejak kehadirannya, Kalila sudah menjadi pusat perhatian. Dan Haidar juga paham akan hal itu, bahkan kini saja dia yang berlari-lari mengejar Ibra masih menjadi sasaran cubitan gemas keluarga Ricko yang ada di rumahnya saat ini.


"Hm, tapi tetap saja anak itu membuatku panik, Rick ... Huft, aku pikir papa bercanda, ternyata memang Kalila centil."


Haidar menarik sudut bibir kala mengingat bagaimana Raka menjuluki Kalila. Dan faktanya anak itu memang centil, sejak pertama datang matanya sudah sibuk mencari tahu seisi ruangan dan tidak malu menyapa orang di sana.


Belum lagi kala kemunculan Ibra dan Kalila mendadak berontak dari gendongan Haidar dan menghampiri anak kecil itu. Dasar ganjen, pikir Haidar lagi.


"Hahaha sifat warisan mamanya kali," celetuk Ricko sembari menatap Kalila yang memang sangat menggemaskan itu, wajah tembam dan rambut bergelombang serta gigi kecil yang begitu lucu bila dia membuka mulutnya adalah defenisi peri kecil dalam dunia nyata.


"Sembarangan, Radha tidak centil sama sekali."


Jelas saja Haidar tak terima, mantan kekasihnya itu dianggap centil oleh Ricko, padahal bagi Haidar, Radha adalah bentuk bidadari paling nyata dan tidak banyak ulah seperti kebanyakan wanita.

__ADS_1


"Lalu, sifat siapa yang dia warisi jika bukan Radha, Haidar?" tanya Ricko menangkap ekspresi tak senang dari Haidar kala kalimat centil itu terucap.


"Sudah pasti dari Avgian, tidak ada sifat kak Gian yang tidak Kalila dapatkan, semua diambil ... cuma mukanya aja yang nggak," tutur Haidar membenarkan, karena memang Kalila adalah wujud Gian yang terlahir kembali, bersyukur wajahnya sangat mirip Radha, jika tidak tentu Haidar akan merasa mengasuh kakak sendiri.


"Justru itu yang bagus, kalau kata pepatah orang jaman dulu anak perempuan biasanya memang duplikat papanya, daripada ...." Ricko menggantung ucapannya, entah apa yang hendak dia sampaikan.


"Daripada apa?" tanya Haidar penasaran, kebiasaan sekali kalimat suka dipotong-potong.


"Daripada mirip Omnya, biasanya jadi fitnah," desis Ricko dan membuatnya mendapat pijakan dari Haidar.


"Sialan, kupikir apa."


Jawaban asal Ricko membuatnya kesal bukan main, bisa-bisanya dia bercanda perihal itu, pikir Haidar.


"Bercanda, Haidar ... hm, kau belum memikirkan jenjang lebih serius? Sudah cocok sekali aku lihat-lihat," tuturnya sembari melirik Kalila, kode bahwa yang dimaksud Ricko adalah cocok menjadi ayah, bukan hanya suami saja.


"Ck, hentikan bualanmu, Ricko ... benarkan dulu cara kau gendong bayi." Haidar mencebik kala menyadari bagaimana Ricko menggendong bayi.


"Memang apa salahnya?" tanya Ricko merasa dirinya sudah sangat benar sekali.


"Tangannya jangan di belakang begini, bahaya Ricko." Haidar membenarkan posisi bayi Ricko, entah apa yang dipikirkan pria itu hingga bisa seceroboh ini dan menggendong bayinya seakan anak sekecil itu sudah berumur bulanan.


"Ah ya Tuhan, aku tidak sengaja," ungkap Ricko merasa bersalah, jika saja istrinya tahu mungkin Ricko sudah diamuk.


.


.


.


Di tempat berbeda, Gian tengah mondar mandir bahkan Budi yang haus dibuatnya. Sejak tadi Gian mencoba menelpon seseorang tapi entah siapa yang dia hubungi.


"Ays!! Kemana perginya bocah itu!!"


Merasa putranya semakin memanas, Raka menghampiri Gian.


"Gi, kenapa sebenarnya?" Raka penasaran, karena tak biasanya Gian sesinting ini bahkan membuat para pekerja merasa takut melakukan kesalahan.


"Papa, Haidar bawa putriku kemana? Papa tau nggak?"

__ADS_1


Hah? Gian tidak mengetahui kemana tujuan Haidar. Jelas saja Raka bingung, padahal sudah sangat jelas tadi pagi Haidar akui sudah pamitan. Dan kini, yang ada di hadapannya justru Gian tengah uring-uringan.


"Dia nggak pamit?" tanya Raka sekali lagi, siapa tahu memang Raka yang salah menduga.


"Enggak, Pa ... Kalila juga maen kabur-kaburan, masih kecil udah berani begini."


Raka menghela napas panjang, dan Gian kini terlihY seperti seorang ayah yang mengkhawatirkan anak gadisnya. Padahal yang membawa Kalila pergi adalah Haidar, adik kandungnya sendiri.


"Tenang, Gi, Haidar cuma bawa Kalila jenguk bayi Ricko, santai saja," tutur Raka menangkan putranya, sementara Gian yang mendengar segera menatap tajam papanya.


"Apa?!! Pergi ke rumah Ricko? Astaga, Haidar!! Puasa-puasa buat emosi, rumah Ricko itu jauh, Papa."


Gian putus asa rasanya, kenapa dia bisa pergi tanpa izin dulu. Sementara tujuannya memang cukup jauh, kesal sekali rasanya.


"Sebentar lagi dia pulang, kau tidak usah teriak-teriak bisa kan? Telinga Papa sakit, Gian."


Sungguh memekakan telinga, Raka bahkan merasa kepalanya sedikit sakit. Sudah dirinya tidak sahur, dan kini justru Gian membuat ulah.


"Maaf, Pa, tapi memang saat ini aku sedang emosi luar biasa. Kenapa bisa Haidar bawa kabur Kalila seenaknya, bikin sendiri kalau mau bebas seharusnya," ucapnya asal ceplos dan membuat Raka hanya menggeleng pelan, putranya itu kini berlalu dan sepertinya hendak bersiap menyusul putrinya.


"Terserah kalian berdua saja, menyebalkan sekali punya anak stres semua."


Raka berlalu dan kembali ke kamarnya, setelah sempat membuat Gian semakin sinting, kini pria itu ingin menenangkan diri karena dirinya takut terkontaminasi.


"Papa!! Mau kemana? Jangan pelgi." Teriakan Kama sudah terdengar, benar saja kan, memang anaknya tidak ada yang mending. Baik Gian maupun Haidar sama saja, Raka sempat melihat ke lantai dua, nampaknya kepergian Gian ditahan oleh putranya.


"Papa mau jemput Kalila, Kama sama Mama dulu ya," tutur Gian lembut, meski dia sedang tak baik-baik saja, tapi jika menghadapi Kama ataupun Kalila, dia sangat menjaga hati mereka.


"Gamau, Mama bobo siang, Papa ... Kama ikut boleh?"


Tidak mungkin Gian tega meninggalkan putranya, belum lagi tangan yang sudah menggenggam erat jemari Gian. Baiklah, demi menjemput princess centilnya itu, Gian membawa serta Kama agar kekuatannya bertambah.


"Baiklah, kita pergi sekarang."


"Kalila kemana, Papa? Kenapa hali ini gamau main sama Kama?" tanya Kama polos dalam gendongan Gian.


"Kalila lagi sama om Haidar, Sayang, ini kita jemput dulu, mungkin dia lupa jalan pulang." Gian berucap dengan setenang itu, padahal batinnya sekhawatir itu perihal Kalila.


🦔❣️

__ADS_1


Selamat hari raya idul fitri dari Gian's Family 👨‍👩‍👧‍👦 Mohon maaf lahir dan batin dari Gian dan Authornya.


Terima kasih dukungannya teman-teman.


__ADS_2