Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Secepat Itu? (Takdir Mematahkan)


__ADS_3

Pernyataaan pahit bagi Haidar, tak menutup kemungkinan Gian juga tergores namun ia sejenak bernapas lega dengan pernyataan tegas Radha.


Manik indah itu berkaca-kaca, menatap sendu sang pemilik suara yang mengungkapkan hal pahit di luar dugaannya. Haidar hanya mampu terpaku menatap Radha, ia terhenyak bahkan terasa sesulit itu untuk menghela napas.


"Ra? Ka-kamu sedang bercanda kan, Sayang?"


Radha menepis tangan Haidar, secepat mungkin sebelum pria itu benar-benar mengguncang tubuhnya. Radha membalas tatapan sendu Haidar, manik keduanya terkunci. Tersimpan sejuta kekecewaan di dalam sana, dan sesakit itu benak Radha usai mengukir luka di benak pria itu.


"Please, jangan pergunakan panggilan itu untukku lagi, Kak."


"Ya Tuhan, Zura." Kalimat itu tertekan seakan Haidar tengah menahan tangisnya, jika saja ia boleh memilih rasanya lebih baik ia tak bertemu Radha sore ini.


Sakit yang teramat ia rasa, belum pernah Haidar merasa patah sepatah ini. Di persatukan dalam rasa yang begitu lama, namun patah karena sebuah keputusan tergesa.


Kenapa sekejam ini takdir padanya, apa salahnya hingga tulusnya berakhir sakit. Selama menjalani profesinya yang jauh dari Radha, bahkan nomor ponsel wanita lain tak ia simpan jika memang ia anggap tak penting.


Radha mengepalkan tangannya, memang ia tengah menyayat batinnya sendiri. Namun, ini semua harus tuntas dan takkan mau ia berlama-lama dalam dukanya. Tanpa menunggu Gian, Radha berlalu dan meniti anak tangga dengan tatapan kosongnya.


Bermodalkan firasat dan jiwanya yang terpacu, Radha hanya menginginkan ketenangan secepatnya. Tanpa Gian yang menggodanya dan tanpa Haidar yang mengungkit masa lalunya.


Tinggal lah dua sosok pria tampan yang kini terpaku menatal punggung wanita itu, mulai menjauh dan kini menghilang dari pandangan mata.


"Maafkan, Kakak, Haidar."


Ucapan itu lolos begitu saja dari mulutnya. Sadar betul bahwa penyebab hancurnya dua cinta itu adalah dirinya. Gian tak melepaskan wajah pilu Haidar dari pandangannya, ingin rasanya ia memeluk adik kecilnya itu.


"K-kau dengar apa yang dia ucapkan, Kak?"


Manik yang kini memerah menatap Gian, ingin ia menumpahkan air mata yang begitu membendung sebegitu dalamnya. Bahkan untuk berucap Haidar tercekat, luka yang kini ia rasa mungkin tengah bersimbah darah.


"Haidar, ak ...."


"Diam, Kau!! Kau senang kan dengan apa yang Radha ucapkan?"

__ADS_1


Bentakan Haidar membuat Gian yang semula berusaha lembut kembali mendidih seperti sebelumnya. Ia mencoba mengerti posisi Haidar namun pria itu tak menganggap pedulinya.


"Aku sudah berusaha mengertimu, Haidar, kenapa kau semarah ini padaku?"


"Apa? Hm? Katakan sekali lagi, Kak."


Haidar maju dan membuat jarak mereka semakin dekat. Rahang Gian terlihat mengeras dan Haidar paham semarah apa kakaknya saat ini.


"Hahah, mengerti aku? Ayolah, Gian ... jangan membual, ini masih sore kai tau!!"


Gian tak terima manakala Haidar menunjuk dadanya sembari menatap tanpa sedikitpun rasa takut. Dan tak sungkan Haidar tampak menantang dirinya.


"Bisakah kau singkirkan tanganmu ini, pengecut?"


Dengan sebegitu dinginnya, Gian seakan lupa bahwa yang berada di depannya ini adalah seseorang yang bahkan satu rahim dengannya. Tatapan tajam bak hunusan anak panah itu berpadu, entah kapan akan meledak, emosi keduanya sama-sama di titik egonya.


"Jangan pernah kau menyentuhnya sedikitpun, dan aku rasa setelah Radha mengatakan keputusannya, kau tak seharusnya berpikir untuk menjadi perusak rumah tangga orang, Haidar."


"Jangan senang dulu, Gian, itu hanya ucapan yang keluar dari bibirnya, kau tidak tahu apa yang Radha rasakan di dalam hatinya."


Deg


Sebuah kalimat yang berhasil membuat langkah Gian terhenti, tak ada jawaban lain untuk menepis ucapan sang Adik. Benar, memang semua itu benar adanya, namun tak apa, prihal hati Gian akan mengurus sisanya.


"Tau apa kau soal perasaannya, cih bahkan sejauh mana hubungan kami kau tak paham kan."


Gian bukanlah pria yang menerima kalah begitu saja, dan takkan ia biarkan Haidar merasa menang walau dari satu titik pun. Senyum itu terukir dari bibir Gian, pria itu berlalu dengan sejuta kemenangan yang sesaat lagi akan ia kuasai sepenuhnya.


********


Mata sengit semu memerah itu menelusuri kepergian Gian, kepalan tangan yang begitu keras hingga buku tangannya memutih itu dapat menjelaskan seberapa marahnya Haidar.


"Badjingan, kau merasakan bagaimana sakitku, Gian."

__ADS_1


Tekad bulat Haidar menyertai perginya, pria itu beralih ke kamarnya dan menutup pintu sekuat tenaga sebagai bentuk dari luapan emosinya. Dan hal itu tak lepas dari pendengaran Budi yang beberapa hari terakhir tak bisa terkejut walau karena hal kecil.


Braak!!


Tanpa bicara, Haidar menghempaskan tubuhnya di sofa. Menatap.langit-langit kamar, bayangan wajah datar Radha kala memutuskan hubungan dengan cara sehalus itu masih membekas di nenak Haidar.


Kenapa harus dia, tak bisakah Gian saja yang merasakan luka? Radha adalah salah satu alasan senyumnya dan bagiamana mungkin ketika hal berharga itu pergi atas pilihannya sendiri, sungguh sakit yang teramat sakit.


"Kenapa secepat itu, Ra? Bertahun-tahun kita bertahan, dan kau patahkan dalam waktu tak sampai satu bulan."


Ia masih tak habis pikir, selama ini Haidar berusaha sebaik mungkin agar Radha tak berpalinh darinya. Banyak hal yang Haidar lakukan untuk Radha, ia hanya ingin menjadi sosok pendamping yang baik untuk kekasihnya itu.


Rencana Gian terlampau matang, bahkan kehidupan mereka beberapa tahun lagi telah ia rencanakan. Dan mirisnya, pun tentang mimpi indah Haidar tak berhak lagi. Begitu manis bayangannya, namun jalannya ternyata berbeda.


"Mama peluk aku," keluh Haidar pada akhirnya.


Pria itu tengah di titik dukanya, dan dia butuh banyak cinta terutama dari Jelita. Wanita cantik yang masih berusaha membelanya meski ia terjebak dalam rasa bersalah.


Lagi dan lagi, kristal bening itu menguasai. Haidar menjadi cengeng sejak kepulangannya. Hal kecil semacam itu bahkan berhasil membuatnya menangis, apalagi ucapan Radha padanya.


"Tuhan, bisakah aku mengulang satu waktu saja."


Ia berandai, Haidar ingin kembali di saat ia remaja. Jika ia tahu akan seperti ini, ingin rasanya ia memilih turut kata sang Papa. Memilih tetap di Indonesia dan merasakan hidup layaknya putra seorang pemimpin perusahaan.


"Takdir mengalahkan kita pada akhirnya."


Pria itu memegang dadanya, sakit yang ia rasa butuh penyembuh segera. Dan kini, Haidar tengah berusaha menjadi penenang untuk dirinya sendiri.


......... Bersambung❣️


Bagaimana caranya, merubah takdir dan kisah hidup sesuai dengan harapan kita, ternyata tidak ada cara, setiap orang hanya di paksa terima dengan jalan hidup yang tak masuk akal sama sekali.


~It's You.

__ADS_1


__ADS_2