
Meski harus sedikit sabar, Gian rela menanti. Ia berdiam menatap gerbang sekolah berkali-kali. Kenapa terasa sangat lama, apa mungkin mereka tengah mempelajari ajian khusus untuk menghadapi ujian, pikir Gian.
Hingga penantiannya kini tak sia-sia, dari jauh ia telah menatap kehadiran Radha dengan senyum manis di pipinya. Namun sayang, senyum itu bukan dia berikan untuk Gian, melainkan pada sosok pemuda yang mengenakan pakaian yang sama tampak berbicara sesuatu tapi tak bisa Gian ketahui.
"Sepertinya aku harus merubah kebijakan, siswa tanpa masa depan ini menggoda para siswi dengan motor hasil rengekan pada papanya, awas saja kalian ya," ujar Gian menatap tajam kejadian menyebalkan di depannya.
Sepertinya dapat ia simpulkan jika Radha tengah ditawari tumpangan. Sedikit heran, kenapa Radha semudah itu mengenal seseorang yang ingin mengantarnya.
"Yes, bagus, Sayang ... kau memang harus menolaknya."
Gian tersenyum menang kala kini Radha menghampirinya, Gian tak turun bahkan tak membuka jendela, akan tetapi Radha sesadar itu akan kehadiran suaminya.
"Hai, gimana hari ini?"
Seperti biasa, layaknya istri yang taat pada suami, Radha selalu mencium punggung tangan Gian saat pertemuannya, dan hal kecil semacam ini dapat meluluhkan hati Gian yang tadi sempat memanas.
"Ya gitu deh," jawab Radha mengulas senyumnya, sebenarnya tidak ada yang spesial maka dari itu jawaban pendek Radha berikan.
"Kenapa jawabnya cuma gitu?"
Karena jawaban seperti ini hampir tak pernah Radha lontarkan, meski tak begitu menjadi masalah, hanya saja Gian takut jika Radha memang kenapa-kenapa.
"Nggak, ayo pulang, Kak ... capek."
Sangat-sangat aneh, selelah-lelahnya Radha tak biasanya dia menjawab sependek itu. Bahkan kini wanitanya ini terlihat tak bersemangat, mengeluh lelah, dan bahkan memilih bersandar dan mengambil ancang-ancang untuk tidur.
"Ck, memangnya di sekolah kamu kenapa sampai selelah ini, Ra," tutur Gian menepikan rambut-rambut yang menghalangi wajah cantik Radha.
Rindunya pada Radha setengah mati, dan kini ketika sudah bertemu istrinya justru hanya tertidur dan tak mengajaknya bicara seperti hari biasa.
Mulai melaju dengan kecepatan rendah, jika sebelumnya ia berniat menjemput Radha untuk menemaninya di kantor, kini ia berubah pikiran. Melihat Radha yang tampak lelah, ia lebih memilih untuk pulang.
Memang benar, tak baik berbicara yang tidak-tidak. Mengatakan pada Reyhans bahwa dirinya sakit, kini sepertinya Gian memang akan sakit. Sakit kepala memikirkan istrinya.
-
.
.
__ADS_1
.
"Loh, kok pulangnya sama kamu? Aryo jemput Radha padahal, Gi," tutur Jelita sedikit heran, pasalnya tadi pagi memang Aryo yang Gian perintahkan untuk menjemput istrinya lantaran Reyhans dan dia harus berada di kantor selama satu hari penuh.
"Memangnya kenapa? Kan istri aku, Ma, bebas dong."
"Iya juga sih."
Iya, sepertinya memang Jelita bicara pada orang yang salah. Sejak kapan Gian tidak menjawab melenceng dengan caranya, memang benar tapi jawaban itu membuat Jelita enggan bertanya lagi.
Kini lebih baik ia bertanya pada menantunya, sejak awal masuk wajahnya terlihat lesu. Bukan hanya lelah fisik, akan tetapi seperti ada yang Radha pikirkan dan itu sangat amat mengganggunya.
"Kamu kenapa, Sayang? Sakit?"
"Capek aja, Ma ... mungkin semalem kurang tidur, dia nungguin aku lama banget."
Sama sekali tak ia inginkan jawaban dari Gian, kini pfia itu menyambar tanpa kabal. Ya, meski kali ini ia tak menyebalkan, karena memang sepertinya Radha terlihat sedikit lelah.
"Yakin, Ra? Bukan sakit kan?"
"Hm, iya, Ma."
Radha mulai sedikit terganggu dengan pertanyaan mereka yang tampak khawatir. Ia tak merasa sakit sama sekali, akan tetapi memang pikirannya tengah kacau dan tak sebaik biasanya.
Akan tetapi, celaka besar di sini adalah Gian yang juga ikut pulang. Hal ini membuat batasan bagi Radha karena kesulitan jika harus mencarinya. Belum lagi, dia memiliki benda itu tanpa sepengetahuan Gian, jika sampai ketahuan mungkin saja pria itu akan marah besar.
"Kakak, nggak balik ke kantor?" tanya Radha berharap jika Gian hanya akan istirahat dan kembali ke kantor usai ini.
"Nggak, Kakak kangen kamu, Ra," ujar Gian sembari merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Tanpa ditutup-tutupi, Gian mengatakan alasan sebenarnya kenapa dirinya pulang. Karena memang sejak di kantor Gian uring-uringan lantaran Radha tak berada di sisinya.
"Kangen? Setiap hari kita ketemu padahal," ujar Radha menarik sudut bibir, jawaban suaminya kini terdengar seperti rayuan belaka.
"Memangnya kenapa? Boleh-boleh aja kan?"
"Iya juga sih boleh, nggak ada yang larang memang."
Hanya senyum tipis Gian berikan, pria itu hanya menatap istrinya yang tengah membuka seragam sekolahnya. Radha yang menyadari tengah diperhatikan balik badan, hal itu bukannya membuat Gian tersinggung, ia hanya merasa lucu saja.
__ADS_1
"Aneh kamu, Ra ... cuma begitu aja disembunyiin, setiap hari juga Kakak lihat setiap incinya."
Gian kini menatap langit-langit kamar, perasaan apa yang kini ia punya. Kenapa justru terasa sedikit aneh, ada debaran yang tak ia mengerti, khawatir, dan sedikit gelisah.
Terutama setelah Radha mempertanyakan apakah dia kembali ke kantor atau tidak, pertanyaan itu terdengar aneh bagi Gian, seakan kalimat usiran yang menunjukkan dia tak ingin bersamanya hari ini.
"Ck, lain cerita."
Istrinya sudah selesai, hanya dengan celana pendek dan kaos oblong, dan rambut yang ia ikat membuat tampilan sederhana ini Gian gilai sejak dulu.
"Kenapa pakek ginian, harusnya daster lah."
"Ih gamau, apaan siang-siang pakek daster, lagian aku belum pernah pakek daster, jangan macem-macem deh."
Terdengar lucu, padahal protes Radha memang nyata. Di umur sekarang, memang dia belum pernah mengenakan daster seperti yang kerap Jelita kenakan.
"Hahaha memang Mama nggak ajarin buat pakek daster gitu?" tanya Gian, karena sejak awal menikah banyak hal yang Jelita berikan, siapa tahu masalah itu juga, pikirnya.
"Ajarin sih, Mama bilang alasan pakek karena Papa suka, makanya dia pakek setiap hari."
"Pakek juga dong, Ra, Kakak suka tau liat Mama pakek baju yang begitu."
"Ih gak mau, Kakak aja yang pakek kalau emang suka," celetuk Radha tak terima dengan ucapan Gian, lebih tepatnya perintah.
"Kenapa memangnya? Masa Kakak yang pakek," tuturnya lembut, kehadiran Radha yang kini berada di sampingnya membuat Gian semakin betah untuk tak kembali ke kantor.
"Kayak orang hamil, aku belum mau." Bibirnya maju beberapa centi, seakan itu adalah bencana besar baginya.
"Latihan, kan sebentar lagi kamu bakal hamil juga."
Diam, Radha menggigit bibir bawahnya, apa yang Gian ucapkan justru semakin menjadi ancaman bagi dirinya. Kembali Radha fokus memikirkan hal yang mengganggu pikirannya, jika benar ia hamil saat ini, mungkin Gian akan sebahagia itu, tapi bagaimana dengannya.
"Ra, kamu kenapa?" Menyadari istrinya terdiam beberapa saat, Gian menyadarkannya.
"Nggak, pengen banget punya anak ya, Kak?"
"Ya pengenlah, kamu pikir kita usaha tiap hari buat dapet apa?" Gian menghujani wanitanya dengan ciuman, apa Radha tidak berpikir kesana, pikir Gian.
"Dapet pahala, kata Kakak ibadah."
__ADS_1
"Iya juga, sekalian maksudnya, Ra."
Meski pikirannya tengah kacau, jawaban Gian membuat Radha tersenyum senang. Ada saja hal yang seakan menjadi pengobat bagi Radha untuk dapat melupakan sejenak kegalauannya seberat apapun.