
"Ra."
Suara lembut itu keluar dari bibir Gian yang sedari tadi tetap terpejam. Pria itu tengah menahan kantuknya yang luar biasa, namun tubuhnya yang terasa lengket seakan membuatnya terhalang untuk menyelami dunia mimpi.
Radha sedari memperhatikan Gian melalui pintu yang ia buka sedikit, tentu saja karena ia takut pria itu akan berbuat macam-macam sebagaimana pikiran nakalnya.
"Zura, kau masih lama?"
Dada Radha semakin berdetak kencang, Gian benar-benar membuatnya tak karuan. Memang ia telah mengganti pakaiannya di kamar mandi, hingga ia tak perlu khawatir Gian akan melihat tubuh mungilnya tanpa busana.
Radha sengaja tak menjawab, bahkan dengan usilnya kembali menghidupkan shower hingga Gian mengiranya benar-benar belum selesai. Entah kapan ia akan memutuskan untuk keluar, pikir Gian mulai bosan.
Satu menit, dua menit, hingga sepuluh menit berlalu. Perempuan mungil yang masih bingung harus berbuat apa mulai merasa pegal. Kakinya mulai kesemutan dan membuatnya susah payah menahan tubuhnya.
Dengan berasndar di tembok kamar mandi, Radha berharap Gian takkan nekat masuk saat ini. Mengigit bibir bawahnya kuat-kuat karena kakinya masih saja kebas.
Ceklek
Seketika ia mendongak, mengangkat wajahnya paniknya. Gian terlihat menatapnya dengan tatapan tak terbaca, sungguh amat menyebalkan mata yang kini memerah itu.
"Kau sedang apa, Zura? Hah?!"
Jika karena tubuhnya tak lengket lantaran perjalanan jauh, mungkin Gian tidur sejak tadi. Sungguh ia ingin berkata kasar lantaran Radha yang justru sengaja mengulur waktunya.
Gian mengunci pintu kamar mandi dan sengaja membawa kunci itu di sisinya, dengan senyum usil ala Gian yang benar-benar membuat Radha hampir gila.
Tanpa aba-aba dan menunggu Radha keluar, Gian dengan sengaja menanggalkan pakaiannya. Spontan Radha membeliak, segera menutup wajah dengan handuk yang sedari tadi ia pegang.
"Aaaaaakkkhhh!! Kakak!! Kau gila yaa?!!"
Gian tak peduli dengan teriakan Radha, tujuannya saat ini hanya mandi. Terserah bagaimana nasib perempuan itu sekarang. Tak peduli sama sekali, yang jelas teriakan istri kecilnya seakan menjadi sensasinya.
"Diam, Zura ... atau kau mau aku habisi sekarang juga?"
__ADS_1
Gian menoleh, tubuh polos tanpa ada sehelai benang itupun seakan menjadi ancaman bagi Radha. Hendak keluar pintu telah terkunci, dan Gianlah yang mengambil alihnya.
"Ehm, aku tidak melakukan apa-apa," ucap Radha hati-hati, ia takut telinga tajam Gian akan membuat malapetaka baru baginya.
Sengaja ia memperlama durasi mandinya, Gian begitu menikmati tanpa melewatkan inci tubuhnya sedikitpun. Bukan balas dendam, hanya saja ia ingin memberikan sedikit pelajaran untuk istrinya.
Cukup lama Radha memejamkan mata, gemericik air mulai berhenti, pertanda pria tampan itu telah usai mandi. Sesaat Radha tersenyum lega, setidaknya hilal kebebasan itu telah terlihat dan nyata adanya.
Oho, tidak, mana mungkin seorang Gian akan melakukan sesuatu setengah-setengah. Tentulah ia akan membuat Radha benar-benar tertindas kali ini. Ia menarik sudut bibir sembari menatap kuku-kukunya.
"Ra,"
Sialan, suara itu terdengar bak ancaman. Penuh tekanan bahkan mungkin membuatnya akan kehilangan separuh dirinya.
"Zura, kau dengar Kakak?"
"Ada apa?!! Jangan mendekat kau dasar cabull!!"
Gian terkekeh, tak mampu ia menahan tawa menyaksikan istri kecilnya ini terlihat begitu tertekan. Sejenak ia menyadari ada satu hal lagi yang dapat membuat istrinya mendekat.
Deg
Radha benar-benar harus menghela napas kasar, benar-benar menyebalkan suaminya ini. Ingin rasanya ia berteriak sekuat tenaga, namun percuma. Bisa jadi Gian tak main-main dengan ucapannya, pikir Radha.
"Ini!!"
Ia memalingkan wajah dan mengulurkan handuk putih ity kepada Gian, berharap pria itu akan menghampirinya tanpa di pinta.
Tak ada niatan Gian untuk nendekat, ia menginginkan Radha datang kepadanya. Memberikan handuk itu dan menerkam tubuh istri mungilnya itu sesaat.
"Kesini, Ra, terlalu jauh."
Benar-benar tidak waras, Gian berbuat seenaknya. Radha hanya mampu mengepalkan tangannya. Bagaimana bisa suaminya itu menindaskan dengan cara yang seperti itu.
__ADS_1
Mau tidak mau, Radha harus mau. Gian terbahak dalam hatinya sembari menoleh. Ia lihat istrinya mulai mendekat dengan langkah bak siput masuk angin, lambat.
Dengan mata yang juga terpejam, Radha meraba dengan tangan terulur. Berharap Gian akan segera mengambil handuk itu. Ia tak tahu seberapa dekat jarak mereka, yang ia tahu ia harus segera menuntaskan kehendak Gian.
Diam, dan Gian masih memastikan Radha lebih dekat dengannya.
"Aaaaaarrrrrgggghhh, Papa!! Tolong!!!"
Teriakan itu benar-benar memekakan telinga, Radha kalut kala Gian justru mencengkram pergelangan tangannya, bukan handuk yang ia bawa.
"Kakak lepaskan aku!!"
"Hahah, dasar penakut. Ah lucu sekali wajahmu, Zura ...."
Tawa itu sungguh menyebalkan, Zura tengah menjadi korban Gian. Mengapa suaminya selalu saja mencari celah pikirnya.
"Buka matamu," perintah Gian yang membuat Radha membeliak, jelas saja ia akan menolak.
"Tidak!!"
"Zura,"
"Kakak tolong lepaskan ... aku masih di bawah umur."
"Buahahahhaha!!!"
Kali ini Gian tak mampu menahan gelak tawanya, terlampau lucu istrinya. Tangan Radha yang semakin dingin membuatnya semakin gila, sungguh menggemaskan istrinya.
"Tapi aku suka anak kecil," celetuk Gian yang membuat Radha semakin kalut luar biasa.
"Tapi aku tidak suka kakak," ujar Radha masih dengan mata terpejam dan wajah yang tertunduk lantaran takut Gian memaksa ia membuka mata.
Tbc
__ADS_1
Maaf telat ya, semalem nulis. Sadar" dah jam setengah tujuh. Liat tulisan stuck di 500 an. Aku pikir dah up, taunya ngelindur.