Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Takut Mengecewakan.


__ADS_3

Satu persatu, Radha menghambat waktu. Begitu pelan berharap Gian akan menyerah, sayangnya harapnya patah. Pria itu begitu sabar menatap lekat gerak gerik istrinya.


Gian menggigit bibir bawahnya, tatapan itu dapat menjelaskan seberapa ia mendambakan sang Istri. Menyisakan Bra yang sengaja Radha pertahankan, Gian tetap saja seakan terbakar.


Jiwa lelakinya berbicara, seakan meminta tuntas dan menerkam mangsa di depannya. Beberapa kali Gian menggigit bibirnya kuat agar tak lepas kendali. Tubuh mungil wanitanya terlihat begitu mulus dan indah, meski Radha berusaha menutupinya dengan kedua tangan tetap saja tak dapat menghalangi pandangan Gian.


Di dalam air, seharusnya ia merasa dingin, pun tidak minimal sejuk. Namun kini berbeda, ia merasakan panas di sekujur tubuhnya. Di tempar yang sekecil itu jelas saja sedikitpun pergerakan Radha akan dapat ia rasakan.


"Ssssh, Raa," desis Gian yang membuat Radha mengangkat wajahnya, pria itu memejamkan matanya, Radha hanya mampu menatap Gian penuh tanya.


"Lah, dia napa jadi tidur?"


Ingin ia menghampiri, namun takutnya lebih besar dari rasa ingin tahunya. Radha tetap bertahan dalam diamnya untuk beberapa waktu, namun Gian yang kini justru mendekat membuatnya panik dengan mata membulat dan sontak berusaha mundur namun tentu tak bisa.


Secepat itu, Gian melingkarkan tangan di pinggulnya. Menarik Radha agar lebih mendekat hingga keduanya seakan tak berjarak. Dasar membual, Gian memang benar-benar tukang ingkar, pikir Radha.


Ritual mandi yang biasanya seheboh itu, kini Radha hanya terdiam dan tak mampu berbuat apa-apa kala Gian mulai memainkan busa sabun yang menutupi pemandangan sebagian tubuhnya.


"Sayang." Ucapan itu begitu lembut lolos dari bibir Gian, pria membelai pelan rambut indah Radha, dan matanya kian sayu namun tetap tak dapat menutupi damba di balik manik indah itu.


Masih berusaha tenang, Radha mencoba menolak Gian dengan mendorong dada suaminya. Namun senyum usil itu membuat Radha seakan berada dalam pelukan penjahat kelamin.


"Kakak mau apa?"


Radha berhasil membuat Gian menghela napas kasar lantaran kecewanya, tujuannya untuk mendapatkan bibir ranum itu gagal kala Radha berhasil menghindari serangannya.


"Cih, masih bertanya?"


"Kakak mau mengikari janji?"


"Janji? Janji yang mana, hm?"


Gian kali ini semakin berkuasa, Radha merasakan perubahan sang suami. Jemarinya mulai tak dapat di kondisikan dengan mata yang memperdaya seakan membuat Radha harus diam tanpa di paksa.


"Aaaaa!! Kaaak."

__ADS_1


Terlampau sensitif, membuat Radha tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Gian menarik sudut bibir, istrinya terlihat memerah akibat ulahnya, sedikit Gian menganggap sebagai penerimaan Radha.


"Jangan di tahan, Ra," perintahnya dengan suara yang begitu membuai, Radha sekuat itu bertahan.


Gian melakukannya selembut mungkin agar istrinya tak berontak, Radha memang diam, membantu dan sesekali bersuara kala ia tak mampu lagi menahan untuk tetap diam.


Posisi rawan, keduanya terlalu dekat dan Gian bukan lagi anak remaja yang belum memiliki na*su sebesar itu. Dia tetap pria matang yang sudah jelas menginginkan.


"Kak?!!"


Terlambat, Radha hanya mampu melongo ketika sadar bahwa Gian telah berhasil melucuti perlindungan terakhir di atasnya. Sudah pasti dengan adegan melempar benda berharga itu seenaknya.


"Hahah, biasa saja, Zura, aku sudah pernah melihatnya."


Ia menepis pelan telapak tangan sang Istri yang tengah berusaha melindungi diri. Sungguh, Gian benar-benar bertindak sesukanya. Nyatanya benar, berdua bersama Gian sama halnya dengan bunuh diri.


"Kakak tidak mampu menahannya, Ra, boleh kan?"


"B-oleh apa? Jangan macam-macam, Kak."


"Aaarrrrggggghh!! Mama!!"


Secepat mungkin, Radha keluar dan lari dengan sisa tenaganya. Menyambar sembarang handuk yang ada di sana dan berusaha pergi sebelum Gian menahannya. Karena lantai itu licin dan wanita itu berlari begitu kuat membuatnya tergelincir dan kakinya terasa sakit.


"Aaaakkk, ya Tuhan," ujarnya menahan sakit, ia meringis lantaran memang tak main-main.


"Ays!! Radhaaaa!!!"


Gian yang memang terkejut dan panik lantaran mangsanya itu lepas jelas saja semakin panik, ia segera melilitkan handuk di pinggang dan menghampiri dengan perasaan yang bercampur baur di sertai emosi yang datang secara alami.


"Dasar bodoh!! Kenapa harus lari, hah?!!" tanya Gian yang merasa seharusnya hal itu tak terjadi, ia hanya berpikir untuk segera menyudahi acara mandinya sebelum benar-benar nekat menjamah istrinya.


Bagaimanapun usahanya pergi, nyatanya ia masih jatuh dalam pelukan Gian dalam waktu secepat itu. Pria itu terlanjur memgeraskan rahangnya, ia tatap wajah Radha yang memelas.


"Kenapa? Katakan padaku?!!"

__ADS_1


"Kakak membuatku takut," ucapnya lemah, jarinya gemetar lantaran shock jatuhnya memang sekuat itu.


Mengapa Radha setakut itu prihal ini, apakah memang Gian terlalu tergesa-gesa, pikirnya. Tak dapat ia pungkiri, kecewa itu melanda hatinya, niatnya hanya sekadar mandi namun tak bisa Gian pungkiri ketika tubuhnya menginginkan lebih. Namun, pantaskah Radha menganggapnya sebagai montser? batinnya terasa sesak luar biasa.


Dalam keadaan marah, Gian masih bertindak cepat. Ia segera mengangkat tubuh Radha dan membawanya ke kamar segera.


Brugh


Sedikit tak berperasaan, Gian menghempas tubuh Radha lantaran amarah yang masih tersisa menguasai jiwanya. Membuang napas kasar sembari menggelengkan kepala tak habis pikir dengan tingkah istrinya.


"Takut? Kau takut apa, hm?"


Radha tak menjawab, lutut dan kakinya benar-benar sakit. Kenapa juga ada adegan paling sial itu, sungguh ia ingin mengutuk diri sendiri.


"Coba katakan takut apa? Kau tak suka kakak menyentuhmu begini? Begini? Begini?" tanya Gian sembari kembali menyentuh beberapa bagian tubuh istrinya asal.


Tak punya jawaban, memang dia sedikit belum siap Gian menyentuh tubuhnya sesuka hati. Namun untuk menolak ia juga tak seberani itu, hanya saja ia belum merasa mampu untuk menjadi istri sempurna dan sepenuhnya untuk Gian.


"Maaf, Kak."


"Aaarrgghh!! Kau pikir aku mampu terus menerus begini? Kita sudah menikah cukup lama, Ra, bukan kemarin!! Tapi kau setakut ini padaku?"


Gian memerah, kepalanya terasa kacau. Belum usai penyebab pusingnya, dan kini Radha semakin membuatnya pusing. Pria itu menjabak rambutnya kuat-kuat dan memukul angin pada akhirnya.


"Harus berapa kali lagi Kakak tegaskan, hm? Aku suamimu, Ra, bukankah Mama selalu mengajarkanmu bagaimana seharusnya jika sudah terikat tali pernikahan kan?"


Gian memejamkam mata, amarah tengah di puncaknya dan pria itu memilih berlalu. Pergi dan tak ingin emosinya berlanjut lebih lama.


BRAAAKK!!


Ia terkesiap, suara pintu itu terlalu keras dan Radha tahu sekuat apa Gian mendorongnya. Menatap sendu pintu kamar mandi sembari memeluk dirinya, merapikan rambut dan manatap wajah kacaunya cermin.


"Maaf, Kak, aku hanya takut kakak kecewa."


......... Bersambung🕊

__ADS_1


Bukan maksud tunda, hanya saja untuk part ini gabaik kalau keterusan ges!!❣️ Dan memang karena kesiapan Radha, bukan paksaan Gian ya🕊


__ADS_2