
Menyambut hari kemenangan, hari yang suci dan penuh keberkahan. Sebagaimana umat muslim lainnya, keluarga ini juga merayakan dengan penuh cinta.
Usai menunaikan sholat ied kini tiba waktu mereka untuk saling memaafkan. Setelah sejuta kesalahan selama satu tahun terakhir, siapapun pernah salah dan siapapun berhak menerima maaf atas kesalahannya.
Sudah lebih dari lima menit, Gian terdiam mencium punggung tangan Jelita. Sadar kesalahan sepertinya, Radha yang juga sejak tadi terdiam tak bisa menahan tetesan air mata kala dia mengingat kedua orang tuanya.
"Gantian, Kak, aku mau juga," bisik Haidar mengingatkan karena memang Gian sudah selama itu.
"Maafkan Gian, Ma," tuturnya lagi dan sebegitu lembutnya, Gian mengusap air mata yang masih saja berurai, ya air mata itu adalah cerminan sebanyak apa kesalahannya.
"Iya, Sayang ... sudah, jangan menangis, Mama nangis juga."
Sungguh, kelemahan Jelita adalah ketika Gian menangis. Jika pria itu sudah menangis, kalaupun tidak sedih Jelita akan turut menangis. Begitu cepat putranya tumbuh, baru saja kemarin Gian sebesar Kama, kini dia justru paling besar di rumah.
"Hm ... Papa."
Gian beralih pada Raka, beruntung saja pria paruh baya itu tak lemah dan sama sekali tak tergoda meski wajah Gian sudah memerah.
"Maafkan aku, Pa."
Hanya pelukan singkat Raka berikan, betapa bangga dia pada putranya ini. Sebagai penggantinya, Gian benar-benar definisi berhasil dari segala sisi menurut Raka.
Dengan mengenakan pakaian senada, tergambar jelas betapa harmonisnya keluarga ini. Kama dan Kalila terdiam begitu menyaksikan interaksi mereka, kenapa bisa papanya menangis hingga sesedih itu, pikir mereka.
Meski sudah sempat dilakukan, Radha kini mengulangnya. Mencium tangan Gian, mengutarakan maaf sebesar itu layaknya seorang istri pada suaminya.
"Maafkan kesalahan istrimu ini ya, Kak."
"Hm, maafkan juga kesalahan suamimu ini ya, Sayang," balas Gian tak kalah dramatis.
Haidar mendengar jelas bagaimana mereka, dan tentu saja harus ada acara tangis menangisnya.
"Kalian bisa berhenti?" tanya Haidar memecah keheningan, pria itu sudah cukup lama menanti bisa menjabat tangan kedua orang tuanya, dan kini dia juga berharap bisa menjabat tangan mereka berdua.
"Ah iya maaf, kelamaan."
Gian tersadar dan meminta Radha untuk sejenak menjauh, Radha menghapus air mata yang hampir sebaskom itu.
"Mama nangis kenapa, Oma?"
Wajah bingung yang sejak tadi merasa heran apa yang terjadi dengan mereka. Sejak tadi Kama diam, namun lama kelamaan jelas saja bingung.
"Sungkem kata Papa." Kalila menjawab singkat sembari menatap wajah Kama.
__ADS_1
Hanya itu yang Kalila tahu, tidak ada yang dia ketahui selebihnya. Karena Gian hanya mengatakan perihal itu tadi malam.
"Bukan begitu, Lila, maksud Kama tu Mama nangis kalena apa?" tanya Kama memperjelas.
"Kalena papa," bisik Kalila kemudian mengulum senyumnya, seakan takut terdengar oleh Gian.
"Sshhuut, gaboleh bisik-bisik."
Padahal tadi dia yang mengajak Kalila menggunjingkan mereka, dan bisa-bisanya sekarang melarang Kalila melanjutkan pembicaraannya.
"Aku lupa, Kama." Wajahnya kaget spontan menutup mulut dengan telapak tangannya.
-
.
.
.
Tak lama berselang, Randy bersama istri dan putrinya kini tiba. Lain hal seperti sebelumnya, walau tetap meminta maaf Gian tak memperlakukan Randy sama seperti kedua orang tuanya.
"Heei sini kau, Caterine! Kau banyak dosa padaku."
"Minta maaf sana, Caterine."
Yang muda dan waras harus mengalah, Caterine tak mau hari ini justru rusak dan menambah masalah. Meski batinnya sedikit tertekan dengan apa yang dilakukan Gian tapi tak apa, ini adalah hari spesial dan harus dihadapi dengan hati yang bersih dan nyaman.
Kebahagiaan tak hanya dirasakan oleh keluarga mereka saja, melainkan Aryo dan Asih. Keduanya memilih untuk tetap berada di rumah mereka lantaran memang tidak ada keluarga yang menanti kepulangan mereka.
Kehangatan cukup terasa, mereka begitu dekat. Layaknya Jelita yang menggantikan peran sang ibu sebagai rumah untuk Randy pulang walaupun adiknya itu sudah menikah.
Baru mempunyai dua anak kecil, tapi suasana sudah terasa sangat hidup. Sementara ini tengah menanti kelahiran anak Randy, dan tentu saja menjadi hal berharga bagi setiap orang di rumah itu.
"Om, Kalila mau sama Om!!," teriak Kalila ketika sudah bersiap hendak berfoto bersama-sama.
"Kama sama Mama aja," tutur Kama enggan berebut Haidar, baginya Radha adalah hal utama.
"Hee masa begitu, Kalila sama Kama duduknya di tengah. Mama sama Papa di sini, belakang Oma sama Opa, Kanan Om Randy sama Hulya, Kiri Caterine."
Mengatur formasi dan sengaja tak mengikutsertakan Haidar, kurang ajar sekali memang.
"Terus aku dimana?" tanya Haidar meghela napas pasrah, sial sekali punya kakak seperti itu.
__ADS_1
"Kau yang pegang kamera," ucapnya asal ceplos dan membuat Haidar panas bukan main.
"Samping aku aja, Haidar ... kak Gian apaan sih gak asik banget idupnya."
Caterine menengahi, sampai kapanpun sepertinya tidak akan pernah berkesudahan.
"Yayaya sudah yang penting cepat, lama sekali ... pinggang istriku pegal jika terlalu lama hei!!"
Yaya emosi, sudah biasa jika Randy dan Gian bersatu mereka akan luar biasa ributnya. Randy tak sabaran, dan Gian biasa menunda waktu dan semua harus turut kehendaknya.
"Siap-siap, satu ... dua ... ti!!"
Aryo harus turun tangan demi menjaga martabat Haidar yang hendak Gian jadikan tukang foto di hari penuh kebahagiaan ini. Memang dasar pria sinting yang tak punya hati, pikirnya.
"Sekali lagi, Pak gak berasa," seru Gian narsis sekali, yang artis adiknya yang paling narsis di kamera justru dia.
"Sama Mama papa, kalian minggir dulu."
"Haidar juga ikut, kamu apa-apaan begitu, Gian." Jelita ingin sekali memukul pundak putra sulungnya, dasar pria sinting, pikirnya sebal.
"Iya-iya."
Bergantian, setelah keluarga besar Raka, begitupun dengan keluarga Randy. Mereka tak ingin kehilangan kesempatan untuk mengabadikan momen ini.
Siapa yang menduga, keluarga sekacau itu dan kesendirian Randy akhirnya terobati. Jelita bersyukur berkali-kali lantaran dapat melihat adiknya tersenyum kembali.
Tak ada luka, semua perlahan berdamai dengan keadaan. Tidak ada mantan, tidak ada masa lalu suram. Mereka sebaik itu memaafkan, baik Radha maupun Haidar sama, sama-sama dewasa meski dahulu sempat terpaksa.
Hadirnya Gian sebagai orang ketiga yang tak pernah mereka duga, nyatanya menghadirkan hikmah. Gianlah yang berperan paling penting, sebagai tokoh utama pendewasaan keduanya.
Hadirnya Kalila dan Kama sebagai buah cinta yang menjadi titik akhir penyatu keluarga. Antara Ardi dan Maya, keduanya perlahan bisa saling melupa dengan senyum malaikat kecil itu.
"Kau belum mau menikah, Haidar? Aku lihat peranku sebagai Papa sering sekali kau gantikan," ucap Gian sarkas kala Kalila memang benar-benar kerap memilih Haidar daripada Gian.
"Ceraikan dulu Radha jika kau mau aku nikah cepat-cepat," ucap Haidar asal dan membuat mulutnya penuh akibat Gian sumpel menggunakan kue kering.
"Dasar sinting!! Aku congkel biji matamu itu mau," ancamnya sembari bersedekap dada.
"Ya makanya jangan banyak perintah, suka-suka aku, Kak kapan nikahnya, sibuk sekali." Sungguh, Haidar sudah kesal dengan pertanyaan Gian yang tak lari dari hal itu.
"Hoel, aku peduli padanya padahal."
🤗🦔
__ADS_1