
"Alhamdulillah, tapi kok nggak kelihatan, Om."
Ada-ada saja matanya, kedatangan Randy bersama keluarga kecilnya menambah hangatnya suasana. Gian menatap lucu Hulya yang justru terlihat kesal lantaran Gian masih seusil itu terhadapnya.
"Ck, istriku baru hamil satu bulan, otaknya dipakek dong," sergah Randy menggelengkan kepala, untung saja tangan Gian dengan cepat ditepisnya.
"Cuma tanya, biasa aja dong ... istrinya saja santai, iya kan, Hulya?" tanya Gian meminta pembenaran, tidak ada yang salah dari tindakannya memang. Akan tetapi, bagaimana cara Gian menempatkan diri masih sebagai teman Hulya yang membuat Randy naik darah.
"Kau benar-benar tidak sekolah ya, Gi!! Sopan sedikit ya Tuhan," keluh Randy pasrah, meski Hulya sama sekali tak mempermasalahkannya, akan tetapi jujur saja dalam hal ini Gian membuat telinga Randy terganggu.
"Sudah, Ran ... untuk sekarang memang yang waras sebaiknya mengalah," tutur Jelita mengeluarkan toples kerupuk jengkol kesukaan menantunya.
"Hm, Mama kebiasaan deh main nimbrung aja."
Wanita itu tak menjawab lagi, memilih menjamu tamu spesialnya malam ini adalah pilihan paling baik. Lagipula putranya ini baru saja pulang dari masjid beberapa menit lalu, dan dia sudah membuat orang lain naik darah.
"Cate, kamu sibuk ya sekarang? Kok hampir ga pernah nyamperin rumah Kakak."
Bukan tak mau, Caterine memang sibuk dan kini wanita itu menekuni karirnya di dunia entertainment. Dengan dukungan Randy dan semua yang dia awasi, akhirnya Caterine mampu untuk benar-benar lepas dari luka masa lalu yang cukup membuat batinnya luar biasa sakit.
"I'm busy, kak Haidar sering ketemu aku kok."
Ya, memang kali ini Haidar dan Caterine menjalin hubungan tak hanya sebatas sepupu saja. Melainkan sebagai rekan kerja juga, sempat berpikir bahwa Haidar takkan sepeduli Gian padanya, namun ternyata prasangka Caterine salah besar.
"Oh iya? Kalian sibuk sekali, tapi belum bisa mengalahkan kekayaanku," ucapnya seenak jidat dan membuat Haidar yang tengah minum tersedak mendengar kesombongan kakaknya.
"Hati-hati, Haidar ... apa terlalu manis susunya?" tanya Jelita memastikan, takut jika bungsu kesayangannya ini mendapat minuman yang tak sesuai dengan selera lidahnya.
__ADS_1
"Nggak, Ma, pas kok," ungkap Haidar kemudian, matanya menatap tajam Gian yang kini tengah berdiri tak jauh darinya sembari menikmati buah apel.
"Bisa-bisanya Radha betah hidup bersama manusia sepertimu," ungkap Haidar pura-pura tak melihat jika kini kakaknya tengah terbahak.
Terlihat jelas dia bahagia sekali jika seseorang tengah tersakiti. Sungguh keterlaluan sekali, pikir Haidar.
Pulang diwaktu yang mendekati hari raya, sengaja Haidar pulang lebih cepat demi bisa lebih lama bersama Jelita dan Raka, namun dia lupa bahwa di rumah ini ada penguasa kegelapan yang bicaranya lebih buruk dari gagak hitam.
"Ck, katakan saja kau iri, Haidar ... enak loh jadi pengusaha sepertiku, kau tidak perlu pura-pura setiap harinya."
Yang dia ucapkan memang benar, dan Haidar tahu persis apa yang Gian maksudkan. Akan tetapi. sekalipun nanti dia semakin dewasa dia masih ingin hidup dengan dunia yang dia senangi, bukan ingin disegani seperti kakaknya.
"Dia sejak kapan jadi begitu? Apa dari dulu, Ma?"
Haidar masih belum bisa menyesuaikan diri dengan penampilan Gian yang begitu alim dengan sarung dan pecinya. Terlibat sangat teduh sekali, andai saja seseorang melihat covernya saja, mungkin mereka akan berpikir Gian malaikat subuh sesungguhnya.
"Kau kenapa tanya-tanya begitu? Tanyakan padaku sini jika memang penasaran," pinta Gian tak terima kala mendengar bisikan ghaib Haidar yang dapat ia dengar dengan amat jelas.
Terserah mereka, jujur saja Radha sudah malas untuk peduli. Karena sama saja, keduanya akan terus demikian jika sedang bersama.
Suasana ruang keluarga menjadi hangat seketika, Kedatangan Randy bersama putri dan sang istri, serta Haidar yang baru tiba sore tadi membuat Jelita merasa hidupnya super lengkap.
"Om, Kalila ngantuk," rengek Kalila kini menempel pada Haidar, dasar tukang cari perhatian, ada saja hal yang Kalila lakukan demi mendapat kasih sayang mereka.
"Ngantuk? Bobo sama Om mau?" tanya Haidar dan jelas saja mendapat anggukan cepat dari Kalila, Gian yang melihat ulah putrinya hanya menggeleng pelan sembari berdecak heran.
"Mau," jawabnya seceria itu, sejak hadirnya Haidar, Gian justru diduakan, sungguh menyedihkan.
__ADS_1
"Kama juga ya," tutur Haidar menatap keponakan laki-lakinya yang kini tengah duduk di pangkuan Radha.
Mata Kama sudah terlalu kecil untuk menjawab, kantuknya sudah teramat sangat dan luar biasa. Mana mungkin dia bisa kembali bersemangat di sisa kehidupan begini.
"Boleh kan, Ra?" tanya Haidar meminta izin pada Radha, dia sungguh-sungguh, memang keinginannya untuk bisa tidur bersama kedua ponakannya.
"Sama Mama ya, Om," tutur Kama yang membuat mata Gian membulat sempurna, segera dia mendekat demi memastikan ucapan Kama.
"Hei, Sayang, masa begitu mintanya?" desis Gian usai menatap kesal Haidar, sungguh menyebalkan kepulangan adiknya ini.
"Gaboleh ya, Pa?" tanya Kama dengan sisa-sisa tenaganya, sungguh dia luar biasa mengantuknya.
"Nggak dong, Mama itu punya Papa," ujar Gian lembut, padahal hatinya bergemuruh begitu menyadari mereka yang berada di sana tertawa hingga sulit bernapas.
"Kalian bisa diam tidak, ini tidak lucu sama sekali," desis Gian menatap kesal wajah adiknya, Haidar yang merasa ini lucu jelas tak henti tertawa karena ini adalah kejadian unik yang patut ditertawakan.
"Papa marah?" tanya Kama, padahal Gian sudah berhati-hati agar Kama tak salah paham, sialnya sang putra tetap saja peka.
"Gak, nggak marah, Sayang."
-
.
.
.
__ADS_1
Temen-temen, bentar!! Baca dlu ini. Aku sebenarnya udah ambil ancang-ancang mau end Gian sekeluarga. Akan tetapi, gak jauh dari status novel ini end maka aku harus punya novel kontrak baru di MT. Sementara, aku punya karya lain disebelah, dan aduh kalau diceritain mau nangis. Bingung banget, mau kabur tapi udah ttd:) Sedangkan pembaca disana belum banyak, sama si di sini juga belum sebanyak itu tapi tetep disyukuri ehe. Kalau mau ikutin giveawaynya monggo kesana ya, doain semoga bisa bersaing juga di sana. Dan untuk karya baru di MT ini nggak akan berubah dan tetap akan aku tulis, tapi setelah aku rada mendingan di sini, minimal aku udah daftar ujian dengan maksud biar fokusnya ke karya walau yang aku tulis bukan satu-satunya. Doain ya semua🤗 Doa kalian sengaruh itu buat aku. Jadi gapapa kan semisal Giannya masih aku tulis, walau jujus ini udah panjang buanget.
Maafin aku belum bisa menyajikan karya yang bener-bener matang. Untuk Babang Gio, outline dan alur sudah aku persiapkan, semoga bisa belajar lebih baik lagi ya. Dan jika berkenan, mampir juga ke kisahnya Sabrina ya🤗 Babay, sehat selalu kalian semua. THR setelah lebaran, pas karya baru aja ya ekwkwk.