Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Pindah Sekolah? (Aku Bisa Sendiri~Radha)


__ADS_3

"Masih sakit?" tanya Gian lembut dan kembali merapikan rambut Radha.


"Enggak,"


Usai sudah perdebatan antara Gian dan juga orangtua siswa yang membuat ulah dengan istrinya. Dalam waktu secepat itu, orangtua Helena dan kawan-kawannya menghadap ke sekolah.


Tentu saja dengan membawa emosi dan bahkan berencana membuat Radha mendekam di penjara nantinya. Gian tak bodoh, dan tak semudah itu dia melepaskan Radha yang terjebak masalah.


Sedikit pun takkan ia berikan celah untuk mereka membuat Radha berada di posisi salah. Dan tak perlu waktu lama, orangtua Helena yang mengenal sosok Gian hanya bungkam. Ia tak ingin ikut membenarkan perbuatan anaknya seperti orangtua Resya yang terus saja mencari pembenaran.


"Mau kemana?"


Gian menahan Radha yang hendak beranjak dari kursinya. Ia menggelengkan kepala sembari menatap tajam sebagai isyarat bahwa tidak ada penolakan atas permintaannya.


"Kak, ini sudah hampir jam sepuluh. Sudah berapa lama aku berada di meja kerjamu."


Lama kelamaan ia tentu saja bosan, dengan alasan menghindari pertanyaan dan gangguan dari orang-orang yang termakan hasutan akan tingkah lakunya, Gian meminta Radha untuk tetap berada di ruangannya hingga nanti jam mengajarnya tiba.


Membiarkan wanita itu tetap di sisinya adalah pilihan Gian, beberapa guru yang berada di sana mulai menunjukkan kecurigaan dan pandangan yang tak pantas. Namun, segelintir dari mereka dapat memahami jika memang Gian walinya.


"Sebentar lagi,"


"Kakak, aku tidak apa-apa ... di kelas ada Nisa dan temanku yang lainnya kan."


"Halah, katakan saja kau mau mengadu pada temanmu yang payah dalam segala hal itu kan?" Gian menerka-nerka tujuan Radha yang begitu ingin untuk masuk segera.


"Ck, Kakak ... aku bosan, sungguh."


"Kau hanya duduk, Sayang, bahkan ponsel Kakak tak lepas dari tanganmu. Kenapa kau bosan?"


Memang benar, Gian berusaha sebaik itu agar Radha nyaman berada di ruangannya. Ponsel, minuman bahkan makanan ia sediakan agar wanitanya itu betah. Namun hal itu hanya membuat Radha merasa malu di hadapan guru-guru yang mengenalnya.


Sudah jelas, predikat anak manja akan melekat padanya. Gian memperlakukan dirinya melebihi seorang balita. Sudah berapa hal ia selancari dari benda pipih itu, tetap saja rasa bosan itu menguasainya.


"Hooam."


Mengantuk, akhir dari bosannya kini. Mata Radha terasa semakin berat, belum lagi suasana ruangan yang memang terasa begitu sejuk membuatnya ingin berlabuh ke dunia mimpi segera.


"Jangan di tahan, tidurlah ... nanti Kakak bangunkan."


Radha tak menggubris Gian kali ini, ia memilih untuk mempertahankan diri dengan mencubit kelopak matanya. Menepuk pipinya dan menggigit jarinya cukup kuat.


"Ck, hentikan!! Apa yang kau lakukan, Ra?"


Ia menghela napas kasar, cukup aneh dengan tingkah istrinya. Gian menarik jemari Radha yang sempat ia sakiti dengan sengaja, dan gerakan cepat itu sukses membuat kantuknya hilang seketika.


"Boleh aku ke toilet sebentar, Kak? Cuci muka sebentar."


"Hm, toilet guru ya."


"Iyaaa," jawabnya seadanya.


Persetan dengan ucapan Gian, Radha hanya ingin keluar dari ruangan itu. Suaminya terlalu percaya Radha takkan bertingkah, nyatanya wanita mungil itu tengah berusaha keluar dari pintu lainnya.


*********


"Huft!! Kenapa gue sial banget hari ini, Tuhan."


Radha memang benar mencuci muka, namun ia tak melakukan di tempat seharusnya. Wanita itu mencuci muka di mushola dengan alasan ingin menenangkan diri sejenak.

__ADS_1


Dengan begitu kasarnya Radha membasahi wajahnya, hingga anak rambutnya terlihat berantakan. Terdiam sejenak sembari berusaha meredam emosinya, ia menatap jam tangannya, waktu bergulir begitu cepatnya dan ia hanya mencoba untuk tak kalut dalam masalahnya.


Di anggap sebagai wanita murrahan bahkan bayaran, sebegitu buruknya Radha di mata banyak orang lantaran berada di bawah kekuasaan Gian. Sungguh, sebuah fakta menyakitkan yang membuat dirinya terjebak dalam tekanan.


Selama ini, anggapan tentang dirinya yang tak punya Ibu dan anak pembawa sial sudah cukup menyakitkan. Lalu kini? Statusnya luar biasa terhormat di mata agama maupun hukum namun menjadi bencana di lingkungan sosialnya.


"Mama ...."


Ia berucap lirih, air keran itu masih mengalir bersamaan dengan tetesan air mata yang kini menguasainya. Dan tanpa sadar, wajahnya kini sudah memerah. Kenapa sosok itu tak berada di sisinya, saat ini ia butuh pelukannya.


Melihat orangtua Shella yang begitu membela putrinya, sungguh kesakitan terbesar bagi Radha, bukannya takut karena ancaman wanita cantik itu, Radha hanya mengurut dada lantaran mengingat sosok Mamanya.


Pertemuan dengan Maya yang nyatanya tak seindah apa yang ia pikir membuat Radha hanya menarik sudut bibir. Pilu, sungguh hatinya hanya semakin tergores saja.


"Sampai kapan lo mau main air, Zura?"


Ia terperanjat kaget kala sosok yang ia kenal itu berada di sampingnya, mematikan keran dan kini menatapnya sembari menggelengkan kepala.


"Lo?"


"Hm, memangnya kenapa?"


"Ngaoain lo di sini? Bukannya ini tempat wudhu cewek, bener kan?" Radha merasa heran dengan kehadiran Abian yang kini menatapnya begitu dalam.


Pletak!!


"Awww sakit, Bi ...."


Untuk pertama kalinya, Abian menjitak keningnya hingga terasa cukup panas. Entah apa yang laki-laki itu pikirkan hingga sampai hati menyakiti Radha.


"Berapa lama lo gak masuk tempat ini, Zura?"


"Wajar," jawab Abian memaklumi kesalahan Radha.


Ia memutar tubuh Radha pelan, menunjuk tulisan yang cukup besar di arah pintu masuk tempat berwudhu. Ia menganga dan justru melampiaskan keterkejutannya dengan memukul Abian cukup kuat.


"Ays!!! Kenapa gak bilang dari tadi, Abian Alexander!!"


"Ya lo nya sendiri yang gak waras Radhania Azzura anaknya Ardi."


"Heh!! Kenapa lo bawa-bawa bapak gue!"


Bukannya marah, Radha merasa sejenak lupa akan keluhnya. Bersama Abian memang membuatnya merasa lebih bebas dengan apa yang ia rasa. Secepat mungkin ia segera keluar, untuk saja mushola ini tak ramai.


Dan Abian mengikuti langkah pujannya, sejak satu jam yang lalu pria itu memang berada di dalam mushola. Entah ketenangan apa yang ia cari, namun hal ini memang ia lakukan sejak lama.


"Btw lo ngapain? Stres juga ya, Bi?"


Abian menarik sudut bibir, tahu apa Radha soal stres. Ia hanya menampilkan senyum manisnya sembari mengikuti langkah Radha yang begitu lambat.


"Gue, cari ketenangan aja sii, komunikasi sama Tuhan menjelang matahari meninggi tu lebih baik daripada nangis kek yang lo lakuin tadi, Ra."


Radha terdiam, di balik sosoknya yang terkenal sebagai cowok tak baik-baik, Abian sedewasa ini masalah batin. Ia menatap Abian sejenak, baru ia sadar kalung yang dikenakan temannya itu adalah lafadz sang Pencipta.


"Lo nggak lagi ngarang kan, Bi?"


"Hahaha ... Ngarang apanya, Ra? Emang tampang gue ga memungkinkan ya buat lakuin hal itu?"


Radha menggeleng, ia segera mungkin meminta maaf kala menyadari bahwa dirinya bisa saja membuat Abian tersinggung.

__ADS_1


"Lo sering begini? Terus pelajaran lo gimana?" tanya Radha cukup heran, pasalnya seperti yang di ketahui banyak orang bahwa Abian merupakan salah satu deretan siswa yang unggul dalam segala bidang.


"Itu, Allah yang memudahkan, Ra. Gue ga lakuin apa-apa sesudahnya."


Sungguh, di luar ekspetasi Radha. Sosok yang terkadang membuatnya sebal bukan main itu ternyata dapat membuka matanya lebih baik. Radha merasa malu dan tertampar dengan segala jawaban dari Abian, dan saat ini ia merasa belum terlalu mengenal sosok Abian yang belakangan menjadi teman karibnya.


"Ehem!!"


Suara itu mengejutkan kedua remaja yang tengah berbincang serius itu, Radha menoleh segera untuk memastikan siapa yang berada di belakangnya.


"Kenapa kalian berdua di luar? Bukankah ini masih jam pelajaran?"


Gian, dengan segala amarah tertuang dalam dirinya kini bersedekap dada menatap keduanya bergantian. Penampilan Radha yang terlihat berbeda membuatnya mengurut dada.


"Radha, kau mandi?"


"T-tidak, Kak, aku hanya mencuci muka, sungguh."


"Kau lupa apa yang kukatakan beberapa waktu lalu? Hm? Mau kau Kakak hukum seperti kemarin?"


"J-jangan, Kakak please ... aku minta maaf."


Takut jika Abian jua terseret, Radha kini berusaha mendekati suaminya dengan cara lain. Melangkah maju dan merapatkan kedua tangannya sebagai permohonan maafnya.


Abian sejenak terdiam, pendengarannya tak salah? Kakak? dan Radha tampak setakut ini berhadapan dengan guru baru yang merupakan musuh bebuyutan bagi Abian. Banyak hal yang membuatnya membenci Gian, salah satunya pria itu adalah biang kecelakaan yang membuatnya tak mendapat kepercayaan lagi dari Radha.


"Dan kau, masuk sana ke kelasmu!! Siapa sebenarnya kau, kenapa selalau membuatku naik darah ays!!"


"Maaf, Pak, Saya tid ...." Baru saja hendak menjelaskan, Gian memotong kalimat Abian secara sepihak.


"Ck, aku tidak memintamu menjawab!! Masuk atau keluar kau dari sekolah ini."


"Dasar sialaan, untung aja calon kakak ipar lo, kalau gak dah gue tonjok tu muka!!"


Sungguh Abian benar-benar kesal luar biasa, Gian memang nyata membuatnya emosi jiwa. Sesegera mungkin ia berlalu dan pergi begitu saja dari Gian tanpa mengucapkan apapun.


"Ini yang kau inginkan? Mencuci muka atau mencuci mata, Zura?"


"Cuci muka, Kak, tapi kebetulan dia berada di sana, aku tidak sengaja bertemu Abian, aku tidak bohong."


"Hm, Yayaya terserah kau saja, nyatanya perhatian dan segala ucapan Kakak percuma kan?"


Gian menghempas tangan Radha yang berusaha menahannya pergi, tak peduli siapapun yang melihatnya. Pria itu tak dapat berkata lagi kala cemburu mulai menguasai diri.


"Kakak, Please!!"


"Huft, kita pulang ... sepertinya sekolah ini tidak cocok untukmu." Secepat itu Gian mengambil kesimpulan, tak ingin Radha berhubungan lebih jauh dengan Abian itu.


"Aaaaaaah, Kakak lepaskan!! Aku malu."


Terserah bagaimana orang memandangnya, Gian membawa Radha persis karung besar. Tak sedikit mata yang tertuju pada keduanya, karena tubuh Gian cukup tinggi dan melewati banyak ruangan hingga tiba di kantor, jelas saja siswa yang berada di dalam kelas dapat melihat mereka.


"Kakak!! Aku bisa jalan sendiri."


"Diam atau kau aku buang ke kotak sampah ini, Zura."


............ Bersambung.


Ini nulisnya dah banyak weh, kasih hadiah kek buat Gian😭 Ni dah niat banget yang Vote dikit amat, kesian banget dah anak gua. Kalau tetep nihil juga, besok dikit-dikit aja dah.

__ADS_1


__ADS_2