
Wajahnya tertekuk, ia sedikit frustasi dengan pakaian yang Radha berikan ini. Sejak kapan ia punya, sungguh ia geli dengan warna ini, diantara seluruh warna kenapa harus merah muda, pikir Gian.
"Is jangan dilepas," ujar Radha menahan pergelangan suaminya yang hendak membuka kancing piyamanya.
Dengan penuh kesabaran Radha memakaikan baju tidur itu untuk Gian, kado pernikahan dari salah satu sahabat Gian yang baru ia terima beberapa minggu setelah hari pernikahan itu sangat pas di tubuh suaminya.
Radha bertepuk ria, merasa ia kini tengah berhasil menciptakan sebuah perpaduan indah. Wajah melas dan aura tak terima itu jelas sekali, siang bolong istrinya memberikan piyama sepanas ini.
"Masih siang, Zura, kau ingin membuatku terlihat aneh di depan Mama nanti?"
Bagaimana tidak, jam makan siang hampir tiba. Dan sudah menjadi kebiasaan keluarga Wijaya harus makan bersama jika berada di rumah. Wajah puas Radha benar-benar membuatnya tertekan.
"Kan abis makan siang Kakak juga bakal tidur siang," tuturnya merasa keputusannya sudah sangat tepat.
"Iya tapi bukan berarti harus pakai yang beginian, Zura ... kau bisa memberikanku kaos atau baju pendek tanpa lengan kalau perlu."
Memang benar, hari ini ia masih akan berdiam diri di rumah lantaran ia cukup lelah. Namun bukan berarti ia menganggap akan tidur hingga keesokan harinya.
"Tapi Kakak nggak bilang tadi," ucapnya asal ceplos dan menganggap dirinya memang tidak salah dalam hal ini
"Sekarang udah bilang kan, bawa gantinya," titah Gian dengan suara dinginnya, mata tajam itu kembali mengeluarkan jurus namun sayangnya Radha tak takut sama sekali.
"Nggak," tolaknya mentah-mentah dan memilih berlalu sembari menarik handuk basah Gian yang pria itu biarkan menumpuk di lantai.
"Zura ...."
"Ck, kenapa kau begitu menyebalkan sejak tadi ha?!!"
Radha menganga, apa yang ia dengar kini? Gian membentaknya. Namun ia tak rela jika Gian melepas baju pilihannya, sepenuh hati ia memilih pakaian itu karena berharap suaminya akan terlihat lucu.
"Memangnya aku kenapa?" Bukannya sadar diri Radha justru bertanya kembali. Dan hal itu sukses membuat Gian membuang napas kasarnya, nampaknya ia harus membiasakan diri.
"Ck, lupakan."
Ia berlalu, meninggalkan Radha yang masih menatapnya bingung. Memegang handuk lembab bekas suaminya dengan mulut terbuka usai Gian menutup pintu kamar dengan kasar.
"Lah masih marah ternyata," ucapnya merasa bersalah, waktunya tidak pas. Dan pria itu tak baik-baik saja untuk di ajak bercanda.
Meninggalkan Radha yang masih berada di dalam kamar, Gian kini berlalu ke ruang baca di sudut lantai dua. Pikirannya ingin sedikit tenang, namun belum berhasil ia masuk ke ruang rahasianya, ia menatap sejenak ke kamar Haidar.
__ADS_1
Hatinya merasa terhenyak, mendadak ia kembali mengingat adikny Itu. Sedang apa, dan bagaimana keadaannya bersama asisten pribadi yang dahulu sempat membuat Gian tergoda lantaran kecantikannya.
"Untuk apa aku memikirkan bocah itu."
Baru sadar ia tengah menggunakan otaknya untuk hal yang tak penting. Kini Gian kembali meneruskan langkah, mendadak kekesalannya itu kembali membuncah.
"Hah, sejak kapan susunannya berubah?"
Gian mengerutkan dahi kala memasuki ruangan favoritnya itu terlihat berbeda, susunan buku yang kerap ia baca sangat berbeda. Sedangkan yang ia tahu, Jelita tak terlalu suka membaca buku, mamanya itu lebih senang menghabiskan waktu dengan belanja barang-barang murah dan kurang berfaedah.
"Apa mungkin Haidar?"
Tapi rasanya tak mungkin, karena Haidar bukanlah pria yang rela menghabiskan waktu untuk membaca buku. Meski tak sebegitu dekatnya, Gian paham adiknya lebih menyukai musik dalam hidup.
Terserahlah, Gian akhirnya memilih bodo amat dan memilih satu buku kesukaannya. Novel romantis karya penulis ternama yang merupakan awal Gian memiliki persepsi berbeda dalam memaknai cinta.
"Hm, masih sama."
Ia tersenyum tipis, lembaran itu robek namun masih ia baca isinya. Beberapa tahun lalu, sebuah tulisan semacam itu membuatnya bertikai bahkan terkenal hingga satu sekolah.
Terkadang ia merasa lucu, Gian bahkan berdebat hingga membuat Arini menangis prihal kebahagiaan tokoh utama. Ia tak suka pemeran utama, karena baginya pemeran utama adalah pemenang bagaimanapun kisahnya.
"Apa yang dipikirkan penulisnnya saat itu? Bagaimana bisa pria gila macam Abimanyu mendapatkan Kenanga semudah itu."
Sudah bertahun, ia masih saja ingat. Hingga tak ada lagi gurat kekesalan dalam dirinya, pria itu duduk di sofa empuk tepat di dekat jendela. Baru saja beberapa halaman, Gian sudah mengingat hal lain.
"Ah, sesekali dia harus diberi pelajaran," tuturnya menatap pintu, hatinya berteriak meminta seseorang akan datang dari balik pintu itu.
********
"Ra? Kamu serius gak tau dia dimana, Sayang?"
"Enggak, Ma, tadi aku kira kak Gian turun duluan."
Celaka besar, pria gila itu kembali membuat ulah yang membuat Raka semakin geram. Kemarahannya belum usai dan kini Gian membuat nafsu makan Raka hilang sudah.
"Biarkan saja, anak itu masih sama, tidak ingat umur atau bagaimana?!!"
Randy hanya berusaha menahan tawanya, terbayang bagaimana dulu Raka kerap kehabisan cara jika Gian sudah mogok makan.
__ADS_1
"Ya sudah, nanti dia makan sendiri, toh sudah dewasa juga, Mas."
Jelita tak ingin Radha merasa tak nyaman dengan kemarahan suaminya itu, karena memang hal yang paling membuat Raka tak suka adalah hal-hal sepele macam ini.
"Ehm, Randy ... kamu perginya sendiri?"
"Iya, memangnya mau bawa siapa, Kakak mau ikut?" tanya Randy dengan mulut penuhnya, menjadi supir pribadi pasangan pengantin itu membuatnya sangat lapar.
"Jangan macam-macam kau, Randy."
Randy terdiam, bahkan hingga kini Raka masih saja sama. Tidak asik sama sekali, berbeda jauh dari Andra yang selalu menebar tawa dalam hidupnya.
"Hanya bercanda, mana mungkin aku bawa istrimu, Kak," ucapnya kembali menikmati ikan goreng terlezat yang pernah ia cicipi.
"Waw!!! Siapa yang masak? Kamu, Ra?"
"Iya lah, bagaimana? Enakkan masakan menantuku, Ran?" Jelita begitu antusias menjawab, sebangga itu ia pada Radha yang hanya membantunya menuangkan bumbu sebelum ikan itu di goreng.
"Enak loh, cocok buka warung."
Radha tersenyum lebar, candaan spontan Randy membuatnya ingat dengan sosok sahabatnya.
"Heh!!"
"Lah, kan ini pujian, Kak." Ia membela diri kala Jelita tampak tak setuju dengan ucapannya.
"Eh bentar, itu gadis kecil yang minta pekerjaan waktu itu kan?" tanya Randy tiba-tiba tertarik begitu menatap Layla yang melewati ruang makan dengan senyum manis seraya menunduk sopan pada mereka.
"Iya, kenapa memangnya?"
"Udah gede, cantik lagi, makan apa dia, Ta?"
"Ya sama lah, makan nasi ...."
"Ehem, Sayang, kapan kau mulai makannya?" Jelita menghentikan cuap-cuap manja bersama adiknya, jika sudah bersama memang mereka tak bisa menahan sedikit saja.
"Iya, ini aku makan." Jelita tersenyum hangat, sedikit malu sebenarnya karena kini Radha berada di depannya.
Namun Jelita salah, sejak tadi bahkan Radha tak fokus dengan apa yang mereka bicarakan. Maniknya coklatnya justru tertuju pada gadis yang sempat Randy puji itu, ia tak ingin menerka-nerka, mungkin memang ada yang harus ia kerjakan di lantai dua saat ini, pikir Radha.
__ADS_1