
Pertama kalinya, Randy memberanikan diri untuk membawa Caterine mengunjungi kediaman Jelita. Hal ini dikarenakan putrinya mulai bosan dengan kesendirian.
Lebih tepatnya merindukan Radha, karena sejak beberapa kali meminta Gian tak mengabulkannya dengan alasan sibuk dan Radha tak boleh pergi terlalu jauh, padahal jarak rumah mereka tak sejauh itu.
Bersamaan dengan kedatangan mereka, Ardi juga berada di rumah itu. Ramailah kediaman keluarga Wijaya, kebetulan akhir pekan jadi mereka berada di rumah.
Hanya bertambah satu wanita, dan kini mereka seheboh itu. Mulai dari Caterine yang sibuk mempertanyakan bagaimana rasanya mengandung, dan mendengar pengalaman Jelita masih muda dahulu.
ketiganya tak lepas dari pandangan keempat pria tampan itu, dua duda yang kini tengah menatap lekat putrinya masing-masing, Ardi dan Randy ternyata belum bisa seakur itu.
"Om, tegang sekali ... santai dong," tegur Gian memukul dengkul Randy, banyak area lain tapi dia memilih tempat itu.
"Dasar kurang ajar, haruskah kau pukul aku dulu?"
Ardi hanya menarik sudut bibir, pria ini tak berubah banyak. Dia adalah salah satu saksi masa muda Randy, pria yang dulu sempat menjadi alasannya cemburu berat pada Maya.
"Kalian mirip kalau aku lihat-lihat, Om Randy adiknya Mama atau bukan sebenarnya, Pa?"
Raka memijat pangkal hidungnya, pertanyaan putranya terdengar kurang ajar. Tak mengerti dengan perasaan dua duda di sampingnya ini, pikir Raka.
"Diam kau Gian, aku bisa membunuhmu jika mau," ujar Randy dengan nada seriusnya, tapi tetap saja seserius-seriusnya Randy, hanya akan terlihat lucu di mata Gian.
"Maksudmu? Kau mau membuat putriku jadi janda, Randy?" celetuk Ardi yang tiba-tiba bersuara kini, dengan tatapan sinisnya ia menatap wajah Randy yang kini menatapnya.
"Tidak, aku bukan kau yang semudah itu menjandakan anak orang," ucap Randy sarkas yang mengarah pada masa lalunya, Maya.
"Kau juga sama, bukankah status kita tidak berbeda, Randy?"
"Aku berbeda, aku digugat cerai karena turut campur papanya ... berbeda denganmu yang tergoda dengan wanita lain," tukasnya penuh dendam, tatapannya sama-sama nyalang namun cara berucapnya sangat santai, ya kali ini Randy tengah menjalani peran.
"Ck, kenapa kau jadi membahas itu?"
Raka hanya diam, cukup memperhatikan perdebatan tanpa manfaat antara kedua pria ini. Besan dan adik iparnya adalah orang yang sama-sama tidak memiliki pendirian, pikir Raka.
__ADS_1
"Kau duluan yang membahas janda."
-
.
.
.
"STOP!!!"
Gian merentangkan kedua tangannya, sengaja berpindah duduk di tengah dan memisah mereka. Umur sudah setua itu tapi pemikiran lebih dewasa istrinya, pikir Gian.
"Mau sampai kapan kalian perang terus? Tidak bisakah damai, lebih baik kalian fokus mendekatkan diri pada Tuhan, dosa kalian banyak sekali."
Mulutnya asal sekali, tak peduli siapa yang berada di sisi kiri dan kanannya. Namun anehnya, Randy dan Ardi justru terdiam, seakan membenarkan ucapan Gian.
"Gini ya Pa, Om ... kalian berdua memang pernah mencintai wanita yang sama, dan lihat putri kalian sedekat itu, jadi tatap saja masa kini dan tidak perlu ada dendam di antara kalian," tutur Gian seakan paling bijaksana, lupa jika dirinya juga tak semudah itu berdamai dengan masa lalu.
Baru saja menjadi seseorang terbijak di rumah ini, kini Gian justru terkena semprot sang Papa. Dia mencebik, karena kini Ardi dan Randy justru menertawakannya bersamaan.
"Diam, Om, senang sekali sepertinya," bisik Gian yang bahkan berani mencubit pinggang Randy, perbedaan usia mereka seakan tak membuat batasan, hal ini dikarenakan fisik Randy yang memang masih tetap muda karena bentuk wajahnya tak sedewasa usianya.
"Rasakan, kau menasehatiku tapi lupa berkaca."
Randy menjulurkan lidahnya, pria ini beranjak dan memilih duduk di sofa lainnya. Mengambil posisi nyaman dan menatap kedua pria itu bergantian.
Bukannya tak berdamai, akan tetapi amarah itu masih ada untuk Ardi. Bagaimana tidak, dahulu ia percaya Ardi akan menjadikan Maya sebagai ratunya, akan tetapi harapan Randy patah sepatah-patahnya.
"Oh iya, aku dengar kau pernah bertemu dengan Maya sewaktu ke Semarang, apa benar, Ardi?"
Pertanyaan Raka mengundang perhatian Randy, mendengar nama itu ia bola matanya membulat sempurna . Nama itu masih berhasil membuat Randy berdebar, padahal pernah babak belur karena suaminya.
__ADS_1
"Semarang?" Randy mengerutkan dahi, karena memang ia mengetahui dengan jelas dimana Maya berada.
"Iya, kenapa? Om mau patah tulang? Tidak belajar dari pengalaman, suaminya persis preman, Pa," jelas Gian dan mendapat anggukan dari Raka, ia cukup mengenal Wira meski hubungan mereka tak begitu baik.
"Aku hanya bertanya, Gian ... tidak berniat macam-macam." Sakitnya tiba-tiba terasa, Randy cukup tersiksa dengan hadiah dari Wira akibat memeluk istrinya.
"Dia cantik sekali, aku melihat putriku di matanya," ucap Ardi menarik sudut bibir, malu tapi ia nekat mengatakannya.
"Iyalah!! Baru sadar dia cantik? Kemana saja? Hanya karena bokong Dewi lebih besar rela meninggalkan dia, dasar oon." Selalu saja mencari celah untuk menang dalam pembicaraan.
"Heh!! Om, gini-gini masih mertuaku ya, jaga mulutnya."
Bukannya membela sepenuh hati, apa yang Gian lakukan justru seakan membuat Ardi semakin terhina. Setelah Jelita, kini adiknya yang mencaci tanpa berpikir sama sekali, sungguh menyakitkan tapi itulah kenyataan.
"Sudah aku jaga, bahkan sangat aku jaga ... dia yang mulai duluan, Gi."
Terserah, Gian mulai pusing berada di antara manusia ini. Sepertinya bergabung dengan wanita cantik di sana lebih menyenangkan, pikir Gian.
"Silahkan bertengkar, dan Papa jadi wasit kalau kuat ... aku mau menemui istriku," pamit Gian dan sempat-sempatnya melemparkan bantalan sofa tepat di wajah Randy, kelewatan? Sedikit.
"Maaf, Randy ... aku berusaha mendidiknya dengan baik, tapi entah kenapa tingkahnya justru persis dirimu sewaktu remaja."
"Hm, sangat mirip," timpal Ardi turut campur, karena memang di antara mereka Randy paling kecil, tak pernah ia duga jika akhirnya pernah mencintai wanita yang sama.
"Aku menjaganya dengan baik, bahkan setakut itu dia terluka ketika kecil, bisa-bisanya Gian kurang ajar padaku."
Ingin menyesal menjadi penjaga bayi beberapa tahun lalu tapi tak bisa, cukup lama Randy menjadi teman bermain Gian. Dan pria itu sejak kecil sudah menjadi saksi bisu hubungan asmara Randy sewaktu remaja.
"Hahah ... maka dari itu aku meminta dia menjaga Caterine saat ini, maafkan dia, Ran ... mungkin Gian akan lebih baik ketika anaknya telah lahir." Raka memohon pengertian agar Randy tak tersinggung dengan sifat jahil Gian yang sedikit kurang ajar.
"Semoga, tapi aku tidak berharap lebih, Kak, bisa jadi dia justru membuat pasukan yang sama gilanya dengan dia," tutur Randy tentang kekhawatirannya.
Tbc
__ADS_1
Mari saling bertukar dan sama-sama menguntungkan, Author berusaha menghibur dan kalian berikan dukungan untuk mereka. Terima Kasih 🙏