Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 256. Kelakuan (Papa-Kalila)


__ADS_3

Hari berlalu, semua baik-baik saja dan tumbuh kembang si kecil menjadi sorotan keluarga itu. Radha dan Jelita yang memang selalu fokus pada mereka selalu memberikan yang terbaik, wajar saja jika pertumbuhan mereka dapat dikatakan cukup cepat.


Malam ini Gian pulang sedikit telat, sebab ada pekerjaan yang nyatanya membuat dia terjebak dalam situasi hingga selama itu dia baru bisa kembali ke rumah.


Dan beruntungnya Gian, kala masuk kamar kedua buah hatinya belum tidur juga. Bersamaan dengan Radha yang kini tengah merapikan perlengkapannya, sepertinya Radha memanfaatkan waktu agar pekerjaan besok lebih sedikit.


"Waw, rakyat Papa belum tidur semua, hallo, Sayang."


Gian menghampiri mereka dengan langkah tak sabarnya, masih dengan pakaian lengkap dan Radha benar-benar tak suka itu. Tubuh Gian ia anggap masih kotor, dan Radha paling menjaga Kama dan Kalila dari dunia luar.


"Bersihkan dirinya dulu, Kak, minimal cuci tangan kalau bisa ya mandi ... masa langsung uyel-uyel pipi mereka."


Radha berucap dengan nada santainya, wajahnya terlihat biasa saja namun penuh kekesalan hingga ia ingin melempar Gian dengan catokan yang kini ia pegang.


"Iya, Nyonya, maaf ya."


Entah mengejek atau apa, namun yang jelas Gian memang kerap memanggil Radha dengan sebutan itu. Pria tampan dengan sejuta pesona yang sama sekali tak terlihat pesonanya di mata Radha untuk beberapa keadaan.


Karena Gian belum makan, Radha tentu harus menyiapkan makan malam untuk suaminya. Karena ia selalu membiasakan diri untuk melayani Gian sepenuhnya tanpa harus merepotkan pembantu rumah tangga.


"Kak buruan mandinya!!" desak Radha karena belum terlalu berani jika harus meninggalkan Kama dan Kalila tanpa pengawasan Gian.


Sebenarnya walau ditinggal mereka tidak akan terjatuh ataupun sebagainya, akan tetapi Radha hanya takut salah satu dari mereka ada yang menangis, terutama Kama.


Tak begitu lama, pria itu benar-benar keluar dengan tubuhnya yang sudah sangat segar. Gian telah selesai mandi, tubuhnya seakan tak berubah sejak awal menikah, Radha iri sekali.


"Kenapa liatinnya begitu? Ada yang salah?" tanya Guam sejenak menghentikan gerakan tangannya mengusap rambut, sepertinya tatapan Radha sangat terlihat berbeda.


"Hm, kenapa Kakak tetap gitu-gitu aja, nggak adil banget ... harusnya ikutan gendut kek dikit," ujarnya tanpa ditutup-tutupi.


Tubuh Gian terlalu sempurna di matanya, padahal pria itu tak serajin Raka untuk olahraga. Tapi kenapa tubuhnya masih tetap seideal itu, pikir Radha.


"Nggak adil gimana? Memangnya kamu kenapa? Cantik banget begini."


Seperti biasa, Gian takkan pernah mengeluarkan pernyataan yang nantinya akan membuat Radha murung. Pria itu sangat paham, Radha sesensi itu jika masalah berat badan dan bentuk tubuh.

__ADS_1


"Tapi nggak kembali ke bentuk semula, tuh perutnya nggak rata seperti dulu," tuturnya bahkan mengangkat bajunya agar Gian mengerti apa yang dia maksud.


"Nggak masalah, yang lihat cuma Kakak sama mereka berdua."


Faktanya Radha masih butuh perlakuan Gian yang seperti ini. Kama dan Kalila hanya menatap bingung orang tuanya yang tengah pamer perut.


"Tapi tetap aja lah, biasanya kalau istrinya gendut suaminya bakal ikutan," ucap Radha mengungkap fakta yang menurut Gian mitos paling nyata.


"Gendut? Segini kamu bilang gendut? Bagi Kakak kamu begini sudah terlalu kurus, Zura."


Beriring dengan perkembangan bayinya, tubuh Radha memang tak sebesar ketika hamil. Akan tetapi tetap saja, Radha masih kerap iri jika membandingkan tubuhnya dengan Gian yang masih begitu baik.


"Masa iya? Perasaan masih gendut deh."


"Enggak, Ra, yang gendut Kalila, bukan kamu." Gian mengungkapkan fakta yang memang tak bisa dibantah.


"Ya kalau Kalila beda, dia masih kecil ... Kakak ganti baju sana, aku siapin makan malam dulu." Radha hendak berlalu, tapi di tahan oleh Gian.


"Temenin, bawa mereka berdua sekalian, aku nggak mau makan sendirian, Ra." Permintaan suaminya kali ini tak bisa Radha tolak, toh memang sejak tadi anaknya belum tidur juga.


.


.


.


Sibuk di ruang makan, Kalila yang bersama Gian dan Kama bersama Jelita. Karena membawa kedua anaknya, tentu saja Radha tak bebas bergerak sendiri karena takut nanti Kama terjatuh di luar pengawasannya.


"Awasi, Ra, dia belum sekuat itu buat berdiri sendiri."


Jelita harus turun tangan juga kala menyadari keluarga kecil ini menghidupkan suasana di ruang makan. Kama sudah mulai bisa berdiri, meski harus berpegangan di kursi dan dengan pengawasan dari Radha di belakangnya.


"Iya, Ma."


Radha paham bagaimana bahayanya jika mereka lepas dari pengawasan. Celoteh Kama yang tanpa henti entah tengah menceritakan apa, Jelita tak henti-hentinya tersenyum menyaksikan cucunya.

__ADS_1


"Dulu Gian cepet juga, Ra, Kama udah mulai bisa bilang sesuatu jadi jaga bicara kalian berdua, anak kecil tu biasanya belajar dari apa yang kita ucapkan," tutur Jelita takut jika nanti Kama seperti Gian ketika kecil, walau mungkin Gian paham bagaimana bahayanya, akan tetapi mulut pria itu biasanya tidak disaring untuk beberapa keadaan.


Radha mengangguk mengerti, apa yang Jelita berikan memang benar. Karena memang tak dapat dipungkiri Gian kerap mengatakan hal yang tak seharusnya mereka dengar.


"Ini yang mau makan mana sebenarnya?" Lelah menunggu, makanan sudah siap dan Gian belum juga kembali setelah sebelumnya pamit untuk mencari sayuran segar di kulkas, memang putranya kerap membuat segala sesuatu lebih lama.


"Nggak tau, aku cari dulu ya, Ma," ujar Radha namun mendapat penolakan dari Jelita.


"Nggak, biar Mama aja."


Jelita segera berlalu, menyusul tujuan putranya yang membawa serta Kalila. Jika hanya mengambil sayuran segar, rasanya tak butuh waktu selama itu jika hanya mengambil sayuran segar sebagai pelengkap makannya.


"Astafirullahaladzim!! Gian!!" teriak Jelita terkejut melihat apa yang ada di depannya.


"Mama apaan sih? Kaget nanti Kalila," ucapnya sembari memejamkan mata akibat terkejut dengan kehadiran sang mama yang tiba-tiba berada di belakangnya.


"Ya dia ngapain? Astaga, dingin, Gian." Jelita memejamkan matanya, kenapa bisa Gian biarkan putrinya melakukan hal semacam ini.


"Kalila mau masak buat Papa, Oma," tutur Gian mewakili Kalia yang kini tengah fokus dengan misinya.


"Ya Allah, Nak, Radha tau bisa-bisa diusir kamu dari kamar, masuk angin nanti." Jelita tak habis pikir, kenapa bisa ada orangtua semacam Gian.


"Nggak akan, Mama ... Kalila tu cewek, jadi sejak kecil dibiasakan biar nanti gedenya bisa masak." Bisa saja dia menjawab, walau memang ada Gian di belakangnya yang selalu sigap menyiapkan diri jika nanti Kalila terjatuh.


"Tapi bukan berarti kamu izinkan dia berdiri di depan kulkas begini, lagian Kalila cari apa kok lama?" Jelita berlutut di sisi Kalila yang Gian berikan kebebasan untuk berdiri di tempat yang tak biasa ini.


Hanya matanya yang menatap Jelita sekilas, cucunya itu kembali memperhatikan isi kulkas, mungkin baru pertama kali ia dikenalkan dengan hal semacam ini, wajar saja jika Kalila terpesona.


"Jangan lama-lama, kamu mau dia kedinginan? Celananya juga kenapa nggak dipakek, Gian!!" Rasanya ingin ia jewer putranya itu, andai saja yang jadi menantu adalah Gian, mungkin sudah lama Gian mengusir pria ini.


"Iya-iya, cerewet banget sih, ayo temenin Papa makan, Sayang, Oma kamu sewot banget, nggak asih deh."


Kalau saja Jelita tak menyusul, mungkin akan lebih lama lagi dia biarkan Kalila tetap dengan posisi itu. Hanya bisa berharap Kalila maupun Kama akan baik-baik saja dan diberikan mental yang kuat hingga nanti dewasa.


__ADS_1


Yang kemarin mau menantu kayak Gian, masih mau yakin? 🤩


__ADS_2