Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 128. Tentang Layla


__ADS_3

“Tidak usah, temani aku makan saja sudah cukup,” jawab Gian pada akhirnya.


Meski hatinya menginginkan hal manis yang tak bias aitu ia terima dari Radha, tetapi tidak untuk hari ini. Kondisi tangan Radha yang menjadi alasan, walau wanita itu sudah berulang kali menjelaskan bahwa ia tidak separah itu, tetap saja Gian beranggapan beda.


“Yakin?”


“Hm, tapi nanti ,,, Kakak masih ingin di sini,” jawabnya sembari menyandarkan kepala di bahu Radha, sungguh hal yang tak seharusnya dilakukan, namun Gian senyaman itu dengan posisinya kini.


“Jangan bergerak,” titahnya kala Radha sedikit berpindah dari duduknya, ia tak memiliki niat sedikitpun untuk berlalu dari tempat itu, namun Gian terlalu berlebihan.


Menatap buku yang tadi sempat Gian baca, tampak using dan mungkin umurnya sudah cukup tua. Ia tak berminat membacanya, belum beberapa lama kini ia telah menguap beberapa kali. Sungguh kantuknya memang tak bisa di kondisikan.


Dan tak butuh waktu lama baginya, diamnya Gian yang tak mengajaknya bicara membuat Radha memilih terlelap juga. Rasanya memang perlu istirahat sebentar, setelah drama yang membuat kulitnya terbakar itu.


Di sisi lain, tepat di lantai satu, wanita itu tengah duduk bersandar di tepi ranjang. Kejadian tadi membuatnya shock, ia bergidik ngeri membayangkan bagaimana jika majikannya tak datang tepat waktu. Layla menatap tangannya, sangat di sayangkan jika harus terbakar, pikirnya. Umurnya bahkan masih terbilang muda, dan hampir saja pria yang selalu ia sejak dahulu menjadi impiannya membuat hidup Layla celaka.


“Aku salah langkah sepertinya,” tutur Layla menghela napas perlahan, menyadari jika dirinya terlalu gegabah dan membuat diir sendiri berada dalam bahaya.


“Atau sebenarnya malah kurang ya, hm lukanya masih terlalu kecil … harusnya aku melakukannya lebih dari itu.”


Ia meraih ponselnya di atas nakas, melakukan hal yang kerap ia lakukan sejak dahulu. Memandangi beberapa foto tuan mudanya yang kerap ia ambil secara sembunyi-sembunyi.


“Dia begitu sempurna di mataku,” tuturnya dengan senyum mengembang seakan lupa bagaimana Gian memperlakukannya beberapa saat yang lalu.


Diperlakukan begitu baik dan Jelita tak memberinya Batasan, bahkan menyayanginya seperti keluarga membuat Layla berharap lebih. Harapan yang secara alami tumbuh dari waktu ke waktu, sejak seseorang memaksanya untuk mencari pekerjaan di umurnya yang masih 15 tahun.

__ADS_1


Layla dan Jelita dipertemukan takdir di sebuah toko bunga. Berawal dari niat tulusnya yang membantu Jelita mengangkat barang belanjaannya, berakhir dengan nekat mengungkapkan maksud dan tujuannya berada di kota ini.


[Flashback On]


“Jadi anak perempuan saya mau?”


Dulu Jelita sempat memberikan tawaran itu, namun sayang karena yang ia pikirkan adalah gaji bulanan secara pasti agar ia bisa memberikan separuhnya untuk sang ibu membuat Layla menolak pada akhirnya.


Raka yang waktu itu tak suka istrinya memaksakan kehendak akhirnya menyerah dan menerima Layla sebagai asisten di rumahnya untuk membantu Sri yang waktu itu tengah hamil.


Dengan gaji perbulan yang ia terima secara pasti namun tidak merasa begitu tertekan karena memang Radha tetap memperlakukannya dengan baik. Tak jarang Jelita memberikan barang-barang yang harganya melebihi gaji Layla selama sebulan.


Bahkan Jelita memberikan kesempatan untuk Layla agar menyelesaikan pendidikannya hingga lulus SMA. Menerima fasilitas istimewa meski statusnya tetap sebagai pembantu rumah tangga, kamar yang nyaman dan pekerjaan yang tidak begitu Jelita paksakan.


Hingga ketika usianya menginjak 18 tahun, tahun terakhirnya di SMA. Layla merasa berbeda dan selalu berdegub kencang bila memandang Gian. Pria tampan yang selalu rapi dengan jas dan kemejanya jika bekerja, dan tampil begitu tampan dengan pakaian santai jika hanya berada di rumah itu membuat Layla semakin tak karuan.


Hingga hari itu terjadi, tertangkap basah tengah memfoto Gian diam-diam ketika berada di ruang baca membuat Layla tak bisa berkutik. Amarah pria yang selalu diam sejak dahulu nyatanya lebih bahaya, beruntung Gian tak memeriksa full ponselnya, jika tidak habislah dia.


“Kau lancang, Layla?”


“Maaf, Kak … aku_”


“Kakak? Coba ulangi ucapanmu, sepertinya telingaku bermasalah.”


Gian tak suka panggilan itu, sejak Jelita membawa anak itu hatinya tak begitu menerima. Karena memang ia mengatakan Layla sebagai anak yang tanpa asal usul yang tidak layak untuk mendapat perlakuan istimewa.

__ADS_1


“Aku ingatkan padamu, yang menerimamu di rumah ini hanya Mama, tidak dengan Papa apalagi aku, kau sadar posisimu bukan?” Gian mengembalikan ponsel Layla dengan kasarnya, bahkan hampir saja terjatuh.


“Pergilah, dan jangan coba-coba mengadu jika kau tak ingin hidupmu celaka, mengerti?!”


Layla mengangguk, untuk pertama kalinya ia terima kalimat itu sebagai ungkapan marahnya Gian. Tak ia duga pria yang lebih banyak diam bahkan tak pernah mengajaknya bicara ini mampu mengatakan hal setajam itu.


[Flashback Off]


Dan hingga kini, di usianya yang sudah menginjak 22 tahun perasaan itu masih sama, bahkan semakin menggila, padahal untuk memanggilnya kakak saja Layla tak diizinkan. Tujuh tahun ia berada di keluarga ini, hidup satu atap dengan pria yang ia sukai tetap menjadi hal yang sangat Layla syukuri.


Namun sayang, batinnya tertekan dan jiwanya seakan hancur kala mengetahui bahwa Gian menikah secara tiba-tiba waktu itu. Dunianya seakan hilang arah, bahkan selama satu minggu lebih yang Layla lakukan hanya merenung dan menangis di malam hari. Ia kacau, apalagi begitu mengetahui bahwa wanita yang menjadi istri Gian adalah seorang anak SMA.


“Ck, sial sekali hidupku.”


Ia mengacak rambutnya frustasi, kini Layla berada di titik terendahnya. Kemarahan Gian kedua kali yang ia terima mengembalikan trauma masa lalu. Nsmun tidak mempengaruhi perasaannya sama sekali, diperlakukan seburuk apapun Layla tetap akan sama jika itu perihal Gian.


Layla beranjak setelah mengingat tugasnya siang ini belum ia lakukan. Piring kotor pasti sudah meminta untuk dibersihkan segera. Bisa mati dia nanti jika terlena, mana mungkin ia akan membiarkan Jelita mencucinya, bisa-bisa Layla berhadapan dengan Raka.


“Ternyata jadi pembantu cukup melelahkan,” ujarnya sembari melangkah menuju dapur, melangkah buru-buru berharap ia datang di waktu yang tepat. Kenapa dia begitu bodoh, hal sepele macam ini bisa lupa, pikirnya khawatir takut jika ada orang lain mengambil alih tugasnya.


“Santai saja tidak usah lari,” tegur seseorang yang kini berdiri di depan kulkas menikmati air dingin sembari berdiri.


“Siapa namamu? Aku lupa,” ujar Randy kini menoleh usai menutup pintu kulkas itu, menatap Layla teliti dari atas hingga ujung kaki.


Layla melihat ke arah pria yang kini bicara. Randy, ia tahu betul adik majikannya ini memang seorang aktor. Sempat bertemu ketika dia baru bekerja bersama Jelita, tak ia duga pria itu akan mengajaknya bicara.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2