
...Happy Reading ...
...❤...
Menjelang waktu Shalat zuhur, para keluarga sudah mulai membubarkan diri dan memilih kembali ke kamar masing-masing.
Ada juga yang memilih langsung pulang ke rumahnya, atau pergi untuk menghadiri acara lain.
Kini, yang tersisa di sana hanya tinggal keluarga inti saja.
“Makan dulu ya, kamu belum makan dari pagi kan?” ucap Ezra, lelaki itu baru saja mendengar kalau istrinya itu belum makan sedari pagi, karena insiden kesiangan.
Ayu menatap tajam kakak iparnya, yang pasti sudah mengadu pada Ezra.
Elena mengalihkan pandangannya, pura-pura tak tahu apa-apa.
Saat ini mereka tengah duduk di salah satu meja tamu, untuk beristirahat.
“Gak usah nyalahin orang, Elena begitu karena dia sayang sama kamu. Tunggu di sini, biar aku ambilkan ya,” ucap Ezra, tahu apa yang di lakukan oleh istrinya.
“Gak usah, aku ambil sendiri a—,” perkataan Ayu langsung terhenti saat melihat tatapan tajam dari suaminya.
“Kamu gak inget kalau kaki kamu sakit, hem? Sudah diam, biar aku yang ambilkan!” tegas Ezra.
Elena terkekeh melihat Ayu yang tampak takut pada Ezra.
Ayu yang melihat semua itu hanya bisa mengerucutkan bibirnya. Sifat tegas dan bossy yang dimiliki oleh suaminya itu, sepertinya akan mengasah kemampuan bersabarnya.
“Mas, kita ke sana dulu yuk. Gak enak nih ganggu pengantin baru!” goda Elena, menarik Ansel menyusul Bian dan Naura yang sedang bermain.
“Eh, Kak, mau ke mana?!” tanya Ayu sedikit meninggikan suaranya.
“Biarkan saja, mereka mau liat Bian sama Naura main kali.”
Ayu menoleh pada Ezra yang sudah duduk di sampingnya lagi.
Pandangannya teralih pada berbagai macam makanan yang sedang di sajikan di atas meja, oleh para petugas hotel.
“Ini kok banyak banget sih?” Ayu mengerutkan keningnya.
“Siapa bilang ini semua buat kamu?” Ezra mengulum senyumnya.
“Bukannya tadi kamu bilang—,”
“Ini untuk kita berdua lah, emang kamu aja yang laper? Aku juga laper,” ucap Ezra dengan kekehan kecil mengiringi perkataannya.
“Tapi, ini gak bakalan abis, kalau cuman kita berdua yang makan,” ucap Ayu lagi, dia sama sekali gak bisa menebak apa yang sebenarnya ada di pikiran Ezra.
“Habis, aku gak tau apa yang kamu inginkan, jadi aku pesan saja semuanya yang kira-kira kamu sukai,” ucap acuh Ezra.
__ADS_1
Ayu menghembuskan napas malas, melihat gaya hidup Ezra yang menurutnya sia-sia.
Perjuangan hidupnya meraih kesuksesan, membuat Ayu merasakan sayang bila uang itu di hambur-hamburkan untuk sesuatu yang tidak penting seperti ini.
“Kenapa? Aku salah sesuatu, hem?” tanya lembut Ezra, saat melihat tatapan malas dari mata istrinya.
“Enggak, sudah, lebih baik cepat makan, bukannya tadi bilang lapar? Sini biar aku siapin, kamu mau yang mana?” Ayu berdiri hendak menyiapkan makanan untuk Ezra.
“Gak usah, ini aku udah siapin makanan buat kamu.” Ezra menggeser mangkuk sup, yang sudah ia potong-potong dagingnya terlebih dahulu.
Ayu tersenyum kikuk menerima perlakuan yang selalu saja spesial dari suaminya.
Akhirnya mereka berdua makan bersama dengan berbagai pilihan menu di depannya.
“Aku nyobain boleh gak?” tanya Ezra di tengah kegiatan makan mereka.
“Boleh,” angguk Ayu.
“Tapi ini bekas aku. Kalau kamu mau, aku bawain lagi aja ya,” sambungnya lagi.
“Gak usah, aku cuman mau nyicip dikit aja kok, mana sini Aaa,” Ezra membuka mulutnya bersiap menerima suapan dari Ayu.
Ragu-ragu wanita itu menyendokkan makanannya dan menyuapkannya pada Ezra.
“Hemm, enak! Kayaknya enakan yang di suapin sama kamu deh,” goda Ezra.
“Apaan sih, malu tau di liatin banyak orang,” gerutu Ayu, menundukkan kepalanya.
“Mana sini aku mau lagi, Aaaa,”
“Ish, malu tau!” Ayu menggerutu, walau tangannya masih tetap melakukan apa yang di inginkan oleh suaminya.
“Ya udah deh, kalau kamu malu, kita pindah ke kamar aja gimana?’’ Ezra mengerling nakal, pada istrinya.
“Hah, ngapain?! Enggak, aku gak mau!” geleng Ayu.
“Ya biar kamu ga malu buat suapin aku lah, kan kalau di kamar kita cuman berdua.” Ezra tekekeh kecil.
“E-enggak, aku gak malu, sini biar aku sekalian suapin kamu!” tanpa sadar, Ayu membawa makanan Ezra ke depannya lalu mulai memberikan satu suapan lagi untuk suaminya.
Ezra mengambil makanan milik Ayu tanpa sepengetahuannya.
“Nah, sekarang giliran kamu dong yang makan, masa dari tadi aku terus yang di suapin.” Ezra mengulurkan sendok di depan bibir Ayu.
“Eh, ka—,” perkataan Ayu terpotong, karena Ezra keburu memasukkan sendok ke dalam mulutnya.
“Sudah, jangan banyak protes, sekarang waktunya makan, bukan mengobrol,” ucap Ezra, terkekeh kecil.
Ayu melebarkan matanya, merasa selalu saja tidak bisa melawan tingkah semena-mena Ezra terhadapnya.
Dari kejauhan, Nawang tampak tersenyum melihat kebahagiaan putra sulungnya yang sudah lama hilang, semenjak kepergian ibu kandung Naura.
__ADS_1
“Semoga kehadiran Nindi di dalam keluarga kita bisa menjadi cahaya kebahagiaan untuk anak dan cucu kita ya, Pah,” ucapnya pada sang suami yang tengah duduk di sampingnya.
Garry mengikuti arah pandangan istrinya, lelaki paruh baya itu pun ikut tersenyum.
“Nindi adalah wanita yang baik dan tulus, aku yakin keluarga kecil mereka akan dipenuhi oleh kebahagiaan,” jawab Garry.
“Amiin, semoga saja ya, Pah.” Nawang tersenyum menatap suami yang telah menemainya selama hampir tiga puluh lima tahun.
“Mama, Papa, Rara juga mau makan di suapin!” teriakan Naura yang tiba-tiba datang merusak acara romantis antara kedua orang tuanya.
Ayu tersenyum, menatap Ezra dengan rencana di kepalanya.
“Naura mau makan bareng sama Mama?” tanya Ayu, membawa Naura untuk duduk di atas pangkuannya.
Dengan polosnya, Naura mengangguk semringah.
“Ya udah, sini biar Mama suapin Naura, Naura mau makan apa, hem?” Ayu mengembalikan piring makanan Ezra ke depan sang empunya.
“Papa, makan sendiri dulu ya, Mama mau suapin Naura,” ucap Ayu, tersenyum penuh kemenangan.
“Eh, gak bisa gitu dong, kan Papah dulu yang di suapin sama Mama, jadi Naura harus tungguin sampai Papa selesa makan,” protes Ezra tidak terima.
“Papah gak boleh gitu, kata Uncle Keenan, orang dewasa harus mengalah sama anak kecil!” geleng Naura.
Ezra medengus kesal mengetahui kalau ini pasti kerjaan sang adik.
‘Keenan, awas saja anak itu!’ geram Ezra dalam hati.
Lelaki itu menyandarkan tubuhnya pasrah, melihat perhatian Ayu yang kini direbut sepenuhnya oleh anaknya sendiri.
Menghabiskan makanan miliknya dengan gerakan sedikit kasar, sebagai pertanda protes kepada istrinya.
Ayu mengulum senyumnya melihat Ezra yang tampak sangat kesal.
Dari kejauhan, Keenan terkekeh geli, melihat rencananya mengacaukan adegan romantis kakaknya melalui Naura ternyata berhasil.
Entah mengapa, melihat kakaknya yang bersikap manja kepada Ayu, membuat jiwa jahilnya keluar begitu saja, untuk sedikit mengacaukan kebahagiaan Ezra.
Geli juga, melihat sisi lain Ezra yang sudah terbiasa dengan image dingin dan acuhnya, tiba-tiba bersikap manja seperti anak kecil pada istrinya.
Hinga menggunakan Naura sebagai alat untuk mengabulkan rencananya pun terjadi, dan kini dia merasa sangat terhibur oleh kekesalan Ezra.
Dalam hati ia kagum oleh pesona Ayu, yang bisa mengubah lelaki dingin seperti Ezra, menjadi hangat dan penuh perhatian.
...🌿...
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung...