Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.216 Meniru Adegan


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Keenan mulai tidak suka dengan sikap Alana saat ini.


Dia seperti sedang mengungkit keberadaan Aluna di dalam masa lalunya.


Dia juga bisa melihat perubahan di wajah istrinya, saat mendengar perkataan Alana.


'Apa maksudnya wanita ini?' gumamnya dalam hati, akan tetapi dia masih berusaha bersikap sopan dengan tak menganggap serius perkataan Alana.


Dia lebih memilih untuk lebih banyak berbincang dengan Aryo, walau terkadang Alana masih saja terus masuk dan ikut campur dalam perbincangan para lelaki itu.


Dia semakin tidak nyaman, saat tiba-tiba pelayan datang dengan mengantarkan banyak menu makanan, hingga hampir memenuhi meja.


Namun bukan itu yang menjadi perhatiannya saat ini, melainkan menu makan yang kebanyakan adalah kesukaannya sejak menginjak remaja hingga sekarang.


Dia menatap canggung wajah Riska yang melihatnya dengan mata menyelidik.


"Sial! Sebenarnya apa sih maunya ini perempuan?' umpat Keenan dalam hati.


"Silakan, maaf kalau ada yang kurang berkenan. Istriku memang suka seperti ini, bila sedang mengadakan makan bersama seperti ini," ujar Aryo, mencoba mencairkan situasi yang tiba-tiba saja berubah menjadi canggung.


"Ah, iya. Terima kasih sebelumnya.Maaf merepotkan," jawab Keenan.


Riska pun bersiap untuk mengambilkan makanan untuk Keenan, akan tetapi, Alana langsung mecegah pergerakannya.


"Kalian cukup diam saja, kali ini biar aku yang menjamu," ujar Alana, dengan cekatan dia mengambilkan makanan untuk suaminya dan di susul dengan milik Keenan.


"Tidak usah repot, aku bisa mengambilnya sendiri," ujar Riska dengan senyum yang terlihat sangat dipaksakan, saat Alana hendak mengambilkannya makanan juga.


"I–iya, lagi pula kita berdua sudah terbiasa makan satu piring berdua. Banar kan, sayang," ujar Keenan, sambil mulai menyiapkan makanan untuk ia suapkan pada Riska.


Riska baru saja mau membuka mulut dan membantah perkataan Keenan, saat sendok berisi makanan di tangan suaminya itu tiba-tiba masuk ke dalam mulut.


"Enak kan, sayang?" sambung Keenan lagi, yang terpaksa diangguki oleh Riska.


"Wah, pengantin baru memang beda, ya?" seloroh Aryo, yang disambut kekehan kecil dari Alana.


"Biasa lah, honey. Namanya juga masih baru. Kalau udah lama kayak kita, terus masih bisa romantis, baru bisa dibanggakan," ujar Alana, matanya melirik sekilas pada Riska dengan senyum meremehkan.


Riska semakin merasa geram, jiwa kerasnya seakan tidak bisa lagi ia tahan.


Awalnya dia hanya ingin menghargai Alana dan suaminya, karena mereka adalah bagian dari masa lalu Keenan.


Namun, bila terus diperlakukan seperti ini, dia juga tidak bisa terus diam.

__ADS_1


"Wah, berarti Mba Alana dan Pak Aryo pasangan yang patut dicontoh sama kita. Iya kan, Bang?" tanya Riska.


Riska merangkul lengan kiri Keenan dan memiringkan sedikit duduknya agar lebih lelusa menatap wajah suaminya itu.


"Iya, kamu benar, sayang," angguk Keenan.


"Ahh, kamu bisa aja, Ris." Alana tampak tersenyum salah tingkah.


Riska terkekeh, dengan gayanya yang terlihat semakin lucu di mata Keenan.


Dia kemudian menyandarkan kepalanya di lengan bagian atas suaminya, telunjuknya menunjuk ke dalam piring Keenan.


"Mau ini," ujarnya dengan nada suara manja, dia memiringkan kepalanya, bersiap menerima suapan nasi dari suaminya.


Keenan tak bisa menahan senyumnya, saat mendapati aksi sang istri.


Dia pun mengambil nasi dan lauk untuk istrinya lalu menyuapkannya lagi pada Riska.


"Eumh, makan dari tangan, Abang, memang beda rasanya. Terasa lebih enak," ujar Riska di sela mengunyahnya.


Keenan mengacak rambut di puncak kepala Riska, dengan kekehan kecil di mulutnya.


"Ish, nanti berantakan." Riska mengerucutkan bibirnya, sambil membenarkan kembali rambut yang sedikit berantakan.


'Astaga, ternyata istriku ini bisa berlaku seimut ini? Akh rasanya aku ingin buru-buru pulang dan mengurungnya, jika terus begini' gumam Keenan, merasa takjub dengan perubahan sikap Riska.


Keenan pun dengan senang hati melayani sikap manja istrinya, dia malah merasa bahagia dengan sikap Riska yang seperti itu.


Hingga akhirnya acara makan siang pun selesai, Keenan pun segera pamit dari tempat itu.


"Kalau begitu kami pamit terlebih dahulu," ujar Keenan.


"Loh, kok buru-buru sih?" tanya Alana, dengan raut wajah sedikit masam.


"Maaf, kebetulan istri saya ada janji temu lagi dengan pelanggan butik," ujar Keenan, memberi alasan yang sebenarnya.


"Oh, kamu punya butik ternyata?" ujar Alana, menerka.


"Bukan, aku hanya bekerja di butik kakak iparnya, Abang," jawab Riska.


"Owh, aku kira kamu memiliki butik sendiri," ujar Alana, dengan nada meremehkan.


"Honey," Aryo sedikit menegur istrinya, akan tetapi, itu sama sekali tidak dihiraukan oleh Alana.


Riska tersenyum miris, dia memang jauh berbeda dengan Keenan bahkan mereka bagaikan langit dan bumi.


"Dia adalah asisten pribadi sekaligus kepercayaan kakak ipar saya. Maka dari itu, dia tidak bisa meninggalkan butik terlalu lama, karena kebetulan kakak ipar saya baru saja melahirkan, jadi semua tanggunggjawabnya otomatis beralih kepada istri saya," jelas Keenan dengan nada menekan.


"Bang," Riska mempererat pelukannya di tangan Keenan, dia sedikit merasa takut melihat raut wajah Keenan yang berbeda.

__ADS_1


Keenan menatap Riska, dia kemudian membagikan pandangannya pada sepasang suami istri di depannya.


"Permisi!" ujarnya, langsung berdiri dan meninggalkan meja mereka, dengan Riska di sampingnya.


Keenan terlebih dahulu menuju kasir untuk membayar makan dan minuman mereka, sebelum benar-benar pergi dari tempat itu.


Sampai di luar restoran, Riska langsung melepaskan tangan Keenan dan bersikap seperti biasa lagi.


"Eh, kok dilepas sih?" tanya Keenan, kini dia yang menarik pinggang Riska.


"Ih, Abang, lepas," Riska mencoba melepaskan diri, akan tetapi, Keenan malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Gak mau! Tadi siapa yang nempel terus sama aku? Sekarang malah gak mau dipegang," gerutu Keenan,


"I–itu kan, aku cuma–"


"Cuma, cemburu? Atau takut aku ingat lagi masa lalu, karena Alana, hem?" potong Keenan langsung.


"Eu–enggak, siapa bilang?" ujar Riska, kelabakan sendiri, seperti orang yang baru saja terpergok sedang mencuri.


Dia melepaskan tangan Keenan di pinggangnya lalu berjalan cepat menuju mobil suaminya itu.


Keenan terkekeh geli, melihat sikap Riska yang terlihat lucu.


Riska masuk terlebih dahulu ke dalam mobil, dia menghembuskan napas kasar begitu bisa terbebas dari dekapan suaminya.


'Astaga, ternyata sikap manja itu bisa berbahaya juga ya. Bagaimana kalau nanti Abang jadi mau lengket kayak gitu terus sama aku? Ihh, aku gak mau!' gumam Riska dalam hati.


Dia bergidik ngeri, saat membayangkan akibat dari perlakuannya beberapa saat yang lalu.


Akan tetapi dia juga merasa puas saat melihat wajah masam Alana, ketika melihat kemesraanya dan Keenan.


Tersenyum dengan rasa terima kasih di dalam hati, karena sudah membuat satu orang yang ia curigai akan menjadi ancaman di rumahtangganya panas sendiri.


'Terima kasih, Mba Sekar, karena udah maksa aku nonton drama korea, ternyata sesekali aku memang butuh menonton drama seperti itu, untuk meniru adegannya, di saat seperti ini'


Riska bergumam sendiri di dalam hati.


"Sayang, kita mampir ke apartemen dulu, ya."


...🌿...


Eh, mau ngapain Bang Kee ngajak ke apartemen?


...Comen👍...


...🌿...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2