
...Happy Reading...
...❤...
Setelah menempuh waktu yang tidak terlalu lama, Keenan kini sudah mulai memasuki area restoran.
Siring mobil yang mulai melambat, semakin berpacu pula detak jantung Riska.
Rasa gugup yang mendera cukup sulit untuk ia kendalikan. Entah karena apa, dia sendiri pun tidak tahu.
'Santai Riska, Abang, sekarang sudah menjadi milikmu seutuhnya, dan dia juga sudah mempunyai keluarga sendiri'
Riska terus bergumam dalam hati, mencoba menghilangkan rasa resah yang tiba-tiba menghampirinya.
Ya, sebagai seorang istri, dia pun merasakan kekhawatiran saat suaminya bertemu seseorang yang menyangkut dengan masa lalunya.
Kemiripan Alana dan Aluna, membuat Riska merasakan sedikit takut, bila nanti itu malah kembali mengorek kisah lama di hati suaminya.
Sebagaimana yang dia tahu, kisah cinta Aluna dan Keenan itu bahkan belum selesai, bahkan setelah dirinya dan Keenan menikah.
Mereka hanya dipaksa terpisah oleh ego dan takdir, sedangkan hati masih sama-sama bertaut, bahkan hingga salah satu di antara mereka menemui ajalnya.
Riska ikut menerka-nerka. bagaimana sikap Alana kepadanya nanti, dan bagaimana juga dia harus bersikap?
Bertemu orang asing, yang tanpa sadar telah terikat dalam kisah hidupnya, membuat Riska merasa bingung sendiri.
"Sayang! Kamu melamun?"
Keenan memanggil istrinya dengan nada sedikit keras, setelah beberapa kali panggilannya di acuhkan begitu saja oleh Risa.
Keenan menggenggam lembut tangan Riska yang terasa lebih dingin dan lembab.
Riska terperanjat, dia seakan ditarik paksa untuk keluar dari lamunannya. Menoleh ke samping demi melihat wajah khawatir suaminya.
"Ada apa, sayang?" tanya Keenan lagi, saat dia melihat Riska sudah tersadar.
"Heuh?" Riska mengernyit, mendengar pertanyaan suaminya.
Keenan menghembusan napas kasar, lalu salah satu tangannya mengusap pipi Riska yang tampak sedikit pias, mungkin karena terkejut oleh panggilannya.
"Maaf, aku mengejutkanmu ya?" tanya Keenan.
"Eu–enggak kok, Bang. Maaf, aku sedikit melamun tadi," ujar Riska, menolak permintaan maaf sang suami.
Keenan mengangguk, dengan senyum hangat dan tatapan penuh cinta, dia seakan ingin meyakinkan istrinya, bahwa tidak akan terjadi apa-apa di sana.
"Ayo, kita sudah sampai," ujar Keenan, sambil sedikit mengedarkan pandangannya ke luar mobil.
Riska mengikuti arah pandangan suaminya, dia ternyata terlalu larut dalam rasa resahnya, hingga tak menyadari kalau saat ini, mereka sudah berada di area parkir restoran itu.
"Heem," angguk Riska, sambil bersiap untuk keluar.
__ADS_1
"Tunggu, biar aku keluar lebih dulu," ujar Keenan, sambil membuka pintu mobilnya sendiri.
Riska mengikuti perintah Keenan, dia pun menunggu suaminya turun dan membukakan pintu untuknya.
"Biasanya juga aku turun sendiri," ujar Riska, merasa bingung dengan sikap Keenan.
"Ini, spesial," jawab Keenan, sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Riska keluar.
"Aku bukan orang tua, dan enggak lagi sakit juga. Ngapain sih, Abang, kayak gini?" tanya Riska.
Walaupun dia banyak bertanya bahkan lebih mirip seperti menggerutu pada suaminya, karena perlakuan Keenan yang berbeda kepadanya.
Namun, Riska tak menolak semua itu, dia pun menyambut tangan Keenan dan turun dengan berpegangan tangan.
"Biar romantis," bisik Keenan, tepat di depan daun telinga istrinya, setelah Riska bisa berdiri tegak.
"Abang! Apa sih, malu tau dilihat orang." Riska memiringkan kepalanya, menjauh dari Keenan.
Letak parkiran yang tepat berada di depan restoran, yang hampir semuanya terbuat dari kaca, hingga para pengunjung bisa dengan bebas, menikmati keromantisan sepasang suami istri yang masih tergolong baru.
Napas hangat yang menerpa telinganya, membuat tubuhnya sedikit meremang, hingga rona di pipi terlihat kembali.
Keenan tersenyum puas, mendapati keberhasilannya, untuk mengalihkan pikiran Riska dari rasa gugupnya.
"Kenapa harus malu? Kita itu udah halal, jadi jangan kalah romantis sama para pasangan yang masih berpacaran," ujar Keenan dengan mudahnya.
Tangannya kini beralih pada pinggang istrinya, menariknya sedikit, agar tubuh mereka semakin merapat.
"Nah, kalau seperti ini, kan kita gak kalah sama mereka," tunjuk Keenan, pada sepasang remaja yang melintas di depan keduanya.
Setidaknya dengan perlakuan Keenan yang seperti itu, Riska lebih bisa meyakinkan hatinya dan juga menaikkan rasa percayadirinya, di depan Alana dan suaminya.
'Ya ampun, masih remaja begitu makannya udah di restoran, udah dewasa nanti makan di mana ya?' gumam hati Riska, malah lebih tertarik dengan sepasang remaja yang berjalan di depan mereka dengan
Keduanya akhirnya berjalan memasuki restoran, dengan Keenan yang merangkul pinggang Riska posesif.
Keenan melirik sekilas pada salah satu sudut restoran, di sana terlihat Alana sedang memperhatikan dirinya dan Riska.
Entah mengapa, dia seakan ingin memperlihatkan kemesraannya dengan Riska, saat melihat wanita itu memperhatikan mereka, bahkan sejak mobilnya memasuki area parkir.
"Kira-kira mereka udah datang belum ya?" tanya Riska, saat mereka baru saja melewati pintu masuk.
Keenan berpura-pura mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Alana dan suaminya.
"Itu mereka," tunjuknya pada keberadaan orang yang mereka cari.
Keenan dapat merasakan tubuh Riska menengang, begitu dia mengucapkan perkataan itu.
Riska mengikuti arah tangan Keenan, dia bisa melihat dua orang yang kini tengah duduk di sana. Tubuhnya menenggang, begitu dia melihat betapa miripnya Alana dengan gadis yang ada di foto.
Tubuhnya bahkan hampir saja oleng, kalau Keenan tak mengeratkan pelukannya.
'Mereka itu kembar, ya wajar kalau mirip, kenapa kamu harus terkejut, Riska?' rutuk Riska di dalam hati.
__ADS_1
Langkah keduanya pun semakin dekat, Alana tampak melambaikan tangan dengan senyum yang mengembang.
Riska balas tersenyum, begitupun dengan Keenan.
"Maaf, kami terlambat. Sudah lama menunggu?" tanya Keenan, begitu mereka sampai di depan meja Alana dan suaminya. Dia pun mengulurkan tangan untuk bersalaman.
"Tidak apa-apa, kami juga belum lama sampai," ujar Alana, menyambut uluran tangan Keenan.
"Syukurlah kalau begitu. Perkenalkan ini Riska, istriku," ujar Keenan lagi, mengenalkan Riska pada dua orang di depan mereka.
"Ah, ini ternyata perempuan yang sudah bisa menggantikan Luna. Hai, aku Alana, saudara kembar Aluna. Ini suamiku, Aryo," ujarnya dengan senyum yang tak pernah pudar.
Riska tersenyum sambil menyambut uluran tangan Alana.
"Hai, senang berkenalan dengan kamu," jawab Riska, kemudian berslaman dengan Aryo.
"Oh ya, silahkan duduk," ujar Alana kemudian.
Keenan pun menarik kursi untuk Riska terlebih dahulu, lalu kemudian dia duduk di depan Aryo.
Riksa tersenyum canggung, entah mengapa perkataan Alana saat menyambut kedatangan dirinya dan Keenan, tengiang di kepala.
Itu terasa sarkas den penuh sindiran di telinganya, Alana seperti mengungkapkan rasa tidak sukanya pada Riska secara halus.
Walau begitu, Riska langsung menepis pemikiran itu, dia memilih untuk berfikir positif.
Bagaimanapun, mereka baru saja bertemu dan saling mengenal, dia bahkan belum tahu sikap dan cara bicara Alana.
Mungkin saja, itu semua memang sifat dan sikap alami Alana, hingga dia tak sadar telah membuat Riska tidak nyaman.
Obrolan awal pun mengalir, tak ada yang membahas masa lalu Keenan dan Aluna, mereka hanya berbicara tentang pekerjaan atau aktifitas harian saja.
Diselingi dengan kedatangan pelayan yang mengantarkan makanan yang ternyata sudah dipesan terlebih dahulu oleh Alana.
"Maaf ya, aku tadi lancang memesan lebih dulu. Kalau ada yang tidak suka, kalian pesan lagi saja," ujar Alana.
Riska terhenyak melihat semua hidangan di depan meja. Sup ikan, cah kangkung, cumi saus padang dan ayam bakar.
Seingatnya, itu semua adalah masakan yang Keenan sukai. Dia juga sering menyajikannya di rumah, walau tidak setiap hari.
Riska tau semua itu dari Nawang, sewaktu mereka masih awal-awal menikah.
Dia menatap, Keenan dan Alana bergantian, perasaannya kembali tak menentu.
'Apa-apaan ini?'
...🌿...
Apa ini kebetulan atau memang direncanakan?
...Komen👍...
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung...