Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.201 Tanda Cinta


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


"Ini semua gara-gara, Abang. Jadinya aku kesiangan 'Kan?" gerutu Riska.


Saat ini pasangan suami istri muda itu, sedang dalam perjalanan menuju butik. Dengan Riska yang panik karena sudah terlambat dan kedua teman kerjanya sudah menunggu sejak tadi.


"Maaf ... tapi, itu bukan aku yang mau, Ris. Tubuhku yang bergerak sendiri," ujar Keenan, memberi alasan yang terdengar begitu menyebalkan di telinga Riska.


"Tubuh Abang gak akan bergerak sendiri kalau gak ada otak yang mengendalikannya, Bang!" kesal Riska.


Keenan terkekeh mendengar jawaban dari Riska.


"Memang begitu, ya?" tanya Keenan, dengan seringai jahil di wajahnya.


Perjalanan mereka sedikit tersendat, mengingat ini adalah waktu sibuk, orang-orang yang juga sedang menuju tempat kerjanya masing-masing. Hingga Keenan bisa bersantai sedikit dan menggoda istrinya yang tengah merajuk.


"Tapi, kamu juga suka, kan?" sambung Keenan lagi, mengoda Riska dengan alis di turun naikkan.


"Apa sih? Siapa juga yang bilang begitu?!" dalih Riska dengan pipi yang memerah, akibat ucapan frontal suaminya.


Keenan terkekeh sambil mengacak sedikit rambut di puncak kepala istrinya, kemudian mengusap pipi merah Riska sekilas.


"Memang tidak ada yang mengatakannya. Tapi, wajah kamu sudah mengungkapkan semuanya," jawab Keenan begitu mudah.


"Ish, apaan sih, Bang?!" Riska menolehkan kepalanya ke arah jendela, menyembunyikan senyum tipis dan pipinya yang semakin terasa panas.


'Kenapa harus dibahas sih? Kan aku malu' runtuk Riska di dalam hati.


Tawa Keenan meledak begitu saja, melihat sikap malu yang ditunjukan oleh Riska.


'Ternyata di balik sifatnya yang cenderung galak itu, dia masih bisa tersipu malu juga, ya? Kamu bikin aku makin gemas aja, Ris' ujar Keenan dalam hati.


Riska mencebikkan bibirnya dan memilih bersandar dengan mata melihat ke luar jendela, sebagai tanda protes pada suaminya.


"Sayang ... jangan marah dong, kan aku tadi udah minta maaf," ujar Keenan lagi.


Lelaki itu langsung menghentikan tawanya, saat melihat raut wajah Riska yang masih tidak bersahabat.

__ADS_1


Riska tak menjawab, dia hanya memandang jauh ke luar, dengan pikiran yang sudah berkelana entah ke mana.


"Sayang?" panggil Keenan lagi, karena Riska seperti tidak mendengar perkataannya.


Mendengar tawa Keenan, pikian Riska kini mulai bertanya lagi tentang perasaan suaminya yang sebenarnya di dalam rumah tangga ini.


'Apakah aku adalah alasan untuk setiap tawamu, Bang? Lalu bagaimana dengan perempuan itu? Apa kamu juga seperti ini saat bersamanya, atau mungkin lebih bahagia lagi?'


Riska bertanya dalam hati, ia seakan tak mau melihat wajah berseri suaminya, dia terlalu takut bila nanti harus melupakan masa indah ini karena Keenan tak memilihnya.


'Jangan membuat aku semakin terjerat dan terlalu larut dalam perasaan, hingga berharap lebih jauh, Bang. Aku takut nanti akan jatuh dalam kesakitan, tenggelam dalam rasa tak beralasan yang membuatku mati di dalam kehidupan,'


"Sayang, kamu kenapa, hem?" tanya Keenan lagi, saat Riska tak juga merespon panggilannya yang ke sekian kali.


Riska terperanjat, dia menolehkan pandangannya pada Keenan, sambil menegakkan kembali tubuhnya.


"Yah, kenapa, Bang?" tanya Riska.


"Kamu ini kenapa sih, Ris ... aku panggil-panggil dari tadi gak jawab? Apa kamu sakit, atau ada yang sedang kamu pikirkan?" tanya Keenan


"Hah? Maaf, Bang. Aku hanya sedang kepikiran tentang rapat nanti aja," jawab Riska, lebih persis seperti sebuah alasan.


"Iya, aku gak apa-apa, kok," angguk Riska.


Keenan mengangguk, dia kemudian memilih untuk fokus pada jalanan, saat mobilnya sudah berhasil keluar dari kemacetan.


Begitu juga Riska, dia kembali bergelut dengan pemikirannya sendiri.


Beberapa saat kemudian mobil Keenan sudah memasuki area butik. Riska bisa melihat muka masam kedua teman kerjanya yang sudah menunggunya di depan butik.


Riska meringis, merasa bersalah pada mereka. Dia kemudian menatap Keenan tajam.


'Gara-gara dia, aku jadi kesiangan gini kan!' gumam Riska dalam hati.


"Makasih, Bang. Aku turun dulu!" ujar Riska dengan gerakan terburu-buru, dia mengambil tangan Keeenan yang bahkan masih memegang setir mobil dan mencium punggung tangannya, sebelum membuka pintu mobil.


"Assalamualaikum ... Abang, hati-hati di jalan," tambahnya lagi, sebelum menutup pintu mobil.


Keenan bahkan belum sempat menjawab apa pun, saat ia bisa melihat Riska sudah berlari kecil menghampiri dua temannya itu.


Menghembuskan napas kasar dengan wajah yang dibuat lesu.

__ADS_1


"Ck ... ck ... ck .... Riska-Riska, kamu ini selalu bisa membuatku terkejut dengan semua kelakuanmu yang berubah-ubah seperti ini. Kadang baik, kadang dewasa banget, kadang galak, judes, dan polos seolah-olah aku sedang berumah tangga dengan anak kecil. kadang ceria sampai membuat aku ikut merasakan kebahagiaan itu, terkadang kamu juga ceroboh seperti ini."


Keenan bergumam sendiri, sambil melihat langkah terburu-buru istrinya.


"Sebenarnya, yang mana sifat kamu sebenarnya, Ris? Aku bahkan bingung untuk membedakan itu kebenaran atau kebohongan dari semua yang ada pada diri kamu," tambahnya lagi.


Keenan memutuskan meninggalkan parkiran butik milik kakak iparnya itu, setelah dia melihat Riska masuk ke dalam.


Di sisi lain, Riska tersenyum lebar hingga memperlihatakan deretan giginya saat melihat wajah masam kedua teman kerjanya


"Maaf, Mba. Aku tadi nginep di rumah sakit sama Mba Ayu, jadi pulangnya telat," ujar Riska memberi alasan.


"Iya, gak apa-apa, kok. Kita ngerti ... namanya juga pengantin baru, jadi kalau kelewat semalam aja, rasanya gak enak ya," ujar Sekar dengan tawa kecil mengiringi perkataannya.


Riska menundukkan kepala dengan wajah yang memerah saat menyadari arti dari perkataan Riska.


"Apa sih, Mba?" Riska langsung mengambil kunci di tasnya, lalu membuka kunci butik.


"Gak usah malu, Ris. Kita berdua juga udah paham yang begituan. Tapi, sebaiknya kamu ganti baju dulu deh, gak enak kan kalau tanda cintanya ketahuan sama pelanggan," ujar Wanda ikut menimpali Sekar.


"Hah? Maksudnya apa, Mba?" tanya Riska dengan kening berkerut.


"Tuh ada kaca, sana kamu ngaca dulu." Bukannya menjawab Winda malah mendorong Riska menuju kaca besar yang berada di salah satu sudut butik.


Mata Riska lansung melebar saat melihat beberapa tanda merah keunguan yang terdapat di lehernya. Dia memang hanya memakai atasan kaos yang dipadukan dengan outher tanpa kerah, hingga lehernya masih bisa terlihat dengan jelas, walaupun saat ini rambutnya terurai.


Riska yang awalnya mengira kalau Wanda dan Sekar menerka kegiatan paginya bersama Keenan, karena rambutnya yang masih basah, tenyata malah dikejutkan dengan banyaknya tanda percintaan yang dibuat oleh Keenan.


'Astagfirullah ... Abang, kenapa dia gak bilang kalau ini semua keliatan sih? Kan aku jadi malu! Awas aja nanti, biar aku kasih pelajaran yang sangat berkesan untuk suami menyebalkan kayak kamu, Bang' geram Riska dalam hati.


...🌿...


Bersiaplah Bang Kee, menerima pembalasan dari Riska🤭


Kira-kira apa ya, yang mau Riska lakuin sama Keenan?


...Komen👍...


...🌿...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2