Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.130 Dia Adalah Istriku


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Malam ini Ayu, Ezra, Nawang dan Garry sedang berkumpul di  ruang keluarga, setelah makan malam bersama.


Mereka akan membicarakan rencana acara empat bulanan kehamilan Ayu, yang akan dilaksanakan sebentar lagi.


Ya, saat ini usia kehamilan Ayu sudah memasuki usia lima belas minggu.


“Bagaimana kalau kita lakukan acara empat bulanan Nindi satu minggu lagi, kan jadi pas tuh masuk enam belas minggu?” ucap Nawang, memberikan saran.


“Kamu ini, senang sekali serba mepet, udahlah pernikahan mereka kita cuman dikasih waktu dua minggu, sekarang acara empat bulanan juga, kamu cuman ngasih waktu satu minggu. Yang benar saja?” gerutu Garry.


“Emang kenapa? Kan aku yang bakalan nyiapin semuanya, bukan kamu,” bantah Nawang pada suaminya.


“Lagi pula, salahkan saja anak kamu itu, kenapa dari seminggu yang lalu aku tanyain, jawabannya selalu saja santai, kan bikin kesel!” Nawang menunjuk Ezra dengan dagunya, menatap kesal anak sulungnya itu.


“Maaf, Mah. Lagian aku juga tidak bisa menjawab langsung tanpa membicarakannya dulu dengan Nindi,” ujar Ezra membela diri.


Nawang mendengus kesal. “Terus, mau gak nih acaranya minggu depan? Soal persiapan, tenang saja itu bisa Mama bicarakan dengan IO langganan kita,” tanya Nawang lagi.


“Ndi, lebih baik sekarang kamu aja deh yang jawab, suami dan papa mertuamu susah kalau diajak diskusi soal acara seperti itu.” Nawang beralih pada sang menantu.


Ayu melirik Ezra sekilas, sebelum mulai membuka mulutnya.


“Aku sih terserah Mama aja. Lagi pula, tadinya kita berdua hanya mau melakukan pengajian sederhana dan mengundang anak yatim, untuk ikut mendoakan kita semua,” jawab Ayu, yang langsung diangguki oleh Ezra.


Mereka berdua memang sudah membicarakan acara empat bulanan untuk Ayu, beberapa hari lalu.


Ezra menyetujui semua keinginan Ayu yang hanya ingin mengadakan pengajian kecil di rumah, sambi mengundang para ibu-ibu komplek, sebagai tanda perkenalan, juga anak yatim dari salah satu yayasan, untuk ikut mendoakan keluarga kecil mereka.


Namun, tadi siang tiba-tiba Nawang menelepon Ezra dan tidak menyetujui usul Ayu, dia ingin sesuatu yang istimewa untuk cucu keduanya ini.


Hingga di sinilah mereka berakhir sekarang, mendiskusikan acara untuk bayi yang kini sedang dikandung Ayu, dengan sifat keras kepala Nawang.


“Mah, kalau terlalu banyak tamu, kasihan sama Nindi, nanti kalau dia kecapean gimana?” Ezra mencoba meluluhkan hati ibunya.


Mendengar perkataan Ezra, Nawang melihat ke arah Ayu,  menimbang kembali keinginannya untuk mengadakan pesta meriah.


“Eum ... setidaknya, bisa tidak acaranya di lakukan di rumah ini saja?” tanya Ayu ragu.


Nawang tersenyum, lalu beralih menuju ke samping menantunya. “Tentu saja boleh, sayang. Acara ini adalah untukmu dan cucu Mama, jadi Mama akan berusaha memberikan semua yang bisa membuatmu senang dan nyaman.” Nawang mengusap lembut perut Ayu yang sudah sedikit menonjol di bagian bawah.


“Iya kan, Pah?” beralih menatap suaminya yang duduk di depan.


Garry langsung mengangguk, menyetujui apa yang dikatakan oleh istrinya.


“Terima kasih, Mah, Pah,” ucap Ayu, menatap kedua mertuanya bergantian.


Nawang mengangguk kemudian memeluk Ayu dengan penuh kasih sayang.


“Jangan ragu mengungkapkan kemauan kamu, sayang. Percayalah, kalau kami sudah menganggapmu sebagai anak sendiri, sejak kamu mau menerima Ezra dan Naura menjadi bagian hidupmu,” ucap Nawang.


Ayu mengangguk di dalam pelukan mertua perempuannya itu, satu tetes air mata bahkan sudah lolos dari pertahanannya, meluncur begitu saja membasahi pipi.


Ezra tersenyum lebar, melihat kasih sayang antara kedua wanita yang begitu dicintainya.


Jika di luar sana, banyak cerita tentang perseteruan antara menantu dan mertua perempuan, demi memperebutkan perhatian Anak dan suaminya, seperti cerita masa lalu Ayu dan Radit contohnya.


Namun, itu tak ia temukan di antara ibu dan istrinya, mereka malah tampak begitu saling menyayangi, membuat Ezra tak perlu pusing memikirkan semua itu.


Begitu pun dengan Garry, lelaki paruh baya itu ikut tersenyum melihat kebahagiaan sang istri, mereka memang sudah lama menginginkan anak perempuan, apalagi istrinya.

__ADS_1


Maka dari itu, saat Ayu menikah dengan Ezra, dia begitu senang karena bisa memiliki teman lagi, setelah empat tahun hidup dikelilingi para lelaki menyebalkan, yang hanya peduli pada pekerjaannya saja.


Walaupun sudah ada Naura, tetapi,  dia hanyalah seorang anak kecil yang tahunya hanya bermain, bukan untuk ia ajak berbicara masalah orang dewasa, Atau mengerjakan hobi bersama.


Nawang mengurai pelukannya, menangkup wajah sendu Ayu, lalu mengusap sisa air mata di wajahnya.


Suasana yang tadinya tegang karena sikap keras kepala Nawang, kini berubah menjadi bahagia penuh haru.


Keempat orang itu pun kembali membicarakan masalah acara empat bulanan, setelah melewati sedikit drama antara menantu dan mertua.


Hingga jam sebelas malam, mereka akhirnya memutuskan untuk membubarkan diri dan masuk ke dalam kamar masing-masing.


Garry dan Nawang memilih menginap di rumah Ezra, karena waktu yang sudah terlalu larut. Berkumpul bersama dengan keluarga, memang membuat mereka melupakan waktu.


Berbicara, bercengkerama dari masalah kecil hingga membicarakan masalah serius, seakan keluar semua, hingga tak ada waktu walau hanya untuk melihat jam di dinding.


Sedangkan Naura sudah tidur sejak tadi, dengan ditemani oleh Ayu sebentar, sebelum akhirnya bergabung kembali bersama suami dan juga mertuanya.


.


Pagi menjelang, dengan cahaya yang begitu hangat menyinari seisi bumi.


Pagi cerah di akhir pekan, membuat Ayu beserta semua keluarga Ezra, memilih untuk berjalan pagi, sambil menikmati bazar yang tersedia di sepanjang jalan, tak begitu jauh dari perumahan.


Setelah sarapan bersama, mereka langsung berangkat, sebelum sinar matahari belum terlalu terik.


Dua pasang suami istri berbeda generasi, dengan satu orang anak kecil, membuat mereka terlihat sempurna di mata para pejalan kaki yang lain.


Sesekali Ezra bahkan harus berhenti, demi melayani orang yang ternyata mengenal dirinya. Hingga ia dan Ayu harus tertinggal cukup jauh dari Nawang, Garry dan juga Naura.


Mereka sudah berjalan terlebih dahulu, karena Naura yang terus merengek ingin segera sampai.


Ayu merasa kesal saat tiba-tiba ada sekelompok anak remaja yang menghampiri suaminya, lalu meminta foto bersama.


Walaupun Ezra sudah menolak, akan tetapi, anak remaja itu seakan tidak mendengar perkataan yang dilontarkan oleh Ezra.


“Maaf, semuanya saya tidak bisa.” Berkali-kali Ezra mengatakan kata itu, tetapi tak ada yang mendengar suaranya sama sekali.


Ayu yang awalnya merasa kesal, akhirnya terkekeh geli, melihat wajah memelas bercampur marah  suaminya.


Mengedarkan pandangannya, melihat sekitar, yang sudah mulai memperhatikan kerumunan yang disebabkan oleh para remaja di dekat Ezra.


Ayu bahkan bisa melihat tangan Ezra yang sudah mengepal begitu keras di bawah sana, demi menahan amarahnya.


Tidak mungkin, dia akan marah atau berteriak pada para remaja itu di tengah keramaian seperti ini, bisa-bisa dia mempermalukan dirinya sendiri, bila sampai itu terjadi.


“Maaf, semuanya. Saya harus segera menyusul anak dan istri saya,” ucap Ezra lagi, yang kembali diacuhkan oleh para remaja itu.


Mereka malah asyik berfoto selfi dengan berbagai gaya, hingga terakhir mereka sudah berbaris mengelilingi Ezra ingin berfoto bersama.


Salah satu remaja perempuan di antara mereka,  tampak kebingungan mencari siapa yang harus dimintai tolong, untuk memotret mereka semua. Hingga pandangannya tertuju pada Ayu yang masih berdiri di sisi, menunggu Ezra selesai dengan para penggemar dadakannya.


“Mba, bisa tolong fotoin kita gak?” ucapnya, menghampiri Ayu lalu memberikan ponselnya.


Ayu mengangguk lalu mengambil ponsel milik salah satu anak remaja itu. Tersenyum mengejek pada sang suami yang sudah menahan geram sejak tadi.


Sepertinya ada ide bagus, yang tiba-tiba terlintas di kepala, untuk mengerjai sang suami.


Ayu mulai mengarahkan kamera ponsel itu pada sang suami dan beberapa orang anak remaja itu.


“Lebih dekat lagi!” serunya, sambil mengarahkan para remaja itu, agar lebih merapat pada Ezra.


Cekrek!


Beberapa foto berhasil diambil.

__ADS_1


“Lebih mesra lagi dong!” ujar Ayu lagi, dia bahkan tak bisa menahan tawanya, melihat wajah kesal juga terkejut Ezra.


Ckrek!


Kembali beberapa foto ia ambil, dengan begitu cekatan.


“Sudah!” ucapnya, sambil menegakkan kembali badannya.


“Terima kasih ya, Kak. Kakak ganteng banget sih!” pekik seorang remaja dengan gaya yang terlihat lebih mencolok dibanding yang lainnya.


Ayu mendekat, untuk mengembalikan ponsel remaja tadi.


Ezra mengangguk. “Kalian tahu siapa wanita ini siapa?” tanya Ezra, di saat mereka sudah lebih tenang dari sebelumnya.


Ayu menunduk menyembunyikan wajah yang sudah memerah menahan tawanya.


“Memangnya siapa?” tanya polos salah satu remaja itu.


Ezra menarik Ayu untuk merapat padanya, lalu merangkulnya posesif.


“Dia adalah istriku!” jawab Ezra, menatap wajah melongo para remaja yang sedang terkejut oleh perkataannya barusan.


“Dan, ingat ya, aku bukan artis atau apa lah yang tadi kalian bicarakan, jadi lain kali tolong lihat dulu dengan baik, baru mengganggu, oke?!” desis Ezra, dengan nada tidak terlalu keras, namun cukup tajam untuk memberi peringatan pada segerombolan anak yang beranjak dewasa itu.


Ezra langsung pergi dari tempat itu dengan tanpa melepas tangannya di pinggang sang istri.


“Ya ampun, gantengnya suami orang,” ujar salah satu remaja itu yang masih menatap kepergian Ezra dan Ayu.


“Aaa ... kenapa manis sekali jodoh orang?!” pekik salah satunya lagi.


Diikuti dengan perkataan yang lainnya dari mulut para remaja itu.


Di sisi lain Ayu akhirnya melepaskan tawanya, setelah sudah tak bisa lagi menahannya.


“Kenapa malah ketawa? Bukannya cemburu kok malah seneng gini, gimana sih?” gerutu Ezra, mencubit sedikit ujung hidung istrinya.


“Iih ... sakit, Mas!” pekik Ayu, sambil memukul kecil di tangan suaminya.


Ezra terkekeh pelan, sambil memberikan usapan lembut di puncak hidung Ayu.


“Aku kan cuma ngerasa lucu aja, ngeliat kamu jadi rebutan ABG labil, begitu,” sambung Ayu lagi.


“Oh ... begitu, ya. Jadi kamu gak akan marah dong, kalau aku di deketin sama perempuan lain?” tanya Ezra, dengan seringai jail di wajahnya.


“Enak saja! Coba saja kalau berani,  aku laporin sama Mama. Biar Mama langsung kasih, Mas, hukuman,” jawab Ayu.


Keduanya tertawa kemudian, tahu apa yang dibicarakan saat ini, adalah suatu hal yang tak penting sama sekali.


Asyik berdua, mereka bahkan tak sadar, telah menjadi bahan perhatian banyak orang, karena kemesraan yang keduanya tampilkan di depan umum.


 


... 🌿...


Semoga menghibur .... Terima kasih semuanya🙏🥰❤❤


...🌿...


...Bersambung...


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2