Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.28 Ayah


__ADS_3

Ayu berjalan tergesa-gesa ke luar dari Mall, ia terpaksa pulang lebih dulu karena sebuah panggilan dari Riska, membuatnya harus segera pergi ke butik nya.


Awalnya ia kesulitan untuk berpamitan kepada kedua anak kecil yang seakan tak ingin jauh darinya. Tapi setelah kedatangan kedua ayah mereka, Naura dan Bian mau untuk melepaskannya pulang.


Dengan janji hari minggu nanti akan hadir dalam acara ulang tahun Bian.


Bruk...


" Maaf... maaf... saya tidak sengaja " ucap Ayu sambil bangun dari jatuhnya karena menabrak seseorang.


" Tidak apa, maafkan saya juga, karna tak melihat jalan tadi "


Deg...


Ayu langsung mendongak memandang sosok tinggi di depannya.


Wajah Ayu langsung berubah datar saat melihat jelas wajah dari lelaki paruh baya di hadapannya.


" Maaf saya tadi sedang terburu-buru " ucap Ayu lagi lalu pergi dengan langkah cepat meninggalkan lelaki paruh baya itu, tanpa niat untuk melihat ke belakang.


Ayu mengepalkan tangannya, menahan rasa bercampur aduk di dalam hatinya.


Sampai di dalam mobil Ayu langsung masuk dan menutup pintu dengan sedikit keras, hingga menimbulkan suara yang cukup menyita orang yang berada di sana.


Ayu memejamkan matanya, beristigfar sebanyak mungkin dalam hati, berharap bisa menenangkan hatinya kembali.


Hufth...


Ayu menghela napas berat.


Memejamkan mata dengan kepala bersandar, ingatannya kembali pada tadi malam, saat dirinya sedang makan malam.


Flash back on...


" Kamu sendirian aja nak ?" tanya wanita paruh baya yang duduk di hadapan nya.


Ayu mengalihkan pandangannya, lalu kembali menatap pasangan suami istri itu.


" Iya Bu " jawab Ayu singkat. Matanya melirik sekilas, wajah yang sudah lama sangat dia rindukan.


" Wah, jarang sekali anak muda jaman sekarang mau makan sendiri, biasanya mereka lebih memilih untuk mengajak teman atau pacar mereka " celoteh wanita paruh baya itu.


Ayu hanya menanggapi nya dengan senyum hambar yang terlihat jelas di wajahnya.


Berkali-kali Ayu mencuri pandang lelaki yang ada di hadapnnya, dengan tatapan penuh kerinduan.


Tapi lelaki paruh baya itu, bersikap acuh, cenderung diam dengan wajah dingin.


Ada rasa kecewa di hatinya, namun dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk menutupinya.


Ayu langsung pamit pulang saat ia sudah menghabiskan setengah makanan yang ia pesan.⁴


" Bu, Pak, saya harus pulang lebih dulu. Saya permisi " ucap Ayu menyimpan sendok di tangannya pada piring, lalu meminum sisa es lemon tea miliknya.


" Eh, itu makanannya belum habis loh, apa kami mengganggu kamu ya?" cegah Ibu paruh baya itu.


" Tidak Bu, saya memang harus pergi sekarang " Ayu beranjak berdiri.


" Baiklah, terima kasih sudah mau membagi mejamu dengan kami, dan membiarkan kamu makan malam bersamamu "


" Sama-sama Bu, saya senang bisa makan malam bersama Ibu dan Bapak " Ayu tersenyum hangat, lalu berbalik untuk pergi dari sana.


" Hati-hati di jalan " suara berat itu seketika membuat Ayu langsung mematung.

__ADS_1


Tangannya mengepal, mengumpulkan kekuatan yang hampir saja roboh.


" Terima kasih " ucap Ayu tanpa membalikan wajahnya.


" Ayah..." lanjutnya dalam hati, lalu berjalan menjauh dengan langkah cepat.


" Anak jaman sekarang sama saja, tidak ada sopan santun sama orang yang lebih tua " umpat lelaki paruh baya itu, kesal.


Flash back off...


Ayu membuka kembali matanya, tak ada lagi air mata di sana, walau sorot nya memancarkan sakit yang teramat dalam.


Menghidupkan mobil lalu pergi meninggalkan tempat parkir Mall tersebut.


Menyatu dengan kepadatan jalan, berteman senja yang terlihat indah dengan warna jingga dari upuk barat.


" Mba, jangan masuk, sepertinya Pak Radit sedang marah besar " Riska mencegah Ayu yang mau membuka pintu ruangan kerjanya.


" Gak papa, kamu balik ke depan aja ya " jawab Ayu santai, seakan kemarahan Radit sudah biasa terjadi.


Dengan perasaan khawatir Riska terpaksa menuruti perkataan Ayu.


Ceklek....


Ayu perlahan memasuki ruangan yang tampak temaram.


Samar ayu dapat melihat seseorang tengah duduk di atas sofa dengan pandangan lurus ke arahnya.


" Bang " Ayu memanggil, memicingkan matanya untuk memperjelas penglihatan.


Perlahan berjalan sambil mencari letak stop kontak untuk menghidupkan lampu.


Klik...


Mata Ayu beralih pada Radit yang sedang terduduk dengan menundukan kepalanya. Dari tangannya terlihat darah yang sudah mulai mengering.


" Ada apa lagi ini " batin Ayu mengerutkan kening nya.


" Bang, ada apa ?" Ayu menghampiri Radit perlahan, agar tak terkena pecahan kaca.


Radit mengangkat wajahnya, melihat Ayu dengan tagapan tajam.


Ayu terkejut dengan penampilan Radit yang terlihat kacau dan sepertinya sedang tidak baik-baik saja.


Mukanya merah dengan kemeja kantor yang sudah lusuh dan beberapa kancing baju sudah tidak ada di tempatnya.


" Puas kamu sekarang, gara-gara kamu aku di turunkan jabatan...!" Radit langsung berdiri, telunjuknya menunjuk wajah Ayu dengan mata memerah.


Ayu mendengus saat ia mencium bau alkohol dari napas lelaki di hadapan nya.


" Kamu mabuk Bang ?" tanya Ayu, tangannya sibuk mengibas-ngibas di depan hidung. Bau minuman keras itu sangat tidak bersahabat di indra penciumannya saat ini.


" Apa maksudmu Bang ?" Ayu menautkan kedua alisnya.


" Benar kata teman-temanku dulu, kalau kamu itu wanita pembawa sial " sentak Radit.


" Aku gak pernah ya ganggu pekerjaan kamu. Sekarang kamu datang ke sini dan menyalahkan aku atas penurunan jabatan yang kamu alami ?"


" Ternyata pikiran kamu masih saja seperti anak kecil " Ayu menggeleng miris, tidak habis pikir dengan Radit.


" Apa kamu bilang ?!!"


Plak...

__ADS_1


Ayu menoleh, karena tamparan keras sang suami yang mengenai pipinya.


Mata Ayu sudah memerah menahan amarah yang sudah hampir menguasai dirinya.


Menarik napas dalam lalu mengeluarkan nya kasar.


Dengan sekali gerakan Ayu langsung menangkap tangan Radit lalu menguncinya di belakang.


Bugh...


Ayu memukul tengkuk Radit cukup keras, hingga membuat lelaki yang akan menjadi mantan suaminya itu tak sadarkan diri.


" Maafkan aku Bang, tapi ini semua demi keselamatan dirimu sendiri. Aku tak mau kehilangan kendali atas segala ucapan kamu yang selalu memancing emosiku " Ayu memapah Radit ke atas sofa.


" Bawa suamimu dari tempatku, jika kau masih mau mempertahankannya "


Ayu langsung memutuskan sambungan telpon nya, tanpa menunggu jawaban dari orang di sebrang sana.


Berjalan menuju kamarnya, Ayu memilih untuk membersihkan diri sambil menunggu kedatangan mantan sahabatnya itu.


Dia juga harus mendinginkan kepalanya yang terasa panas, terbakar emosi.


Sambil menyiapkan diri untuk menghadapi wanita hamil itu, nanti.


Tiga puluh menit berlalu, Mala datang dengan sangat tergesa-gesa dan langsung masuk ke ruangan Ayu begitu saja.


Mala terkejut ketika melihat suasana ruangan Ayu yang sudah seperti kapal pecah.


Berjalan dengan sangat hati-hati untuk menghampiri sang suami.


" Kamu apakah suamiku ?" tuduhnya saat melihat Ayu baru saja keluar dengan wajah yang sudah terlihat lebih segar dari sebelumnya.


" Aku tidak melakukan apapun " Ayu berkata acuh, dengan kedua bahunya terangkat sekilas.


Berjalan menuju kursi kerjanya dan duduk di sana, tanpa peduli pada Mala yang terlihat sangat khawatir pada Radit.


" Mas... Mas... bangun Mas..!" Mala mengguncangkan tubuh suaminya itu.


" Kenapa dia tidak bangun, aku tidak akan tinggal diam bila terjadi apa-apa padanya "


Ancam Mala, menatap Ayu tajam.


" Silahkan saja, Aku tidak takut " jawab Ayu se kena nya. Duduk bersandar dengan santai nya, seakan tak terjadi apa pun di sana.


Mala memandang Ayu dengan amarah yang sudah membimbing tinggi.


" Jangan banyak bicara omong kosong, lebih baik kamu urus saja suami kekanakkanmu itu " ucap Ayu datar.


Mala memanggil supir untuk membawa Radit ke mobil.


" Mba, itu....?" Riska bertanya bingung dengan telunjuk menunjuk ke arah Radit yang di papah oleh supir Mala di ikuti oleh istri keduanya itu.


" Biarkan saja, dia lebih pantas untuk mengurusnya " ucapan Ambigu dari Ayu malah membuat Riska semakin bingung.


" Kamu tutup saja, aku akan menginap di sini " Ayu berjalan menuju belakang, untuk membawa peralatan kebersihan.


Lalu kembali ke dalam ruang kerja dengan di iringi tatapan penuh tanya dari seluruh pegawai butik.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...

__ADS_1


...🙏😊🥰...


__ADS_2