
...Happy Reading...
...❤...
Riska duduk di kamar milik suaminya itu dengan gelisah, dia terbiasa bekerja dan bergerak aktif, hingga di saat para anggota keluarga yang lain sedang tidur siang, ia merasa bosan karena memang dia tidak terbiasa dengan tidur siang.
Huuffthh!
Hembusn napas kasar Riska lakukan berulang, dia beranjak menuju balkon mencoba melihat pemandangan dari arah sana, membuka pintu kaca dengan cara menggesernya, Riska bisa melihat halaman samping rumah itu. Di sana ada berbagai permainan anak, seperti ayunan dan prosotan yang sering dipakai Naura untuk bermain.
Dia kemudianmelihat Bi Yati yang sedang duduk di salah satu kursi yang ada id sana. "Apa aku bantuin Bi Yati saja, ya? Dari pada bosan diam di kamar terus," ujar Riska kepada dirinya sendiri.
Akhirnya di memutuskan untuk keluar kamar dan menghampiri wanita paruh baya yang sudah menjadi kepala pelayan di rumah ini.
"Bi Yati, lagi ngapain?" tanya Riska setelah berada di belakang wanita paruh baya itu.
"Eh, Non Riska, Bibi sedang melihat taman bermain milik Non Naura," jawab Bi Yati.
"Ada apa, Non? Apa Non butuh sesuatu?" tanya Bi Yati.
"Enggak, Bi. Riska hanya bosan saja, boleh gak Riska temenin Bibi di sini?" tanya Riska, dia kemudian duduk di samping Bi Yati.
BI Yati tersenyum lalu menggeser duduknya agar Riska lebih leluasa.
"Ada apa dengan taman ini, Bi?" tanya Riska, dia ikut memperhatikan banyaknya mainan yang ada di sekitarnya.
"Enggak ada apa-apa, Non. BIbi hanya sedang membayangkan kalau nanti Bu Nindi sudah melahirkan hingga anaknya tumbuh besar dengan sangat bahagia seperti Non Naura,''
Riska menatap wajah sumringah Bi Yati, dia bisa melihat bagaimana kasih sayang Bi Yati begitu tulus kepada keluarga Ayu dan Ezra.
"Bibi, sepertinya sayang banget sama keluarga Bang Ezra?" tanya Riska, dia jadi penasaran dengan hubungan wanita paruh baya itu dengan Ezra sebelum menikah dengan Ayu.
Bi Yati menoleh pada Riska, dengan senyum tenang, sebelum menjawab pertanyaan istri dari Keenan.
"Bibi sudah bersama dengan keluarga Daremendra, sejak Pak Ezra masih remaja dan Den Keenan masih kecil, waktu itu Nyonya besar sudah mulai aktif lagi mendampingi Tuan besar untuk ke luar kota, sedangkan Pak Ezra dan Den Keenan belum bisa di bawa karena memang masih sekolah." Bi Yati mengawali ceritanya dengan ingatan kembali pada masa lalu.
Di saat dirinya baru saja datang untuk bekerja di rumah besar keluarga Darmendra, awalnya dia hanyalah seorang gadis dari keluarga kekurangan yang sangat kekurangan di suatu kampung di pelosok daerah, dia nekat datang ke kota untukmencari rejeki dan membantu ekonomi keluaranya.
__ADS_1
Flash back
Saat itu dia sudah satu minggu berada di jakarta, mencari pekerjaan dengan bermodal ijazah sekolah menengah pertama, akan tetapi ternyata tidak mudah mendapatkan pekerjaan pada saat itu, sedangkan uang bekal dari orang tunnya sudah hampir habis.
Dua bukanlah gadis yang baru lulus sekolah, usianya sudah cukup bahkan untuk menikah. Akan tetapi, karena keadaan keluarganya yang begitu miskin,tidak ada lelaki yang mau mempersunting dirinya. Hingga dia memutuskan untuk meninggalkan kampung. Usianya bahkan lebih tua dari Nawang yang saat itu sudah memiliki dua anak.
Bi Yati ingat, pada hari itu dia sedang berpuasa untuk meminimalisir pengeluaran, agar bisa bertahan lebih lama, berharap sebentar lagi dia akan mendapatkan pekerjaan.
Di saat itu dia sedang meneduh di sebuah bangunan kosong karena hujan yang turun begitu deras, sayup dia mendengar permintaan tolong dari arah dalam, hingga membuatnya penasaran.
Dia mulai mengintip dari celah bangunan, berharap bisa melihat apa yang terjadi di dalam, hingga matanya melebar saat mendapati seorang anak yang sedang terikat di atas sebuah kursi kayu dengan wajah yang sudah sangat pucat dan mata sayu.
"Astagfirullahhaladzim, apa itu benar seorang anak?" gumam Bi Yati.
Bi Yati melihat ke sekitar, tidak ada orang yang bisa dimintai tolong, sedangkan pintu tergembok rapat,.
"Hujannya sangat deras, wajar saja kalau tidak ada orang yang mau berkeliaran," gumamnya lagi, melihat hujan yang memang begitu deras di luar sana.
Dengan sekuat tenaga ia mencoba untuk membuka pintu itu, sambil mencari cara lain untuk bisa masuk ke dalam.
"Ini tidak bisa dibuka," ujarnya lagi, sambil terus mencoba mendorong pintu itu.
Bruk!
Bi Yati berhasil masuk ke dalam, dengan tergesa di menghampiri seorang anak yang terikat.
"Dek, kamu tidak apa-apa?" tanya Bi Yati sambil membuka ikatan di tangan dan kaki anak remaja itu.
"Tolong," gumam anak itu, menatap Bi Yati dengan mata sayunya.
"Ayo, aku bantu kamu berjalan," Bi Yati membantu remaja itu berdiri danmemapahnya menuju jendela tempat mereka masuk.
Tak ada jawaban dari remaja dis sampingnya, hanya saja Bi Yati tahu kalau remaja itu mau ia bantu.
Dengan susah payah dia mengangkat tubuh remaja itu hingga akhirnya bisa keluar lebih dulu, setelah itu, baru dirinya menyusul kemudian.
"Kita harus segera ergidari sini sebelum para penculik itu datang lagi," gumam lirih remaja itu.
"Jadi kamu diculik?" tanya Bi Yati yang langsung mendapat anggukan dari remaja itu.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan berusaha membawamu pergi. Tapi apa kamu kuat kalau berjalan di tengah hujan deras seperti ini?" tanya Bi Yati, dia sedikit ragu dengan kondisi remaja itu yang sudha terlihat sangat lelah.
"Aku pasti bisa, tolong bantu aku ... sebelum mereka datang lagi," ujar remaja itu memohon.
"Baiklah. Tapi, aku mohon kamu juga harus bertahan, ya," jawab Bi Yati memutuskan.
Mereka berdua berjalan menembus hujan yang semakin deras, mencari tempat yang sekiranya aman bila saja nanti para penculik itu kembali dan mengetahui kalau remaja yang menjadi korban mereka sudah tidak ada.
Bi Yati memilih tidak berjalan di jalan raya atau jalan utama, agar tidak mudah ditemukan oleh penculik, hingga akhirnya setelah tiga puluh menit berjalan mereka sampai di kantor polisi terdekat.
Dengan bantuan polisi, mereka akhirnya bisa dipertemukan dengan Nawang dan Garry, yang merupakan orang tua dari remaja yang ia selamatkan. Ya, dia adalah Ezra, yang ternyata sudah diculik selama tiga hari, ketika dia pulang dari salah satu rumah temannya, setelah bekerja kelompok.
Flash back off
"Jadi begitu awal dari pertemuan Bi Yati dan Bang Ezra, ya?" tanya Riska, setelah mendengar cerita dari Bi Yati.
"Iya, mulai saat itu, Bibi diterima untuk bekerja di keluarga Darmendra, mereka memperlakukan Bibi dengan baik. Tuan Garry bahkan mengirimkan uang dan merubah kehidupan kedua orang tuaku di kampung. Dia memberikan modal dan memberikan pelatihan usaha untuk orang tua dan adik Bibi, hingga akhirnya keluarga Bibi bisa keluar dari jerat kemiskinan yang sudah kami alamai bahkan sejak lahiir."
"Karena semua itu, Bibi memutuskan untuk mengabdikan diri dengan keluarga ini. Sampai akhirnya Bibi bertemu dengan mang Ujang dan menikah, itu juga karena saran dari Tuan dan Nyonya Daremendra."
Bi Yati tersenyum teduh pada Riska. "Aku sudah menganggap Pak Ezra dan Den Keenan sebagai anak Bibi sendiri. Bibi sangat senang karena sekarang mereka udah menemukan pendamping hidup seperti Bu Ayu dan Non Riska."
Riska menatap Bi Yati dengan pandangan yang begitu kagum, wanita paruh baya itu, ternyata tahu banyak hal tentang keluarga Darmendra begitu juga dengan suaminya.
'Apa aku bisa bertanya tentang Bang Keenan lebih dalam pada Bi Yati?' gumam hati Riska.
.
Di tempat lain, Ezra dan Keenan baru saja masuk ke ruangan kerja Garry, mereka langsung masuk dan menyalakan komputer di meja kerja sang ayah. Beberapa saat kemudian email dari ketua IT masuk.
Kini keduanya sudah fokus pada layar yang menampilkan cuplikan CCTV dari berbagi tempat.
"Sepertinya aku pernah melihat orang itu?"
...🌿...
Setelah malam ini aku up tiga kali sehari, doakan aku bisa ngejar target dan sehat selalu. Jangan lupa kasih like dan komen di setiap babnya juga. Terima abis semuanya 🙏 Lope-lope sekebon buat kalian semua😘❤❤❤
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung...