Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.76 Secarik kertas


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


...Assalamualaikum....


Aku yakin Pak Ezra dan Kak Ansel bisa menemukan surat ini, dan itu berarti aku sudah tidak ada di rumah.


Aku pergi bukan karena ingin menghindari kalian, maafkan aku karna tak bisa mengabari kalian sebelumnya.


Selama beberapa bulan ini aku selalu mendapatkan teror, dari seseorang yang mungkin kalian sendiri tau siapa pelakunya.


Aku sudah berusaha mencari tau apa saja yang mereka lakukan dan inginkan dariku, dan yang perlu kalian tau, bahwa salah satu anak buah Pak Ezra yang bertugas mengawasi rumahku, ada yang berkhianat.


Dia memberikan semua informasi kepada orang kepercayaan pemimpin mereka, di jalan xx antara pukul dua sampai jam lima sore.


Perlu kalian tau, kalau aku pergi bukan untuk menghindari masalah. Aku pergi untuk memancing mereka keluar. Bila aku tidak ada, maka mereka akan berusaha mencari dan menemukanku lebih dulu di bandingkan kalian.


Untuk sementara waktu, jangan hubungi aku. Aku berada di tempat yang aman. Aku percaya kalian bisa menyelesaikan semua ini.


Aku menyimpan semua bukti teror, dan apa yang aku dapatkan di butik.


Jangan khawatir kepadaku, jika sudah waktunya aku kembali maka aku akan kembali. Maaf sekali lagi aku merepotkan kalian.


Aku tidak bisa menghubungi kalian secara langsung, karena semua gerak gerikku selalu di awasi.


Ezra kembali membaca kembali rentetan kata, yang tertulis dalam secarik kertas di tangannya.


Dalam kesendirian pikirannya kembali tertuju pada kesibukannya hari ini, mulai dari kepergian Ayu yang tiba-tiba, kemudian berbagai fakta yang selama ini ia tak pernah sadari sebelumnya.


Untung saja, Ayu bisa mengatasi semua itu sendiri, dan mengambil jalan tengah untuk masalah mereka saat ini.


Dia sama sekali tidak menyayangkan sikap Ayu yang pergi tanpa pamit, atau perubahan sikap wanita itu selama beberapa bulan ini.


Bahkan selama ini dia mencari tau, apa yang terjadi kepada Ayu. Tetapi, ia tidak pernah menemukan apapun.


Ternyata selama ini ia lengah akan sesuatu, hingga semua itu di manfaatkan oleh musuh.


Ya, ia tidak ingat kalau musuh bisa saja menekan Ayu di butik, dan itu sekarang benar-benar terjadi.


Ia sudah merasa di atas angin, karena Ayu sudah ada yang mengikuti kemanapun wanita itu pergi.


Namun, ternyata mereka mengirimkan semua teror di saat Ayu sedang tidak ada di butik, dan otomatis anak buahnya pun tak berjaga di sana.

__ADS_1


"Kak," panggilan dari seseorang, membuat Ezra meoleh ke arah suara.


Keenan ....


Ya, adik yang selama ini selalu membantu dalam setiap masalahnya itu, yang datang menghampirinya.


"Aku sudah menghubungi, dia akan bantu kita dalam masalah ini," ucap Keenan, duduk di samping sang kakak.


"Bagus, kita kumpulkan dulu bukti sebanyak-banyaknya, Agar mereka tidak bisa mengelak lagi," Ezra berucap, sambil memandang Keenan.


"Siap Kak. Kita buktikan pada Kak Nindi, kalau kita memang pantas mendapat kepercayaannya dan dapat dia andalkan!" semangat Keenan.


Dia sudah sangat tidak sabar, melihat sang kakak dan wanita pujaannya itu dapat bersatu.


Sudah cukup lama Ezra menunggu dan berkorban waktu, tenaga dan juga materi untuk selalu membantu Ayu dari jerat masalah keluarganya sendiri.


Adik dari Ezra itu yakin, kalau Ayu juga sudah membuka hatinya untuk sang kakak. Maka dari itu wanita itu berani mempercayakan keselamatannya pada Ezra.


...❤...


Di tempat lain, yang merupakan suatu rumah besar, seorang wanita terlihat sedang memaki seseorang di ujung telepon.


"Dasar bodoh! Bagaimana bisa kalian kehilangan wanita itu Hah?! Pokoknya aku tidak mau tau, kalian harus lebih dulu menemukan dia sebelum dua lelaki pelindungnya itu menemukan dia!" teriak wanita itu, mengepalkan tangannya, hingga tanpa ia sadari gegaman di ponselnya semakin mengerat.


Memutuskan sambungan Teleponnya, saat dia rasa sudah cukup berbicara dengan salah satu anak buahnya.


Pyarr ....


Suara gelas pecah terdengar begitu nyaring di ruangan itu.


Ya, wanita itu melampiaskan kemarahannya dengan membanting gelas yang berada di depannya.


...❤...


Di desa, Ayu yang sedang berjalan-jalan di sungai bersama dengan Dian, memilih untuk duduk di atas batu besar yang terletak di bantaran sungai.


Aliran air yang lumayan deras, dengan air terjun kecil yang terlihat sangat indah, membuat dia menikmati setiap pemandangan alam yang memanjakan mata, di hadapannya.


Pikirannya tertuju pada keadaan di kota saat ini.


'Pasti sekarang Pak Ezra atau Kak Ansel sudah menemukan surat yang aku tinggalkan. Semoga mereka paham dan mau membantuku,' gumamnya dalam hati.


Selama ini ia merasa tersiksa dengan sikap acuh dan dinginnya kepada orang-orang yang jelas-jelas sangat ia sayangi.


Namun, itu semua ia lakukan karena terpaksa, dirinya harus berpura-pura untuk terpengaruh dengan semua ancaman yang datang, supaya mereka tak melakukan apapun yang bisa membahayakan Ezra, Naura, dan juga keluarga kakaknya.

__ADS_1


Sebenarnya, Ayu sendiri merasakan sakit seyiap kali harus menahan setiap perasaan, yang ada pada hatinya.


Bahkan setiap kali mereka pulang, ia selalu menangis seorang diri dengan berteman kegelapan di dalam kamarnya tanpa ada yang tau.


Tenggelam dalam masalah yang menyiksa hati dan pikirannya, wanita itu hampir saja menyerah.


Namun, rasa sayang kepada seluruh orang yang sudah menyayangi dirinya, kembali membangkitkan semangat Ayu saat itu.


"Teh, sini!" suara teriakan dari Dian menyadarkan lamunannya.


Dengan cepat ia mengusap air mata, yang sudah terlanjur menetes di pipinya.


Tersenyum dan melambaikan tangan, pada gadis yang sekarang sudah berada di bawah air terjun.


Berdiri dan berjalan pelan, menghampiri Dian dan dua orang temannya yang sedang bermain air.


"Teh, ayo kita foto, buat kenang-kenangan!" ajak Diana dengan antusias, sambil berjalan menghampiri Ayu.


"Ayo, tapi jangan pake main air ya, Teteh gak bawa baju ganti," ucap Ayu sambil menggapai tangan Dian.


Cipratan air dari air terjun alami itu sedikit mengenai baju serta kerudung yang di pakai Ayu. Tetapi semua itu tidak membuat ketiga anak remaja itu menyerah untuk membuat Ayu tersenyum.


Ayu mengakui, bahwa kehadiran mereka dapat mengobati rasa sepinya, di kampung itu. Walau di saat sendiri maka pikirannya akan terus tertuju pada suasana di kota saat ini.


Ingin sekali rasanya ia segera pulang dan menemui semua orang yang ia sayangi. Tapi, untuk sekarang wanita itu harus menahan semua perasaannya, agar tak mengacaukan semua rencana yang telah ia buat sendiri.


Dan pasti saat ini Ezra tengah mematangkan rencana itu dan melaksanakannya, dengan cara lelaki itu sendiri.


Setelah seharian Ayu menikmati suasana desa bersama dengan Dian dan teman-temannya, Ayu baru saja sampai di rumahnya ketika senja sudah menyambut.


Mengambil ponsel yang baru saja ia beli beberapa saat yang lalu. Ia mengetik sebuah nomor ponsel yang akan ia hubungi saat ini.


"Bagaiman situasi di sana sekarang?" tanyanya pada seseorang yang ia hubungi.


Ayu tampak mendengarkan dengan seksama, semua yang di katakan oleh orang yang ia tugaskan mengawasi.


"Baiklah, terima kasih. Aku akan menghubungi lagi, nanti," ucap Ayu sebelum mengucap salam dan menutup teleponnya.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...


Maaf hari ini aku sedikit terlambat dari jadwal. semoga suka ya🥰🥰

__ADS_1


Nah udah hari senin nih, mau coba tagih vote lagi ah, masih adakah yang mau ngasih🤭🤭


Terima kasih semuanya, sampai jumpa di bab berikutanya👋👋


__ADS_2