
...Happy Reading...
...❤...
Seminggu berlalu, seperti biasa, setiap pagi Ayu akan menyiapkan sarapan untuk Naura dan Ezra, dia sedang berada di dapur bersama dengan Bi Yati. Memasak menu sarapan pagi yang berupa, roti isi daging panggang dengan salad sayur. Tak lupa secangkir kopi untuk sang suami dan susu putih untuk Naura.
“Bi, tolong bantu saya menyiapkan semua ini ya, saya mau ke kamar dulu,” ujar Ayu, ia baru saja menyelesaikan semua masakannya, kini tugasnya tinggal membantu anak dan suaminya bersiap.
“Sayang, kamu sudah siap?” tanya Ayu, begitu ia masuk ke dalam kamar Naura.
Gadis kecil itu tampak sudah rapi dengan pakaian sekolahnya. Di sampingnya, ada salah satu pelayan yang bertugas untuk membantu Naura setiap pagi.
Ayu tersenyum, lalu berjalan menghampiri anak sambungnya itu.
“Ada yang perlu Mamah bantu?” tanya Ayu, sambil membereskan poni rambut di kening Naura.
“Gak usah, Mah. Aku sebentar lagi selesai,” tolak Naura, dia tahu kalau Ayu harus membantu Ezra bersiap.
“Hem, kalau gitu ... Mama ke kamar dulu ya,” pamit Ayu memberikan kecupan di kening Naura.
Setelah itu Ayu berjalan kembali ke kamarnya, di sana dia bisa melihat Ezra sedang memakai baju yang dia siapkan sebelumnya.
“Mas,” panggilnya.
Ezra menoleh ke arahnya, dengan senyum hangat.
“Kamu dari mana? Bukannya sudah aku bilang, gak usah kerjain pekerjaan rumah dulu,” cerocos Ezra, memeluk pinggang istrinya yang kini sedang memasangkan dasi untuknya.
“Aku habis siapin sarapan di bawah. Aku gak ngerjain yang berat kok,” jawab Ayu.
“Kamu ini kenapa bandel sekali, sayang? Aku kan cuman takut kamu kecapean, kenapa harus membantah, hem?” Ezra menarik pinggang Ayu, merapatkan tubuh mereka. Mencubit gemas hidung mungil Ayu sampai wanita itu mengaduh.
“Aduh! Sakit, Mas!” pekik Ayu, sambil mengusap ujung hidungnya.
“Habisnya kamu ini bandel, aku bilang diem, kok malah kerja terus,” gerutu Ezra.
Beberapa hari yang lalu, Ezra sudah melarang Ayu untuk mengerjakan pekerjaan rumah, karena takut istrinya itu terlalu cape, apa lagi seminggu ini istrinya itu disibukkan dengan mengurus butik, setelah Naura pulang ke rumah.
“Aku cuma menyiapkan sarapan, itu juga dibantu sama Bi Yati, Mas. Lagian, gak enak terus diam tanpa melakukan apa pun,” protes Ayu. Dirinya sudah terbiasa bekerja dan bergerak aktif sejak kecil, maka rasanya akan sangat tidak enak bila harus berdiam diri di rumah tanpa melakukan apa pun.
Ezra menghembuskan napas kasar, susah memang mengubah kebiasaan Ayu yang sudah mendarah daging itu.
“Hem, baiklah. Tapi hanya membuatkan sarapan dan makanan untuk kita saja, tidak dengan pekerjaan yang lain, oke?” Ezra mengurai pelukannya, lalu menangkup wajah sang istri.
Ayu mengangguk sambil tersenyum senang. “Tapi, kalau mengurus tanaman di taman belakang, boleh yah. Atau aku ke butik sesekali, kan bosan di rumah terus,” cebik Ayu berusaha menawar lagi peraturan dari Ezra.
“Iya, nanti biar aku yang antar sendiri dan temani kamu selama di butik, bagaimana?” Ezra akhirnya mengalah, dia juga merasa takut jika istrinya itu menjadi stres, karena gaya hidup yang berubah drastis.
“Iya, gak apa ... yang penting aku bisa ke luar rumah,” ujar Ayu.
Sejak Naura pulang dari rumah sakit, Ezra langsung memberikan begitu banyak peraturan baru kepada Ayu, untuk menjaga kehamilannya, juga sebagai usaha untuk menghindarkan Ayu dari Radit.
Mulai dari tidak boleh mengerjakan pekerjaan rumah, sampai pergi mengantar jemput Naura dengan menggunakan sopir. Ezra sekarang melarang Ayu menyetir mobil sendiri, mengingat skil mengemudi istrinya yang lumayan merepotkan, apa lagi bila sedang dalam suasana hati yang buruk.
__ADS_1
Ayu sama sekali tak keberatan dengan itu, tapi kalau ke butik dan ke luar rumah juga dibatasi, dia tentu saja tidak setuju. Bagaimanapun dia masih mempunyai tanggung jawab untuk mengurus butik dan pesanan para kliennya.
“Terima kasih, Mas.” Ayu memeluk tubuh suaminya dan menyandarkan kepala di bahu bagian depan Ezra.
Ezra memberikan kecupan di kepala istrinya, tangannya mengusap rambut dan punggung Ayu.
“Aku mencintaimu, semua yang aku lakukan karena aku takut kehilanganmu, sayang,” ujar Ezra, lembut.
Ayu mengangguk, sambil mengeratkan pelukannya, menghirup napas dalam dan menahannya beberapa detik, ia seperti sedang menyimpan harum tubuh suaminya di dalam paru-paru, lalu menghembuskannya kembali dengan perlahan.
Ayu kemudian mengurai pelukannya, merapikan kemeja Ezra yang terlihat sedikit kusut sebelum mengajaknya sarapan.
“Naura, hari ini berangkat sekolah sama Papa yah, nanti pulangnya baru Mama jemput,” ujar Ezra, begitu ia menyelesaikan sarapannya.
“Memang Mama kenapa, Pah?” tanya Naura, dia melihat Ayu dengan tatapan khawatir.
“Mama gak papa kok, Papah hanya sedang mau mengantar Naura saja,” alasan Ezra.
Naura mengangguk. “Iya deh ... tapi, nanti pulangnya sama Mama, kan?” tanya Naura.
Semenjak Ayu dan Ezra menikah, Naura memang menjadi lebih dekat dengan Ayu, anak itu bahkan lebih suka bersama dengan ibu sambungnya daripada Ezra.
“Iya, nanti pulangnya Mama yang jemput kok, sayang,” Ayu mengusap lembut rambut Naura yang duduk di sampingnya.
Sarapan selesai, seperti biasa, Ayu hanya makan setengah dari porsi sarapan biasanya dan segelas susu hamil. Entah bagaimana, dia seakan sudah kenyang sewaktu memasak tadi, jadi begitu melihat makanan yang sama, Ayu tidak akan berselera.
“Kamu makan sedikit sekali, sayang. Apa ada yang kamu inginkan, hem?” tanya Ezra, saat mereka berjalan menuju ke arah teras rumah. Dia sudah tahu kebiasaan istrinya yang tidak berselera dengan masakannya sendiri.
Ayu menggeleng. “Aku sudah kenyang, Mas. Nanti saja, aku makan camilan kalau untuk tambahnya,” jawab Ayu. Setelah tahu Ayu sedang mengandung, Nawang selalu membawakan berbagai camilan sehat untuknya.
“Ya sudah, kalau sekiranya kamu mau sesuatu, bilang sama aku ya, sayang,” pinta Ezra yang langsung diangguki oleh Ayu.
“Iya, aku berangkat dulu,” Ayu mengambil tangan Ezra dan menciumnya, disambut dengan kecupan di kening juga usapan lembut di perutnya oleh Ezra.
“Baik-baik di rumah, kalau ada apa-apa segera hubungi aku, dan jangan terlalu cape–,” peringat Ezra.
“Iya, Mas,” jawab Ayu cepat.
“Assalamualaikum.”
“Waalikumsalam,” jawab Ayu.
Ezra masuk ke dalam mobil dan membuka kacanya, Naura langsung melambaikan tangan pada ibu sambungnya.
“Dah, Mah!” serunya.
“Dah, sayang!” jawab Ayu. Dia berdiri di sana sampai mobil sang suami tak terlihat lagi oleh pandangannya.
Setelah kepergian anak dan suaminya, Ayu memilih pergi ke taman belakang, di sana begitu banyak bunga dan tanaman indah lainnya, yang terlihat sejuk dipandang mata.
Dengan membawa buku sketsa juga beberapa peralatan tulis, dia lebih suka menggambar di taman belakang, menghabiskan waktu dengan suasana yang disukainya.
“Bu, mau Bibi bawain minum dan camilan?” tanya Bi Yati, begitu melihatnya berjalan ke pintu belakang.
Ayu menghentikan langkahnya, lalu melihat wanita paruh baya yang menjadi kepala pelayan di sini.
“Tidak usah, Bi. Aku baru saja sarapan, masa sudah makan camilan lagi,” Ayu terkekeh kecil, merasa perhatian seluruh orang di rumah ini begitu berlebihan.
Bi Yati tersenyum lalu mengangguk.
__ADS_1
Ayu duduk di sebuah gazebo yang terdapat di tengah taman, perlahan ia mulai menorehkan pensil pada lembar kertas di tangannya, membuat sketsa atau gambar sesuatu yang saat itu ia inginkan.
Beberapa saat berkutat dengan pensil dan kertas, hingga mendapatkan beberapa sketsa yang hampir sempurna, tiba‐tiba ingatannya beralih pada sang ayah. Ayu termenung, beberapa hari yang lalu dia mendapat kabar kalau Larry memilih pindah ke rumah Ansel, juga menjual rumah yang dulu ia tempati.
Sejak saat kejadian di rumah sakit, Ayu baru bertemu sekali dengan Larry, itu pun karena ayahnya yang datang ke rumah.
Larry meminta maaf padanya atas semua kesalahan di masa lalu, ayahnya itu juga sangat menyesal atas semua kebodohan yang ia perbuat, hingga mengakibatkan penderitaan bagi Ayu dan Puspa.
Elena juga sempat bercerita kalau Larry langsung ke makam Puspa sehari setelah kejadian itu, dia meminta maaf sampai menangis di pusara ibunya.
Ayu tentu saja memaafkan semua itu, lagi pula tidak ada gunanya bukan, jika kita terus menyimpan dendam, jika kebaikan akan datang setelah kita memaafkan.
Sudah cukup ayahnya itu tersiksa atas penyesalan terhadap ibunya, yang tidak bisa lagi meminta maaf secara langsung. Bukankah, akan sangat tidak adil jika dirinya juga bersikeras, untuk tidak memaafkan Larry. Itulah pemikiran Ayu saat ini. Karena menurutnya, mempunyai rasa bersalah kepada orang yang sudah tiada, itu sangatlah menyiksa.
Semuanya sudah berakhir, ia menerimanya sebagai takdir, jadi biarkanlah dirinya menjalani kehidupan baru, bersama orang-orang yang dulu selalu ia nantikan di dalam doanya. Juga suami dan keluarga kecilnya.
Mengingat semua itu, dia jadi teringat pada suaminya, akhir-akhir ini, jadwal Ezra sangat padat, ia tahu semua itu dari Keenan. Akan tetapi, suaminya selalu menyempatkan diri untuk menghubunginya, menanyakan kondisi dirinya, setidaknya saat makan siang.
Sikap posesif berlebihan yang ditunjukkan Ezra, tak membuatnya merasa terkekang, dia justru merasa selalu diperhatikan dan diperlakukan istimewa, Ayu tahu kalau sikap itu datang, karena Ezra begitu menyayangi dirinya dan janin yang sekarang dia kandung.
Ayu tersenyum, mengusap perut bagian bawahnya yang masih terasa rata. Belum ada benjolan di sana.
Tak pernah menyangka, jika dirinya akan merasakan kehamilan seperti ini sebelumnya.
“Terima kasih sudah hadir di dalam perut Mama, Nak. Sehat-sehat ya, semuanya sangat menyayangimu, sayang,” gumamnya, sambil terus mengelus perutnya.
Drrt ....
Suara getar ponsel mengalihkan perhatiannya, ia kemudian melihat nama panggilan di layar, senyumnya merekah saat melihat nama Elena di sana.
“Ndi, kamu gak nganter Naura ke sekolah ya? Apa kamu sakit?” tanya Elena dari seberang sana, setelah keduanya mengucapkan salam.
“Enggak, sekarang Naura diantar Mas Ezra, baru nanti siang aku yang jemput, memang kenapa, Kak?” tanya Ayu.
“Akh, enggak, hanya saja tadi aku mendengar ibu-ibu membicarakan tentang suamimu. Aku kira kamu sakit,” jawab Elena.
Ayu mengernyit. “Bicara apa, Kak?” tanyanya.
“Ah, biasa. Ibu-ibu memang suka heboh kalau liat suami kamu nganterin Naura. Gak usah dipikirin, lagian aku denger suami kamu juga cuek sama mereka,” ucap santai Elena.
Dia tahu kalau Ezra memang selalu jadi bahan perhatian saat mengantarkan Naura ke sekolah, maka dari itu lelaki itu hanya akan datang jika ibunya sedang ke luar kota.
“Iya, aku ngerti kok. Lagian aku juga sudah cukup tahu gimana ibu-ibu di sekolah Naura,” jawab Ayu
“Hem, baguslah, kalau kamu sudah tahu. Kalau gitu aku tutup dulu ya, Assalamualaikum,”
Ayu menghembuskan napas kasar, lalu beranjak tempat duduknya. Ia berniat kembali ke kamar, lelah juga ternyata duduk di dengan waktu yang cukup lama, tak terasa memang kalau dia sudah bermain dengan peralatan tulis dan gambar.
Sepertinya merebahkan tubuh di atas tempat tidur sebentar, sambil menunggu jadwal menjemput Naura, bukanlah hal yang buruk.
Ya, semenjak hamil dirinya jadi lebih cepat lelah, hingga Ezra selalu memperingatkannya.
...🌿...
Manisnya ... aku juga mau dong diperhatiin🤭🙈❤❤
...🌿...
...Bersambung...
__ADS_1