Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.251 Siapa Kamu


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Suara gagang pintu yang berputar, membuat Riska otomatis mengalihkan pandangannya. Tanpa sadar tubuhnya menegang, saat perlahan gagang pintu itu terlihat berputar.


Pintu pun terbuka, membuat Riska melebarkan matanya, menatap nyalang seorang lelaki yang berjalan dengan santainya, diiringi senyum cerah di bibirnya. Tatapan memuja dan penuh minat itu membuat Riska merasa mual dan jijik.


“Siapa kamu? Kenapa kamu melakukan ini padaku?!” sarkas Riska.


Lelaki dengan tubuh khas orang Indonesia dan warna kulit sedikit lebih gelap, tampak tersenyum yang terlihat cukup mengerikan di mata Riska, hingga tanpa sadar dia memundurkan tubuhnya, seiring dengan semakin dekatnya laki-laki itu.


“Apa kamu sudah lupa denganku? Aku sudah mencintai kamu sejak kita masih berada di sekolah dulu,” tanyanya, sambil melangkah semakin dekat pada Riska.


Riska memicingkan matanya, menatap laki-laki yang kini duduk di depannya, sambil mengingat kembali masa sekolahnya. Tak lama kemudian dia menggeleng, meyakini kalau dirinya tidak pernah mengenal laki-laki di depannya itu.


“Tidak ... aku tidak pernah mengenalmu sebelumnya. Jangan mengada-ngada,” jawab Riska.


Laki-laki itu terkekeh sambil menatap wajah Riska, dia bahkan tampak seperti seorang yang kurang waras saat ini, di mata Riska.


Dengan sekali gerakan, kali-laki itu mencondongkan tubuhnya dan mencengkeram dagu Riska, hingga ujung jari-jarinya terlihat menusuk pipinya yang tampak memerah. Pandangannya pun berubah buas, dengan rahang yang mengeras.


“Ssshh.” Riska berdesis menahan rasa sakit yang menjalar di sekitar dagu dan pipinya.


“Lihat lebih jelas lagi!” ujarnya, sedikit berteriak di depan wajah Riska.


“Aku bahkan tidak pernah melupakanmu sedetik saja. Aku gunakan setiap detik waktuku, agar kamu bisa melihat keberadaanku. Tapi, lihat sekarang ... kamu bahkan melupakan aku dengan begitu mudah,” ujarnya dengan tatapan yang berubah sendu.


Semua perubahan wajah laki-lak itu membuat nyali Riska seakan jatuh ke titik terendah, dia mengerutkan tubuhnya, sebagai perlindungan alami yang berusaha dia lakukan.


Melihat tatapan ketakutan dari Riska, laki-laki itu pun melonggarkan cengkeramannya. Tangannya beralih mengelus pipi Riska yang terasa halus.


“Saat ini, kamu bahkan sudah menjadi milik orang lain. Kenapa kamu tidak pernah melihat keberadaanku? Aku yang selama ini terus memantaskan diri, demi mendapatkan kamu. Tapi, kamu malah menyerahkan hatimu pada orang lain,” imbuhnya lagi.


Riska menolehkan kepalanya, menghindari tangan dari laki-laki itu. Dia merasa tidak nyaman dengan sikap laki-laki di hadapannya itu. Setiap sentuhan yang dia dapatkan membuatnya merasa seperti wanita hina.


Bibirnya tertutup rapat, dengan gigi beradu menahan desakan rasa takut dan air mata yang hampir saja tak dapat lagi dia bendung.


“Tatap aku!” Laki-laki itu kembali mencengkeram dagu Riska.

__ADS_1


Riska memberanikan diri menatap laki-laki di depannya itu, mengeraskan rahang sebagai tanda kalau dirinya tidaklah takut. Walau di dalam hati dia menjerit meminta pertolongan.


“Aku tidak mengenalmu! Untuk apa kamu melakukan ini semua?!” teriak Riska, tepat di depan wajah laki-laki itu.


“Baiklah, kalau kamu masih tidak bisa mengenalku,” ujar laki-laki itu, sambil berdiri membelakangi Riska.


Dia memakai kacamata dan mengatur kembali baju dan tatanan rambutnya. Lalu, kembali berbalik dan menatap Riska dengan sorot mata berbeda.


“Bagaimana, apa kamu sudah ingat siapa aku?” tanyanya, mencondongkan diri untuk lebih dekat dengan Riska.


.


Di tempat lain, pagi-pagi sekali Ezra dan Keenan berangkat menuju rumah Aryo dan Alana, untuk menanyakan tentang masalah di Bali, sekaligus bertanya tentang menghilangnya Riska saat ini. Sedangkan Alvin pergi ke alamat laki-laki yang dicurigai oleh Keenan.


Ayu menatapi kepergian suami dan adiknya iparnya juga asisten pribadi suaminya itu. Dalam hati dia berdoa, untuk keselamatan ketiganya dan juga Riska yang belum tau di mana keberadaannya.


Beberapa saat kemudian, mobil yang dikendarai Keenan sudah berhenti di sebuah pelataran rumah yang tampak mewah. Mereka keluar bersamaan dengan pandangan mengedar, meneliti setiap sudut tempat yang mereka datangi.


Tidak perlu menunggu lama, seorang pembantu rumah tangga, mempersilahkan mereka masuk dan mengantarkannya menuju ruang tamu. Keduanya menunggu sekitar lima belas menit, sampai akhirnya sang pemilik rumah pun menemui keduanya.


Ada raut wajah terkejut yang terlihat jelas di kedua pemilik rumah tersebut, saat melihat Ezra dan Keenan duduk di ruang tamu mereka di saat matahari baru saja muncul ke permukaan.


Dia menatap penuh semangat dan kebahagiaan, saat mendapati tamu istimewa yang datang ke rumahnya.


“Maaf mengganggu pagi kalian. Kami ke sini ingin bertanya sesuatu kepada istri Anda,” jawab Ezra, tanpa basa basi.


“Akh, tidak begitu. Kami bahkan sangat senang, kedatangan kalian berdua,” jawab Aryo, begitu senang dengan kedatangan kedua tamu yang merupakan anak dari pemilik perusahaan Darmendra Corp itu.


“Ngomong-ngomong, apa yang ingin kalian tanyakan pada istri saya?” tanya Aryo lagi, sambil saling pandang dengan Alana.


“Baiklah, langsung ke permasalahannya saja. Kami ingin bertanya tentang maksud dari istri Anda, saat memerintahkan orang untuk mencelakai adik saya dan istrinya sewaktu mereka sedang berada di Bali,” ujar Ezra, masih dengan sopan santun dalam berbicara.


Aryo menatap istrinya dengan raut wajah bingung. Lalu, beralih melihat Ezra dan Keenan dengan tatapan tidak bersahabat.


“Apa maksud kalian? Jangan bicara sembarangan tentang istri saya. Saya bisa saja melaporkan semua ini sebagai suatu tuduhan atau pencemaran nama baik!” ujar Aryo, dengan nada tak suka.


Ezra tersenyum tipis, dia masih saja terlihat santai. Sedangkan Keenan tak menunjukkan perubahan raut wajah sama sekali. Dia hanya terus menatap tajam wanita di depannya itu.


“Anda, tidak bisa melaporkan kami segampang itu. Karena, kami mempunyai bukti dan saksi,” jawab Keenan, tajam.

__ADS_1


Aryo tentu dibuat terkejut dengan apa yang dibicarakan oleh Ezra. Selama ini yang dia tahu, istrinya itu adalah sosok lemah lembut. Walaupun terkadang dia memang keras kepala dan bersikap seenaknya.


“Bukti?” gumamnya, sambil menatap istrinya.


Alana mengepalkan tangannya, menahan rasa gugup di dalam hatinya. Selama ini, dia melakukan semua itu menggunakan uang yang diberikan oleh suaminya. Bila sampai Aryo tau perbuatan jahatnya, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Menggeleng lemah, dengan tatapan mengiba, seakan dirinya adalah korban tuduhan dari Ezra dan Keenan.


“Tidak, honey. Aku tidak pernah melakukan semua itu. Jangan percaya kepada mereka,” bantah Alana, dengan mata yang dibuat berkaca-kaca.


Ezra dan Keenan seakan ingin muntah, melihat drama yang sedang diperankan oleh wanita di depannya.


Cih, benar-benar wanita bermuka dua! geram hati Keenan, penuh kebencian.


Sedangkan Ezra hanya duduk santai sambil melihat setiap interaksi yang ditunjukkan oleh sepasang suami istri itu.


“Iya, aku percaya padamu, honey. Tenang saja, ya,” ujar Aryo, berusaha menenangkan istrinya.


“Apakah, Anda masih bisa berkata seperti itu, saat melihat semua ini?” tanya Ezra dengan begitu santainya.


Menaruh sebuah amplop berwarna coklat yang sejak tadi dipegang oleh Keenan, di atas meja.


“Apa ini?” tanya Aryo, sambil mengambil amplop tersebut.


“Buka saja, nanti Anda juga tau, apa isinya,” jawab Ezra santai.


Aryo menatap wajah kedua tamunya bergantian, lalu beralih pada sang istri yang seakan tak setuju bila dia membuka amplop di tangannya.


“Honey, apa kamu tidak percaya lagi padaku? Aku tidak pernah melakukan apa pun,” ujar Alana, menutupi rasa gugupnya, sekaligus mencari dukungan dan kepercayaan suaminya.


“Aku percaya padamu, honey. Tapi, aku juga harus membuktikan pada mereka kalau kamu tidak bersalah,” ujar Aryo, sambil mulai membuka amplop itu.


Alana pun tidak bisa berbuat banyak lagi, dia pun akhirnya pasrah melihat suaminya membuka amplop yang dibawa oleh Ezra dan Keenan.


...🌿...


Terima kasih untuk semua do'anya. Semoga kalian semua diberikan kesehatan dan sukses selalu🤲 Lope-lope sekebon untuk kalian semua😘❤️❤️❤️


...🌿...

__ADS_1


......Bersambung......


__ADS_2