
...❤...
...Happy Reading...
Pagi hari yang lumayan sibuk pun terjadi, di unit apartemen tempat tinggal Keenan dan Riska. Mereka yang sama-sama bangun kesiangan karena acara memisahkan oleh-oleh yang mau dibawa ke butik, menjadikan pagi mereka hampir berantakan.
"Abang, sarapan dulu, biar kau siapin jas sam dasinya," ujar Riska.
Setelah menyiapkan sarapan dia masuk lagi ke kamar, untuk memanggil sang suami yang baru berpakaian, setelah menyiapkan beberapa barang yang harus dia bawa ke kantornya.
"Astagfirullah! Abang kenapa belum pake baju juga?" tanya Riska saat melihat suaminya masih memakai kaos tipis yang biasa.
Keenan hanya tersenyum, sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.
Ya, karena terlalu gugup untuk bekerja di kantor ayahnya, Keenan sampai bingung memilih baju yang pas untuk ia pakai sendiri.
Apa lagi selama hampir dua bulan ini, Riska lah yang selalu memilih pakaian untuknya. Itu semua ternyata sudah cukup memengaruhi cara pandang Keenan pada pilihannya sendiri.
Keenan merasapilihannya sama sekali tidak ada yang cocok, hingga sedari tadi dia hanya memilih tanpa bisa mengambil keputusan.
Riska pun mulai memilih baju untuk Keenan pakai ke kantor barunya, mulai dari kemeja lalu dasi dan jas.
"Mau pake jas formal atau jas yang lebih casual, saja?" tanya Riska pada suaminya, sambil mulai memilih warna untuk suaminya.
'Yang casual saja, jangan yang terlalu formal, aku gak mau keliatan tua," ujar Keenan, sambil menyandarkan tubuhnya di tempat penyimpanan berbagai macam aksesori miliknya dan Riska.
Riska pun membantu Keenan untuk memakai bajunya terlebih dahulu.
"Oke, sudah siap. Sekarang, Abang sarapan dulu, nanti telat, aku mau siap-siap dulu," ujar Riska, sambil merapihkan sedikit baju yang dipakai suaminya.
"Kamu bagaimana?" tanya Keenan tampak enggan.
"AKu biar nanti saja di mobil, kan aku gak usah nyetir," jawab Riska sambil berjalan menuju almari pakaiannya sendiri.
Keenan tampak terdiam sejenak, lalu kembali melihat istrinya yang sedang sibuk dengan urusannya sendiri.
"Baiklah," ujar Keenan, sambil berbalik dan keluar dari kamarnya.
Beberapa saat kemudian, Riska sudah keluar dari kamar, dia pun hendak membungkus sarapannya untuk ia makna di dalam mobil.
Namun, saat dia sampai di meja makan, dia sana sudah kosong, bahkan bersih tak bersisa, hingga piring dan semua peralatan makan sudah rapi kembali.
"Loh, makanannya mana?" gumam Riska, dia pun melihat ke arah dapur di mana suaminya sedang mengelap piring yang masih basah.
__ADS_1
"Kayakny, Ada yang lapar banget, sampe ngabisin semua sarapan," sindir Riska sambil berjalan menuju dapur. Mengambil botol minum miliknya dan mengisinya.
Keenan tersenyum sambil menaruh piring terakhir dan berbalik melihat istrinya yang tampak sedikit merajuk.
"Aku gak makan, sayang. AKu masukin semuanya di sini. Biar kita makan bareng saja di jalan," ujar Keenan sambil menaruh kotak bekal di depan isrinya.
Riska mengernyit, lalu menatap wajah suaminya dengan ekspresi bingung.
"Abang, kan nyetir. Gimana mau makan bareng?" tanya Riska.
"Kamu kan enggak, jadi kamu bisa suapin aku makan," ujar Keenan begitu mudah.
"Yuk, kita berangkat sekarang, nanti kita kesiangan," ajak Keenan lagi, sambil mengambil tas miliknya dan mengandeng tangan Riska.
Beberapa saat kemudian, keduanya sudah berada di dalam mobil, dengan RIska yang memegang kotak bekal sarapan untuknya dan sang suami.
Untung saja, Riska hanya membuat sanwich, hingga mereka tidak memerlukan sendok, untuk menyuapkan makanannya.
"Abang, kenapa jadi ikut-ikutan mau sarapan di mobil sih? Kan jadinya ribet, harus nyetir sambil makan," ujar Riska, sambil bersiap untuk menyuapi suaminya lagi.
"Gak enak kalau makan sendiri, jadi lebih baik makan bareng di mobil sama kamu. Jadi lebih romantis kan, kita berbagi suapan dari satu sanwich yang sama," jawab Keenan, sebelum menggigit sanwich di tangan Riska.
Riska tersenyum, dia melihat sanwich di tangannya, dia sana ada bekas gigitan sang suami.
'Iya, juga ya. Kenapa aku baru sadar, kalau kita makan dari suapan yang sama?' gumam Riska dalam hati.
"Aaa, aku mau lagi," ujar Keenan, menyadarkan Riska.
"Iya-iya, nih," Rika kembali menyuapi Keenan.
"Gak sabaran banget sih!" gerutu Riska.
Keenan tak menjawab, dia hanya mengangkat kedua bahunya sambil kembali melahap makanannya.
"Makanan yang dibuat dan disuapi sama kamu, ternyata terasa lebih enak," ujar Keenan, masih dengan makanan di mulutnya.
"Alah, gombal!" Riska mencebik.
"Eh, kok gombal sih? Aku beneran ngomong dari hati loh," sanggah Keenan.
"Ya ... ya, terserah, Abang, aja deh," ujar Riska, dia menutup kembali kotak bekal yang sudah kosong, lalu menaruhnya di kursi belakang.
Riska kemudian membuka botol minum miliknya yang memiliki sedotan, hingga tak perlu repot untuk menenggaknya lagi.
"Ini, minum dulu." Riska menyodorkan botol minumnya pada Keenan terlebih dahulu.
__ADS_1
"Kamu saja dulu," tolak Keenan.
Riska berdecak pelan, lalu lebih dulu minum.
"Udah," ujarnya, smabil kembali memberikan botol minumnya pada Keenan.
Keenan tersenyum, dia pun akhirnya menerima dan meminumnya.
Sampai di butik, kali ini Keenan ikut keluar dulu, untuk membantu Riska membawakan oleh-oleh yang akan dibagikan pada dua orang temannya.
"Abang, kenapa turun? Aku bisa kok bawa itu sendiri." Riska bertanya, saat melihat Keenan turun dari mobil.
"Kamu buka saja pintu butiknya dulu, ini biar aku yang bawain," ujar Keenan, sambil membuka pintu mobil bagian belakang.
"Tapi, nanti kalau, Abang, terlambat gimana?" tanya Riska, menatap Keenan gusar.
"Nanti aku telepon, Papah, kalau aku sampai terlambat." Keenan membawa dua buah paper bag di tangannya.
Riska pun akhirnya mengalah, dari pada mereka terus beradu mulut dan hati semakin siang. Dia berjalan menuju butik untuk membuka kunci pintunya.
Sekar dan Wanda pun sudah menunggunya di sana, mereka tampak tersenyum kepada Riska dan Keenan.
"Wah, yang habis bulan madu, kayaknya seger banget nih," bisik Wanda pada Sekar yang berada di sampingnya.
"Iya, kayaknya Pak Keenan juga makin lengket aja sama Riska. Lihat tuh, yang biasanya nganterin cuman sampai parkiran, sekarang dia ikut turun," jawab Sekar.
"Pagi, Mbak Sekar, Mbak Wanda," sapa Riska, ramah.
"Pagi, Riska, Pak Keenan." Mereka berucap serempak, sambil melirik Keenan sekilas dan memberikan senyum tipis.
Keenan yang berjalan di belakang Riska, tersenyum sambil menganggukkan kepala samar.
Mereka pun masuk bersama-sama, Keenan menaruh paper bag yang ia bawa di atas meja, lalu beralih kepada istrinya.
"Sayang, aku berangkat ke kantor dulu. Kamu baik-baik di sini ya," ujar Keenan.
"Heem. Abang, hati-hati di jalan, kabari aku kalau sudah sampai kantor," jawab Riska, sambil mengambil tangan Keenan dan menciumnya.
"Iya, sayang." Keenan mencium kening Riska, sebelum melangkah pergi keluar dari butik.
Riska mengantar Keenan sampai ke pintu, seperti biasa, dia akan melihat mobil Keenan sampai ke luar area butik, baru dia akan masuk ke dalam.
...🌿...
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung...