
...Happy Reading...
Mala dan Radit, keduanya kini duduk dengan wajah menunduk dalam. Di hadapan mereka berdiri seorang lelaki yang tak lain adalah Pramono.
Ya, ayah dari Radit itu terpaksa harus pulang lebih awal, karena kekacauan yang ada di dalam keluarga, anak satu-satunya itu.
"Bagaimana, kau puas sekarang?" tanya Pram, dengan tatapan mata tajam menghunus, pada kedua orang di depannya.
"Seharusnya kalian berdua sudah tau konsekuensinya sebelum kalian berbuat. kalau sudah begini, kalian mau apa, hah?!"
"Pekerjaan kamu hancur, karir istri kamu juga sekarang berantakan, dan anak ... ternyata dia di renggut lagi dari kalian berdua. Bahkan sebelum kalian sempat melihatnya."
"Ck ... ck ... ck ... tenyata, karma itu nyata dan langsung terjadi pada kalian berdua ya," lelaki paruh baya itu, menggeleng miris, melihat keadaan anak dan menantunya saat ini.
Ya, Radit baru saja di pecat dari kantornya karena gosip yang beredar luas, membuat namanya tercoreng.
Sedangkan Mala, wanita itu juga harus menerima pembatalan kontrak pekerjaan dari beberapa kliennya.
"Ayah kok ngomong gitu sih, dia itu anak kita!" ucap Sari, tidak terima.
"Kenapa? Kamu masih membela anak bodoh dan kekanakan seperti dia?" Pram menaikkan sebelah alisnya, menatap wajah merah istrinya.
Sari tidak terima kalau anak dan menantunya di hina oleh ayahnya sendiri.
"Sekarang apa rencana kalian berdua, untuk melanjutkan hidup? Jangan bilang kalian akan menumpang pada lelaki tua ini! Aku tidak sudi menerima dan ikut terkena imbas dari perbuatan kalian berdua."
Pramono menatap sepasang suami istri di depannya.
Ya, Pramono tau kalau seminggu yang lalu kedua orang tua Mala, sudah marah besar dan menyuruh wanita itu untuk bercerai dengan Radit.
"Sudahlah, lebih baik Mas jangan pulang, kalau hanya untuk mengadili anak dan menantuku!" Sari masih berusaha untuk membela anak dan menantunya.
"Terserah kamu saja, aku tidak perduli. Tapi bila aku tau kalian mengusik kembali kehidupan anak perempuanku, aku tidak akan tinggal diam lagi!"
"Siapa anak perempuanmu, hah? kita cuma mempunyai satu anak, Mas."
"Siapa lagi kalau bukan Ayu, aku lebih suka mempunyai anak sepertinya daripada mereka." gumam Pram.
Kedua orang di depannya langsung memandang dirinya dengan alis bertaut dalam.
Ya, Pram sudah tau apa yang sudah dilakukan oleh istri dan juga menantunya itu pada Ayu.
"Kenapa? Kalian tidak terima, aku bandingkan dengan orang yang sudah kalian khianati hah?" tanya Pram.
"Aku juga kecewa sama kamu Sari. Kamu yang seharusnya menjadi orang yang berpikir dewasa dan menjadi penengah untuk mereka, malah ikut melakukan hal buruk pada Ayu,"
"Aku tidak pernah menyangka, kalau istri yang aku nikahi bisa melakukan semua itu,"
__ADS_1
Pram menggeleng miris, salah satu tangannya memijit pelipisnya, menahan rasa pening.
"Dulu kamu bukanlah orang seperti ini Sari, kenapa sekarang kamu berubah? Kenapa kamu tidak bisa membandingkan mana yang benar dan mana yang salah?!" tekan Pram.
Sari, wanita paruh baya itu, ikut menunduk dalam. Tidak berani melihat sorot mata kecewa yang terpancar jelas dari manik hitam suaminya.
"Aku menyesal, memiliki keluarga seperti kalian!" ucap Pram sebelum berjalan masuk ke dalam kamar.
Dua kali dia pulang. Namun, keduanya hanya untuk marah-marah kepada keluarganya. Tidak ada lagi ketenangan di dalam keluarga tempatnya kembali, rumahnya pun kini terasa sesak seperti tidak ada oksigen di dalamnya.
Hawa panas dari para penghuninya, membuat dia tidak nyaman berada di dalam rumah yang ia bangun dengan hasil jerih payahnya sendiri.
Ya, beberapa hari yang lalu, dia menerima paket, yang berisi beberapa lembar foto dan sebuah flash disk yang menunjukan video sang istri sedang menyuruh seorang lelaki untuk mencelakai Ayu.
Karena itu lah, dia memaksakan untuk pulang. Kalau hanya masalah Radit dan Mala, Dia tidak terlalu peduli. Toh semua itu adalah akibat dari perbuatan mereka sendiri.
Di ruang keluarga, Sari ikut memisahkan diri, dia melangkah menuju ruang belakang, dengan ponsel di tangannya.
"Kamu bilang suamiku tidak akan tau semua ini? Tapi sekarang kenapa dia mengetahui semuanya?" tanyanya pada seseorang yang ia hubungi.
Sejenak dia diam dan mendengarkan penjelasan dari seberang telepon.
"Sudahlah, aku sudah tidak mau lagi membantumu, kau urus saja sendiri keluargamu itu. Aku tidak peduli!" ucapnya sedikit meninggikan suaranya.
Namun, masih bisa dia kendalikan, sehingga tidak ada yang bisa mendengar suara percakapannya. Setelah itu Sari langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Di tempat lain, Ezra baru saja sampai di sebuah tempat, untuk menemui adiknya.
Sebuah rumah sederhana, lebih seperti rumah tua, yang ada di pinggiran kota. Tempat itu adalah tempat yang hanya mereka berdua yang tau. Bahkan Ansel saja tidak tau keberadaan tempat itu.
"Bang!" sapa Keenan saat melihat Ezra baru saja keluar dari mobil.
"Bagaimana apa kamu sudah tau siapa yang menguntit Nindi selama ini?"
"Aku belum yakin. Tapi aku ada sedikit informasi tentang laki-laki itu."
Mereka berdua berbincang sambil berjalan masuk ke dalam.
"Ini adalah berkas tentang orang itu, Tapi aku juga masih ragu, karena di sini muka mereka berubah sangat jauh."
"Lihatlah, ini fotonya yang dulu dan ini fotonya yang sekarang!"
Keenan terus menjelaskan sambil memperlihatkan beberapa foto di atas meja, juga berkas yang perlu kakaknya itu ketahui.
"Salah satu anak buah kita sudah berhasil memasang alat pelacak di dalam mobilnya, saat Kak Nindi mengalami ban kempes tadi pagi."
"Jadi kita hanya tinggal melihat apa saja yang kira-kira dia lakukan dan kemana saja dia pergi," jelas Keenan.
Ezra mendengar dan memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut sang adik, matanya fokus pada berkas yang ada di hadapannya. Pikirannya bercabang, menerka sebenarnya apa yang orang itu inginkan dari Ayu.
__ADS_1
"Tidak di sangka, wanita yang terlihat pendiam dan lembut, ternyata di kelilingi oleh bahaya yang selaku mengancamnya kapan saja," ceplos Keenan yang langsung mendapat tatapan tajam dari sang kakak.
"Ish, memang benar kan apa yang aku katakan? Kak Nindi itu seperti sebuah bunga di tengah-tengah padang kaktus. Bila sekali saja dia salah melangkah, maka dia akan langsung terkena duri yang ada di sekitarnya,"
Keenan terus saja berbicara, tanpa melihat raut wajah kesal sang kakak.
Walau begitu, di dalam hati, Ezra juga menyetujui apa yang di katakan oleh adiknya itu.
Ayu memang seperti sekuntum bunga yang hidup di tengah-tengah padang kaktus. Satu-satunya cara mendapatkannya, mau tidak mau dia harus masuk ke dalam padang kaktus itu, dan rela untuk terluka bahkan ikut tergores oleh duri yang ada di sekitar bunga itu.
Beberapa saat kemudian, kedua kakak beradik itu keluar, bersama-sama.
"Kita balapan, siapa yang sampai lebih dulu, berhak meminta satu permintaan?!" tantangan Keenan.
Mereka sudah sangat lama tidak beradu kecepatan di jalanan.
Ezra mengangguk, sebelum masuk ke dalam mobilnya.
"Siapa takut!" ucapnya dengan senyum menyebalkan.
Keenan langsung mengembangkan senyumnya, dan bergegas masuk ke dalam mobil.
Mereka berdua mulai mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan yang masih terlihat sedikit lengang karena saat ini waktu orang sedang bekerja.
Saling mendahului satu sama lain, seperti seorang pembalap profesional, sesekali terdengar teriakan dari dalam kabin mobil mereka.
Hobi yang sudah lama mereka tinggalkan itu, ternyata cukup membuat keduanya merasakan kesenangan dan melupakan masalah yang sedang mereka hadapi, barang sejenak.
Sebelum kembali pada pekerjaan mereka yang sesungguhnya. Ya, apa lagi kalau bukan bengkel yang dirintis oleh Ezra, walaupun ada dukungan dari sang Ayah.
Berawal dari hobi balapan yang di gemari keduanya, Ezra dan Keenan kemudian mulai menyukai modifikasi mobil, dan sang ayah yang mendukung semua keinginan kedua anaknya yang mempermudah kesuksesan bisnis Ezra saat ini.
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
Karma Radit masih berlangsung ya, hanya saja kita selip****kan di antara masalah Ayu dan juga pendekatan Ezra.
karena di sini, yang menjadi pemeran utama adalah Ayu ya, bukan yang lain.
Sampai sini paham semuanya, jadi bukan mengurus ke mafia kok, cuman aku ngasih sedikit teka-teki aja, biar gak membosankan, atau nangis melulu. 😁
Eh iya lupa, mau ngingetin nih, sudah haru selasa, gak ada yang mau kasih votenya gitu, aku liat kemaren masih sepi🤭🤭
Udah ah, acara cuap-cuap gak jelasnya, terima kasih yah yang masih setia baca dan kasih dukungan.🥰
Lope-lope sekebon buat kalian semua❤❤❤❤
__ADS_1