
...Happy Reading...
......................
Keenan menatap kesal sosok laki-laki yang kini sedang duduk santai di ruang tamunya.
"Pak," sapa orang itu yang tidak lain adalah Alvin.
"Ada apa kamu ke sini?" tanya Keenan sambil duduk di depan Alvin.
"Eum, sebenarnya ...." Alvin menjeda perataannya, sambil melirik ke arah Riska.
Keenan yang tau isyarat itu pun langsung mengalihkan pandangannya pada istrinya.
"Sayang, tolong ambilkan aku minum ya," pintanya.
Riska pun mengangguk, dia langsung pergi ke dapur untuk mengambilkan minum untuk suaminya, sedangkan Alvin memang sudah disediakan terlebih dulu oleh ibu.
"Ada apa? Kenapa kamu sampai datang ke sini, emang gak bisa telepon saja?" tanya Keenan lagi, setelah memastikan kalau Riska sudah menjauh darinya.
Dia masih saja menggerutu, karena akibat kedatangan Alvin acara dirinya dan Riska menjadi gagal.
"Ponsel, bapak, gak bisa dihubungi," ujar Alvin. Dia memang sudah mencoba menghubungi Keenan beberapa kali. Akan tetapi ponselnya selalu mati.
Keenan mengangguk, dia baru sadar kalau tadi sore memang ponselnya sudah kehabisan batrai.
"Sebenarnya begini, pak. Saya baru saja mendapat kabar dari kantor polisi, kalau Toni mencoba untuk bunuh diri di dalam sel," ujar Alvin.
Keenan melebarkan matanya, mendengar informasi dari asisten kakaknya itu.
"Apa aku gak salah dengar? Laki-laki brengsek itu mau bunuh diri?" tanya Keenan dengan suara tertahan.
"Iya, Pak," angguk Alvin.
Keenan kemudian menyandarkan punggungnya, pada sandaran kursi. Dia benar-benar tidak pernah menyangka kalau Toni bisa melakukan hal nekat seperti itu.
"Kenapa dia bisa melakukan itu semua?" tanya Keenan dengan kening berkerut dalam.
"Soal itu, memang sedang diselidiki oleh tim penyidik, Pak," jawab Alvin.
"Lalu, sekarang dia ada di mana?" tanya Keenan, kembali menatap wajah asisten dari kakaknya itu.
"Sedang di rawat di rumah sakit, Pak," jawab Alvin.
Keenan terdiam sebentar, dengan kerutan di kening tang semakin dalam, pikirannya terus berputar mencari jawaban dari setiap pertanyaan yang muncul di kepala.
"Perketat penjagaan di sekitar rumah sakit tempat laki-laki itu dirawat, jangan sampai ada yang lengah dan dia bisa memanfaatkan ini untuk melarikan diri," perintah Keenan, setelah berdiam cukup lama.
__ADS_1
"Baik, Pak. Saya juga sudah menyuruh salah satu anak buah kita, untuk mengawal proses pemeriksaan dan penyidikan dalam kasus ini," jawab Alvin.
"Heem, itu sudah sangat bagus, lanjutkan saja pekerjaan kamu dan laporkan padaku kalau ada perkembangan lagi," ujar Keenan.
"Baik, Pak." Alvin mengangguk sigap.
Pembicaraan itu pun terhenti ketika Alvin melihat Riska berjalan menghampiri mereka.
"Ini minumnya," ujar Riska sambil menaruh gelas berisi air putih di atas meja.
"Terima kasih, sayang," jawab Keenan, sambil tersenyum. Nada bicaranya pun sengaja dibuat lembut.
Riska tersenyum, dia pun pamit untuk bergabung bersama Ibu dan Rio di depan televisi.
Ya, walaupun ruangan mereka hanya disekat oleh pembatas berbahan kayu. Akan tetapi, suara Alvin dan Keenan yang cukup pelan saat berbicara, membuat ibu dan Rio tidak bisa mendengar jelas pembicaraan mereka.
Apalagi ditambahkan dengan suara televisi yang semakin menyadarkan suara dari dua laki-laki itu.
Cukup lama mereka berbincang sambil merangkai rencana ke depannya, akhirnya Alvin pamit pulang, setelah hampir satu jam dia berada di sana.
Keenan pun kembali ke dalam dan bergabung dengan keluarga sang istri, setelah mengantarkan Alvin ke depan pintu.
Dia melirik istrinya yang sedang berbaring santai dengan kepala direbahkan di pangkuan ibunya.
Mata dua orang wanita utk fokus pada layar televisi, yang sedang menampilkan adegan sinetron kesukaan ibu.
Ya, seperti para ibu-ibu pada umumnya, Riska dan ibunya juga senang sekali mengomentari semua yang diperlihatkan dalam cerita itu, hingga mereka akhirnya tampak seperti sedang asik sendiri.
"Geregetan Ibu sama yang jadi istrinya, masa suami ketahuan selingkuh dia diemin aja," ujar Ibu sambil menunjuk layar televisi di depannya, sedangkan tangan satunya lagi masih asik mengusap-usap kepala Riska.
"Aku juga, Bu. Kalau aku yang ada di sana, udah aku labrak tuh pelakor, aku siram pake kuah bakso yang udah aku kasih sambel sama saos, biar berasa sekalian!" imbuh Riska dengan menggebu-gebu.
"Nah iya, kalau perlu mulutnya yang suka godain laki orang itu dikasih sambel sedangkan, biar gak sembarangan lagi," sambung Ibu lagi.
Keenan yang baru saja duduk di samping Rio, bergidik ngeri mendengar umpatan para wanita di depannya itu.
Astaga, ternyata para perempuan kalau udah nonton televisi jadi pada sadis begitu ya?! batin Keenan menatap horor dua orang di depannya.
"Eh eh, ngapain tuh laki juga pake diam aja, bukannya belain istrinya, malah sok jadi korban lagi. Dasar laki-laki gak punya otak! Kalau aku di sana, biar aku bawa ke tukang jagal sekalian," umpat Riska lagi.
"Eh, inget bilangan amit-amit dulu. Kamu lagi hamil," ujar Ibu mengingatkan sambil beralih mengelus perut Riska.
"Ah iya, aku lupa, Bu. Habisnya tuh laki sama si pelakor bikin orang gergetan aja, istrinya juga lembek banget! Amit-amit, amit-amit," ujar Riska terus berucap sambil mengelus perutnya.
Rio yang sejak tadi hanya fokus pada ponselnya tiba-tiba melihat wajah Riska bingung, dia cukup tertarik dengan kata tukang jagal yang diucapkan oleh kakaknya itu.
"Ngapain suami orang mau dibawa ke tukang jagal, Kak? Mau suruh motong kambing?" tanya Rio.
__ADS_1
"Bukan, mau suruh tukang jagal sunatin, biar gak bisa nyari pelakor lagi," jawab enteng Riska.
Tanpa mereka sadari jawabannya itu, membuat Rio dan Keenan refleks langsung menutup inti tubuhnya, dengan tatapan melasnya.
Astaga, Kak Riska, kenapa hadi serem begini ya? batin Rio, sambil menangkup bagian bawah tubuhnya.
Ini istri aku bukan sih, kok bisa sadis begini? batin Keenan melirik melas sesuatu yang sejak tadi sudah merana di bawah sana.
Sudahlah gagal masuk, sekarang malah ngomongin sunat. Ya ampun, yang ada stres deh si jalu, batin Keenan.
"Kak, istri kakak omongannya sadis banget sih?" ujar Rio, berbisik pada Keenan.
"Heh, dia juga kakak kamu tau!" jawab Keenan kesal.
"Kakak gak di apa-apain kan sama Kak Riska?" tanya Rio lagi sambil melirik bagian bawah Keenan.
"Heh, jangan sembarangan kalau ngomong! Masih kecil, udah kepo aja urusan orang dewasa." Keenan langsung mengangkat kedua kakinya dan memeluknya untuk menghalangi si jalu dari lirikan mata Rio.
"Yee, itu tuh bukan kepo. Tapi, meminta edukasi," debat Rio sambil mengulum senyumnya.
"Edukasi, edukasi ... minta sana sama guru kamu, jangan sama aku," sewot Keenan.
"Yah, kalau sama guru mana bisa dapat penjelasan," ujar Rio pura-pura lesu.
"Terus dapetnya apaan?" tanya Keenan, sedikit mencondongkan tubuhnya pada Rio.
"Hukuman! Hahaha!"
Keenan dan Rio pun berseru sama-sama diiringi dengan tawanya.
Tentu saja itu semua membuat Riska dan ibu mengalihkan perhatiannya.
"Hukuman apa?" tanya Riska dengan wajah polos ya.
Seketika tawa Rio dan Keenan langsung berhenti, mereka saling pandang seakan saling suruh untuk menjawab pertanyaan Riska.
"Aku gak ikut-ikut. Tanya aja sama Kak Keenan," ujar Rio sambil beranjak berdiri dan secepatnya masuk ke dalam kamar.
Keenan menatap terkejut adik iparnya yang melarikan diri, dia kembali melihat wajah penuh tanya sang istri yang mendesak jawaban darinya.
Dasar adik ipar sialan! umpat Keenan dalam hati.
...🌿...
Gimana tuh Keenan ngejelasinnya😂
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung...