Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.191 Merawat


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Riska beranjak dari tempat tidur, saat sudah memastikan kalau Keenan telah tertidur lelap. Dia kembali ke dapur untuk menyiapkan sadang jahe dan sup rempah untuk suaminya yang sedang kurang enak badan.


Beberapa saat kemudian, Riska sudah nampak sibuk di dapur dengan segala peralatan masak dan bahan-bahan lainnya.


Sekitar satu jam kemudian, Riska sudah selesai dengan sup juga wedang jahe di atas nampan, dia membawanya masuk ke dalam kamar.


Tadi, dia sudah memberi tahu kepada Ayu kalau hari ini sepertinya dia tidak bisa masuk kerja, karena Keenan sedang sakit.


Bos sekaligus kakak iparnya itu, terdengar sedikit terkejut juga khawatir, saat dia menceritakan keadaan Keenan. Ayu juga sempat menitipkan Keenan kepadanya, dan berpesan untuk memberi tahu Ezra bila sampai siang suaminya itu belum juga membaik.


Berjalan menuju ke kamar dengan nampan di tangan, ia mendorong pintu dengan menggunakan punggung.


Menaruh nampan di atas nakas, lalu beralih melihat Keenan yang masih terlelap di balik selimut, dengan wajah yang terlihat masih pucat.


Semua rasa sedih juga kecewa yang tadi begitu terasa menyesakkan dada, seakan hilang entah ke mana, saat melihat kondisi suaminya itu sedang tidak baik-baik saja.


Sekarang ini yang menjadi fokus utamanya adalah kesehatan Keenan, dia ingin merawat dan menemani suaminya itu di saat-saat seperti ini.


"Mungkin ini adalah kesempatan pertama dan terakhir kalinya aku merawatnya. Karena sampai saat ini, aku masih belum tau, akan ke mana hubungan ini berjalan," gumamnya, menatap sendu wajah suaminya.


Menghembuskan napas lelah, sebelum akhirnya sedikit membungkukkan badan, demi membangunkan Keenan.


"Bang, bangun dulu ... Ayo makan, nanti baru tidur lagi," ujarnya sambil mengusap pundak suaminya.


Keenan tampak mengerjap, matanya memicing melihat wajah Riska. Tangannya melihat pelipis, menahan pening yang masih terasa.


Beringsut untuk bersandar di kepala ranjang dengan dibantu oleh Riska yang memosisikan banyak di belakang punggung Keenan, agar teras lebih nyaman.


"Mau makan dulu, atau minum wedang jahe aja?" tanya Riska, dia duduk di sisi ranjang, tepat di depan Keenana.


"Wedang jahe aja, sepertinya aku cuma masuk angin," jawab Keenan.


Riska mengangguk lalu mengambil cangkir berisi wedang jahe yang sudah ia siapkan sebelumnya.

__ADS_1


Keenan menangkup cangkir yang terasa hangat itu, menghirup dan menyeruput sedikit hingga rasa hangat itu, kini terasa menjalar di tenggorokan, kemudian turun sampai ke bagian perut.


"Sekarang makan, ya? Aku sudah buatin sup rempah, biar tubuh Abang teras alebih segar," tawar Riska.


Keenan menganggukkan kepala, membuat Riska langsung mengambil mangkuk sup, lalu mulai menyendokannya untuk Keenan.


Keenan menerima suapan demi suapan yang diberikan oleh abah istri, hatinya terasa menghangat mendapati perhatian dan perlakuan Riska yang begitu telaten dan lembut dalam merawatnya.


"Kamu sudah sarapan, Ris?" tanya Keenan, di sela menerima suapan dari Riska.


"Belum, aku nanti saja, setelah ini. Sekarang, Abang, dulu yang makan," jawab Riska.


"Maaf, ya. Karena aku, kamu jadi repot begini," sesal Keenan.


"Jangan bilang begitu, Bang. Ini memang sudah tugas aku, sebagai istri, Abang," ujar Riska, sambil menaruh kembali masuk yang sudah habis, lalu mengambil air minum untuk Keenan.


"Terima kasih." Keenan mengembalikan gelas yang masih tersisa setengah gelas air putih pada Riska.


Riska hanya mengangguk sambil tersenyum, dia membenarkan letak selimut, lalu kembali bertanya pada Keenan.


"Abang, perlu sesuatu lagi?"


"Tidak, Ris. Kamu sarapan dulu saja, aku mau istirahat," ujar Keenan.


Keenan menghembuskan napas kasar begitu melihat pintu tertutup rapat, dalam hati dia merasa sangat bersalah pada Riska karena belum menceritakan tentang Luna. Akan tetapi, di sisi lain, dia juga belum bisa melupakan dan menghilangkan bayangan Luna dari hatinya.


Entah apa yang harus dia lakukan setelah ini, Keenan pun belum tahu. Hatinya masih bimbang, keberanian untuk jujur kepada Riska terasa terkikis oleh ragu yang menyelimuti hatinya.


Sedangkan di luar kamar, Riska meletakkan nampan berisi gelas dan masuk kosong bekas Keenan, si atas meja makan. Duduk dengan tangan di tangkupkan di atas meja, lalu menaruh kepalanya di sana.


Hembusan napas kasar, berulang kali terdengar, dengan mata yang kembali memanas. Berulang kali dia berusaha menenangkan hatinya sendiri, yang masih saja terasa sakit.


"Kenapa harus sesakit ini? Padahal, seharusnya aku biasa saja, bukankah aku belum mencintainya?" gumam Riska.


"Tapi, kenapa sekarang aku merasa seperti sedang dikhianati oleh, dia. Padahal, mungkin sejak awal dia memang sudah mempunyai hubungan dengan perempuan itu, sebelum kami menikah," imbuhnya lagi.


"Kenapa dia gak bilang aja sih, kalau dia sudah mempunyai perempuan lain. Kalau aku tau dari dulu, mungkin akua kan lebih baik mundur, sebelum kita terlanjur dkeat seperti ini," gerutu Riska.


Matanya sudah memerah, semua perasaan kini bercampur di dalam dirinya, marah, kesal, sakit dan benci, semua itu membuat dia tak tau harus bagaimana.

__ADS_1


Ingin menangis, rasanya hanya akan sia-sia. Mau marah, dia tak tahu akan marah pada siapa. Membenci, Riska juga tak mengerti, kenapa harus membenci.


Beberapa saat, Riska terus berada di tempat yang sama, mengatur hati dan perasaan, sampai terasa lebih baik.


Dia kemudian, mulai memakan sarapannya, lalu mencuci bersih bekas dia dan Keenan makan. Dilanjutkan dengan membersihkan seluruh ruangan apartemen, hingga tanpa terasa hari sudah beranjak siang.


Riska baru menyelesaikan semua itu saat Keenan terlihat keluar dari kamar dan berjalan menuju sofa. Riska bisa melihat, kalau wajah suaminya itu, tidak lagi terlihat pucat.


"Abang, sudah mendingan?" tanya Riska, sambil menghampiri Keenan.


"Iya, aku sudah lebih baik. Terima kasih, Ris, sudah mau merawatku," ujar Keenan.


"Syukurlah kalau begitu. Abang, perlu sesuatu?" tanya Riska.


Keenan menggeleng, dia kemudian menepuk sofa di sampingnya, agar Riska duduk di sana. Keenan langsung merebahkan kepala di atas paha istrinya, yang membuat Riska sedikit terperanjat.


"Aku hanya ingin berada di samping kamu selamanya, jangan tinggalkan aku, ya," gumam Keenan, seperti sebuah permintaan.


Riska mengernyit, dia terdiam dengan perasaan bingung, karena sebelumnya dia mengira Keenan akan memutuskan untuk memilih slaah satu dia antara dirinya dan perempuan itu.


Namun, apa yang dia dengan barusan, membuat pikirannya kembali bertanya, apa yang dimaksud oleh suaminya itu.


'Jangan bilang, dia mau poligami? Tidak, aku tidak akan mau di duakan. Jangan harap!' gumam Riska dalam hati.


Selama ini, dia termasuk orang yang membenci poligami, menurutnya tidak akan ada perempuan yang akan benar-benar rela dan bahagia saat melihat suaminya bersama wanita lain, walaupun itu madunya sendiri, bila memang wanita itu benar-benar mencintai suaminya.


Jangankan seseorang yang kita cintai dan telah menjadi suami, barang yang kita sayangi saja, akan terasa berat bila harus kita pinjamkan atau berikan pada orang lain.


Riska sadar, imannya belum sekuat itu, untuk iklas membagi cinta atau suami pada wanita lain, jadi dia akan memilih mundur dan menghindari itu semua.


Apa lagi, dengan pengalaman rumah tangga Ayu yang pertama, dia bisa melihat dengan jelas, perubahan bos juga kakak iparnya itu, saat sudah mengetahui kalau Radit sudah menikah lagi, walaupun itu dengan sahabatnya sendiri.


Ya, walaupun dulu dia gak pernah mengerti masalah Ayu, akan tetapi, beberapa kali dia mendapati wajah sembab dan sikap Ayu yang lebih banyak melamun, membuatnya mengerti, setelah dia mengetahui bahwa pernikahan Ayu, kandas karena orang ketiga.


Itu semua semakin menambah kuat keyakinannya untuk tidak mau di madu, ataupun berbagi suami dengan siapa pun, nantinya.


Riska pun mulai berpikir untuk mencari tahu, siapa sebenarnya perempuan di dlam foto itu, agar dia bis amenenyukan sikap dan langkah dalam rumah tangganya untuk kedepannya.


...🌿...

__ADS_1


...🌿...


...Bersambung...


__ADS_2