
...Happy Reading...
...❤...
Pagi ini, di rumah Ayu sedang terjadi kepanikan, karena tuan rumah mereka menghilang. Bi Yati yang pertama kali mengetahui keadaan itu langsung menghubungi Ezra dan Ansel.
Keduanya langsung berangkat menuju rumah Ayu, dengan Ezra berusaha menghubungi penjaga yang bertugas di luar rumah wanita itu.
"Bagaimana bisa, Nindi bisa keluar rumah tanpa pengawasan kalian semua hah?!" teriak Ezra sambil semakin menambah kecepatan mobilnya.
Jalan yang masih terasa lengang, semakin membuat Ezra leluasa menancap gas mobilnya.
"Ma-maafkan kami, Tuan. Kami lengah," ucap salah satu anak buah Ezra.
"Dasar bodoh, mengawasi satu orang saja kalian semua tidak bisa!" tanpa sadar Ezra melupakan emosinya kepada para anak buahnya.
Di sisi lain, Ansel berlari menuruni tangga, setelah mendapat telepon dari Bi Yati.
"Ada apa, Mas?" tanya Elena yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan.
"Nindi gak ada di kamarnya!" jawabnya panik, menyambar kunci mobil di atas nakas, lalu berjalan keluar.
"Mungkin dia sedang jalan-jalan, Mas!" ucap Elena, mencoba berfikir positif.
Ansel menghentikan pergerakannya.
"Semoga saja yang kamu katakan ini benar, sayang. Aku pergi ke sana dulu."
Mengecup kening istrinya dengan pikiran tertuju kepada sang adik.
"Kalau ada apa-apa tolong kabari aku ya, Mas," ucap Elena.
Ansel menganggukan kepala, lalu masuk ke dalam mobil.
Sampai di depan rumah Ayu, ternyata Ezra sudah sampai lebih dulu. Dia sedang meminta penjelasan dari semua anak buahnya, tentang kepergian Ayu.
"Bagaimana?" tanya Ansel, langsung menghampiri sang sahabat.
"Kita bicara di dalam," ucap Ezra.
Ansel mengangguk, lalu berjalan bersama ke dalam rumah bersama Ezra.
"Kenapa kita ke sini?" tanya Ansel, saat mereka sudah berada di kamar milik Ayu.
Ezea menutup rapat pintu lalu menguncinya.
Ansel mengerutkan kening, melihat apa yang sahabatanya itu lakukan.
Ezra mengulurkan secarik kertas kepada Ansel, tanpa berkata apapun.
Ansel menatap bingung, tangannya terulur mengambil kertas berwarna biru pudar, dengan penuh tanya.
Ezra duduk di sofa yang terdapat di sana, tangannya memijit pangkal hidung, karena merasakan pening di kepalanya.
Tadi pagi, begitu sampai di rumah Ayu, dia langsung memeriksa kamar dan menemukan kertas itu, terselip di antara tumpukan kertas bergambar sketsa rancangan baju.
__ADS_1
Dirinya sangat terkejut dengan apa yang tertulis di sana. Ternyata selama ini Ayu menyembunyikan sesuatu dari mereka, dan itulah alasan wanita itu pergi dari rumah.
Ansel menjatuhkan tubuhnya di samping Ezra, setelah ia selesai membaca semua barisan kata yang di tulis oleh sang adik.
Hatinya bergemuruh, merasakan sakit dan juga kecewa pada dirinya sendiri.
"Kenapa kita bisa sampai kecolongan?" gumam Ansel.
"Entah, dan parahnya lagi, kita tidak menyadari semua itu," jawab Ezra dengan rasa kecewa di dalam dirinya.
Bukan kecewa pada orang lain, melainkan kecewa pada dirinya sendiri.
Menghembuskan nafas kasar, berharap rasa yang mengganjal di dalam dada segera tiada.
"Ternyata mereka lebih picik dari yang kita pikirkan." Ezra menggeleng miris, memikirkan lawan yang sekarang tengah mereka hadapi.
"Lebih baik kita pergi ke butik saja, dan tetap bersikap sewajarnya," ucap Ezra, setelah beberapa saat mereka berdua terdiam.
Ansel mengangguk, menyetujui apa yang di katakan oleh sahabatnya.
Keduanya berdiri, berjalan keluar dengan wajah panik dan langkah lebar.
Sampai di butik, kedua lelaki itu langsung menuju ke ruangan Ayu. Di sana mereka mencari sesuatu yang akan membawa mereka pada titik terang yang lain.
"Di sini!" ucap Ansel, dari kamar pribadai milik sang adik.
Ezra yang sedang mencari di ruang kerja, langsung berlari menghampiri sahabatnya.
"Ini, aku menemukannya di sana?" tunjuk Ansel pada kolong tempat tidur.
Sebuah kardus berwarna coklat, dengan banyak kertas yang berserakan dan terlihat bekas di remas, karena keadaannya yang sudah tidak beraturan.
Tulisan itu bukan hanya di tulis menggunakan pulpen atau pensil, melainkan ada juga yang di tuliskan menggunakan darah.
"Brengsek, dasar manusia sialan!" umpat Ansel meremas kertas di tangannya.
...❤...
Di tempat lain, Ayu berjalan keluar dari rumahnya sewanya, dengan secangkir teh kesukaannya yang terlihat masih mengepulkan asap, tanda kalau masih sangat panas.
Udara dingin dengan angin semilir langsung menerpa, saat ia baru saja membuka pintu.
Suasana pagi yang masih sedikit gelap, dengan bulir embun terlihat menghiasi daun-daun di depan rumah.
Kambut tipis masih terlihat, mengaburkan mata dari pandangan.
Wanita itu duduk sendiri, di depan rumah. Sesekali ia terlihat menjawab pertanyaan atau sekedar sapaan dari para warga yang melintas, hendak pergi melakukan aktifitas harian mereka.
Ingatannya, kembali pada beberapa bulan yang lalu, di saat ia pertama kalinya mendapat paket dari kurir ojek on line.
Flash back ...
"Mba, ini ada paket buat, Mba," ucap Riska, memberikan sebuah kotak kecil berwarna coklat tua.
"Dari siapa, Ris?" Ayu menerima kotak itu, dengan kening berkerut dalam.
"Gak tau, Mba. Tadi ada ojol yang nganterin." jawab Riska mengedikkan kedua bahunya.
__ADS_1
"Ya udah, makasih ya, Ris," ucap Ayu, merasa tidak ada yang aneh.
Namun, betapa terkejutnya dia, ketika membuka isi di dalam kotak itu.
"Asatagfirullah! Apa ini?!" sedikit berteriak, dengan tangan yang gemetar.
Sebuah foto dirinya, Ansel dan Bian yang sudah terkoyak dengan secarik kertas di atasnya.
Tinggalkan mereka atau nasibnya akan sama seperti foto yang kamu terima.
Jantungnya begemuruh, dengan perasaan tak menentu.
'Apa ini? Kenapa mereka mengirimkan ini kepadanku?' batin Ayu, berkecamuk.
Setelah hari itu, hampir setiap hari Ayu menerima paket misterius yang berisi ancaman dan teror lainnya.
Bahkan mereka sampai mengirimkan bukti kalau ponsel dan semua CCTV di rumahnya di sadap oleh pelaku.
Telepon misterius pun selalu ia dapatkan, sampai beberapa kali.
Awalnya Ayu hanya bisa mengikuti semua yang di perintahkan oleh para pengancam itu. Tetapi, lama-lama ia merasa jengah juga, hingga diam-diam dia menyelidiki siapa mereka dan apa saja yang mereka lakukan kepadanya.
Hingga beberapa waktu lalu ia menemukan bahwa salah satu anak buah Ezra ada yang berkhianat dan bekerja dengan orang yang mengirimkan teror kepadanya.
Dia tau kalau ruangan yang tak terjangkau oleh CCTV hanya kamarnya saja, maka dari itu ia mencoba menyusun rencana untuk bisa lolos dari mereka, sekaligus bisa mengatakan apa yang terjadi kepada Ezra dan Ansel.
Sampai beberapa hari yang lalu, ia menyusun rencana kepergiannya dari rumah, setelah dia bisa mengambil alih sistem CCTV.
Wanita itu mempelajari semua itu, dengan modal internet dan pengalaman masa lalu, ketika sang ibu baru saja meninggal.
Seperti anak-anak lain yang kehilangan pengawasan dan panutan di dalam dirinya, Ayu juga pernah terjerumus pada kehidupan kelam bersama anak-anak jalanan.
Namun, semua itu hanya berjalan beberapa tahun, karena Andrea dan Galang mengetahui pergaulannya, dan memutuskan untuk mengawasinya dengan cukup ketat.
Flash back off
"Lagi ngapain, Neng?"
Suara sapaan dari warga yang melintas, menyadarkan Ayu dari lamunan panjangnya.
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
Ayo siapa kemarin yang marah-marah, bahkan ada yang sampai nyerah baca ya🤭🤭
Sampai sini dulu ya, besok baru kita sambung lagi😂
Terima kasih yang masih mau baca, dan bersabar menghadapi cerita gak jelas ini🤭 Lope-lope buat kalian semua❤❤❤😘😘
Sampai jumpa di bab berikutnya👋👋
Oh iya lupa, mau kasih tau akun Ig dan Fb aku, siapa tau ada yang mau mampir gitu🤭
Kalau Fb persis nama aku, kalau IG nama aku di ulang dua kali, tanpa spasi.
__ADS_1
Udah ada yang mampir kah kesana?🤭🤭