
...Happy Reading...
...โค...
"Nin, Nindi!" Ezra berusaha menghentikan langkah cepat Ayu.
"Aunty!" Naura ikut memanggil Ayu.
Namun, sepertinya Ayu sama sekali tidak menghiraukan mereka berdua.
Berjalan dengan cepat, sambil sedikit menundukkan kepalanya, agar tak terlihat air mata yang kembali mengalir.
Sampai di basement, Ayu langsung membuka pintu mobil dan bersiap untuk masuk.
Brak ....
Ezra menutup kembali pintu mobil milik Ayu, menggunakan kakinya.
Ayu menatap tajam lelaki yang telah menghalangi jalannya.
Ezra menoleh pada Naura.
"Sayang, kamu masuk ke mobil Papah dulu ya, Papah mau bicara sama Aunty dulu," lembut Ezra, menurunkan anak perempuannya itu.
Seakan mengerti, Naura mengangguk.
"Anak pintar!" Ezra tersenyum sambil memberikan ciuman di pipi sang anak.
Dirinya masih berjongkok sambil menahan pintu mobil Ayu, dengan punggungnya.
Untung saja mobil mereka berdua terparkir di satu area, jadi tidak perlu mengantarkan Naura dulu.
Ayu memalingkan wajahnya, saat Ezra kembali berdiri di depannya.
"Biar aku antar kamu ya, kondisi kamu sedang tidak stabil sekarang. Tidak baik menyetir dalam keadaan seperti ini."
Ezra berbicara dengan sangat lembut, tatapannya pun terlihat sangat khawatir.
"Awas, aku masih bisa sendiri!" ucap ketus Ayu.
"Ndi, untuk saat ini aku mohon dengerin aku," debat Ezra.
"Aku bilang awas ... ya awas!" Ayu berusah menggeser badan Ezra.
Pikirannya benar-benar sedang kalut saat ini. Ayu hanya ingin menyendiri, melampiaskan semua emosi yang terasa sangat menyesakkan dada.
"Awas ... awas ...." Ayu terus berusah mendorong Ezra.
Ezra diam, memperhatikan wanita yang terlihat sangat hancur.
"Aku mohon, awas. Aku mau masuk." Ayu memandang sendu wajah Ezra.
Terus meracau, dengan tatapan yang semakin sayu.
Semua ini lebih menyakitkan di bandingkan dengan penghianatan suami dan sahabatnya dulu.
Isakan terdengar begitu memilukan dari mulut yang perlahan berubah memucat.
Ayu menangkup wajah menggunakan kedua tangannya. Tangisnya kembali pecah, tak tertahan.
Berjongkok di hadapan Ezra, tubuhnya terasa lemas, dan lelah.
__ADS_1
Ezra ikut menurunkan tubuhnya, hatinya ikut merasa sakit, melihat wanita yang ia sukai begitu tak berdaya.
Andai saja tak ada penghalang di antara mereka, ia ingin membawa tubuh bergetar itu pada dekapannya.
Memberikan ketenangan dan kehangatan sosok keluarga, yang saat ini sangat di butuhkan oleh Ayu.
Ezra mengepalkan kedua tangannya, menahan rasa sakit yang juga ia rasakan. Bahkan urat di lehernya sampai menonjol, menunjukan betapa dirinya juga tidak sedang baik-baik saja.
Ezra berusaha untuk tidak lepas kendali. Dia sadar, di antara mereka berdua masih ada peraturan yang harus mereka patuhi.
Ya, mereka adalah dua orang yang sangat berbeda dan masih di haramkan untuk sekedar bersentuhan.
"Aku mohon, untuk kali ini dengarkan aku. Ikut bersamaku!" bukan meminta persetujuan, namun itu adalah sebuah perintah dari seorang Ezra.
"Aku janji, akan membawa kamu kemana pun kamu mau." Ezra kembali berusaha membujuk wanita di hadapannya.
Ayu mengangkat wajahnya, melihat kedua mata lelaki di depannya, seakan ingin meyakinkan atas ucapan Ezra barusan.
Seakan tau, apa yang Ayu butuhkan, Ezra mengangguk pasti, tidak ada keraguan di dalam wajahnya.
Ezra memang lengan Ayu yang masih terhalang oleh bajunya. Membantu wanita itu untuk berdiri.
Mengehmbuskan napas lega, saat ia berhasil membawa Ayu ke dalam mobil miliknya.
Di dalam sana, Naura ternyata sudah tertidur pulas.
Ayu duduk di jok belakang, menjadikan pahanya untuk bantalan Naura.
Ezra berjalan menuju pintu kemudi, setelah memastikan kedua perempuan yang sudah mengisi hatinya itu, berada di dalam posisi yang nyaman.
Tak apa, saat ini ia berperan menjadi seorang sopir pribadi. Yang terpenting hatinya tenang karena keberadaan Ayu di sisinya.
Dia tau pasti kebiasaan Ayu, saat mengemudi di dalam kesedihan ataupun emosi.
Sekitar tiga puluh menit berkendara, Ezra akhirnya tak kuat juga, untuk tidak bertanya.
Melihat Ayu, yang hanya memandang ke luar dengan tatapan kosong.
Tangannya terus mengusap lembut kepala Naura, membuat anak itu semakin terlelap di dalam tidurnya.
"Mau pulang ke rumah, atau mau aku antarkan ke mana, hem?" Ezra melirik Ayu dari kaca spion dalam.
Ayu terlihat melirik dirinya dengan ujung matanya.
"Antarkan aku ke mana saja, asal jangan ke rumah," jawab Ayu, lirih.
Ezra menganggukan kepalanya.
"Bagaimana kalau ke vila aku saja, di sana kamu bisa menenangkan diri selama kamu mau," tawar Ezra.
Ayu memandang Ezra tajam, seakan menunduhnya macam-macam.
"Aku tidak akan macam-macam! Aku hanya akan mengantarkan kamu, setelah itu aku pulang." sangkal Ezra.
Wanita itu terlihat terdiam sebentar, sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya samar.
Ezra tersenyum, lalu mulai mengemudikan mobilnya menuju salah satu vila yang berada di daerah pedesaan.
...
#Gambar hanya untuk pemanis.
__ADS_1
Hari sudah mulai petang saat mereka sampai di sebuah vila berbahan kayu, dengan warna dominan putih.
Sangat mencolok dan berbeda dengan suasana di sekitarnya yang penuh dengan tumbuhan dan pohon besar.
Jarak antar rumah, masih tergolong jauh, jadi kita tidak akan terganggu dengan warga lainnya.
Ezra membukakan pintu untuk Ayu, lalu mengambil Naura yang masih saja terlelap.
Suasana yang masih sejuk dan asri langsung menyambut Ayu saat keluar dari dalam mobil.
"Aunty" suara parau gadis kecil di dalam gendongan Ezra mengalihkan perhatian Ayu.
"Ya, Aunty ada di sini, sayang," ucap lembut Ayu, mengusap kepala Naura.
Dua orang paruh baya terlihat keluar dari dalam vila dan menyambut mereka.
"Den," sapa mereka berdua pada Ezra.
Tadi di jalan, Ezra memang sudah memberi kabar pada orang yang menjaga vilanya ini.
Mereka tidak menginap di sana bila tidak ada yang datang, keduanya hanya akan datang untuk membersihkan setiap hari.
"Ayo, masuk!" Ezra menoleh pada Ayu, yang masih saja sibuk memperhatikan suasana sekitar.
Ayu mengangguk lalu mengikuti Ezra masuk.
"Pah, kita kenapa ke sini?" Naura yang masih saja beralasan di dalam pangkuan Ezra bertanya dengan nada suara lemas.
Vila ini memang baru beberapa bulan lalu Ezra beli, karena itu Naura belum tau tempat ini.
"Iya, kita nganterin Aunty ke sini," jawab Ezra.
Saat ini mereka bertiga, duduk di ruang keluarga. Setelah Ezra memperkenalkan Ayu pada Mang Surip dan Bi Een.
Keduanya masih kerabat dekat Mang ujang dan Bi Yati.
"Semua kamar ada di lantai atas, kamu bisa memilih salah satu di sana. Belum ada yang datang ke sini, jadi kamu masih bebas memilih." Ezra lembut wajah wanita di hadapannya.
Wanita dengan wajah yang terlihat berantakan itu mengangguk lemah.
"Naura, mandi dulu yuk, nanti kalau pulang udah bersih," ajak Ayu.
Anak cantik itu mengangguk patuh, menghampiri Ayu yang ada di depannya.
"Aku ke atas dulu," pamit Ayu berdiri dengan menggandeng tangan Naura.
"Hem," jawab Ezra, merebahkan badannya pada sofa.
Memandang punggung kedua permpuan yang telah mengisi hatinya.
'Istirhat sebentar sambil nunggu makan malam, sepertinya tidak terlalu buruk' pikirnya mulai menutupi matanya.
Empat jam berkendara, membuat dirinya cukup merasa lelah. Di tambah dengan drama tadi siang, yang cukup menguras tenaga.
Tak menunggu lama, lelaki itu pun sudah terlelap dalam tidur nya.
...๐ฟ...
...๐ฟ...
...Bersambung...
**Jangan lupa tinggalkan jejak...๐๐ฅโญ๐นโ
__ADS_1
Terima kasih sudah selalu mendukung saya...โคโค**