Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.282 Mual


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


"Pah, mama ke mana kok gak pulang?" tanya salah satu anaknya Alana, saat mereka sarapan pagi bersama.


Aryo yang baru saja hendak menyeruput kopi di tangannya pun menghentikan gerakannya. Dia menatap kedua anaknya dengan mata bergetar, kemudian melihat mertuanya bergantian, seolah meminta tolong untuk menjawab pertanyaan itu.


"Sayang, mama sedang ada perlu dengan temannya, makanya dia gak pulang," ujar ibu Alana, yang sengaja menginap di rumah Aryo, untuk membantu mengurus kedua cucu mereka.


"Ya sudah kalau gitu, Papah, telepon mama, aku mau ngomong sama mama," saran anak yang lainnya, menatap penuh binar wajah Aryo.


"Gak bisa, sayang. Di sana tidak bisa menggunakan ponsel. Nanti saja kalau mama telepon, Papa akan kasih tau kalian ya." Aryo berusaha merayu kedua anaknya itu.


.


.


Seperti hari sebelumnya, Aryo terlebih dulu mengunjungi sang istri di kantor polisi, sebelum berangkat ke kantor.


"Ini, ibu membawakan kamu makanan," ujar Aryo, sambil menyimpan kotak bekal di atas meja.


Alana meneteskan air matanya, sambil menerima kotak bekal itu. Hatinya terasa sesak dan sakit, melihat kondisinya saat ini.


"Bagaimana kabar anak-anak?" tanya Alana, dengan kepala menunduk dalam.


Aryo membuang muka, rasanya begitu menyakitkan, melihat wanita yang sangat dia cintai menderita seperti sekarang ini. Sedangkan dirinya tidak bisa melakukan apa pun, untuk membebaskan Alana.


"Mereka baik, kamu tidak usah menghawatirkannya," jawab Aryo.


Alana tersenyum miris, mendengar jawaban dari suaminya, dia menatap wajah suaminya yang terlihat kacau.


Alana tau, walaupun Aryo terlihat tegar di depannya, itu semua Aryo lakukan hanya agar, dirinya tidak terlalu memikirkan tentang sang suami dan anak-anaknya.


"Syukulah, aku tidak akan khawatir lagi," ujar Alana, tersenyum samar.


Aryo hanya mengangguk-anggukan kepalanya, sambil menatap dalam wajah sang istri.


"Bagaimana tentang pertemuanku dengan Keenan dan Riska, apa kamu sudah berhasil menghubungi mereka?" tanya Alana lagi.


Alana sadar kalau saat ini hanya Keenan dan Riska yang bisa membebaskannya dari tempat yang sangat menyedihkan ini.


Aryo menggeleng samar, dia menatap nanar mata berkaca-kaca istrinya.


"Aku sudah berhasil menghubungi asisten pribadi Ezra tadi malam. Tapi, dia belum memberi kabar lagi sampai sekarang," jawab lemas Aryo.


Beberapa saat kemudian Aryo sudah berjalan ke luar dari kantor polisi, tempat istrinya di tahan. Baru saja dia hendak membuka pintu mobil, ketika dering ponselnya terdengar.


"Halo, Pak Alvin," sapa Aryo, sambil menempelkan ponselnya di telinga.


"Selamat pagi, Pak Aryo. Saya sudah memberitahukan pesan, Anda, pada Pak Keenan."

__ADS_1


"Benarkah? Apa dia setuju untuk bertemu denganku dan istriku?" tanya Aryo, dengan penuh harap.


"Pak Keenan setuju untuk bertemu dengan, Anda. Tapi, dia meminta waktu sampai hasil pemeriksaan istrinya ke luar."


Aryo sedikit kecewa saat mendengar jawaban dari Alvin, walaupun dia juga menaruh harapan besar, kalau saja hasil dari pemeriksaan Riska baik-baik saja. Agar Alana bisa mendapatkan maaf, atau keringanan dalam menjalani hukuman.


"Baiklah, aku akan menunggu sampai mereka mau menemui kami. Tolong kabari aku, kalau Keenan dan Riska sudah mau bertemu," ujar Aryo.


"Tentu saja, nanti pasti saya kabari lagi."


Sambungan telepon pun tertutup begitu saja.


.


.


Keenan baru saja ke luar dari ruangan sang istri, setelah melihat Riska yang tertidur. Dia menghubungi Alvin untuk memberi kabar pertemuannya dengan Aryo.


"Vin, aku ingin bertemu dengan Aryo setelah Riska pulang dari rumah sakit," ujar Keenan.


"Baik, Pak. Akan segera saya sampaikan."


Keenan kembali menutup sambungan teleponnya, setelah mereka sedikit berbincang terlebih dulu.


.


.


Perutnya terasa bergejolak, seakan tidak ingin berhenti untuk mengeluarkan isi di dalamnya. Padahal dia bahkan belum sempat memakan sarapan paginya.


Keenan ikut menemani istrinya, dia memijat tengkuk Riska, berusaha meringankan rasa mual yang Riska derita, sedangkan tangan satunya lagi, menahan rambut istrinya agar tidak terkena muntah.


Keenan meringis, melihat penderitaan istrinya pada pagi hari ini. Dia mengambil handuk kecil dan mengelap bibir juga wajah istrinya yang basah terkena air.


"Sudah?" tanya Keenan, menatap prihatin wajah istrinya.


Riska mengangguk, dia sudah sangat lemas, hingga rasanya begitu malas hanya untuk menjawab pertanyaan dari suaminya.


Keenan merengkuh tubuh Riska, dia menggendongnya ala bridal syle dan membawanya ke luar dari kamar mandi.


Riska menyandarkan kepalanya di dada bidang milik suaminya, tubuhnya benar-benar lemas pagi ini.


Entah mengapa, rasa mual itu semakin hari semakin menjadi, padahal awalnya dia hanya sering terasa mual di saat-saat tertentu saja.


"Kapan sih aku dibolehin pulang? Aku gak suka ada di sini," keluh Riska.


"Nanti aku tanyain sama dokter ya, sekarang kamu istirahat dulu aja," ujar Keenan sambil hendak membaringkan tubuh istrinya.


"Aku mau pulang, aku gak suka di sini," rengek Riska lagi, malah mengalungkan tangannya di leher sang saumi, hingga membuat Keenan tidak bisa melepaskan istrinya.


Dia merasa nyaman dengan aroma tubuh Keenan, hingga dia enggan untuk melepaskannya.

__ADS_1


"Sayang, lepas dulu, sebentar lagi waktunya dokter periksa kamu," ujar Keenan.


Riska pun langsung melepaskan tubuh suaminya, dia tidak mau kalau sampai kejadian dengan Alvin kemarin, akan terulang lagi. Itu benar-benar terasa memalukan.


Keenan tersenyum melihat wajah panik istrinya. Dia akhirnya memilih untuk duduk di kursi samping barnkar Riska.


"Masih mual?" tanya Keenan, sambil mengusap-usap puncak kepala istrinya.


"Sedikit, tapi sekarang aku merasa lemas," jawa Riska, mengangguk samar.


"Maaf ya, karena aku, kamu harus seperti ini," ujar Keenan, penuh rasa bersalah.


"Tidak usah meminta maaf, ini bukan salah, Abang. Aku juga senang, bisa mengandung." Riska menggeleng samar, sambil mengambil tangan Keenan di kepalanya.


Dia membawa tangan suaminya itu ke atas perutnya, dan menggerakkannya perlahan.


"Begini sepertinya lebih nyaman," imbuh Riska sambil memejamkan matanya.


Keenan tersenyum, dia menatap wajah cantik istrinya dengan penuh rasa cinta, kemudian beralih pada perut yang sedang dia usap perlahan.


Sehat dan berkembang kamu di sana ya, Nak. Kami menunggu saat-saat bertemu denganmu, batin Keenan.


Pagi itu akhirnya Riska tertidur kembali setelah dokter memeriksanya, dia bahkan hanya makan beberapa suap sarapannya, di tambah dengan setengah gelas susu hamil.


Keenan pun tidak bisa memaksa, dia juga takut kalau istrinya akan kembali mengalami muntah-muntah seperti beberapa saat yang lalu.


.


.


Siang hari, kini Keenan sedang menemani Riska untuk makan siang, di ruang rawat inapnya.


"Udah, Bang. Aku kenyang," ujar Riska sambil menahan sendok di tangan suaminya.


"Ini baru setengahnya, sayang. Masa kamu udah kenyang aja? Makan sedikit lagi, ya?" ujar Keenan, sambil terus membujuk istrinya.


Riska menggelengkan kepala, menolak permintaan suaminya.


"Aku udah kenyang, Bang. Nanti kalau malah ke luar lagi bagaimana?" ujar Riska, sambil menggelengkan kepalanya.


"Tapi, tadi pagi kamu makan hanya sedikit, sekarang juga gak habis. Ayo sedikit lagi." Keenan masih berusaha membujuk istrinya.


"Gak mau, Bang. Gak, heuk!" Riska menutup mulutnya saat rasa bergejolak kembali mengganggu perutnya.


"Oke, oke, aku gak akan maksa lagi. Iya, gak apa-apa, sedikit-sedikit aja makannya," pasrah Keenan, akhirnya menaruh lagi piring di atas meja.


"Ini, minum dulu." Keenan membantu istrinya untuk minum air hangat, agar perutnya terasa lebih nyaman.


...🌿...


...🌿...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2