Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.42 Yang terjadi


__ADS_3


...Happy Reading ...


...❤...


Ayu termenung, dengan berbagai pikiran yang berkecamuk seakan menyiksa batinnya.


Ingatan, tentang pembicaraannya bersama dengan Ansel dan Elena tadi sore, sudah membuat dirinya merasa bimbang, dengan kepercayaannya selama ini.


Hati kecilnya seakan ragu dengan kebenciannya kepada sang Kakak.


Namun, semua itu, terhalang oleh rasa ego dan kepercayaan yang sudah terlalu lama terbentuk.


Saat ini Ayu baru saja sampai di teras rumahnya.


Tubuhnya terduduk lemas di belakang pintu.


Bulir air mata mulai menetes, dari pelupuk mata indahnya.


Menelungkupkan wajah di sela-sela lutut yang ia peluk. Ayu mulai terisak dengan perasaan asing, yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Flash back...


"Tolong dengar dulu penjelasan dari Mas Ansel," ucap Elena, menahan gerak Ayu, yang ingin berdiri.


Ayu melihat Elena dengan kening berkerut dalam, dan mata yang sudah merah.


Dirinya seolah sedang menuduh wanita cantik di hadapannya itu.


"Ayu, aku mohon," ujar Elena lagi.


Ayu akhirnya mengalah, dan kembali duduk dengan tenang, walau pandangannya tak pernah fokus pada satu titik.


Tangannya pun, bergerak gelisah, dengan memilin ujung kerudung yang ia kenakan.


Elena memberikan isyarat kepada Ansel untuk melanjutkan langkahnya, dan menghampiri sang Adik.


"Nindi, Kakak minta maaf atas semua waktu yang telah hilang, selama ini. Tetapi, sedetik pun ... Kakak tidak pernah melupakan kamu ... Adik, Kakak yang paling Kakak sayang." Ansel berjongkok di depan Ayu, memandang wajah cantik sang adik dengan penuh penyesalan.


Ayu memalingkan wajahnya. Tak sanggup dirinya melihat wajah kacau sang kakak, seberapa besar Ayu membenci sang kakak, hati kecilnya tak bisa berbohong.


Di sana, di dalam ruang hati yang paling dalam, masih ada rasa sayang dan rindu yang semakin lama, semakin besar.


Namun, semua itu tertutup, oleh rasa sakit dan kecewa yang tumbuh selama bertahun-tahun lamanya.


"Kakak tidak pernah meninggalkan kamu, Dek. Kakak pergi bukan karena keinginan Kakak. Kakak di tinggalkan oleh Ibu di rumah orang tua Ayah," jelas Ansel, memandang lekat wajah Ayu yang dengan cepat memandang lekat ke arahnya.


Tatapannya menunjukan kemarahan dan rasa tak percaya, mata indahnya sudah penuh dengan kaca, yang sudah bersiap untuk pecah.


Tangan Ansel bergerak menjangkau tangan Ayu, menggenggamnya erat. Namun sangat lembut dan penuh kasih sayang.

__ADS_1


Ayu tak melawan, namun juga tak membalas genggaman sang kakak.


Ingin sekali Ayu sekarang, meluapkan rasa marah dan tak terima yang menyesakkan dadanya. Tetapi, ia teringat perkataan Galang, beberapa saat yang lalu.


"Biarkan Kakak kamu memberikan penjelasan dulu, apa yang terjadi pada keluarga kalian beberapa tahun lalu. Jangan sampai nanti, kamu menyesal karena rasa kecewa kamu ini ... Setelah itu, baru kamu boleh memutuskan, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya." Perkataan itu, selalu terngiang di pikiran Ayu saat ini.


Menguatkan dirinya, untuk terus diam dan mendengarkan setiap kata yang terlontar dari mulut sang kakak.


"Kakak gak tau, kenapa Ibu meninggalkan Kakak di sana. Tetapi yang aku tau, beberapa hari kemudian aku di bawa ke sebuah rumah sakit, dan di sana Kakak melihat Ayah telah terbaring lemah dengan berbagai alat yang menempel pada tubuhnya," ucap Ansel dengan suara sedikit bergetar.


Ayu merasakan genggaman di tangannya bertambah semakin kuat, hingga sedikit meremas dan menimbulkan rasa sakit.


Melihat semua itu, Elena maju mendekati kedua saudara itu.


"Tenang, Mas," ucapnya mengusap perlahan punggung Ansel yang sedikit bergetar.


Ansel harus bersusah payah, mengingat kembali masa itu, masa yang paling berat di dalam hidupnya. Dimana dia harus berkorban perasaan demi menyelamatkan hidup sang Ayah.


Dia harus rela di tekan oleh kedua orang tua sang ayah, yang selalu menekan dirinya untuk menuruti semua kemauan mereka, agar dana perawatan ayahnya tidak di hentikan.


Dia juga harus rela, selalu di ikuti dan di kawal oleh bodyguard setiap saat.


Sehingga dia tak mempunyai sedikitpun celah untuk kabur, dari pengawasan keluarga gila ambisi itu.


"Maaf..." Ansel melepaskan genggaman tangannya, saat sudah tersadar dari semua lamuanan tentang masa lalunya.


Ayu merasakan semua itu, dia menatap lekat wajah gugup sang kakak, hatinya sedikit berdenyut dengan semua penjelasan lelaki di hadapannya.


Dengan cepat wanita itu menghapus air mata di pipinya, dan kembali menatap bergantian Ansel dan Elena.


"Tapi, kenapa setelah beberapa kali kita bertemu, kamu tak juga mengenali aku?" tanya Ayu, dengan pandangan penuh selidik.


Ansel memandang penuh wajah sendu sang adik, hatinya terasa sakit saat mendengar Ayu belum juga memanggilnya kakak.


"Kakak mengenali kamu, Dek. Tetapi kakak juga butuh kepastian dulu, sebelum bertanya padamu," jelas Ansel.


"Lalu, kenapa dia juga tidak mengenaliku?" tanya Ayu lagi.


"Ayah mengalami cedera otak, itu menyebabkan ingatannya hilang sebagian, itu sebabnya dia enggak bisa mengenali kamu, karena ... "


"Karena apa?" tanya Ayu tanpa sadar.


"I-itu ... ka-karena ... ingatannya hanya sampai setahun sebelum kamu di lahirkan"


Ayu menutup mulutnya dengan mata yang melebar, air mata yang sejak tadi berusaha ia tahan, kini sudah mengalir deras di pipinya.


"Jadi, maksudnya ... dia tidak pernah tau kalau aku ada?" tanya Ayu dengan suara bergetar, menahan rasa sakit yang kian menusuk dada.


Ansel mengangguk lemas, itu semua memang benar. Selama ini keluarga itu sudah memberikan kebohongan kepada sang ayah, dan dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.


Bahkan mereka tega, mengatakan kalau ibunya telah meninggalakn dirinya dan sang ayah, saat sang ayah masih di rawat di rumah sakit.

__ADS_1


Beberapa kali Ansel berusaha untuk memberi tahu ayahnya yang sebenarnya. Tetapi, semua itu selalu di gagalkan oleh mereka.


Puncaknya, dia harus di pindahkan ke luar negri, dan bersekolah di sana, seorang diri.


Di sanalah dia pertama kalinya bertemu dengan Ansel dan keluarganya.


Hingga setahun kemudian, dia mendengar sang ayah telah menikah lagi dengan wanita pilihan keluarganya.


Lagi-lagi Ansel terpuruk, dan di sana hanya ada Ezra dan keluarganya yang selalu memberikan dukungan dan semangat kepada dirinya.


"Kenapa dia bisa seperti itu?" Ayu masih mencoba untuk kuat dalam mendengar semua penjelasan dari sang kakak.


"Ayah mengalami kecelakaan lalu lintas, saat sedang pulang di luar kota" lirih Ansel.


Ayu mengangguk lemah, dengan air mata masih mengalir deras.


Dadanya terasa sangat sakit, hingga untuk bernapas saja seakan ia tidak bisa.


Semua itu terlalu mengejutkan dan tidak bisa di terima begitu saja oleh dirinya.


Kepalanya tiba-tiba terasa berenyut hebat.


"Dek, kamu gak papa?" tanya Ansel, ketika melihat Ayu memegang kepalanya, dengan wajah yang mulai pucat.


Tangannya terulur, ingin menyentuh kening sang adik.


Ayu menggeleng, dan menjauhkan tubuhnya dari jangkauan Ansel.


Elena beranjak duduk di samping Ayu.


"Aku tidak apa, aku mohon kalian pergi dari sini, aku mau sendiri," ucap Ayu, melihat ke arah Elena, dengan tatapan memohon.


"Baiklah, kami akan pergi, sepertinya kamu butuh istirahat," angguk Elena.


Mulut ansel sudah ingin berucap sesuatu, namun tatapan dari sang istri, kembali membuatnya mengatupkan bibirnya.


"Terima kasih."


Elena hanya mengangguk, lalu bergerak memegang lengan suaminya, agar ikut pergi dari ruangan Ayu.


"Kalau ada apa-apa bilang sama kakak ya, dek," ujar Ansel sebelum beranjak pergi.


Ayu hanya mengangguk samar sebagai jawaban.


Flash back off


...🌿...


...🌿...


... Bersambung...

__ADS_1


...🙏😊🥰...


__ADS_2