Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.121 Keram perut.


__ADS_3

 



...Happy Reading...


...❤...


Sampai di kamar rawat Naura, matanya langsung melihat Ayu yang baru saja keluar dari kamar mandi, dengan satu tangan menggendong Naura dan tangan lainnya memegang botol infus.


Ezra langsung berlari dan mengambil alih Naura dari gendongan Ayu.


“Papa ke mana aja sih? Aku udah gak tahan mau pipis, tapi, Papah lama!” gerutu Naura, dengan bibir mengerucut.


“Maaf, sayang. Tadi, ada sedikit pekerjaan yang harus Papah kerjakan,” sesal Ezra.


Lelaki itu dengan lembut menurunkan Naura di atas brankar, lalu mengusap pelan kening hingga puncak kepala anaknya, juga memberikan kecupan di sana.


Naura hanya mengangguk lalu kembali membaringkan tubuhnya, Ezra terus mengusap kepala anaknya, hingga perlahan terlelap kembali.


Ayu menggantung kembali botol infus di tempatnya, lalu duduk kembali di atas kursi di dekat Naura.


Di merasakan rasa sakit yang tiba-tiba saja menyerang perut bagian bawahnya. Kepalanya juga terasa semakin pening, mungkin karena sepanjang hari ini dia sudah stres sebab kejadian Naura, ditambah dengan kenyataan yang baru saja didengarnya dari Keenan, juga keadaan tubuhnya sedang tidak baik.


Ayu merapatkan giginya, tangannya meremas baju yang berada di bawah perutnya, untuk meredam rasa sakitnya. Tanpa disadari tubuhnya pun semakin membungkuk ke depan.


Ezra beralih menatap istrinya setelah memastikan Naura tertidur. Wajahnya berubah panik saat mendapati Ayu yang terlihat sedang menahan sakit, wajahnya juga terlihat sangat pucat dengan bulir keringat di keningnya.


“Sayang, kamu kenapa? Apa ada yang sakit, hem?” Ezra berlutut di samping Ayu lalu membawa istrinya untuk bergeser melihat kepadanya.


Ayu sedikit mengangkat pandangannya, ia ingin menjangkau wajah suaminya.


“Perut aku sakit, Mas,” lirih Ayu.


“Kita periksa ke dokter sekarang yuk, mumpung masih di rumah sakit, biar nanti aku telepon Mama buat jagain Naura!” panik Ezra, ia langsung menggendong Ayu dan memindahkannya ke atas sofa agar lebih nyaman.


Ayu berbaring sambil menutup matanya, mengatur napas yang masih terasa sesak.


Ayu menggeleng pelan. “Kita tunggu Mama dulu aja, aku masih bisa menahannya kok. Ini mungkin cuma keram biasa, sebentar lagi juga reda,” ucap Ayu, menahan gerakan Ezra yang akan mengangkatnya lagi.


Ezra akhirnya mengangguk, dia juga sebenarnya khawatir bila meninggalkan Naura sendiri di sini.


Ayu menggeser sedikit tubuhnya, Agar Ezra bisa duduk di sampingnya.


Ezra duduk miring di samping perut istrinya, lalu meletakan tangannya di sana, memberikan belaian halus berharap itu bisa meredam sedikit sakit yang di derita Ayu.

__ADS_1


Tangan satunya lagi, sedang berusaha untuk menghubungi Nawang, untuk memintanya kembali ke rumah sakit setelah menghadiri acara.


“Mah, sekarang bisa ke rumah sakit gak?” tanya Ezra, suaranya terdengar begitu panik.


Nawang yang sedang berada di mobil bersama Garry, mengernyitkan keningnya, mendengar suara Ezra yang terlihat panik. Pikirannya sudah tak tenang saat mengingat kondisi Naura.


“Bisa! Kebetulan kami sedang berada di jalan, memang ada apa, Zra?” tanya Nawang. Setelah melihat anggukan dari suaminya.


Mereka baru saja berangkat untuk menghadiri acara malam ini, tetapi, itu semua tidak lebih penting dari keluarganya terutama anak, cucu dan menantunya.


“Ayu sakit, aku mau bawa dia ke dokter. Tapi, Naura gak ada yang jagain,” jelas Ezra.


Sambil berbicara, tangan satunya terus mengelus perut istrinya, hingga perlahan Ayu mulai merasa tenang, sakitnya pun sedikit reda.


“Sakit? Sakit apa? Kamu gimana sih, jagain istri aja gak bisa, sampe Nindi sakit gini!” karena ikut panik, Nawang malah memahami Ezra.


Sejak tadi siang dia sudah merasa khawatir, melihat kondisi Ayu yang tampak pucat. Sekarang dia malah mendengar kalau menantunya sakit, perasaannya semakin tidak karuan.


“Ya udah, kamu tunggu dulu sebentar, Mama sama Papa ke sana sekarang!” ucap Nawang sebelum mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.


Garry langsung putar balik dan kembali ke arah rumah sakit tempat Naura di rawat.


“Pah, bisa lebih cepat gak? Mama mau cepet sampai di rumah sakit!” desak Nawang, pada sang suami.


“Iya, Papa usahain sampai secepatnya,” jawab Garry sambil mempercepat laju mobilnya.


“Sudah lebih baik?” tanya Ezra.


Ayu membuka matanya perlahan, menatap wajah khawatir suaminya, lalu mengangguk perlahan.


“Hem, sudah mendingan,” jawab Ayu.


Ezra tersenyum samar, tangannya mengelus lembut wajah istrinya, dengan pandangan penuh penyesalan. Andai saja tadi dia tak lama mengurus urusan kafe, mungkin Ayu tidak akan harus terpaksa menggendong Naura, dan berakhir seperti ini.


“Kamu istirahat aja di sini, nanti aku bangunin kalau Mama udah dateng,” ucap Ezra lembut.


“Aku mau tidur di pangkuan, Mas. Boleh gak?” tanya Ayu pelan, dengan pipi bersemu merah.


Ezra tersenyum lebar, saat mendengar permintaan yang baru saja dikatakan istrinya. Selama ini Ayu tidak pernah meminta apa pun padanya, ataupun bermanja seperti istri pada umumnya, kecuali tidur di dalam pelukannya, itu pun dia yang selalu meminta pada Ayu.


“Tentu saja boleh, sayang. Apa pun yang ada di dalam diriku ini milikmu, kamu boleh melakukan apa pun tanpa harus meminta, sayang,” gemas Ezra. Dia lantas berpindah duduk di bagian kepala Ayu dan meletakannya di pangkuan.


Ayu membalik badannya menghadap Ezra, ia menyusupkan wajahnya ke perut suaminya. Tangannya melingkar erat di pinggang suaminya.


Ezra mengusap rambut Ayu lembut, wajahnya dipenuhi binar bahagia mendapati sikap Ayu yang terlihat berbeda dari biasanya.

__ADS_1


Hingga beberapa saat kemudian terdengar napas teratur dari wanita itu. Ezra hanya menggeleng geli, saat mendapati istrinya tengah tertidur dengan posisi memeluk dirinya.


‘Ternyata dia benar-benar ingin tidur di pangkuanku?’ gumam Ezra sambil terus memandang sisi wajah istrinya yang terlihat.


Sesekali dia juga melihat ke arah anaknya yang juga tengah tertidur pulas di atas brankar.


Beberapa saat kemudian, Nawang dan Garry masuk dengan tergesa-gesa, di belakang mereka tampak Keenan pun ikut masuk, dengan wajah khawatir. Dia baru saja selesai mengurus administrasi untuk Ansel.


Wajah ketiga orang itu tampak berubah terkejut saat melihat pemandangan di dalam kamar itu. Wajah yang semula panik, kini berubah tersenyum bahagia.


Ya, di sana Ezra tampak tertidur dengan posisi duduk dan kepala Ayu di pangkuannya. Ayu bahkan melingkarkan tangannya di pinggang Ezra. Di brankar Naura juga tampak tertidur pulas.


“Astaga, anak ini. Kita khawatir memikirkan  mereka. Lah dianya malah pada tidur di sini,” ucap Nawang.


“Sudahlah, Mah. Biarkan saja mereka, lebih baik kita pergi lagi aja dari sini, jangan sampe mereka semua terganggu dengan kedatangan kita,” jawab Garry.


Nawang dan Keenan mengangguk dan berniat kembali ke luar, tetapi, belum sempat mencapai pintu, Ezra sudah memanggil mereka dengan suara serak khas bangun tidur.


Ya, lelaki itu merasa terganggu dengan suara berisik dari orang tua dan adiknya itu.


“Mah, Pah. Kalian udah dateng ya?” tanyanya, sambil meregangkan otot leher yang terasa kaku.


Ketiganya berbalik kembali. “Iya, kita baru saja datang. Kamu lanjutkan saja tidurnya. Besok Mama balik lagi ke sini pagi-pagi kalau kamu mau periksa istrimu,” ujar Nawang, panjang lebar.


“Hem, ya udah. Maaf, Ma, Pah. Aku udah ngerepotin kalian,” ucapnya.


“Gak ada yang merasa di repotkan, rebahkan sofanya biar istrimu lebih nyaman tidurnya,” Garry ikut menimpali.


Sofa itu memang bisa di rebahkan sehingga menjadi sebuah tempat tidur berukuran medium.


Ezra mengangguk, pandangannya melirik sekilas kepada adiknya.


“Aku di ruangan sebelah, Kak. Nemenin Ansel,” ucap Keenan, setelah kedua orang tuanya keluar. Seakan tahu apa yang akan di tanyakan oleh kakaknya.


“Hem, baguslah. Kamu juga pasti butuh istirahat. Besok kita bicarakan lagi soal tadi,” ujar Ezra, yang langsung mendapat anggukan dari Keenan.


Sepeninggal semua keluarganya, Ezra meletakan kepala Ayu dia tas sofa, lalu mulai merebahkannya dan kembali tertidur dengan memeluk istrinya tercintanya.


Malam itu, Ayu, Ezra dan, Naura tertidur begitu pulas, Naura yang suka rewel ketika sakit pun, entah kenapa tertidur tanpa merengek atau merintih sama sekali.


Mungkin tubuh dan juga pikiran mereka memang sedang butuh istirahat, hingga jiwa mereka membiarkan itu semua terpenuhi malam ini. Sebelum besok pagi semuanya akan terbangun dan kembali menghadapi berbagai permasalahan hidup yang sangat melelahkan.


...🌿...


...🌿...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2