
...Happy Reading...
...❤...
Ezra menangkup wajah Ayu dan memberikan ciuman bertubi-tubi di sana, sambil menggumamkan kata terima kasih berulang kali.
Dia sama sekali belum melihat anaknya dengan benar, yang menjadi fokus utamanya kini malah sang istri. Rasa terima kasih dan syukur yang teramat besar kini memenuhi jiwanya. Tanpa sadar Ezra bahkan meneteskan air matanya.
"Terima kasih, sayang. Terima kasih banyak," gumam Ezra berulang kali.
Ayu tersenyum samar, dengan helaan napas panjang, saat matanya melihat sosok seseorang yang begitu ia rindukan, di salah satu sisi ruangan.
'Ibu' gumamnya dalam hati, dia seakan tak mau mengalihkan pandangannya dari wajah teduh yang dipenuhi senyum menenangkan itu, kini tengah menatapnya, lalu kemudian menghilang bersama angin yang berhembus.
Memejamkan mata sambil mengatur napasnya yang masih memburu, tetes air mata bahagia mengalir membasahi pipi, begitu suara tangis bayi itu terdengar, membawa suatu semangat di tengah rasa putus asanya.
Rasa syukur dan bahagia, begitu membuncah di dalam dirinya, menghilangkan rasa sakit yang baru saja ia rasakan begitu menyiksa.
Seorang perawat meletakkan bayi lelaki yang masih terlihat berlumur darah dan lendir di sekujur tubuhnya, di atas dada Ayu, untuk melakukan inisiasi menyususi dini, atau yang lebih sering disebut dengan IMD.
Ezra menatap takjub pemandangan di depannya, di mana bayi yang baru saja terlahir itu, sedang berusaha mencari makanan pertamanya dengan mengandalkan insting alami yang ia miliki.
Ayu menangkup tubuh mungil dan ringkih itu, dengan kedua tangannya, memberikan perlindungan dan kehangatan bagi sang anak yang baru saja terlahir itu.
Ezra pun tak mau diam saja, dia memberikan usapan halus di punggung bayi kecil itu, dengan senyum haru dan ucapan rasa syukur di dalam hatinya.
Tangis yang tadi begitu menggema memenuhi ruangan bersalin itu, kini langsung berhenti, ketika kulit lembut nan lembap itu bersentuhan langsung dengan kulit Ayu.
Ezra mengulurkan tangannya menyentuh telapak tangan mungil itu, yang langsung dihadiahi genggaman lembut di ujung jarinya.
Tersenyum senang, dengan respon yang sangat baik dari bayi mungil itu, dengan rasa syukur yang begitu dalam.
Setelah beberapa menit berlalu, bayi mungil itu kambali diangkat, untuk melalui berbagai macam pemeriksaan kesehatan juga kelengkapan data kelahiran yang dibutuhkan dan kemudian di mandikan.
Sedangkan Ayu juga diberikan perawatan pasca melahirkan, dengan Ezra yang setia menunggu di dalam ruangan.
"Selamat, Nindi, Ezra. Anak kalian telah lahir dengan begitu sehat dan sempurna, tidak ada kekurangan suatu apa pun," ujar Dokter Ranti sambil menggendong bayi laki-laki mungil yang sudah bersih dan rapi.
"Sekarang dedenya sudah siap untuk mendengar suara merdu dari papanya," sambung Dokter Ranti sambil menyerahkan bayi itu pada Ezra.
__ADS_1
Dengan tangan sedikit bergetar, Ezra menerima anak laki-lakinya itu, setelah sebelumnya mengambil wudhu terlebih dahulu.
"Terima kasih, Tante," ujar Ezra.
Kini dia bersiap untuk memperdengarkan suara adzan untuk yang pertama kalinya kepada anak laki-lakinya. Mengenalkan Tuhan juga agamanya, yang akan menjadi pedoman untuk sang anak, dalam mengarungi kehidupan ke depannya.
Ayu yang juga sudah selesai dengan pemeriksan lanjutan setelah melahirkan, kini ikut menikmati suara merdu dari sang suami yang sedang mengumandangkan adzan dan juga komat, di depan telinga kanan dan kiri anaknya.
.
Di luar ruangan, semua orang baru saja bernapas lega dengan ucapan hamdalah secara bersamaan, begitu mendengar tangis bayi yang begitu nyaring dari dalam sana.
Semua wajah panik dan tegang yang tadi begitu terlihat dari setiap orang yang berada di sana, kini berganti dengan wajah senang dan sumringah.
"Cucu kita sudah lahir? Selamat, Larry!" ujar Garry, begitu mendengar tangis bayi.
"Iya, Garr, cucu kita sudah lahir. Selamat juga untukmu," balas Larry.
Kedua paruh baya dengan ikatan besan itu, kini tampak berpelukan dengan ungkapan rasa bahagia juga syukur yang tidak terkira.
Di depan pintu, Ansel yang berdiri bersebelahan dengan Keenan yang belum lama datang, kini tengah saling memberikan selamat, atas lahirnya keponakan baru mereka.
Sedangkan ke empat perempuan yang duduk berdampinan kini sedang bergantian saling memeluk satu sama lain, dengan ucapan syukur dan tetes air mata bahagia yang tak dapat lagi mereka bendung.
.
Beberapa saat kemudian, semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruang VIP rumah sakit, dengan kebahagiaan yang membuncah, di dalam hati setiap orang di sana.
Senyum senang kini terukir, dengan perhatian semua orang tertuju pada satu objek yang kini tengah berada di dalam gendongan Nawang.
Sosok anggota keluarga baru di dalam dua keluarga besar yang baru saja terlahir, bayi laki-laki yang terlihat tampan dengan berat yang mencapai tiga koma dua kilogram, berbalut baju berwarna biru lembut itu, terlihat sedang tertidur pulas, setelah beberapa saat yang lalu mendapatkan ASI pertamanya.
Sedangkan Ezra memilih untuk tetap fokus pada sang istri. Entah mengapa, setelah melihat perjuangan istrinya dalam melahirkan sang anak, semua itu semakin menambah rasa cinta dan sayangnya kepada Ayu.
Dia seakan semakin tak bisa memalingkan pandangannya dari sang istri. Ezra menatap penuh kagum, wajah Ayu yang baru saja terlelap setelah memberi ASI dan meminum obat.
Mungkin karena kelelahan, dia bahkan terlihat tak terganggu oleh suara ramai dari para anggota keluarganya di ruangan yang sama, dan terpisah oleh sekat berbentuk tirai.
Ezra membenarkan selimut dan memastikan istrinya tertidur dengan nyaman, sebelum dia beranjak untuk bergabung bersama keluarganya.
__ADS_1
"Kak," Keenan langsung menghampiri sang kakak, begitu ia melihat Ezra keluar.
"Maafkan aku, karena aku sakit, kak Ayu jadi terpaksa menggantikan Riska di butik," ujarnya lagi, penuh sesal.
Keenan sudah mengetahui cerita sebenarnya tetantang proses Ayu melahirkan, dari Gino.
Perasaan bersalah kini ia raskaan, dia juga menyesal karena terlalu terpuruk akan masa lalu yang jelas-jelas sudah tak bisa lagi ia ulang, ataupun tidak berguna untuk ia sesali.
Ezra tersenyum, dia menepuk pundak sang adik berulang kali. Dia tahu, Keenan pasti sakit karena masalah Luna yang baru saja terungkap.
"Tak apa, itu semua sudah berlalu. Lagi pula yang terpenting sekarang, Nindi dan anakku selamat dan sehat," ujar Ezra.
"Bagaimana? Apa kamu sudah memutuskan? Aku harap apa pun itu, kamu tidak akan mengecewakan dan menyakiti bayak orang," imbuh Ezra dengan suara lirih.
"Pikirkan dulu baik-baik, sebelum memutusan, Ken," peringat Ezra, kemudian.
Keenan mengangguk samar sebagai jawaban. Ezra memang selalu begitu, dia hanya akan melampiaskan kekesalannya sekilas, setelah itu dia akan kembali mendukung dan mendampinginya.
"Selamat, Kak. Keponakanku sangat tampan, sama seperti Unclenya," gurau Keenan, diiringi dengan kekehan di akhir kalimatnya.
"Enak saja kamu bilang! Mana ada anakku mirip denganmu, tentu saja dia akan mirip denganku," jawab Ezra, tidak setuju.
"Yang benar itu, cucuku ini, sangat mirip denganku. Iya 'kan, Mah?" ujar Garry, ikut menimpali perdebatan kedua anaknya.
"Apa sih kalian bertiga, berisik sekali," gerutu Nawang, menatap suami dan anakknya dengan kening berkerut.
"Kalau babynya bangun gimana?" imbuh Nawang lagi.
Ketiga lelaki yang baru saja beradu mulut itu, langsung terdiam tak berani berkata lagi, setelah mendapati wajah kesal Nawang.
Sedangkan, semua orang yang melihat tingkah konyol keluarga Darmendara, terkekeh geli dengan kebahagiaan yang mewarnai ruangan itu.
...🌿...
Dalam rangka kelahiran anak dari Ayu dan Ezra yang berbarengan dengan bulan kelahiran ana dan suami aku, juga tanda Terima kasih aku.
Aku mau bagi-bagi sedikit rezeki untuk para pembaca setia kisah Ayu, kepada kalian yang berada di urutan lima besar top fans dan lima komentar terbaik yang akan diundi akhir bulan ini.
Pemenang akan diumumkan di awal bulan depan, ya😘❤❤
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung...