Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.290 Jadi pelampiasan


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Ezra dan Ayu berjalan bersama menuruni tangga, mereka bisa melihat kalau di sana, sudah ada Keenan yang sedang bermain bersama Naura dan Zain.


Alvin pun masih menemani mereka, juga bersama Bi Yati yang memang bertugas untuk mengasuh Zain.


Keenan menatap kesal pasangan yang baru datang itu, karena akhirnya dia harus menunggu lama, hanya karena sebuah kue yang diidamkan oleh istrinya.


Niat hati ingin segera sampai ke rumah dan bertemu dengan sang istri, kini dia alah terjebak di rumah kakaknya yang bucin kebangetan itu.


Padahal Keenan sendiri sekarang sudah hampir sama bucinnya seperti Ezra.


"Mas, aku ke dapur dulu. Mau nyiapin kue buat Riska," ujar Ayu, setelah mereka sampai di anak tangga terakhir.


"Heem, aku temui Keenan dulu," jawab Ezra.


Ayu mengangguk sambil tersenyum, kemudian mereka berpisah di sana.


"Kamu sudah datang, Ken?" tanya Ezra begitu dia sampai di tempat Keenan.


"Kelihatannya?" ujar kesal Keenan.


"Udah lama?" tanya Ezra, seakan tidak melihat kekesalan adiknya.


"Enggak, aku baru dateng kok," geleng Keenan.


"Satu jam yang lalu," sambungnya dengan nada penuh penekanan.


Ezra terkekeh, dia menggendong Zain yang sedang bermain, di pangkuan Bi Yati.


Bi Yati pun pamit ke belakang, setelah Zain berada nyaman di pangkuan Ezra.


"Siapa suruh, kamu, langsung datang ke mari," ujar Ezra santai.


"Ck, dasar kakak gak pengertian. Gak tau apa aku udah kangen sama sitriku. Ini malah suruh nungguin kalian yang bucin selangit," gerutu Keenan.


"Lah, siapa juga yang nyuruh kamu nunggin. Tinggal minta aja sama Bi Yati atau yang lainnya, juga pasti mereka siapin," jawab Ezra.


Keenan menatap kakaknya dengan wajah terkejut. Dia sama sekali tidak terpikirkan semua itu.


Alvin yang juga berada di sana, hanya menatap kedua laki-laki yang sedang beradu mulut itu, sambil terus menemani Naura bermain.


Ck, para bucin lagi saling sikut, batin Alvin.


"Dasar bucin, kalau udah ketemu istri pasti lupa sama yang lain, sampe asistennya aja disuruh nemenin anaknya main," ujar Keenan menyindir Ezra, sambil melihat Alvin miris.


Ezra ikut melihat Alvin yang sedang sedang bermain dengan Naura.


"Aku gak pernah nyuruh Alvin buat nemenin Naura main. Iya kan, Vin?" tanya Ezra pada asistennya.

__ADS_1


Alvin yang kini menjadi pusat perhatian para bosnya itu pun hanya tersenyum kikuk.


Astaga, kenapa jadi aku yang jadi pelampiasan?! batin Alvin.


"Ah, iya. Ini memang aku aja yang senang bermain dengan Naura," ujar ALvin, lebih memilih condong pada Ezra.


"Iya, aku juga senang main sama, Om Al." Naura ikut menimpali.


Ezra tersenyum penuh kemenangan begitu mendengar perkataan asisten dan anak sulungnya itu.


Sedangkan Keenan malah tambah kesal karena tidak ada yang memihak padanya sama sekali.


"Ini, Ken. Kuenya sudah aku siapin. Ini juga buat, Alvin, lumayan buat dibawa ke rumah," ujar Ayu sambil menaruh dua paper bag di atas meja.


Keenan langsung mengalihkan pandangannya pada kedatangan kakak iparnya, dia langsung beranjak berdiri.


"Wah, makasih, Kak Ninidi, udah mau bikinin kue buat Riska," ujar Keenan sambil mengambil salah satu paper bag.


"Gak usah sungkan, aku malah senang bisa bikinin kue buat Riska yang sedang mengandung," jawab Ayu.


"Kalau gitu, aku pulang dulu ya. kasihan Riska pasti nungguin," ujar Keenan.


"Bilang saja kalau kamu yang sudah gak sabar, mau ketemu sama istrimu." Ezra berkata santai sambil menghampiri Ayu.


Ayu langsung mengambil Zain dari gendongan suaminya. Begitu Zain beralih pada Ayu, kini tangan Ezra pun langsung melingkar di pinggang istrinya.


"Nah itu, Kak Ezra, tau," ujar Keenan, melihat kesal kemesraan kakaknya.


Ayu tersenyum melihat kedua kakak beradik yang selalu penuh kasih sayang itu.


"Iya. Hati-hati di jalan, salam sama Riska ya," ujar Ayu.


"Iya, Kak. nanti aku sampaikan sama Riska." Keenan kini beralih pada Zain.


"Dah, Zain. Uncle pulang dulu ya,"ujarnya sambil mengelus pipi Zain gemas.


"Naura, Uncle, pulang ya. Daah!" sambungnya lagi, sambil melambaikan tangan pada Naura.


"Daah, Uncle!" jawab Naura, sambil melambaikan tangan pada Keenan.


"Assalamualaikum," ujar Keenan kemudian, lalu berjalan menjauh dari keluarga bahagia itu.


"Waalaikumsalam," jawab mereka serempak.


Kini Ayu dan Ezra kembali bermain bersama dengan Zain dan Naura, beserta Alvin yang masih berada di sana.


"Pak, Bu. Kalau begitu aku pamit pulang dulu," ujar Alvin, setelah menyelesaikan gambar untuk Naura.


"Loh, gak sekalian makan malam bersama saja?" tanya Ayu.


"Iya, Om Al, sekalian makan malam di sini aja." Naura ikut menimpali.

__ADS_1


"Gak usah, Bu. Kebetulan saya ada urusan lain di luar," tolak Alvin dengan cara sehalus mungkin..


"Oh, begitu ya?" ujar Ayu, yang melihat kekecewaan di mata Naura.


Anak sulungnya itu memang sudah dekat dengan Alvin, mengingat Alvin juga suka dengan anak kecil.


Alvin mengangguk canggung, dia tidak enak dengan istri dari bosnya itu.


"Yah, Om Al," desah Naura.


"Maaf ya, Naura. Om sudah ada janji sama temen Om," ujar Alvin.


"Ya sudah, gak apa-apa. Nanti kalau Om Alvin ada waktu luang, kita bisa makan bersama. Iya kan, Pah?" ujar Ayu, sambil meminta persetujuan suaminya.


Ezra yang sejak tadi hanya asik bermain dengan Zain, tanpa perduli urusan yang lainnya, kini menoleh pada istrinya.


Ayu pun langsung memberikan isyarat lewat tatapan matanya, tentang Naura yang merajuk karena Alvin pamit pulang.


"Ah iya. Mamah, benar," jawab Ezra sambil menganggukkan kepala, walaupun dirinya belum tau apa yang ditanyakan oleh istrinya itu.


Naura tampak masih merengut kesal.


"Begini saja, bagaimana kalau sekarang, Naura, mainnya sama Papah saja?" ujar Ezra, setelah mengerti situasi yang sedang terjadi.


"Ayo, Naura, mau main apa sekarang?" Ezra beralih pada anak perempuannya.


"Ya udah deh, aku main sama, Papah aja," putus Naura setelah cukup lama dia hanya terdiam sambil berpikir.


Ayu terkekeh kecil, melihat tingkah Naura yang selalu saja menggemaskan. Memang semenjak Zain lahir, Naura pun jadi sedikit manja dan menuntut banyak waktu pada Ezra dan Ayu.


Meskipun semua itu masih di dalam batas wajar seorang anak. Itu hanyalah sebuah reaksi alami karena dia memang merasa sedikit tersaingi dengan keberadaan adiknya.


Maka dari itu, Ayu dan Ezra berusaha membagi waktu sebaik mungkin, agar Naura tidak merasa dibedakan dengan adiknya.


Alvin tersenyum setelah mendengar persetujuan dari Naura. Dia juga bersyukur bisa bekerja dengan keluarga seperti Ayu dan Ezra, yang seakan mengerti tentang keadaannya.


"Kalau begitu, saya pamit dulu, Pak, Bu. Assalamualaikum," ujar Alvin, sambil berdiri.


"Waalaikumsalam," jawab semuanya.


"Itu kuenya di bawa, lumayan buat cemilan," ujar Ayu.


Alvin pun mengambil paper bag di atas meja. "Terima kasih, Bu."


Ayu mengangguk, "Hati-hati di jalan."


Kini di rumah itu hanya tinggal Ezra, Ayu, dan anak-anak mereka, juga para pekerja yang memang tinggal di sana.


...🌿...


Udah puas belum nih, lihat pasangan bucin akut Ezra dan Ayu? Besok kita kembali pada Keenan dan Riska dulu ya🤭

__ADS_1


Oh iya, ada yang penasaran gak sih, sama kisahnya Alvin? Mampir yuk, jangan lupa pavorit, like dan komen ya. Masih sepi banget nih🥺



__ADS_2