Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.249 Hilang Kontak


__ADS_3

...Happy Reading ...


......................


“Sayang, beberapa hari ini aku harus pergi ke luar kota, menggantikan papa, dalam pertemuan antar pengusaha,” ujar Keenan sambil memeluk Riska, setelah melakukan kegiatan suami istri beberapa saat yang lalu.


Tubuh yang masih basah oleh keringat, bekas dari percintaan mereka, kini hanya terhalang oleh selimut tebal.


Riska menatap wajah suaminya dengan senyum tipis.


“Berapa hari, Bang?” tanya Riska.


“Sekitar lima hari sampai satu minggu. Kamu ikut aja ya, aku khawatir jika meninggalkan kamu di sini sendirian,” ujar Keenan.


Riska terdiam, sebenarnya dia juga tidak ingin jauh dari suaminya. Akan tetapi, saat ini pekerjaan di butik sedang sangat banyak, dia tidak mungkin meninggalkannya begitu saja.


“Kayaknya aku gak bisa deh, Bang. Lagi pula, Abang, di sana juga buat kerja. Kalau aku ikut aku mau ngapain?” Riska berkata dengan wajah yang menunduk, tidak mau melihat wajah kecewa suaminya.


“Tapi, sayang. Aku gak bakalan tenang, kalau kamu gak ikut sama aku,” ujar Keenan, masih berusaha merayu istrinya.


“Bang, aku sudah terbiasa sendiri. Abang gak usah khawatir ya, aku bisa jaga diriku sendiri,” ujar Riska meyakinkan.


Keenan menatap wajah Riska dengan tatapan gusar. Setelah lama terdiam, akhirnya dia pun mengangguk.


“Baiklah. Tapi, kamu harus janji, untuk menjaga diri kamu baik-baik,” ujar Keenan, yang langsung diangguki oleh Riska.


“Abang,” lirih Riska saat kesadarannya mulai kembali, dia pun mencoba membuka mata yang terasa berat untuk dia buka.


Kepalanya pun terasa pening, hingga semakin membuatnya cukup sulit untuk mengumpulkan kesadarannya kembali.


Kilas balik kejadian saat dirinya di dalam taksi online pun mulai teringat di kepala, seiring mata yang mulai terbuka.


Ya, kini dia sadar, kalau dirinya sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Mungkin saat ini dirinya sedang diculik oleh seseorang, yang dirinya sendiri tidak tahu itu siapa.


Cahaya temaram dari lampu tidur di sampingnya terasa cukup bersahabat di kornea matanya. Riska mengerjapkan mata, menyesuaikan cahaya dari luar.


Riska mengedarkan pandangannya, meneliti setiap sudut ruangan tempatnya kini berada.


Sebuah ruangan yang mirip seperti sebuah kamar, dengan nuansa putih dan orange membuat matanya mengernyit.


Kamar itu terlihat bersih, dia juga berada di atas sebuah kasur yang lumayan nyaman.


Riska berusaha untuk bangun, hingga akhirnya dia tersadar kalau tangannya masih terikat, oleh sebuah tali dari bahan kain yang cukup kuat, tapi tidak terlalu menyakiti kulitnya.

__ADS_1


“Siapa sebenarnya mereka?” ujarnya, saat mengingat sekilas sopir taksi dan seorang lelaki yang membekapnya.


Melihat ke arah jendela yang masih tertutup rapat, dia bisa melihat jelas sudah ada cahaya mata hari di sana. Itu menandakan kalau saat ini hari sudah berganti.


.


Di tempat Keenan berada, dia baru saja masuk ke dalam kamar hotel, setelah menghadiri jamuan makan malam bersama beberapa pengusaha yang hadir di sana.


Dia baru saja mengecek ponsel miliknya yang dia tinggalkan di kamar, karena sedang mengisi baterai.


Senyumnya mengembang, saat melihat beberapa panggilan tak terjawab dari sang istri dan juga pesan yang belum sempat ia buka.


Keenan mengira, itu semua karena Riska merindukannya. Apalagi, biasanya memang mereka berdua sering melakukan panggilan video di saat sore menjelang malam.


Duduk di sisi ranjang, Keenan mulai membuka pesan dari istrinya itu. Matanya melebar, dengan detak jantung yang sudah tak beraturan saat melihat pesan dari istrinya.


Bang, aku sedang di dalam perjalanan pulang. Tapi, aku merasa ada yang aneh sama sopir taksinya.


Pesan dari istrinya yang disusul pesan lainnya yang merupakan lokasi keberadaan Riska saat itu, langsung membuat perasaannya tak menentu.


Dengan gerakan cepat, dia langsung menelepon orang yang ia perintahkan untuk mengawasi istrinya, selama dia berada di luar kota.


“Di mana istriku?!” ujarnya, tanpa basa-basi, setelah mendengar jawaban dari seberang sana.


Jawaban dari orang yang ditugaskan untuk mengawasi Riska pun, seakan menghantam jantungnya.


“Bagaimana cara kalian menjaga istriku, hah?! Kenapa bisa sampai kehilangan jejak?! Cari secepatnya, aku tidak mau tahu, kalian harus menemukan keberadaan istriku secepatnya!”


Tanpa sadar, Keenan bahkan langsung berbicara dengan suara tinggi pada salah satu anak buahnya itu. Tangan yang mengepal kuat dan urat di sekitar wajah yang tampak mengeras, sudah cukup untuk menggambarkan betapa panik dan khawatirnya dia saat ini.


Keenan langsung mencari jadwal penerbangan terdekat, dan memesan tiket untuknya.


Selama itu, dia mencoba menghubungi Ezra untuk meminta bantuan.


"Ada apa, Ken?" tanya Ezra, begitu dia mengangkat telepon dari adiknya.


“Kak, tolong bantu aku mencari keberadaan Riska, dia sudah satu jam yang lalu hilang kontak,” ujar Keenan langsung.


"Mungkin dia hanya sedang kehabisan baterai atau ada urusan lain, Ken. Kamu gak usah khawatir ya," jawab Ezra, berusaha menenangkan adiknya itu.


“Tidak, Kak. Satu jam yang lalu dia sempat mengirim pesan padaku dan mengirim lokasi juga. Tapi beberapa saat setelah itu, lokasinya juga hilang begitu saja,” jelas Keenan, dengan suara panik.


"Oke, aku bantu kamu cari di sini. Kamu jangan panik dulu ya ... sekarang aku sedang berada di jalan,kamu tutup dulu teleponnya. Nanti kalau ada kabar terbaru aku hubungi kamu lagi," ujar Ezra.

__ADS_1


Sambungan telepon pun terputus begitu saja


.


Ezra yang memang sedang berada di jalan, setelah mampir terlebih dahulu ke rumah kedua orang tuanya, untuk menjenguk Garry, setelah pulang dari bengkel.


Dia langsung mempercepat laju mobilnya, sambil menghubungi Alvin, untuk membantu mencari keberadaan adik iparnya itu.


Walau di dalam hati, dia merasa bingung dengan apa yang terjadi saat ini.


Mengingat selama ini, Keenan tidak pernah bercerita apa pun padanya.


Namun, mendengar suara panik Keenan di telepon beberapa saat yang lalu, membuatnya ikut curiga.


Ya, selama ini Keenan memang tidak pernah bercerita tentang masalahnya dan Riska pada siapa pun, tak terkecuali pada Ezra.


Beberapa saat kemudian, Ezra sampai di rumah, berbarengan dengan kedatangan Alvin.


“Ada apa, Pak?” tanya Alvin, saat dia sudah berada di depan Ezra.


Ezra memang belum menjelaskan apa yang terjadi, selain menyuruhnya untuk datang ke rumah secepatnya.


“Kita harus mencari keberadaan seseorang,” jawab Ezra, singkat.


Seperti biasa anak dan istrinya sudah bersiap menyambutnya di depan pintu, hingga Ezra tak bisa menjelaskan saat itu juga pada Alvin.


“Sayang, tadi sore kamu ada kabar dari Riska gak?” tanya Ezra, pada Ayu sambil berjalan menuju lantai dua.


Ayu yang memang belum melihat ponselnya sejak sore tadi pun mengernyit bingung.


“Sejak magrib aku sama sekali gak pegang ponsel. Memang ada apa, Mas?” tanya Ayu.


“Riska gak ada kabar sejak sore, ponselnya juga tidak bisa dihubungi. Keenan khawatir, dia menyuruhku untuk bertanya sama kamu,” jawab Ezra, memberi alasan.


“Oh, tadi siang sih dia bilang akan bertemu seorang pelanggan butik yang baru di rumahnya, mereka ingin memesan baju pertunangan.” Ayu menjelaskan.


“Coba kamu lihat ponsel kamu dulu ya. Kasih tau sama aku kalau Riska sempat menghubungi kamu lagi. Aku tunggu di ruang kerja,” ujar Ezra kemudian.


Dia dan Ayu pun terpisah, di depan kamar mereka. Ayu yang langsung masuk ke kamarnya, sedangkan Ezra dan Alvin melanjutkan langkahnya menuju ke ruang kerja.


...🌿...


...🌿...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2