Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.210 Pulang


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Pagi ini, Ayu sudah diperbolehkan untuk pulang dari rumah sakit, setelah suaminya itu menahannya di rumah sakit selama dua hari.


Dengan alasan kesehatan dan Ayu yang belum pulih benar, Ezra meminta perawatan Ayu diperpanjang satu hari.


"Sudah siap, sayang?" tanya Ezra, yang barusan aja masuk, setelah mengurus administrasi. Dia juga membawa kursi roda untuk Ayu.


Ayu mengangguk dengan baby Zain sudah berasa di dalam pangkuannya.


"Ayo, kita pulang sekarang," ajak Ezra, dia membantu Ayu untuk duduk di kursi roda.


Sedangkan Gino yang baru saja datang dengan beberapa orang lainnya, langsung mengambil barang bawaan milik Ayu, Ezra dan baby Zain yang sangat banyak.


Ya, karena banyak yang menjenguk dengan membawakan hadiah untuk Baby Zain dan Ayu, kini barang di rumah sakit jadi bertambah berkali-kali lipat dibanding sebelumnya.


Ezra mendorong Ayu menuju ruang depan, tempat para suster jaga. Di sana mereka sempat tertahan untuk berpamitan, yang disambut dengan baik oleh para susrlter jaga itu.


"Wah, Baby Zain, udah mau pulang ya?" tanya suster senior, saat melihat Ayu dan Ezra mendekat.


"Iya, Sus. Terima kasih karena selama ini sudha merawat dan menemani saya dalam merawat Baby Zain," jawab Ayu, sekaligus mengungkapkan ucapan terima kasihnya.


"Itu memang tugas kami, Mam. Lagi pula Baby Zain sangat tampan dan lucu, membuat kita selalu senang merawatnya," ujar perawat itu.


"Ah, pasti nanti kangen nih sama Baby Zain," imbuhnya lagi, yang langsung diangguki oleh teman sesama perawat yang lain.


Ayu tersenyum, sambil mengelus pipi merah anaknya itu. Baby Zain yang sedang terlelap tampak tersenyum, hingga membuat para perawat itu tersenyum senang.


Setelah berbasa basi sebentar, Ezra dan Ayu pamit kepada semua perawat yang ada di sana, Ayu juga memberikan bingkisan kecil sebagai tanda terima kasih.


Sampai di lobi rumah sakit, ternyata mobil yang dibawa oleh Gino sudah terparkir di sana, dengan satu lagi mobil di belakangnya yang khusus untuk membawa barang.


Ezra membantu Ayu untuk masuk ke dalam mobil, lalu duduk di samping istrinya. Kali ini tidak ada yang membantu mereka pulang, Ayu dan Ezra hanya ditemani oleh para anak buah Ezra saja.


"Baby Zain, kita pulang ke rumah ya," ujar Ayu, begitu ia sudah duduk dengan nyaman.


Ezra tersenyum melihat istrinya yang sedang mencium wajah Baby Zain.


Hidupnya kini semakin terasa lengkap dengan kelahiran anak keduanya itu. Entahlah apa dia berani untuk menambah momongan lagi atau lebih memilih menyudahinya sampai di sini.


Sampai sekarang dia bahkan bis amengingat dengan jelas semua kesakitan yang dirasakan oleh istrinya.

__ADS_1


Perjuangan melahirkan kehidupan baru ke dunia itu bukanlah hal yang gampang, dimulai dengan masa awal kehamilan yang diwarnai morning sickneess dan ngidam.


Lalu masa trumester kedua dengan perubahan berat badan yang sangat signifikan dan membuat banyak perempuan menjadi tidak percaya diri.


Disambung lagi di terimester ketiga, dengan perjuangan yang semakin melemahkan fisik dan menguras banyak tenaga.


Mulai dari beban di dalam perut yang semakin besar, hingga merebut hampir semua kenikmatan di dalam sang calon ibu.


Seperti tidur yang tak pernah nyenyak karena rasa tidak nyaman untuk berbaring, sakit di pinggang dan kaki, bila terlalu capek beraktivitas.


Hingga mendekati persalinan, sang calon ibu akan terus merasakan keinginan untuk buang air kecil, hingga kembali mengganggu tidur dan kesehariannya.


Diakhiri dengan perjuangan mempertahankan hidup, demi mengeluarkan janin yang selama sembilan bulan ini telah tumbuh di dalam bagian tubuh sang ibu.


Ya, selama mendampingi Ayu di dalam perjalanan kehamilan pertamanya, itulah yang bisa Ezra lihat.


Tak ada yang mudah, tak ada yang gampang, bahkan mungkin bila dirinya harus mengalami semua itu, dia tak akan pernah sanggup.


Perjuangan sembilan bulan demi sebuah kehidupan baru.


Demi melahirkan penerus untuknya.


Demi sebuah senyum dan harapan keluarganya.


Ya, tangis dari sosok kecil yang berhasil dilahirkan, dengan perjuangan besar.


Dan itu Ayu lalui dengan senyuman, tanpa keluhan yang menyusahkan.


"Pak, kita berangkat sekarang?" tanya Gino menyadarkan lamunan Ezra.


"Hem." Ezra hanya berdehem untuk menjawab pertanyaan dari GIno.


Mobil pun melaju dengan diiringi satu mobil lainnya yang membawa barang-barang.


Suasana pagi menjelang siang, membuat jalanan tidak terlalu padat, hingga jarak tempuh yang memang hanya sebetar itu, tak tertunda sama sekali.


Beberapa saat kemudian, mobil yang dikendarai oleh Gino kini sudah memasuki halaman rumah Ezra dan Ayu.


Ezra turun terlebih dahulu dan membantu Ayu untuk berjalan menuju rumah mereka berdua.


Baby Zain yang sejak tadi sudah terbangun, kini tampak sedang bermain sendiri dengan kepalan tangannya, sesekali bibir mungil itu tampak tersenyum, membuat kedua orang tuanya gemas.


"Selamat datang, Pak, Bu," ujar Bi Yati, yang menyambut kedatangan dua orang majikan mudanya itu.


"Terima kasih, Bi. Bibi, apa kabar?" tanya Ayu.

__ADS_1


"Alhamdulillah, saya baik, Bu. Boleh saya gendong, Baby Zain?" tanya Bi Yati, sambil mengulurkan tangannya di depan Ayu.


Ayu tampak tersenyum, sebelum mengangguk, lalu perlahan Baby Zain pun beralih pada lengan wanita paruh baya itu.


Ezra melingkarkan salah satu lengannya pada pinggang Ayu, dia pun mengajak istrinya menuju salah satu sudut rumah yang tampak berbeda dibandingkan sebelum Ayu melahirkan.


"Mas, tangganya di sana?" ujar Ayu, dia sendiri bingung dengan langkah suaminya.


"KIta tidak melewati tangga, sayang. Kamu kan baru saja melahirkan ... aku gak mau kamu terlalu sering turun naik tangga," ujar Ezra.


"Lalu kita mau ke mana?" tanya Ayu lagi.


Ezra tak menjawab, dia hanya tersenyum dan terus mengarahkan istrinya untuk berjala.


Sedangkan di belakang keduanya, Bi Yati pun, ikut tersenyum melihat kemesraan sepasang suami istri di depannya.


Ayu mengernyit saat mereka kini berhenti di depan sebuah tirai berwarna biru yang masih tertutup.


"Apa ini, Mas?" tanya Ayu, melihat suaminya.


"Coba buka, nanti kamu juga tau," ujar Ezra, menyerahkan sebuah tali pada istrinya.


Ayu menerima tali itu, lalu kembali menatap Ezra, dia juga menatap Bi Yati sekilas, demi meyakinkan dirinya sendiri.


Ayu mencoba mengingat tentang tempat di hadapannya sebelum dia melahirkan.


Ya, tempat itu hanyalah sebuah salah satu sisi rumah yang dibiarkan kosong, yang terkadang menjadi salah satu tempat Naura bermain.


"Ayo, sayang. Kenapa kamu malah melamun, hem?" tanya Ezra, dia tersenyum menengkan.


Ayu kembali menatap wajah suaminya lalu beralih melihat tirai panjang di depannya.


Menghirup napas panjang lalu menghembuskannya, sebelum akhirnya tangannya menarik tali di yang diberikan oleh suaminya itu.


...🌿...


...Kira-kira apa ya yang ada di dalam tirai itu?...


...Komen👍...


...🌿...


...Bersambung...


__ADS_1


__ADS_2