
...Happy Reading...
...❤...
Pagi hari, Riska terbangun oleh alarm waktu subuh di ponselnya, menggeliatkan tubuhnya yang terasa kaku, dia kembali menyadari jika tangan dan kaki Keenan masih berada di atas tubuhnya.
Riska sudah mulai terbiasa akan hal itu, dia membiarkan Keenan berbuat semua itu, walau dalam hati masih ada rasa takut bila suaminya meminta lebih.
Perlahan ia memindahkan tangan Keenan dari atas perutnya, lalu kemudian kakinya. Menghembuskan napas lega saat dia berhasil melakukannya tanpa membangunkan suaminya itu.
Riska duduk di sisi tempat tidur beberapa saat, untk mengumpulkan nyawa yang masih belum terkumpul semuanya, hingga akhirnya dia beranjak menuju kamar mandi.
Keluar dari kamar mandi, Riska melihat Keenan sudah terbangun, lelaki itu sedang duduk menyandar di kepala ranjang.
"Tumben udah bangun?" ujar Riska, sambil berjalan menuju ke arah tempat dirinya menaruh peralatan solat.
"Heem," gumam Keenan, dia melihat Riska yang sudah memakai mukena.
"Tunggu sebentar, kita solat bersama," ujar Keenan sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Riska akhirnya menunggu Keenan, sambil menyiapkan peralatan solat suaminya itu, dalam hati ia merasa terkejut karena biasanya Keenan sulit untuk dibangunkan.
'Mungkin karena kemarin dia tidak tidur larut malam, juga tidak terlalu lelah karena tidak bekerja juga' tebak Riska dalam hati.
Beberapa saat kemudian Keenan sudah keluar dengan wajah yang terlihat lebih segar, tetesan air wudhu yang masih mengalir di rambut juga wajahnya, selalu sukses membuat Riska terpana.
"Lihatnya gak usah gitu juga," ujar Keenan sambil memercikan air sisa wudhu dari wajahnya ke wajah Riska saat melewati istrinya itu.
Riska mengerjap kaget dengan ras dingin di wajahnya. "Ih, siapa juga yang ngeliatin? Ge'er!"
"Itu tadi buktinya kamu sampe gak sadar aku sudah ada di depanmu," debat Keenan, sambil mulai memakai sarung dan baju kokonya.
"Kenapa, terpesona ya?" Keenan menatap Riska penuh, sambil memakai peci berwarna hitam di kepalanya.
"Enggak, siapa juga yang terpesona orang wajah pasaran gitu! Muka kayak Abang bnyak di obral tuh di pasar loak sama maen anak-anak," debat Riska.
'Di pasar loak 'kan banyak barang antik sma kayak dia, sedangkan di penjual mainan anak-anak suka ada foster pemain film yang ganteng-ganteng' Riska meneruskan perkataan itu di dalam hati.
'Ih, kenapa dia jadi keliatan ganteng banget sih kalau habis wudhu kayak gini?!' pekik Riska, merutuki pikirannya sendiri.
Keenan melebarkan matanya mendengar perkataan istrinya itu. "Kamu kira wajah aku apaan, topeng? sampai di perjual belikan kayak gitu."
__ADS_1
"Bisa jadi," angguk Riska cepat.
"Ish, kamu ini!" kesal Keenan sambil berbaalik, bersiap untuk memulai shalat subuh sebagai imam, untuk pertama kalinya.
Keduanya menjalani shalat berjamaah setelah menikah untuk pertama kalinya itu, kini tengah khusyuk. Riska cukup terkejut dengan bacaan surah pendek yang terdengar begitu merdu.
Dia tidak pernah menyangka, orang seperti Keenan yang sibuk dengan kegiatan duniawinya, masih bisa menjalankan ibadah sebaik itu.
Keenan berbalik setelah melakukan salam dan doa, dia mengulurkan tangan untuk di cium oleh istrinya. Riska sempat terdiam, melihat tangan yang terulur di depannya, hingga akhirnya dia meraihnya dan mencium punggung tangan itu.
Keenan memajukan tubuhnya untuk memberikan kecupan di kening gadis yang merupakan istrinya sendiri, makmumnya dalam menjalani kehidupan rumah tangga mulai saat dia melakukan ijab kabul.
Tubuh Riska meremang, mendapati perlakuan lembut Keenan, hatinya berdesir dengan perasaan asing yang menguasainya.
Riska menutup matanya saat merasakan benda kenyal itu menempel di keningnya. 'Apa dia akan memintanya sekarang?'
Sapuan hangat telapak tangan Keenan di atas puncak kepalanya membuat Riska membuka matanya, dia bisa melihat wajah Keenan masih berada dekat dengan wajahnya, bahkan napas itu masih bisa terasa olehnya.
Mata Riska berkedip pelan, saat melihat senyum tipis di wajah Keenan, dia seperti tertarik oleh pesona suaminya sendiri hingga semuanya terasa lambat seperti sebuah video yang diputar slomitoin
"Bolehkah aku meminta?" gumam Keenan.
Riska yang masih dalam dunianya sendiri, tanpa sadar mengangguk pelan.
Cup
Dia terbuai dengan permainan Keenan yang terasa menghanyutkaan, hingga perlahan dia membuka mulutnya, mengizinkan Keenan untuk menjelajah lebih jauh.
Keenan tersenyum saat mendapatkan persetujuan dari Riska, tangannya kini menangkup wajah Riska, menahannya untuk memperdalam permainannya.
Tak ada balasan dari gadis itu, dia hanya menerima. Entah karena tak tahu atau memang ini yang pertama untuknya? Entahlah, Keenan tak peduli hal itu.
Keduanya kini sudah terbuai oleh permaianan mereka sendiri, hingga tiba-tiba Keenan membuka mata dan mengakhiri ciumannya begitu saja.
"Terima kasih!" ujar Keenan sambil mengusap bibir Riska yang terlihat basah dan sedikit bengkak akibat ulahnya.
Riska tak menjawab dia hanya kembali membuka mata, berkedip beberpa kali dengan pikiran yang mulai kembali ke alam nyata.
Ada sedikit rasa kehilangan ketika tak ada lagi lengan yang menangkup pipinya dan rasa hangat nan nikmat di bibirnya. Mengingat itu, perlahan tangannya menyentuh bibir yang terasa sedikit berdenyut, dan lembab. Hingga matanya melebar saat ingatannya tentang kejadian yang baru saja terjadi melintaas.
"Abaaang!" Riska langsung menyusul Keenan yang sudah berdiri dan sedang melepaskan pakaian ibadahnya.
Bukh ... bukh ... bukh ....
__ADS_1
"Dasar mesum, berani-beraninyaa mencuri ciuman pertamaku!" omel Riska sambil memberikan pukulan di dada Keenan.
"Rasakan ini, dasar mesum, mesum mesum!" Riska terus memukul Keenan dengan brutal.
"Astaga, Riska! Aduh .. aku tidak mencurinya, tadi kamu sendiri yang mengizinkanku melakukannya, bahkan kamu jugaikut menikmatinya 'kan?" bantah Keenan sambil melindungi tubuhnya dari pukulan Riska.
"Kapan abang nanya sama aku? AKu gak pernah dengar! Aku juga ngak ngerasa sudah bilang iya!" cerocos Riska.
"Astaga Riska, aku gak bohong, tadi kau meminta dulu sebelum mengambil ciuman itu darimu! Aduh ... aduh ... udah ya stop dulu, coba kamu ingat-ingat lagi!" gumam Keenan, tangannya ia lingkarkan di pinggang Riska menahan gadis itu agar tidak terjatuh.
Grep.
Pukulan itu terhenti seketikaa, saat Keenan menekan punggung Riskaa untuk lebih merapat pada dada bidangnya.
"Lepas! Abang, lepas ih!" Riska memberontak meliukan tubuhnya yang sekarang berada di pelukan Keenan.
"Diam dan ingat dulu apa yang terjadi setelah kita solat!" desis Keenan dengan suara parau, menahan hasrat yang kini sudah mulai menaik kembali.
Mendengar suara yang berbeda dari Keenan, Riska menghentikan gerakannya, apa lagi saat tubuh bagian bawahnya merasakan ada sesuatu yang menonjol dan menekannya.
Seketika itu, tubuhnya menjadi kaku, pikirannya malah menebak, benda apakah itu.
"Jangan berpikir yang lain!" peringat Keenan.
Riska menatap wajah Keenan, pikirannya berusaha mengingat apa yang terjadi beberapa saat yang lalu.
Hingga akhirnya matanya melebar dengan rona di wajah yang terlihat ke permukaan,membuat Keenan merasa gemas dengan gadis di dalam pelukannya itu.
Cup.
Satu kecupan berhasil di curi kembali di bibir Riska sebelum Keenan melepaskan pelukannya dan berlalu menuju kamar mandi dengan langkah cepat.
"Itu baru namanya mencuri," ucap Keenan santai, sebelum dia menutup rapat pintu kamar mandi.
Bugh.
"Dasar omes, tukang copet!" Riska memekik kesal karena kini dia sudah kalah lagi dengan suaminya itu.
"Itu hukuman karena kamu sudah memukul aku tanpa sebab, dan menuduhku sebagai pencuri!" teriak Keenan dari dalam kamar mandi, di sertai tawa menggema yaang terdengar sampai pada telinga Riska.
...🌿...
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung...