Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.241 Aqiqah


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤️...


Di ruang tengah lantai dua rumah Ezra dan Ayu, ternyata seluruh keluarga sudah menunggu kedatangan mereka.


Mereka semua memusatkan perhatiannya pada keempat orang dewasa dan satu bayi di dalam gendongan sang ibu, yang baru saja datang.


Naura yang melihat kedatangan kedua orang tua dan adiknya, langsung mengahampiri mereka.


"Mamah, Papah!" seru Naura sambil melangkah menuju kedua orang tuanya.


"Yuk, kita langsung ke bawah saja," ajak Garry.


Semua orang yang ada di sana pun ikut berdiri, bersiap untuk turun ke bawah. Karena, sebentar lagi acaranya akan segera di mulai.


Ezra mengangguk, dia pun memegang tangan Naura, menuju lift, bersama dengan Ayu. Sedangkan yang lainnya memilih turun menggunakan tangga.


Di lantai satu, terlihat sudah sangat berbeda dengan sebelumnya. Dekorasi yang didominasi dengan warna biru dan silver terlihat mewah.


Ya, acara syukuran dengan tema khas bayi laki-laki, itu akan dibuka dengan sebuah pengajian dan diakhiri oleh jamuan makan malam bersama.


Beberapa saat menunggu, satu per satu tamu, mulai hadir, mereka di sambut oleh jajaran para pria keluarga Darmendra dan Ardinata.


Nawang dan Elena pun ikut menyambut kedatangan para tamu, sedangkan Riska memilih menemani Ayu yang sedang menjaga Zain dan Naura.


"Mba cantik sekali," bisik Riska.


Dia sudah sejak tadi mau mengatakan hal itu. Akan tetapi, belum mempunyai kesempatan untuk dekat dengan Ayu.


Ayu tersenyum sambil melihat wajah sang asisten sekaligus adik iparnya.


"Terima kasih. Kamu juga sangat cantik malam ini," jawab Ayu.


"Ah, Mba, bisa aja." Riska tersipu, mendengar pujian dari bos sekaligus kakak iparnya.


Sedang asik mengobrol berdua, tiba-tiba Rio dan Ibu dari Riska menghampiri keduanya.


"Selamat ya, Mba Ayu. Wah, ganteng banget sih dede Zain" ujar Rio.


Mereka memang baru bisa menjenguk Ayu, setelah melahirkan.


Ayu tersenyum, melihat wajah sumringah Rio yang langsung mengajak Zain bermain.


"Maaf ya, Ibu, baru bisa jenguk," ujar Ibu dari Riska, sambil memegang tangan Ayu.


"Tidak apa, Bu. Aku sudah senang, Ibu, bisa hadir di acara ini. Terima kasih ya, Bu," jawab Ayu panjang lebar.

__ADS_1


Setelah berbincang sebentar, Ayu menyuruh Riska membawa sang ibu dan adiknya untuk mencicipi hidangan pembuka, sambil menunggu pengajian dimulai.


Mulai dari itu, tamu pun terus berdatangan, mereka bergantian menghampiri Ayu, untuk melihat wajah cucu laki-laki pertama keluarga Darmendra.


Tak lama kemudian acara pengajian pun dimulai. Suasana ruangan yang tadi tampak ramai dan riuh, kini berubah hening dan syahdu.


Semuanya menikmati setiap bacaan yang telah dibacakan bersama-sama, hingga tiba pada sesi ceramah, yang dipimpin oleh seorang ustad yang terkenal di kalangan masyarakat.


Di tengah acara, tiba-tiba saja datang seseorang yang mengejutkan hampir semua anggota keluarga yang melihatnya.


Ayu yang melihat kedatangan beberapa orang itu, menegakkan tubuhnya dengan mata yang melebar.


Namun, semua itu berubahenjadi senyum, dengan gumaman halus di bibirnya.


"Mas?" Ayu menatap wajah suaminya yang tersenyum padanya.


"Kejutan, sayang," jawab Ezra begitu santai.


"Terima kasih, Mas." Ayu menatap suaminya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Apa pun untukmu, sayang." Ezra menggenggam tangan Ayu.


Para tamu yang datang untuk memberi kejutan pada Ayu, kini memilih duduk di barisan belakang, sebelum menyapa sang tuan rumah.


Berkali-kali Ayu memastikan keberadaan tiga orang itu. Dia takut mereka akan pergi, sebelum menemuinya.


Ada yang langsung mengambil makanan, ada juga yang memilih untuk saling bercengkerama, sambil menunggu antrean di prasmanan sedikit berkurang.


Ada juga yang memilih untuk bertemu dengan Ayu dan Zain, untuk memberi selamat dan tentunya mengajak berfoto bersama.


Ya, sepertinya sekarang ini, tak lengkap bila menghadiri undangan tanpa berfoto terlebih dahulu.


Tentu saja, semua itu untuk mereka posting di sosial media masing-masing. Apalagi, kini yang mereka ditangani adalah acara seorang keluarga Darmendra.


Dengan berat hati, Ayu pun menyetujui permintaan para tamu, hingga dia hampir saja lupa dengan kejutan yang didatangkan oleh suaminya itu.


"Assalamualaikum," ujar tamu itu bersamaan, begitu mereka sampai di depan Ayu.


Ayu yang baru saja menyelesaikan berfoto, bersama para istri dari kolega bisnis sang suami. Kini mengalihkan perhatiannya pada asal suara.


"Waalaikumsalam." Ayu menjawab lirih, dengan mata yang berkaca-kaca.


Ezra yang tau situasi sang istri, mengambil alih Zain dari tangan Ayu.


"Apa kabar, Ayu? Lama tidak bertemu denganmu," ujar salah satu orang itu.


"Mala. Ya Allah, aku kangen banget sama kamu." Ayu menghambur memeluk Mala yang masih berada di atas kursi roda.


Mala meneteskan air matanya, melihat sikap Ayu yang masih sama seperti dulu, sebelum dirinya mengkhianati kepercayaan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Aku juga kangen banget sama kamu, Ayu. Maafkan aku, karena sudah menyakitimu ... aku menyesal, Ayu. Aku benar-benar menyesal," ujar Mala masih di dalam pelukan sahabatnya, dengan air mata yang sudah menganak sungai, membasahi pipinya.


Ayu mengurai pelukannya, dia mengusap air mata di pipi Mala dengan senyum mengembang.


"Aku sudah memaafkan kamu sejak dulu, Mala. Maafkan aku juga, bila ada salah padamu," jawab Ayu dengan tulus.


"Bagaimana kabar kamu sekarang? Kapan kamu pulang dari luar negeri? Kenapa gak ngabarin aku, hem?" tanya Ayu lagi, sambil memeriksa seluruh tubuh sahabatnya itu.


"Alhamdulillah, aku baik. Bahkan sekarang aku merasa lebih baik lagi," ujar Mala, dengan senyum mengembang, di wajah yang masih terlihat sedikit pucat.


Ayu melirik sekilas pada Ezra. Dia sama sekali tidak pernah mendengar kabar Mala, sejak pertemuan terakhir kali di rumah sakit, beberapa bulan yang lalu.


Ezra mengangguk samar, memberi kode pada sang istri. Ayu kembali beralih pada Mala, dia tersenyum sambil duduk di kursi.


"Selamat ya, atas kelahiran bayi kamu ... aku ikut senang," sambung Mala lagi.


"Terima kasih," ujar Ayu


"Terima kasih, kamu sudah mau menyempatkan diri untuk datang dia cara kami." Ezra menyambung perkataan sang istri.


Mala menatap Ezra sekilas lalu kembali menatap Ayu.


"Aku senang bisa melihat kamu sudah bahagia sekarang. Aku akan merasa sangat bersalah, jika kamu tidak hidup dengan bahagia, Ayu." Mala masih saja mengungkit masalah yang menurut Ayu telah berlalu itu.


"Aku baik dan aku bahagia dengan kehidupanku saat ini, Mala. Aku juga berharap kamu bisa menemukan kebahagiaan kamu sendiri." ujar Ayu, menatap wajah Mala penuh prihatin.


Mala tersenyum, dia menatap wajah Ayu.


"Boleh aku lihat anak kamu," tanya Mala.


Ezra mendekat, dia memberikan Zain pada Ayu kembali, yang tampak sudah lebih tenang dan duduk dengan nyaman.


"Tentu sangat boleh, Mala." Ayu tersenyum, dia mendekatkan Zain pada pangkuan Mala.


Tangan Mala yang tampak sangat ramping itu, perlahan mengusap pipi mulus bayi laki-laki itu.


Tak terasa air matanya menetes, mengingat anaknya bersama Radit yang telah tiada, bahkan sebelum sempat terlahir ke dunia.


Dia tersenyum dengan mata yang masih mengeluarkan air.


"Tampan, mirip seperti papanya," ujar Mala, melihat sekilas pada Ezra.


...🌿...


Hari ini aku gak janji akan up lagi ya. Tapi kalau bisa pasti aku usahakan🙏🥰❤️


...🌿...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2